Petang telah melapisi senja di bumi, sang mentari pun lelah dan memanggil lembut rembulan untuk menggantikan sinarnya dengan cahaya bagi semesta.
Fana malam dimulai, manusia bersiap menghadap ilahi dengan membawa segala cerita atau masalah.
Mereka mengadu, mereka menangis, mereka memohon, dan mereka berharap ada ilham tersirat yang masuk ke dada dan jiwa mereka, hanya demi satu tujuan, yakni kehidupan.
Hewan malam mulai bersuara merdu, ikut berzikir kepada Sang Pencipta, sebagai tanda syukur telah diberikan hidup dan memohon pula karunia hingga pagi menyapa.
Satu dari jutaan umat manusia di bumi Yogyakarta, bersimpuh dan mengangkat kedua tangannya ke langit.
Tubuh dan jiwanya lelah, hati dan pikirannya penuh dengan segala permasalahan kehidupan, telinganya menangkap esensi ratusan suara yang dicerna dalam akalnya, dan menjadi tafsir yang hanya dimengerti oleh dirinya, juga mereka.
Pemuda itu masih berusia muda, 23 tahun tergenapi dalam 2 bulan mendatang, cahaya seolah memancar dalam wajahnya, hingga banyak 'Hawa' terjerat dalam pesona 'Adam'-nya.
Felzayn Hamza adalah asma lahir yang diberikan oleh ayah dan ibunya, Rashid Hamza dan Henna Wirda, dua jiwa yang hidup di bumi Nusantara, dan pendatang jua yang berasal dari bumi jauh nan panas, tempat milyaran umat melakukan thawaf demi memenuhi panggilan ilahi.
Felza adalah asma yang sering disenandungkan oleh keluarga, kerabat, sahabat, dan kawan.
Dia seorang penyendiri, seorang yang tidak akrab dengan sosialisasi, seorang yang menolak kebiasaan umum pemuda lain seusianya.
Di balik ketidakumuman itu, Felza familiar dengan makna literasi, dan ia mungkin adalah seorang pujangga tersembunyi yang belum ditemukan oleh dunia.
Felza gemar merajut kata, entah tersurat maupun tersirat, entah berapa masa, dan entah apa tafsir di balik literasinya.
Terkadang, jiwanya seolah mabuk, menulis tanpa makna, tetapi teresap manis di dada ketika ia membaca ulang.
Felza bangkit seusai bersimpuh, lalu berbalik, kemudian berjalan sepuluh pijak ke arah timur kiblat.
Dia menyalakan layar pipih elektronik, membuka satu file, dan membaca ulang apa yang ditulisnya.
"Kan kujaga indah wujudmu, tak bisa relakan orang memetikmu, dengan sisa-sisa cinta milikku, dan kudapatkan buah cintaku ...."
"Kan kupersembahkan napasku agar tetap hidup selalu untukmu, biarkan baumu yang menyentuhku, dan kurasakan wangi bungamu ...."
Felza memekarkan senyumnya, apa yang dirasakan hanya Tuhan dan ia sendiri yang tahu.
Dia lalu memejam mata, menarik napas terdalamnya dan membuangnya dengan lembut.
Felza merelakan fana-nya tenggelam sejenak tanpa melibatkan otaknya untuk berpikir dalam suatu hal, mencoba merasakan dan memahami degup semesta.
Dia mengikhlaskan semesta menjadi guru, dan semesta mengajarkannya jutaan imajinasi.
Felza masih memekarkan senyum itu, lalu perlahan membuka kembali dua indera penglihatannya, dan kemudian berkata, "Aku mendengar apa yang diajarkan semesta kepadaku, aku akan menulisnya lalu merangkainya!"
Dia menatap papan ketik elektronik sejenak, lalu mulai menulis.
Hal awal yang ia tulis adalah, "Hawa ..., demi tiap hirupan dan helaan napas ini, akan tiba masa di mana aku merengkuhmu di bawah purnama, dan di masa itu, kita berdua menjadi abadi!"
Dua puluh waktu dalam menit, Felza menenun takdir untuk merampungkan segala imajinasi yang diberikan semesta, lalu menuangkannya ke dalam layar pipih.
Hatinya lega, meski lelah, meski tenaga dan otaknya tercurah.
Felza berdiri, lalu berjalan meninggalkan imajinasi fana menuju realisasi fana. Sejumput angin lembut menyiram ke badannya ketika membuka pintu kamar.
Dia terus berjalan hingga pijak kakinya menuruni belasan anak tangga melengkung ke bawah.
Rashid dan Henna, ayah dan ibu Felza, telah menunggunya di bawah, sedang menyamankan diri mereka di hadapan hidangan malam.
Rashid melihat Felza menuruni tangga, lalu berkata, "Felza ..., makan malam sudah siap!"
Felza mengangguk meski tak berkata apapun.
Dia duduk di antara ayah dan ibunya, berseberangan dengan sebuah kursi yang masih belum dipakai pemiliknya, adiknya sendiri, Shaliza Hamza.
Meja lingkar menempatkan keluarga itu di setiap penjuru mata angin, seolah berbentuk persegi.
Felza akhirnya membuka suaranya, "Abi, Umi, di mana Shaliza?"
Henna, ibunya, menjawab, "Shaliza baru saja pulang, mungkin masih mandi."
Felza mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi hingga tiba seorang gadis berhijab cantik yang baru saja dibicarakan.
Shaliza, adik Felza, datang dengan senyum mekar di bibirnya, seolah ada hal baik yang belum tersampaikan.
"Assalamu 'aleykom, Abi, Umi, Akhi!" sapa Shaliza menyapa ketiganya, dalam logat salam khas bumi Arabia.
"Wa 'aleykom assalam!" jawab ketiganya bersamaan.
Rashid tersenyum kepada putrinya, lalu berkata, "Shaliza, apa ada kabar baik? Kamu terlihat senang hari ini?"
Shaliza menduduki kursi di hadapan Felza lalu menjawab, "Abi ..., Kak Gabi menyukai Shaliza!"
Felza yang sedang menyantap hidangan terkejut, dan seketika terbatuk, "Uhuk, uhuk!"
Rashid, Henna, dan Shaliza langsung menancapkan dua bola mata mereka ke arahnya.
"Kamu kenapa, Felza?!" tanya Henna, lalu menepuk kecil punggung Felza beberapa kali.
Rashid menuangkan segelas air putih dan memberikannya kepada Felza, "Minum dulu!" katanya.
Felza meneguk segelas air putih itu sampai habis.
Setelahnya, ia sedikit lebih lega, tetapi masih merasa terkejut dengan pernyataan adiknya.
Shaliza merasa heran sekaligus khawatir terhadap sikap kakaknya, lalu bertanya, "Kak Felza! Ada apa?!"
Felza tidak segera menjawab, tetapi justru menatap adiknya dengan tatapan tajam, lalu balik bertanya, "Gabi siapa yang kamu maksud?! Apa Gabi Wijaya yang sering dipanggil Gaga?!"
"Oh, Kak Felza kenal Kak Gabi, ya?" jawab Shaliza, matanya berbinar, warna di pipinya memerah.
"Bukan hanya kenal, tapi sangat kenal baik!" balas Felza tegas.
Mata Shaliza semakin berbinar dan seketika langsung bersemangat, lalu bertanya, "Menurut Kak Felza, Kak Gabi itu bagaimana?"
Felza hanya tersenyum, tetapi lebih ke arah sinis.
Rashid dan Henna pun melihat senyum itu, keduanya hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa.
"Jawab dong, Kak! Kok malah senyum gitu?!" desak Shaliza sedikit tidak sabar.
Felza mengangguk lalu berkata, "Oke, kakak akan jawab!"
Dia melanjutkan, "Sebelum itu kakak mau tanya, sejak kapan kamu kenal Gabi, dan di mana kamu kenal?!"
Shaliza tersenyum menahan malu, lalu menjawab, "Kita kenal sudah setengah tahun, Kak! Hampir tiap hari ketemu di sekolah. Tiga bulan lalu kita jadi akrab dan saling bertukar nomor WhatsApp. Tadi di sekolah, Kak Gabi bilang dia suka aku, Kak!"
"Terus kamu terima?!" kata Felza tegas, sangat merasa penasaran.
Shaliza menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Belum, Kak! Belum aku kasih jawaban, tapi Kak Gabi bilang santai saja, nggak perlu buru-buru!"
"Bagus dong kalau kamu belum kasih jawaban! Saran kakak, mending nggak usah diterima saja!" balas Felza tegas.
Rashid berdehem, "Ehem! Dari cara kamu berbicara, sepertinya kamu tidak suka sama Gabi, benar kan Fel?"
Felza tidak menampiknya, dia menjawab, "Sangat tidak suka!"
Perkataan itu tegas, membuat Shaliza merasa sedih dan kecewa terhadap Felza.
Hingga akhirnya, Shaliza kembali bertanya dengan tegas, "Alasan Kak Felza tidak suka sama Kak Gabi itu apa?!"
Felza masih tersenyum sinis, lalu menjawab lebih tegas, "Gabi terkenal playboy dan punya banyak pacar! Gabi bilang ke kamu katanya nggak usah buru-buru jawab, kan? Karena apa? Karena dia banyak stok pacar di belakang kamu!"
"Fitnah! Kak Felza jangan fitnah Kak Gabi! Kak Gabi orang baik, nggak mungkin punya banyak pacar!" timpa Shaliza, merasa tidak terima.
Felza hanya menjawab santai tapi tegas, "Gabi itu teman kuliahku dulu! Dia di-DO karena melakukan pelecehan!"
"APAAAAA?!" Shaliza merasa histeris, tangannya gemetar, mungkin menahan marah kepada Felza, atau bahkan menahan rasa terkejut dengan pernyataannya tadi.