


oleh Jelitamelisasari · 24 Bab
Adrian Hashizume adalah laki-laki yang memikirkan dirinya sendiri. Walaupun seorang atlet panahan dan sering memenangkan medali Olimpiade matematika, tetapi di balik itu semua dia adalah pembuat masalah, dan sering membuat papanya berurusan dengan pengacara dan polisi. Namun, semua sifatnya yang buruk berubah setelah Adrian mendapati seorang gadis yang hampir saja menenggelamkan diri ke dalam laut di atas pemancak ombak di sore hari yang sepi. Gadis itu ternyata Anindhita Priscilla, siswa baru yang selalu sendirian dan tak ingin berteman dengan siapa pun.
"Oi! Airnya dingin, ada hiunya!" teriak seorang laki-laki pada seorang gadis yang tengah berdiri sambil merentangkan kedua tangannya di atas sebuah pemancak ombak.
Laki-laki itu, dia adalah Adrian Hashizume. Di sore hari yang mendung, ia memanfaatkan waktunya untuk berlari kecil di sepanjang garis pantai yang kekurangan pengunjung. Karena hari ini adalah hari kerja, bukan hari libur dan orang-orang masih pada sibuk dengan urusan masing-masing.
Setelah tiga puluh menit berlari memutari garis pantai ini, tiba-tiba saja matanya yang sipit nan tajam melihat seorang perempuan berambut hitam nan panjang, tengah berdiri di ujung pemancak ombak sambil merentangkan kedua tangannya seperti ingin melompat dan menenggelamkan diri ke dalam air, lebih tepatnya bunuh diri di tengah-tengah terpaan angin laut yang kuat.
Awalnya, Adrian hanya diam dan melihat. Jarak di antara mereka ada sekitar dua puluh meter. Namun, setelah beberapa menit memperhatikan, entah kenapa laki-laki itu yang biasanya kurang empati dan hanya memikirkan diri sendiri, sekarang tergerak untuk menghampiri. Tungkainya melangkah sampai berhenti di belakang gadis tersebut di jarak dua meter.
Teriakannya berhasil membuat gadis di depannya menurunkan kedua tangannya lalu menoleh ke belakang.
Kedua manik berwarna hitam milik Adrian meneduh, melihat seorang gadis dengan wajah pucat disertai kedua mata yang memerah.
Sepertinya gadis di depannya ini sempat menangis dan entah kenapa membuat hatinya yang sekeras baja, dan tak tergoyahkan tiba-tiba berdenyut sakit.
Padahal, kalau tak salah ingat, ini adalah pertemuan pertama mereka. Sebelumnya, Adrian tak pernah melihatnya, ataupun sekedar berpapasan di jalan.
Kemudian setelah beberapa saat, mata Adrian yang tadinya meneduh berubah menjadi sorot kebingungan karena gadis itu menggerakkan kedua tangan, seperti memeragakan sebuah kata yang tak bisa diucapkan lisan dengan ekspresi marah yang tak bisa ia mengerti.
Lalu setelahnya, gadis itu mengambil tas selempang yang tergeletak di atas aspal dan berlalu begitu saja meninggalkan Adrian yang terbengong sendirian.
***
Suara sirine memekakkan telinga terdengar dari dua mobil polisi yang kemungkinan sedang patroli pada malam itu, membuat orang-orang mulai membubarkan diri dan berlari panik.
Setelah itu, orang-orang yang didominasi oleh banyak remaja langsung kabur dari tempat tanpa peduli kalau mereka semua bisa saja terluka karena bertabrakan.
Ada yang hanya bisa pasrah dan diam di tempat, sedangkan yang lainnya mencari tempat untuk bersembunyi. Tak terkecuali Adrian.
Laki-laki yang sedang berada di atas ring hanya memasang wajah datar, menatap jengah sekumpulan orang-orang yang berlari tak tentu arah bahkan lawan mainnya yang sudah babak belur pun sudah tak ada di depannya.
Tempat ini adalah arena tinju ilegal, tidak ada aturan dengan hadiah kemenangan yang begitu besar. Karena tidak ada aturan, maka sudah banyak sekali peserta yang cedera parah bahkan sampai meninggal dunia.
Sebenarnya tempat ini sangat tertutup, bahkan di luarnya terlihat seperti cafe hits yang biasa disambangi oleh para remaja zaman sekarang. Jadi mungkin saja salah seorang di sini dengan kurang ajar melapor ke polisi.
"Oi Adrian! Kamu ngapain bengong?! Cepat turun dan kabur dari sana, bego!" teriak salah seorang teman yang membawa Adrian ke sini.
Mendengar hal itu, Adrian pun dengan santai turun dari ring. Laki-laki itu tersenyum kecil, lebih tepatnya menyeringai walaupun setelahnya dia meringis kecil karena tadi mendapat bogem mentah di sudut bibirnya.
Entah apa yang ada di dalam otak Adrian. Bukannya kabur seperti yang lainnya, laki-laki itu malah berjalan ke arah salah satu petugas polisi yang berhasil masuk ke ruangan ini, lalu ia menyerahkan diri secara sukarela.
Lagi pula, sudah tak ada ruang untuk kabur, karena seiring bertambahnya waktu, makin banyak polisi yang datang dan mengepung tempat ini. Jadi untuk apa repot-repot?
Adrian menyerahkan kedua tangannya, bersiap untuk diborgol membuat petugas polisi tersebut bengong untuk beberapa saat karena baru kali ini ada remaja yang berbuat salah malah bersikap kooperatif atau patuh.
Dalam hati polisi tersebut memuji Adrian sebagai anak baik.
Sepertinya Adrian salah strategi.
"Bapak polisi ngapain ngelamun? Tangan saya pegal, cepat borgol!" sentak Adrian tak sabar yang diakhiri dengan decakan kesal.
Kurang ajar sekali.
***
"Cukup, Adrian! Mau berapa kali kamu membuat masalah lagi, hah?!" teriak seorang pria paruh baya, sangat marah. Dia berkacak pinggang di depan sang putra semata wayang yang malah menatapnya balik dengan tatapan tajam.
Setelah pulang dari kantor polisi, Yuto tak bisa untuk tidak menegur Adrian. Pria paruh baya itu hanya menegur dengan nada tinggi disertai pertanyaan kapan anak itu berhenti berbuat ulah.
"Papa cuma harus tutupi seperti biasa dan semuanya akan beres tak tersisa," balas Adrian tak takut sama sekali. Laki-laki itu tak peduli, ia pun melangkahkan kakinya menuju tangga alih-alih lift untuk pergi ke kamarnya.
"Adrian!" teriak Yuto Hashizume. Pria itu memegangi kepalanya yang terasa pening akibat tingkah Adrian yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Tak seperti biasa, malam ini Adrian tertangkap polisi karena ikut-ikutan pergi ke arena tinju ilegal dengan teman-temannya yang ia cap sebagai berandalan. Bahkan Adrian menjadi peserta dan hampir saja menang jikalau tidak ada polisi yang datang.
Untung saja ia bisa menebus memberi uang untuk menutup mulut serta kasus ini sebelum nama baik dan karir Adrian sebagai atlet archery yang sudah dibangun sedari umurnya sembilan tahun hancur begitu saja.
Kembali ke Adrian, laki-laki itu berjalan di tengah kegelapan di dalam kamar menuju meja belajarnya yang lebar dan dipenuhi buku-buku tebal.
Lalu tanpa susah payah, ia menyalakan lampu belajar yang terletak di atas meja. Dan bersiap-siap untuk belajar. Tanpa ingin mengobati lukanya terlebih dahulu.
Satu lagi yang menarik dari Adrian, laki-laki itu sangat pintar. Ia mewarisi gen dari sang mama yang dulu seorang dokter spesialis psikologi anak di sebuah rumah sakit dan papanya yang seorang mantan duta besar Jepang.
Bagi Adrian, belajar di malam hari sampai menjelang pagi adalah obat penenang baginya. Walaupun ia selalu mendapat amukan dari gurunya karena selalu tidur di kelas saat jam pelajaran pertama sampai kedua, tetapi seperti biasa ia tak peduli.

Jelitamelisasari
0 Pengikut · 3 Novel