Ahh!
Terdengar desahan hebat, sangat akurat akibat ulah aparat yang menjerat! Memanipulasi dengan menyayat! Ini lebih bejat dari zina bangsat sebab jenis- jenis keburukan dipadukan untuk diperalat. Apakah masih berguna suara rakyat?
Hari ini terjadi kebakaran mendadak di Hotel Prazilfja yang berlokasi sangat dekat dengan aksi demo dan tepat di belakang Nayanika berjualan donat. Dari jauh, Arutala sudah memperhatikan perempuan beralmamater mahasiswi itu. Namun, ia teralihkan dan datang kembali saat semua sudah genting sebab dalam perjalanan dihadang kucing kawin.
Daging panggang menjadi pusat pertanyaan. Amis jalan menjadi pusat ciuman. Entah berapa hari lagi akan terus terjadi begini. Ia terengah-engah melarikan diri dari kejaran api dan sistem yang salah kaprah. Tanpa pikir panjang, Arutala langsung membawa perempuan itu ke kamarnya.
“Hei! Kamu apain saya!” Nayanika mendorong Arutala yang hendak menidurkannya.
Ia terperanjat dengan toping penelanan saliva, ditambah coklat bubuk yang mengadu aroma. “Akhirnya kamu sadar.”
"D-di kamar? Aku ….” Perempuan yang masih lemas ini berusaha untuk berdiri.
“Aman, kamu di kamar saya,” jawab Aru.
Ada misi terpendam yang sampai saat ini belum bisa diungkapkan. Naya bukan sekedar orang yang Aru cintai dan jaga diam-diam. Akan tetapi, ricuhnya negara membuat celaka jika mereka saling mengenal lebih dalam.
Ia biarkan Naya mengolah pikiran. Sudah dipastikan suasana yang Naya tangkap pasti tidak kondusif. Perempuan mana yang tidak kaget ketika bangun-bangun sudah di kamar lelaki asing, cuma berdua, pintu dikunci.
Bagi Aru, bisa mendengar cerewet Naya, menyaksikan kepanikan orang yang ia cintai di ruang itu, menerima amarah luar biasa adalah hal yang jauh lebih baik daripada melihat Naya terlindas api, diguyur paradoks duri, serta paradigma yang haus validasi.
“Mana kuncinya! Mana! Lebih baik mati di sana daripada jadi pelacur di sini!” Naya turun dengan mengesot, sebisa mungkin menarik celana Aru.
Aru tetap bersikap tenang, tersenyum manis meskipun panik bagaimana kalau celananya benar-benar jatuh. “Sudah, jangan begini! Saya nggak pakai celana dalam.”
"Huaaaaaaa, tolong! Tolong ada kasus pemerkosaan! Tolong!” teriak Naya.
Tanpa menanggapi apapun, Aru langsung terduduk dan membungkam mulut Naya.
“Ssstt! Mau diperkosa beneran? Heran, orang sealim ini kok dimaknai mau memperkosa. Hati-hati, orang yang paling jahat adalah orang baik yang dianggap jahat ... kemudian tidak betah. Di luar, ada keamanan negara yang sedang full chaos. Rumah ini adalah markas mereka, tapi saya peduli sama kamu, saya sembunyikan kamu untuk tidak menjadi korban absurd. Jadi tolong kerja samanya ya.”
“An—” Cemooh Naya hampir terlepas.
"Aku tidak percaya! Mana! Mana kuncinya! Tolong, tolong!” Naya terus meraba saku baju Aru semulus jalan raya di tangan pemerintah yang suka makan donat tanpa lupa beli tomat.
"Naya, tolong diam!” bentak Aru.
"Tuh, kenal namaku juga dari mana! Kamu pasti mau menyandera aja!” kilah Naya.
Sebagai seseorang yang bekerja dari dalam untuk menyelamatkan putri dari musuh tentu memiliki risiko yang begitu besar. Tanpa Naya ketahui, demo yang berlangsung tidak lain karena ulah darah daging Naya sendiri.
"Suara perempuan! Aru! Anda menyembunyikan siapa!” teriak satpam yang dijuluki sebagai Pak Satpam Bakwan karena tugasnya memastikan semua yang masuk bukanlah seseorang yang nantinya diaduk-aduk dan digoreng seperti bakwan, apalagi sampai tertelan.
"Hah? Nggak bohong?” bisik heran Naya.
"Udah dibilang!” timpal geram Aru.
**"
“Kok kamu mirip temannya kakekku? Hidungnya, bibirnya." Naya menarik tangan Aru kemudian menatapnya dalam-dalam.
“Saya kira kamu takut berduaan begini. Kenapa justru seberani ini? Bahkan menatap dengan ala-ala hacker begini?” tanya Aru.
"Jujur, kamu siapa! Anggota DPR? Cucu presiden? Eh, atau menteri pendidikan? Tapi cocoknya jadi menteri percintaan, huaaa ganteng banget kamu, Pak!” goda Naya.
Aru mengusap nakal kepala Naya. “Kamu menggoda saya?”
Dengan senyum samar, Aru meninggalkan Naya yang masih terheran-heran ke kursi tercinta. Ia ingin tidur, tetapi satu ranjang tidak memungkinkan dipakai berdua. Yang benar saja tidur di kursi dengan keadaan lelah luar biasa, ini hal yang masih sulit Aru lakukan, egoisnya juga tinggi.
"Heeeh mikirnya apa! Aku bicaranya jujur, tapi tetap waras ya.” Naya merebahkan tubuhnya di ranjang Aru.
"Kalau saya tergoda?” sahut Aru.
"Kamu tergoda? Aku tidak akan tergoda!” kilah Naya.
"Yakin? Barusan yang bilang menteri percintaan siapa?” ledek Aru.
Perempuan yang tadi teriak-teriak seakan takut diperkosa ini segera menarik selimut tanpa peduli kemungkinan buruk yang akan terjadi.
“Emang kenapa kalau cinta? Emang cinta harus berhubungan suami istri gitu? Duh, jorok banget pikiran Bapak! Dalam perspektif pembuatan donat ya, Pak. Keindahan visual adalah pemikat utama. Mungkin tidak menentukan rasa, tapi ini adalah trik pemikat yang paling efektif membuat siapa saja yang demo pasti melirik donat ala Naya untuk karbohidrat. Soalnya ya Pak, teriak-teriak kalau lapar ya seperti kerupuk kena angin putus cinta—melempem hahah. Jadi, ganteng Bapak cuma pemikat, bukan cinta yang bisa dirasa! Hahahha yang kepedean!”
Sebenarnya, Naya berteriak tadi bukan karena takut diperkosa. Ia adalah perempuan yang sangat pemberani, teliti, memiliki jiwa pahlawan yang begitu dalam seperti kakeknya. Ia berteriak hanya untuk memastikan bahwa ia benar-benar di tempat yang tepat. Naya memang tidak tahu apa-apa terkait rencana Aru dan tidak tahu juga Aru itu siapa, tetapi insting dia yakin kalau Aru bukan lelaki yang merampas hak orang lain—baik uang maupun keperawanan.
"Haha, dan lebih lucu lagi … kenapa kamu justru jualan donat saat teman-temanmu demo? Pakai almamater kuliahan pula. Takut pistol? Sepertinya, kamu bukan perempuan pengecut ya kalau saya nggak salah tebak!” ejek Aru yang dibalut pujian.
"Huaaaa, nggak ikut demo aja kakiku diubah jadi bonyok nggak glowing. Bisa-bisa kalau ikut demo, nama Naya diubah semena-mena jadi Alma–Almarhumah!” sahutnya.
"Tadi katanya lebih baik mati daripad—”
Naya refleks terbangun dan sedikit berteriak. “Stop! Itu kan darurat! Kalau jualan donat itu bagian dari pilihan!”
‘Wkwk, Nay. Kamu ini masih sama seperti dulu. Berani, tapi keberanianmu lebih suka menyamar menjadi absurd. Pejuang, tapi perjuanganmu lebih suka menyamar menjadi komedi.’
Fatalnya, Aru lupa mengunci kamar dan membiarkan sedikit terbuka ketika keluar sebentar memastikan keadaan. Saat itu salah satu satpam yang bergelar Bakwan tadi tidak sengaja melihat Naya. Episode demo tayang ulang, mereka melakukan aksi penggerebekan seperti guncangan masyarakat menyaksikan menantu selingkuh dengan mertua.
BROK!
"Dasar Aru pengkhianat! Tangkap perempuan itu dan eksekusi sesuai aturan pelanggaran!” perintah Pak Lonthe—nama spesial dari Aru untuk orang itu.