


oleh Lifha az zhafa · 24 Bab
Kehidupan Faby dan Papa Adi, akhirnya membaik setelah lelaki itu menikah dengan Lais. Hubungan antara ayah dan anak itu kembali menghangat. Adi benar-benar membuktikan penyesalannya, sekarang waktu yang ia miliki hanya untuk kebahagiaan Lais dan Faby. Sedangkan Zahra, ia merasa dunia sangatlah tidak adil kepadanya. Hilangnya kekayaan, kasih sayang dari sosok Papa dan sekarang harus mendekam di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan ulahnya di masa lalu. Harapan satu-satunya Zahra kini hanyalah Fatma. Akankah Zahra berubah sesuai harapan Fatma dalam untaian do'a?
Rintik-rintik hujan membasahi bumi yang diselimuti pekatnya malam. Hujan kembali mengguyur Kota Surabaya dengan derasnya. Langit-langit menggoreskan kilatan dan suara menggelegar membuat malam Fatma semakin kelabu. Ia bersujud di atas sajadahnya dengan berbagai penyesalan yang menggelayut hati. Bertahun-tahun hidup mewah bagaikan ratu, kini harus hidup tanpa penopang lagi. Adi, suami yang dulu pernah ia ambil dari wanita lain, kini sudah bahagia dengan kehidupan yang baru memberikan sayatan kenangan yang masih membekas dalam lubuk hati.
“Maafkan aku, Mawar, aku menyesal telah mengambil Mas Adi dari kamu. Kini, seumur hidup bagaikan sebongkah tanah yang tinggal menunggu penggusuran,” gumam Fatma kembali meratakan nasibnya yang malang.
Zahra, anak semata-mata wayangnya masih mendekam di balik jeruji besi bersama kejahatan yang dibawanya. Gadis itu seolah-olah menjelma menjadi iblis yang menumpahkan segala keirihatian selama ini kepada Faby, saudara tirinya. Padahal Faby tak pernah mengusiknya.
"Maafkan bunda, Nak, bunda belum bisa mengabulkan kamu untuk keluar dari sana. Semoga kamu di sana bisa menjadi wanita Salehah, bukan wanita yang selalu menutup dengan hijab tapi hatinya mempunyai sifat iri dan dengki," gumamnya lagi membuka sajadah yang masih membentang indah di depannya.
Dalam sujudnya ia selalu berdoa semoga Tuhan memberikannya kesempatan untuk memperbaiki diri, apalagi umurnya yang sudah tak muda lagi, membuat hati kecilnya tercubit kala mengingat apa saja yang pernah ia lakukan selama ini.
Berbeda dengan Fatma yang bergelung dengan kesendirian. Pengantin baru, Adi dan Lais menikmati pernikahan mereka yang baru saja seumur jagung. Keduanya sedang dalam tahap untuk saling mengenal apalagi pernikahan mereka menyakiti banyak pihak.
“Sebenarnya aku masih merasa tidak enak dengan Mbak Fatma, Mas, aku merasa sudah mengambil kamu dari dia,” ujar Lais mencurahkan isi hatinya.
“Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Dek.Hubunganku sama dia memang sudah tidak baik-baik saja, aku sudah tidak bisa menjalankan rumah tangga di lingkungannya lagi.Entah kenapa aku baru sadar ternyata selama ini aku sudah menyia-nyiakan anakku sendiri demi mereka,” balas Papa Adi sambil menunduk. Matanya memancarkan penyesalan yang mendalam mengingat perlakuannya kepada Faby selama ini. Di mana dirinya sebagai seorang ayah harus bisa merangkul sang anak. Namun dirinya malah melupakan dan sibuk dengan keluarga kecilnya.
"Kamu jangan pernah mengingat hal itu lagi karena itu hanya masa lalu. Yang harus buktikan kepada Faby jika kamu sudah menyesal," tukas Lais memegang jemari suami agar sang suami tidak terus terbelenggu dalam penyesalan.
“Terima kasih kamu sudah menyadarkan aku, Dek. Tolong tegur aku jika aku sampai lalai lagi. Aku tidak ingin Faby akan membenciku, cukup kesalahan dulu saja yang pernah membuat aku lupa dengan dia,” pinta Papa Adi.
“Kamu tenang saja. Kita akan jalani bersama, kita akan saling mengingatkan demi kebaikan rumah tangga kita. Yang terpenting kamu mau berusaha untuk mengubahnya. Anggap saja masalalu itu hanya lembaran lama dan jadikan itu semua pelajaran agar kelak kita bisa menjadi manusia lebih baik dari sebelumnya. Sekarang lebih baik kita istirahat saja, sudah malam. Bukannya kamu besok akan mencari tempat baru untuk membuka toko?”
Papa Adi mengangguk mengiyakan. “Doakan semoga usaha kita nantinya lancar.”
“Amin.”
***
Adi berkeliling mencari tempat usaha barunya. Rencananya ia akan membangun toko kecil tak jauh dari rumahnya. Ia melihat jika di tempat itu tidak ada toko lengkap dan jika ingin membeli sesuatu harus keluar komplek dahulu.
“Bagaimana, Pak, apa cocok dengan lokasinya?” tanya pemilik tanah yang menawarkan tanahnya.
“Alhamdulillah cocok, Pak. Harganya juga tidak kemahalan apalagi tempatnya strategis seperti ini,” jawab Adi tersenyum melihat tanah itu dengan lega. Ia berharap usahanya akan sukses seperti di kampung.
“Silahkan ke rumah saya Pak untuk menyelesaikan semuanya,” ajak pemilik tanah.
Adi mengikuti sang pemilik tanah dan mengurus semuanya sampai tanah itu menjadi miliknya.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” gumam Adi ketika semuanya sudah beres. Ia berpamitan dari tempat itu dan rencananya hari ini akan ke makam mendiang istri pertamanya, Mawar.
Motor itu melaju perlahan memasuki TPU kompleks dimana mendiang istrinya dikebumikan. Ia membeli bunga untuk menabur rumah peristirahatan terakhir sang istri pertama.
“Assalamualaikum, Mawar. Maaf aku baru datang,” ucap Adi duduk mengelus benda putih bertulis nama sang istri.
Air mata Adi menetes menatap nisan milik istri pertamanya. Sekelebat kenangan tentang Mawar memenuhi memorinya. Mawar sesosok wanita terbaik dalam hidupnya tapi sayang dirinya begitu kejam sudah mengkhianati pernikahan mereka. Hanya karena desakan dari Fatma dan Zahra, ia tega menikah lagi sehingga membuatnya meninggal. Yang membuatnya semakin menyesal, selama belasan tahun ia menelantarkan anak kandungnya hanya karena hasutan dari anak tirinya yang selalu anaknya padahal sebagai seorang seharusnya dirinya lebih tahu karakter Faby itu bagaimana. Keluarga barunya mampu membutakan matanya tapi kini ia bersyukur bisa terlepas dari cengkraman ibu dan anak itu.
Adi mulai menaburkan bunga di atas tanah tempat peristirahatan Mawar. Tak lupa laki-laki itu berdoa agar sang istri berada di tempat yang baik di sisi tuhannya.
“Maafkan aku yang sudah menorehkan luka kepada kamu, Sayang. Jujur, aku menyesal sudah terjebak dengan kebaikan mereka,” ucap Adi sambil meneteskan air matanya. Ingatannya kembali ke beberapa tahun silam ketika ia menduakan Mawar padahal wanita itu begitu sempurna. Mawar tidak pernah merendahkan harga dirinya meski wanita itu tahu jika keduanya memiliki kasta yang berbeda.
Penyesalan hanya tinggal penyesalan dan Adi pun tidak bisa mengulanginya karena semua juga takdir dalam hidupnya.

Lifha az zhafa
139 Pengikut · 13 Novel