“Ada yang tak terduga dan penuh dugaan dengan berbalik arah. Ini bukan soal siapa penduganya, melainkan bentuk ruang yang terlebih dahulu menduganya.”
~Azizah Bounty with The Process of Creating Novel Account Al-Fath~
***
***
“Pak Aru, Naya deg-degan!” Naya menunduk dengan tangan gemetar ketika akan memasuki istana papanya.
“Naya, sudah waktunya kamu kembali,” ucap lelaki paruh baya dari belakang.
“Ayah, Ibu … makasih!” Ia pun gegas memeluknya.
Sebelum masuk, orang tua yang menjadi orang tua angkat Naya terlebih dahulu bicara dengan Naya. Hal ini berat, tetapi lebih berat jikalau sebuah kebohongan masih terus disimpan. Mereka disambut hangat dalam rumah itu seakan rumah tersebut tidak pernah menjadi ladang kejahatan.
“Naya … anakku.” Ibu kandung Naya menghampiri dengan saku tangis yang sedari mendengar kabar itu belum juga terhenti.
“Mama dan papa setuju dengan pilihan kamu, Nak. Nggak ada hadiah yang lebih berarti dari kami selain memberikan restu untuk kebahagiaan kamu,” imbuh Dirga.
***
“Yey, ternyata nggak sesulit itu kan?” Naya bermanja di bahu Aru.
“Ternyata saya yang kebanyakan khawatir,” kata Aru.
“Haha, ngaku!” celetuknya.
Mendengar itu, Aru tertawa samar. “Sesuatu terlalu sempit untuk dikatakan luas, Sayang!”
Kekhawatiran adalah hal yang sangat mengganggu. Kekhawatiran adalah penjahat. Saat ini, dunia semakin dijajah oleh kekhawatiran. Waspada hilang, khawatir mendatang.
“Dan sesuatu terlalu tajam untuk dikatakan aman.” Dengan penuh romantis, Naya menggerayahi dagu Aru.
“Tapi kamu jangan lepas hijab ya,” pintanya setelah mengecup kening.
“Enggak dong,” jawab Naya.
Aru menatap Naya dengan sejuta arti. “Kamu lanjut dulu ke pesantrennya!”
Perintah apa itu! Dia cepat-cepat menikah sebab ingin lepas dari Nabastala dan lingkungan tersebut. Sekarang setelah nikah justru disuruh ke sana lagi? Dia benar-benar tidak siap untuk kembali melihat wajah Nabastala, muak level 30!
“Hah? Untuk apa?” tanya kesal Naya.
“Biar jauh lebih pinter.” Aru memainkan jari lentik Naya.
“LDM maksudnya?” Naya semakin pasang wajah merajuknya.
“Iya,” jawab Aru sesantai orang tanpa dosa.
Aru bangga dengan Naya yang baru beberapa hari di pesantren dan bisa mempertahankan hijab. Dia termasuk orang yang cepat sekali bisa menyatu dalam pengadaptasian. Ia ingin Naya melanjutkan menjadi sosok yang jauh lebih baik di sana.
“Nggak mau!” tolak Naya.
“Ini perintah suami lo!” kilah Aru.
“Hubby!” rengeknya.
“Ini malam pertama kita. Sebaiknya ….” Aru memberikan kode dengan gerakan matanya.
Namun, salah siapa memancing info brutal. Sekali brutal, semalam bantal terbang. Menghadapi perempuan kok disamakan dengan menghadapi kambing lapar, tidak bisa!
“Aku udah nggak mood!” Naya mojok di ranjang.
“Masa?” Aru pun menyusul dengan geseran kecil.
“Ihh!” Ia kembali menangkis tangan suami.
“Sini, Sayang!” panggil Aru.
Naya masih terlalu kesal. Baru satu hari lepas urusan sudah muncul lagi. Ia tidak bisa berpura-pura. Tidak ya tidak, iya ya iya.
“Kamu boleh nggak ke pesantren kalau dalam waktu satu minggu sudah hamil anak saya,” ungkap Aru.
“Ya nggak mungkinlah, Sayang! Kamu tahu aku masih dalam masa pakai kontrasepsi!” timpalnya.
“Besok kita ke dokter buat konsultasikan itu,” jawab si suami.
Naya merebahkan diri. “Aku belum siap.”
Semakin aneh saja ucapan Aru. Ia curiga ada kaitannya dengan masalah politik. Namun, tenaga dia untuk protes garis keras sudah habis untuk merajuk.
“Katanya mau punya donat yang bisa ngomong biar ikut demo,” ledek Aru. “Little Fairy, kamu itu lebih dari indah.”
“Indah siapa? Mantan kamu?” celetuk Naya.
“Hahaha, mulai nih absurdnya. Bukan Indah nama, indah dalam arti bagusnya Masyaallah,” pujinya.
“Terus kenapa masih nyuruh ke pesantren? Apa sih hubungannya sama anak!” tanyanya tanpa basa-basi.
Malam pertama dibuat kacau oleh suami sendiri. Andai saja Aru belum membahas ini, mereka sudah bisa tidur nyenyak. Yang ia harapkan pun pasti terlaksana.
“Pengen aja, gak ada alasan lain,” jawabnya.
“Gak! Aku nggak setuju!” tolaknya lagi.
“Kalau begitu … saya juga ke pesantren. Jangan khawatir urusan tempat. Kita nggak di ndalem, tapi di pesantrennya,” kata Aru.
“Dan harus ke pesantrennya Kebas?”
Sampai saat ini, Naya belum tahu kalau Nabastala mencintai dirinya. Yang dia tahu hanya sandiwara yang untungnya sudah kelar karena Nabastala berani ambil risiko. Yang dia tahu, sebaik apapun Nabastala, Nabastala tetap orang yang menyebalkan!
“Iya.”
“Hhh, tapi nafkah aku gimana? Emang bisa lancar kalau kita di sana?” tanya Naya mencari celah untuk membantah.
Detak jantungnya beralih cepat tatkaka Naya beralih di atasnya. “Tenang, Kesayangan. Nafkah lahir maupun batin, dipastikan aman. Sesekali kita bisa keluar dari sana untuk melakukan itu. Saya tertarik untuk belajar lebih dalam. Terinspirasi dari manisnya kamu yang jauh lebih manis setelah beberapa hari di sana.”
“Oke-oke, aku paham maksudnya. Tapi, awas aja kalau di rumah Kebas! Aku nggak mau, aku masih benci banget sama dia!”
Ego Naya akhirmya mau ditoleransi untuk malam ini, tidak tahu kalau besok kembali mengusik! Dia juga layaknya seseorang yang baru saja menikah, hal sakral dalam ranjang menundukkan segala amarah.
“Jangan benci jadi cinta lo! Kamu udah punya suami.” Adegan khas area bibir lekas menyapa.
“Aduh, si paling cemburuan wkwk. Ya huek banget cinta sama si Kebas. Dia buat Niska aja,” sahutnya.
“Kalau dia mencintai kamu gimana?” Dalam kondisi mabuk gairah dan asmara, kata-kata yang berusaha ditahan pun keluar.