Perpustakaan tua Universitas Darma Cendekia berdiri seperti bangunan yang lupa menua. Dindingnya retak halus, jendelanya tinggi dengan kaca buram, dan bau kertas lapuk bercampur kayu basah selalu menyambut siapa pun yang masuk.
Bagi Ghea, tempat itu adalah rumah kedua.
Ia melangkah pelan melewati meja sirkulasi. Tas selempangnya menggantung di bahu, rambutnya diikat rendah agar tidak mengganggu saat membaca.
“Masih betah di sini?” sapa Pak Rahmat, pustakawan yang sudah sepuh.
Ghea tersenyum. “Kalau boleh jujur, Pak, saya lebih betah di sini daripada di kos.”
Pak Rahmat terkekeh pelan. “Kau ini, seperti penjaga bayangan saja.”
Ghea hanya mengangkat bahu. Ia memang sering datang sampai jam tutup, bahkan kadang membantu merapikan rak.
Sore itu hujan mengguyur deras. Cahaya lampu kekuningan memantul di lantai marmer kusam. Perpustakaan nyaris kosong. Hanya suara jam dinding dan rintik hujan yang terdengar.
Ghea menuju deretan rak sastra klasik di sayap timur bagian yang jarang dikunjungi mahasiswa. Rak itu paling dekat dengan jendela tinggi yang jarang dibuka.
Ia berhenti.
Ada ruang kosong kecil di barisan paling pojok. Seolah ada buku yang baru saja dipindahkan.
“Padahal kemarin penuh,” gumamnya pelan.
Rasa penasaran menggerakkan langkahnya. Ia menyibakkan debu tipis dan menyentuh sesuatu yang tersembunyi di balik susunan buku lain.
Sebuah buku berbalut kulit hitam.
Tanpa judul.
Tanpa nama penulis.
Tidak ada kode inventaris di punggungnya.
“Buku apa ini?” Ghea berbisik pada diri sendiri.
Ia menoleh ke arah meja sirkulasi. Pak Rahmat sedang menulis sesuatu, tidak memperhatikan.
Tangannya ragu-ragu saat membuka sampul. Halaman pertama kosong. Halaman kedua hanya berisi satu kalimat “Yang membuka, bersedia membaca sampai akhir.”
Ghea mengerutkan kening.
“Aneh sekali.”
Ia hendak menutupnya kembali ketika suara seseorang terdengar dari belakang.
“Tidak semua buku ingin ditemukan.”
Ghea tersentak. Ia menoleh cepat.
Seorang pemuda berdiri di lorong rak, hanya beberapa langkah darinya. Tinggi, berkulit pucat, mengenakan kemeja putih lengan panjang. Rambutnya hitam, tersisir rapi. Tatapannya tajam dan tenang.
“Maaf, saya tidak dengar Anda datang,” ujar Ghea, sedikit kikuk.
Pemuda itu mendekat setapak demi setapak. “Karena saya tidak membuat suara.”
Nada bicaranya datar, tetapi tidak kasar.
Ghea menelan ludah. “Buku ini tidak ada kode perpustakaan. Mungkin salah tempat.”
“Itu bukan milik perpustakaan.”
“Lalu milik siapa?”
Pemuda itu tersenyum tipis. “Milik siapa pun yang berani membukanya.”
Jawaban itu membuat Ghea semakin bingung.
“Namanya siapa?” tanya Ghea, mencoba bersikap biasa.
“Elian.”
“Ghea.”
Hening beberapa detik. Hanya hujan yang berbicara.
Ghea memandangi buku itu lagi. “Anda tahu tentang buku ini?”
“Elian menatap halaman kosong itu. “Saya tahu cukup banyak.”
“Seperti apa?”
“Bahwa buku itu tidak pernah berpindah tempat. Ia memilih siapa yang menyentuhnya.”
Ghea mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Elian mengangkat bahu. “Anda percaya pada takdir?”
Pertanyaan itu menggantung.
Di dalam hatinya, Ghea merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, rasa ingin tahunya jauh lebih kuat.
“Saya hanya percaya pada penelitian dan bukti,” jawabnya mantap.
“Kalau begitu, buktikan sendiri,” ujar Elian pelan.
Kalimat itu seperti pemantik api kecil di dada Ghea.
Ia kembali membuka buku tersebut. Kali ini, halaman-halaman berikutnya menampilkan tulisan tangan yang rapi. Bukan cetakan. Seolah ditulis langsung oleh seseorang.
Ia membaca keras-keras tanpa sadar.
“Ia yang membaca akan mengikat namanya pada debu dan waktu.”
Angin tiba-tiba bertiup dari jendela, padahal tertutup.
Lampu berkedip sesaat.
Ghea merinding. “Ini tidak masuk akal.”
Elian menatapnya tanpa berkedip. “Anda masih ingin membaca?”
“Kenapa tidak?” sahut Ghea, berusaha terdengar berani.
“Karena setiap halaman adalah perjanjian.”
Ghea mendesah pelan. “Perjanjian dengan siapa?”
“Dengan yang tidak ingin dilupakan.”
Jawaban itu membuat suasana makin berat.
Ghea menutup buku tersebut dengan cepat.
“Oke. Anggap saja ini semacam novel eksperimental, tapi kalau memang bukan milik perpustakaan, kenapa ada di sini?”
“Karena perpustakaan adalah tempat kenangan dikubur,” ujar Elian.
“Jawaban Anda semakin tidak jelas.”
Elian tersenyum tipis lagi. “Kejelasan sering kali menyakitkan.”
Ghea memeluk buku itu ke dadanya. “Kalau memang berbahaya, kenapa Anda tidak menyembunyikannya?”
“Saya tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena saya bagian darinya.”
Jawaban itu membuat Ghea terdiam.
Bagian darinya?
“Ini semacam permainan?” tanya Ghea, suaranya sedikit meninggi.
“Tidak.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Elian melangkah lebih dekat. Jarak mereka kini hanya satu lengan.
“Buku itu ditulis oleh seseorang yang tidak ingin mati dalam ingatan. Setiap orang yang membacanya akan mengenang, dan dengan itu, ia tetap hidup.”
“Itu metafora?”
“Bukan.”
Ghea menatap mata Elian. Ada kesedihan yang samar di sana.
“Siapa yang menulisnya?”
“Elian menghela napas pelan. “Seseorang yang terlalu mencintai keabadian.”
“Anda?”
“Saya membaca sampai akhir.”
Hening.
Ghea merasa napasnya sedikit berat. “Apa yang terjadi setelah Anda selesai?”
Elian tersenyum, tapi kali ini senyumnya pahit. “Saya tidak pernah benar-benar pergi.”
Kata-kata itu menusuk seperti udara dingin.
“Jadi Anda tidak bisa meninggalkan perpustakaan?” tanya Ghea pelan.
Elian tidak langsung menjawab.
“Jawab,” desak Ghea.
“Tidak.”
Satu kata itu terasa seperti palu.
Ghea mundur selangkah. “Itu tidak mungkin.”
“Anda bisa membuktikannya. Datanglah besok pagi dan lihat apakah saya ada di luar gedung.”
“Baik,” jawab Ghea cepat, tertantang.
“Kalau Anda tidak ada, berarti semua ini hanya cerita aneh.”
“Kalau saya tetap di sini?”
Ghea terdiam.
Ia menutup buku itu dan menyelipkannya kembali ke rak.
“Aku akan kembali besok,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
“Elian mengangguk. “Saya menunggu.”
“Kenapa terdengar seperti ancaman?”
“Karena pilihan selalu membawa konsekuensi.”
Pak Rahmat memanggil dari kejauhan. “Ghea, sudah hampir tutup!”
“Iya, Pak!”
Ghea menoleh lagi ke arah Elian. “Jangan ke mana-mana.”
Elian tersenyum samar. “Saya memang tidak bisa.”
Saat Ghea berjalan menuju pintu keluar, ia menoleh sekali lagi.
Lorong itu kosong.
Tidak ada siapa pun.
Dadanya berdebar keras.
“Perasaanku saja,” gumamnya, mencoba menenangkan diri. Namun, ketika ia melirik rak paling pojok itu sekali lagi, buku berbalut hitam tadi tidak lagi terlihat tersembunyi.
Buku itu kini berdiri tegak di barisan paling depan.
Seolah menunggu untuk dibuka kembali.