“Saya nikahkan engkau, Mikko Aryasatya, dengan Aisha Rahmadini ….”
Suara penghulu mengalun pelan, menyatu dengan aroma melati dan wangi karpet masjid yang masih baru dibersihkan pagi itu. Aisha duduk dengan punggung tegak, kedua tangan mengepal di pangkuan. Tidak percaya bahwa hari ini benar-benar datang.
Mikko duduk di seberangnya, memakai baju koko putih sederhana yang membuat wajahnya terlihat lebih tampan. Dari tadi ia tersenyum kecil, membuat Aisha ingin ikut tersenyum meski jantungnya berdebar dan bahagia.
“... dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat, dibayar tunai.”
Hening sejenak.
Mikko menarik napas perlahan, lalu mengucapkan kalimat itu dengan suara lantang.
“Saya terima nikahnya Aisha Rahmadini binti Talib, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Para saksi langsung berkata, “Sah.”
Sorak kecil dan ucapan syukur terdengar dari keluarga. Ibu Aisha mengusap matanya, ayah Mikko tersenyum bangga, dan teman-teman mereka saling menepuk punggung.
Aisha menunduk, menahan tawa gugup. “Ya Allah, sudah istri orang aku.”
Mikko bangkit menghampirinya, mengulurkan tangan.
“Sini,” katanya lembut.
Aisha berdiri dan menjabat tangan suaminya. Tidak ada getaran berlebihan. Mikko terlihat santai, seperti laki-laki yang tahu persis apa yang ia inginkan.
“Sudah sah, Sayang,” ucap Mikko sambil tersenyum tipis.
Aisha mendongak melihatnya, ikut tersenyum. “Alhamdulillah, Mas.”
Mereka duduk berdampingan, menerima ucapan selamat. Mikko menjawab setiap ucapan dengan sopan, menunduk sedikit, memberi senyum ramah. Aisha memperhatikannya dari samping, caranya berbicara lembut, sambil memegang lengan Aisha seolah ingin menenangkan.
Semuanya terasa normal. Seperti pasangan muda pada umumnya.
Hanya satu hal kecil yang sempat membuat Aisha mengernyit, ketika seseorang memanggil “Mikko” dari belakang, suaminya tidak langsung merespons. Aisha pikir mungkin Mikko tidak dengar. Lagi pula, suasana begitu riuh.
Ia tidak memikirkannya lagi, saking bahagianya menikahi pria yang ia cintai. Semuanya tampak sempurna.
Setelah malam semakin larut dan para tamu berpamitan, ruangan perlahan menjadi sunyi. Aisha dan Mikko akhirnya bisa menarik napas lega dan pergi ke kamar pengantin mereka. Lampu kamar dibuat redup, kelambu putih menjuntai di sekitar ranjang yang ditata rapi.
Aisha merapikan kerudungnya yang sedikit kusut, pipinya mulai terasa panas karena baru sadar, ini malam pertama mereka sebagai suami istri.
“Aku mandi dulu, ya?” tanya Aisha. Suaranya kecil.
Mikko tersenyum dari tempat ia duduk di tepi ranjang. “Iya. Pelan-pelan aja, Sayang. Nggak usah buru-buru.”
Nada suaranya lembut sekali, membuat Aisha merasa sedikit tenang. Ia mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi.
Air hangat menyentuh kulitnya, perlahan meredakan lelah yang menumpuk seharian. Ia menatap cermin yang berembun. Rambut sedikit berantakan, wajahnya tampak lebih dewasa hari ini.
“Mikko … suamiku.” Hanya memikirkan itu saja membuat dadanya berdebar.
Beberapa menit kemudian, ia keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Namun, begitu Aisha membuka pintu kamar, kamar itu kosong.
Ranjangnya rapi, kelambunya tidak bergerak.
Pintu lemari tertutup.
Jendela masih terkunci.
“Mik?” panggil Aisha pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia menatap sekitar, bingung.
Baru beberapa menit ia masuk kamar mandi, dan Mikko tadi duduk tepat di depan matanya.
Aisha mencoba berpikir positif. Mungkin dia ke dapur? Atau ngobrol sebentar dengan keluarga? Cuma, bukannya semua orang sudah pulang?
Ia melangkah keluar kamar, memanggil sekali lagi. “Mikko?”
Masih sunyi.
Detik itu Aisha merasa aneh. Bukan takut, hanya bertanya-tanya, ke mana suaminya pergi tanpa memberi tahu? Ia bergegas mengambil ponsel, tapi pintu belakang berderit sangat pelan. Aisha menoleh.
Mikko muncul dari arah koridor gelap, berjalan santai sambil merapikan kerah bajunya.
“Maaf,” katanya. Nada suaranya tenang seperti biasa. “Tadi keluar bentar.”
Mikko tersenyum kecil dan meraih tangan istrinya begitu lembut, hingga Aisha menghapus semua rasa aneh itu dalam sekejap. Ini adalah malam pertama mereka. Ia tidak ingin merusaknya hanya karena pikiran terlalu sensitif.
“Sekarang aku mandi,” kata Mikko pelan sambil mengusap pipi Aisha. “Kamu tunggu di sini.”
Aisha mengangguk.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia berdiri di depan cermin dan merapikan rambut yang masih sedikit basah. Pipinya memerah, bibir sedikit bergetar.
Ia kemudian membuka laci yang sudah disiapkan ibunya. Baju dinas malam, begitu teman-temannya bercanda. Aisha memakainya perlahan, gugup, tapi juga ingin memberikan yang terbaik.
Ia duduk di tepi ranjang, menunggu.
Jantungnya tidak karuan.
Shower berhenti.
Pintu kamar mandi terbuka.
Mikko keluar hanya dengan celana pendek hitam, rambut masih meneteskan air, dada bidangnya naik turun. Namun, bukan itu yang membuat Aisha terdiam, melainkan cara Mikko berjalan.
Langkahnya mantap.
Matanya menatap tanpa kedip. Mikko tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat, perlahan, tapi pasti. Tangannya terangkat, menyentuh lengan Aisha.
Sentuhannya tidak kasar, tapi menggebu, penuh desakan yang membuat Aisha terpaku. Tanpa banyak bicara, ia mendorong Aisha perlahan ke atas ranjang.
“Mik?” Suara Aisha lirih, antara malu dan tegang.
Mikko berada di atasnya sekarang. Napasnya hangat di wajah Aisha. Gadis itu memejamkan mata ketika suaminya menundukkan kepala, bibirnya mendekat ke leher.
“Ini saatnya,” pikir Aisha.
Malam pertama mereka.
Yang terjadi, justru bibir itu tidak menyentuh kulitnya. Hanya ada embusan napas yang berat dan dingin. Aisha membuka mata perlahan. Mikko tidak mencium.
Ia hanya berhenti di sana, diam seperti sedang mengamati sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Lalu, dengan suara rendah yang terdengar asing, Mikko berbisik tepat di telinganya.
“Jangan malam ini ya, gak apa-apa kan?”
Aisha mengerjap. “Eh, iya?” Suaranya terdengar lebih bingung.
Mikko perlahan menarik tubuhnya menjauh. Mata yang tadi penuh hasrat kini kembali tenang, datar, sulit terbaca. Ia duduk di tepi ranjang dan mengusap wajahnya pelan, seperti sedang memulihkan fokus.
“Maaf,” katanya lagi, lebih lembut. “Kayaknya aku capek banget hari ini.”
Aisha ikut duduk, memeluk dirinya tanpa sadar. Jantungnya baru saja bergejolak, tapi sekarang jadi bingung.
“Kalau Mas capek, nggak apa-apa. Kita bisa lain kali,” ucap Aisha sambil memaksakan senyum kecil.
Mikko menoleh pelan. “Terima kasih, Sayang.” Ia menyentuh tangan Aisha dan mengusapnya dengan ibu jari.
Mereka berdua kembali berbaring. Mikko menarik selimut hingga menutupi bahu Aisha, lalu mematikan lampu kecil di samping tempat tidur.
“Selamat tidur, Sayang,” ucapnya pelan.
Aisha menoleh. Senyum Mikko terlihat hangat di tengah redup lampu.
“Selamat tidur, Mas.”
Keduanya terbaring dalam diam.
Tenang.
Normal.
Seperti pasangan suami istri yang masih canggung di malam pertama.
Mungkin tadi Aisha yang grogi, atau terlalu banyak dengar cerita dari teman-temannya tentang malam pernikahan. Perlahan, matanya ikut terpejam.
Tepat sebelum ia tertidur, ia mendengar suara Mikko.
“Aish?”
“Hm?”
“Aku senang kamu jadi istriku.”
Aisha tersenyum dalam gelap. “Aku juga senang, Mas.”