Suara denting sendok beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya bunyi yang memenuhi ruang makan rumah megah keluarga Wiratama.
Meja sepanjang empat meter itu dipenuhi berbagai hidangan, tetapi tak satu pun mampu menghangatkan suasana.
Reana Prameswari duduk tegak di sisi kanan meja. Mengenakan blus putih sederhana dan rok krem selutut, ia tampak anggun seperti biasa. Di hadapannya, secangkir teh hangat perlahan kehilangan uapnya.
Di ujung meja, Abian Wiratama membaca berita bisnis di tablet tanpa sekalipun mengangkat kepala. Seolah tablet di tangannya lebih menarik daripada perempuan yang berada di meja makan bersamanya.
Sudah tiga tahun mereka menjalani pernikahan. Namun, hingga hari ini mereka masih terasa seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
"Ayah mengundang kita makan malam di rumah utama besok," ucap Abian datar.
Reana mengangguk pelan. "Baik."
Hanya itu. Tidak ada ucapan lain. Tidak ada percakapan yang berlanjut. Semua berhenti di satu jawaban.
Abian kembali menatap layar tabletnya.
Reana menunduk menatap makanannya yang hampir tak tersentuh.
Dulu ia pernah berharap keadaan akan berubah.
Mungkin setelah enam bulan. Mungkin setelah setahun. Atau setelah mereka mulai saling mengenal. Namun, tiga tahun berlalu tanpa meninggalkan kenangan yang pantas disebut sebagai kehidupan rumah tangga.
Mereka tidur di kamar yang sama. Kadang berangkat bekerja dengan mobil yang sama. Menghadiri acara keluarga bersama. Namun, hati mereka selalu berada di tempat yang berbeda.
Ponsel Abian bergetar. Pria itu melihat layarnya, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. Senyum kecil.
Senyum yang bahkan belum pernah Reana lihat ditujukan kepadanya.
"Mahes?" tanya Reana pelan.
Abian mengangguk. "Iya."
Reana tidak berkata apa-apa lagi.
Ia mengenal Mahes Mahardika.
Sepupu jauh Abian yang hampir setiap hari berada di kantor pusat Wiratama Group.
Mahes pandai mengambil hati seluruh keluarga besar. Termasuk Abian.
"Dua hari lagi dia ikut ke vila," ujar Abian.
"Untuk?"
"Acara keluarga."
"Baiklah."
Jawaban singkat itu membuat Abian akhirnya mengangkat kepala.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu terlihat tidak suka."
"Aku hanya lelah."
Abian mengangguk singkat, seolah jawaban itu sudah cukup baginya. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Beberapa menit kemudian, Abian berdiri. "Aku berangkat ke kantor lebih dulu."
"Baik."
Pria itu mengambil jasnya, lalu berjalan menuju pintu tanpa menoleh.
"Mas,” panggil Reana pelan.
Langkah Abian berhenti. "Ada apa?"
Reana tersenyum tipis. "Hati-hati di jalan."
Abian hanya mengangguk sebelum benar-benar pergi.
Pintu utama tertutup perlahan. Rumah kembali sunyi.
Reana memejamkan mata. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali suaminya mengucapkan kata "terima kasih" atau sekadar bertanya bagaimana harinya.
Ia menghela napas panjang.
"Bukankah aku terlalu berharap?"
Suara langkah kaki terdengar dari arah dapur.
Bi Sari, asisten rumah tangga yang telah bekerja sejak Reana menikah, menghampiri sambil membawa buah potong.
"Ibu tidak menghabiskan sarapan lagi?”
Reana tersenyum. "Nanti saja saya makan lagi."
"Kalau begini terus, Ibu bisa sakit."
"Saya baik-baik saja."
Bi Sari menatap Reana dengan iba.
Selama tiga tahun, perempuan itu menjadi saksi bisu bagaimana majikannya berusaha menjadi istri yang sempurna.
Bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan, dan menunggu Abian pulang hingga larut malam.
Ia menghafal makanan kesukaan keluarga Wiratama, menghadiri semua acara keluarga tanpa pernah mengeluh. Namun, balasan yang diterimanya hanya sikap dingin.
"Ibu terlalu baik."
Reana tersenyum pahit. "Mungkin menurut mereka aku belum cukup baik."
Bi Sari ingin membantah, tetapi urung.
Pintu depan kembali terbuka. Abian masuk lagi.
Reana spontan berdiri. "Ada yang tertinggal?"
Abian mengambil sebuah map hitam di atas meja makan. "Dokumen."
"Oh."
Sebelum keluar lagi, pria itu berkata tanpa menatap istrinya. "Besok jangan terlambat."
"Baik."
Abian mengangguk dan kembali pergi. Kali ini tanpa menoleh sedikit pun.
Reana berdiri mematung cukup lama. Tatapannya jatuh pada foto pernikahan mereka yang tergantung di ruang keluarga.
Di dalam foto itu, ia tersenyum begitu bahagia. Sedangkan Abian tetap memasang wajah datar.
Dulu ia mengira suaminya memang sulit mengekspresikan perasaan. Ia percaya waktu akan melunakkan hati pria itu. Namun, kini ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Bagaimana jika sejak awal memang tidak ada hati yang bisa dilunakkan?
Siang harinya, Reana tiba di butik miliknya. Usaha kecil itu ia bangun dua tahun lalu sebagai cara mengisi kekosongan hidup.
"Selamat siang, Bu."
Para karyawan menyambut ramah. Reana membalas dengan senyum hangat. Di tempat ini, setidaknya ia merasa dibutuhkan.
Saat sedang memeriksa desain terbaru, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul membuat wajahnya sedikit cerah.
Mama Mayang. Ibu mertuanya.
"Reana, besok jangan lupa ikut makan malam keluarga, ya?"
"Tentu, Ma."
"Semua sudah menunggu. Ayah juga senang karena akhirnya keluarga kita bisa berkumpul."
"Iya."
Setelah sambungan terputus, Reana memandang layar ponselnya cukup lama.
Liburan keluarga. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Seolah ada firasat yang sulit dijelaskan.
Di sisi lain kota, di ruang kerja yang megah, Rudi Wiratama berdiri memandangi gedung-gedung pencakar langit dari balik jendela.
Mahes masuk sambil tersenyum. "Paman, semuanya sudah siap."
Rudi menoleh. "Jangan sampai ada kesalahan."
"Tenang saja."
Pria tua itu tersenyum tipis. "Keluarga harus tetap utuh."
Mahes ikut tersenyum, meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa liburan keluarga yang seharusnya menjadi momen kebersamaan justru akan menjadi awal dari runtuhnya rahasia yang telah dikubur selama bertahun-tahun.
Saat itu, Reana belum menyadari bahwa perjalanan ke vila itu akan mengubah seluruh hidupnya.