"Kita putus!" ucap Sahara dengan suara tegas.
“Maksud kamu apa, Sayang? Aku nggak mau putus!" Sudah pasti Dewa menolak, bisa hilang sumber keuangan jika putus dengan Sahara.
"Kontrak pacaran kita sudah berakhir, ini hari ketujuh. Aku harus cari pacar yang baru dan kamu sudah nggak berguna lagi," ucap Sahara sambil pergi.
Dewa tidak terima diputuskan begitu saja tentu berusaha menolak tetapi dua orang bodyguard Sahara mencegah dan menahan tubuh Dewa. Sahara tidak peduli dengan teriakan Dewa, dia masuk ke dalam mobilnya menuju kampusnya.
Sahara Belinda Calisyana adalah seorang gadis cantik merupakan nona muda dari keluarga Mahendra, pebisnis nomor satu di Indonesia. Memiliki kecantikan yang paripurna, incaran para pria. Selain itu keluarganya kaya raya membuatnya menjadi incaran calon menantu yang sempurna.
Sayangnya Sahara memiliki perilaku yang buruk, dia selalu mencari pacar dan mengontraknya dalam waktu singkat kemudian diputuskan begitu saja. Bertindak semena-mena bahkan tak jarang membuat para pacar kontraknya lebih mirip pesuruh. Tetapi di mana pun Sahara berada m banyak barisan para pria yang mengantri untuk menjadi pacar kontraknya. Mereka rela membuang harga dirinya demi bayaran yang sangat fantastis.
Mobil yang dikendarai Sahara mulai memasuki area kampus. Penampilan Sahara hari ini sudah ditunggu oleh beberapa mahasiswi yang menjadikannya kiblat mode masa kini.
Berhubung jam kuliah masih sekitar satu jam lagi, Sahara memutuskan untuk berdiam diri di bangku taman. Pikirannya sedang tidak baik saat ini, semalam kedua orang tuanya mengabarkan jika kepulangan mereka ditunda hingga 3 bulan ke depan. Padahal Sahara sudah menunggu 6 bulan lamanya, Sahara adalah anak tunggal sehingga setiap kali berada di rumah selalu merasa kesepian.
Di kejauhan seorang pria sedang memandangi Sahara dengan begitu bahagia. Dia adalah Moses Putra Mahesa, seorang mahasiswa kedokteran. Sudah sejak lama Moses menyukai dan kagum dengan Sahara. Tetapi dia sadar akan penampilannya yang cupu dan kampungan membuat dia hanya menjadi pengagum rahasia. Hanya dengan melihat senyuman di wajah Sahara, Moses sudah cukup bahagia.
"Woi, cupu diam kamu di sana!" teriak seseorang dari kejauhan.
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang Moses menolehkan kepalanya ke belakang. Ternyata mereka adalah teman seangkatan Moses yang selalu mengganggu dan mengerjainya. Mereka selalu menindas Moses setiap kali ada kesempatan. Terakhir mereka menyuruh Moses mengerjakan seluruh tugas dari dosen namun, tak dia kerjakan.
Moses mulai panik setelah melihat Anjar dan kawannya, mereka pasti akan membuat perhitungan dengannya. Tak ingin menjadi sasaran mereka, Moses segera berlari dengan kecepatan penuh.
"Woi, Moses culun! Berhenti, jangan kabur!" umpat salah seorang rekan Moses.
Moses yang panik berlari ke sembarang arah, yang penting saat ini dia menyelamatkan diri dari kejaran Anjar dan kawannya. Beberapa kali Moses menengok ke belakang memastikan jika Anjar tak berhasil mengejarnya.
Brugh!
Karena sibuk melihat ke arah belakang Moses menabrak seseorang di depannya. Dengan cepat Moses memegang pinggang gadis yang dia tabrak agar tidak jatuh ke bawah.
Prakk!
Sayangnya handphone yang sedang dipegang oleh gadis tersebut terlempar dan terjatuh.
"Ah, handphone-ku!" seru gadis tersebut.
Sebenarnya gadis tersebut juga salah karena berjalan sambil melihat handphonenya. Matanya menatap nanar ke arah handphone-nya, hadiah ulang tahun dari orang tuanya tahun lalu.
Melihat Anjar mulai mendekat, Moses tanpa sadar menarik lengan gadis itu dan mengajaknya bersembunyi di tempat yang aman.
Deg. Deg. Deg.
Jantung gadis itu berpacu lebih cepat setelah tak sengaja mencium aroma parfum Moses.
"Sstt, diam dulu, ya! Jangan berisik, nanti kita ketahuan," bisik Moses.
Dia belum sadar siapa yang sudah dia tabrak. Gadis itu pun penasaran kenapa Moses mengajaknya bersembunyi.
"Ada apa? Mengapa bersembunyi seperti penjahat yang lagi dikejar polisi," ucap gadis itu dengan ketus.
"Anjar dan kawan-kawannya mau gebukin saya karena sudah membuat mereka dihukum dosen," jawab Moses. Matanya masih celingak-celinguk melihat kondisi di sekitar.
Setelah merasa aman Moses dan gadis itu keluar dari persembunyiannya.
"Maaf, barusan saya nggak sengaja nabrak, untung saja kamu nggak jatuh," ucap Moses menyesal.
Gadis itu teringat dengan handphone-nya yang terlempar. Matanya mencari-cari di mana handphone itu jatuh.
"Handphone-ku!," ucapnya panik.
Gadis itu mengambil handphone miliknya dan ternyata LCD-nya pecah serta tidak bisa menyala. Moses menghampiri gadis tersebut dan melihat kondisi handphone-nya.
"Maaf, gara-gara saya handphone kamu rusak," ucap Moses menyesal.
Gadis itu masih sibuk menghidupkan handphone dan berharap masih bisa menyala karena banyak kenangan dalam handphone tersebut.
Moses memicingkan matanya, memastikan siapa gadis yang didepannya. Dia merasa tidak asing dengan gadis tersebut.
"Sa-sahara, kamu Sahara?" pekik Moses kegirangan.
"Iya, aku Sahara, memangnya kenapa?" tanya Sahara keheranan melihat Moses yang kegirangan.
Moses tak mampu berkata apa-apa, dia langsung salah tingkah karena bisa berdekatan secara langsung dengan gadis yang sudah lama dia sukai.
Sahara mendesah kasar, setelah dicoba berulang kali ternyata handphone-nya tidak mau menyala.
"Semua gara-gara kamu, ya! Handphone kesayanganku jadi rusak. Pokoknya aku nggak mau tahu harus ganti rugi," ucap Sahara dengan geram.
Rasanya dia ingin menangis saat itu juga karena handphone hadiah dari kedua orang tuanya rusak. Bukan masalah harganya, tetapi kenangan yang ada didalamnya.
"Ga-ganti ru-rugi? Be-berapa?" tanya Moses gugup, dia takut uang tabungannya tidak cukup.
"Seratus juta. Ganti rugi sekarang juga!" seru Sahara.
Mendengar jumlah uang yang harus diganti oleh Moses sangat fantastis dia tak bisa berkata-kata. Dia tahu jika harga handphone Sahara mahal.
"Kamu bercanda? Mana mungkin harga handphone itu semahal itu? Uang segitu bisa buat beli rumah," ucap Moses tak percaya.
"Ini handphone limited edition, papa aku pesan langsung ke pabriknya buat hadiah ulang tahun. Lihatlah pinggirannya saja dihiasi batu rubi merah asli. Aku kasih tahu harganya itu dua ratus lima puluh juta," terang Sahara.
Moses melongo mendengarnya, mulutnya bahkan terbuka saking terkejutnya dengan harga yang diucapkan oleh Sahara.
"Ta-tapi saya tidak punya uang sebanyak itu. Ma-maaf sudah merusak handphone milikmu. Saya nyesel," gumam Moses sambil menundukkan kepalanya.
Sahara mendegus kesal, melihat wajah lugu Moses membuat Sahara menjadi tak tega. Padahal selama ini Sahara dikenal sebagai sosok gadis arogan dan tidak kenal belas kasihan.
Sedetik kemudian sebuah senyum tipis terbit di bibir Sahara yang semerah delima. Jika dilihat dari penampilan Moses yang memakai kacamata, Sahara menebak Moses orang yang sangat pintar.
"Oke aku nggak akan minta ganti rugi berupa uang sama kamu. Tapi sebagai gantinya kamu harus menjadi pacar kontrak selama 100 hari dan kamu nggak boleh berhenti di tengah jalan atau meminta putus tiba-tiba sebelum waktunya. Jika hal itu terjadi kamu harus ganti rugi handphone aku sejumlah seratus juta pas tidak boleh kurang," ucap Sahara tepat didepan wajah Moses
"Apa?! Menjadi pa-pacar Sa-sahara?" ucap Moses hingga tergagap.
Tangannya tiba-tiba refleks menampar salah satu wajahnya untuk memastikan apa yang baru saja dia dengar adalah sebuah kenyataannya.
"Ya, pacar aku, tapi hanya pacar kontrak!" Sahara kembali menegaskan.
Tak ingin membuang kesempatan yang sudah di depan mata tanpa ragu Moses langsung mengiyakan permintaan Sahara tersebut. Kelak, Moses akan membuat Sahara menjadi miliknya seorang. Tanpa disadari ada sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan.