


oleh Banka · 90 Bab
SMA adalah tempat di mana semuanya terasa pertama kali. Hari pertama masuk, kelas baru, teman baru, dan masalah yang datang tanpa diminta. Lewat sudut pandang Tasya, cerita ini menggambarkan kehidupan SMA apa adanya. Dimulai dari suasana kelas, obrolan antar teman, konflik kecil yang membesar, rasa iri, gengsi, dan tawa yang muncul di sela-sela kesibukan sekolah.
Fase remaja.
Sebuah fase yang sering dibilang cukup aneh.
Di satu sisi, seseorang merasa dirinya sudah besar.
Merasa sudah cukup mengerti dunia, sudah bisa menentukan pilihan, dan tidak ingin lagi diperlakukan seperti anak kecil. Namun, di sisi lain, emosi sering datang tanpa permisi.
Hal sepele bisa terasa sangat besar, dan masalah kecil bisa berubah seperti akhir dunia.
Ia ingin dianggap dewasa, tapi belum siap menerima semua akibat dari pilihannya sendiri.
Lalu datanglah fase dewasa.
Fase ketika seseorang mulai belajar menahan diri.
Belajar berpikir panjang sebelum bertindak, dan menerima bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Namun, bagaimana jika ada satu fase di antara keduanya?
Apakah seseorang bangun suatu pagi, lalu tiba-tiba menjadi dewasa?
Tentu tidak.
Di antara masa remaja dan masa dewasa, ada satu fase yang sering terlupakan.
Fase yang tidak sepenuhnya kekanak-kanakan, tapi juga belum matang.
Fase itu bernama masa SMA.
Di sinilah seseorang mulai mencari jati diri.
Mencoba menjadi “dirinya sendiri”, meski belum yakin siapa itu.
Antara ingin serius menghadapi masa depan, tapi masih ingin menikmati hari tanpa beban.
Dan dari fase inilah, banyak cerita aneh, lucu, memalukan, bahkan tak terduga bermula.
Kini orang yang berada di antara dua fase itu masih belum juga bangun. Ya orang itu adalah aku. Aku bernama Tasya Soraya. Aku baru saja masuk ke jenjang SMA. Jenjang menuju jalan kehidupan yang sebenarnya.
Baik mari kita lanjut.
Cahaya matahari pagi mulai menembus kamarku. Hingga membuatku terbangun.
Aku meraba ponsel di samping bantal.
Layarnya menyala.
06.02.
“Ya ampun .…”
Aku langsung bangkit dari kasur. Kamarku berantakan.
Selimut terpelintir seperti habis dipeluk semalaman, satu ujungnya jatuh ke lantai.
Bantal miring, sarungnya setengah terlepas.
Seragam sekolah tergantung di sandaran kursi sudah disetrika sejak kemarin, tapi tak pernah sempat dimasukkan ke lemari.
Tas sekolah terbuka di lantai, isinya setengah tumpah. Buku tulis, pulpen tanpa tutup, dan satu kertas catatan yang seharusnya sudah kubaca.
Aku menghela napas kecil.
Tanganku bergerak otomatis.
Selimut kulipat asal tapi rapi.
Bantal kukembalikan ke tempatnya, sarungnya kutarik sampai pas.
Buku-buku kumasukkan kembali ke tas, pulpen kuselipkan ke dalam kotaknya. Seragam kugantung rapi.
Kamarku kembali terlihat tenang.
Setidaknya dari luar.
Saat aku berdiri, sebuah aroma menyusup pelan masuk ke kamarku.
Aromanya begitu hangat kuat dan juga menggoda. Sampai-sampai perutku bersuara.
Aku berhenti sejenak.
Aroma makanan.
Langkah kakiku otomatis menuju dapur.
Aroma itu makin kuat saat aku mendekati dapur.
Begitu kakiku melewati ambang pintu, pemandangan di depanku langsung terasa ramai.
Di sanalah sumbernya.
“NASI GORENG SEMANGAATT PAGIII!”
Ibu menyanyikan entah lagu apa sambil mengaduk nasi goreng dengan semangat berlebihan. Spatulanya bergerak cepat, bunyinya clang clang sesekali mengenai wajan. Api kompor menyala cukup besar, seolah ikut terbawa suasana hati Ibu.
Aku berhenti sejenak, menatapnya.
Di sisi lain dapur, kakakku berdiri tenang.
Di depannya bukan wajan, melainkan panci kukus yang mengepulkan uap tipis. Tutupnya sedikit terbuka, memperlihatkan roti yang sedang mengembang perlahan di dalamnya.
Ia mengangkat tutup kukusan sebentar, mengecek dengan hati-hati, lalu menutupnya kembali. Gerakannya rapi, hampir tanpa suara. Ini berkebalikan total dari Ibu yang masih sibuk mengaduk nasi goreng dengan penuh semangat.
“Kamu sudah bangun?” tanya Ibu tiba-tiba, menoleh cepat ke arahku, matanya berbinar. “Wah, kamu datang tepat waktu! Ibu baru saja menyempurnakan karya seni!”
“Karya seni?” gumamku.
“Nasi goreng semangat level seratus!” ucapnya dengan penuh semangat.
"Nasi goreng semangat level seratus? Apa-apaan penamaan itu?"
Aku melirik wajan. Masakannya berwarna merah. Sangat merah.
"Ini sih, namanya nasi goreng jahanam," gumamku sembari tertawa kecil.
Aku duduk perlahan di kursi makan.
Kakakku menoleh ke arahku, senyum kecil muncul di wajahnya.
“Pagi,” katanya pelan.
“Pagi,” balasku.
Baru saja duduk di kursi, Ibu sudah bergerak cepat.
Tap!
Sepiring nasi goreng diletakkan tepat di depanku.
“Nah! Makan!” katanya penuh kemenangan.
Aku menatap piring goreng dalam waktu yang lama.
Cabai terlihat jelas. Bahkan dari aromanya saja sudah terasa menantang.
Aku mendongak.
“Ibu .…”
“Hm?”
“Ini pedas, ya?”
Ibu berkedip dua kali.
“Pedas?”
Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar.
“Cuma pedas sedikit, kok.”
Sedikit?
Aku kembali lagi melihat nasi goreng yang ada di depanku.
"Sedikit apa maksudnya? Ini sih sudah level neraka," ucapku dalam hati.
Pelan-pelan, aku menjauhkan piring itu dengan kedua tangan.
“Maaf, Bu. Aku tidak makan yang ini.”
Ibu langsung bereaksi.
“Dih, kenapa?”
“Karena nasi goreng buatan Ibu terlalu pedas untukku.”
"Dih, nasi gorengnya tidak terlalu pedas, kok. Ayo makan, ayo. Sedikit saja, yah," bujuk Ibu.
Aku menggeleng cepat.
“Maaf. Nanti saja sarapannya di sekolah.”
Wajah Ibu langsung berubah. Bahunya turun, ekspresinya dibuat-buat sedih.
“Huh. Anak Ibu menolak masakan Ibu.”
Aku refleks panik.
“B-bukan gitu, Bu, aku cuma ....”
Belum sempat aku lanjut, kakakku muncul. Ia meletakkan piring lain di depanku.
Sepotong roti kukus hangat. Sederhana. Aromanya lembut, menenangkan.
“Ini saja,” katanya pelan. “Pagi-pagi enaknya yang ringan.”
Aku menatap roti itu sebentar, lalu langsung menggigit.
Hangat, empuk, dan pas.
Aku memakannya tanpa mikir panjang.
Ibu menyipitkan mata.
“Ohh .…”
Nada suaranya terdengar pura-pura tersinggung.
“Jadi kalian komplotan, ya? Masakan Ibu dikalahkan roti.”
Aku panik, kakakku melirik Ibuku dengan sinis.
"Lagian ini salah Ibu. Kenapa Ibu masak nasi goreng super pedas pagi-pagi begini?"
"Itu karena ... masakan pedas itu bisa bikin orang bersemangat," jawab Ibu.
“Yang ada bikin sakit perut,” balas kakakku datar. “Kalau Tasya kenapa-kenapa di hari pertamanya sekolah, Ibu mau tanggung jawab?”
Ibu mendengkus kecil.
“Iya deh, iya.”
Aku tersenyum kecil sambil menghabiskan roti.
Begitulah drama pagi di rumahku.
Setelah, sarapan, mandi dan berganti seragam, aku berdiri di depan cermin sebentar. Merapikan kerah. Menarik napas.
Entah kenapa, rasanya seperti ada sesuatu yang menunggu di luar sana, bukan cuma sekolah.
Aku melangkah ke ruang tengah sambil menyandang tas.
“Aku berangkat, Bu,” kataku.
Ibu yang sedang membereskan meja langsung menoleh.
“Hati-hati di jalan! Jangan lupa makan siang!" serunya cepat, seperti biasa.
Aku tersenyum kecil.
“Iya, Bu.”
Kakakku berdiri di dekat pintu. Ia menatapku sejenak, lalu mengulurkan tangan dan menepuk kepalaku pelan.
“Semangat hari pertamanya,” katanya lembut. “Kalau ada apa-apa, bilang saja ke Kakakmu ini.”
Aku mengangguk. “Makasih, Kak.”Aku membuka pintu. Dan tepat di depan rumah-
“Tasya!”
Fira sudah berdiri di sana, masih dengan tas yang terlihat terlalu besar untuk badannya. Begitu melihatku, ia langsung berlari kecil dan memelukku tanpa aba-aba.
“Kita satu sekolah lagi!” katanya riang.
Aku tertawa dan membalas pelukannya.
“Wah, aku gak nyangka banget.”
Kami pun berjalan berdampingan menyusuri jalan pagi yang masih sejuk. Matahari belum terlalu tinggi, tapi suasananya sudah ramai oleh langkah kaki dan suara obrolan siswa lain.
“Aku dengar sekolah kita gede banget,” kata Fira.
“Iya, katanya gitu.”
“Oh iya.” Fira mendekat sedikit, suaranya dibuat setengah berbisik, “Pamanku kerja di sana.”
“Guru?” tanyaku.
“Bukan. Satpam,” jawabnya bangga. “Jadi kalau aku telat, masih aman.”
“Wah, enak dong.”
Fira terkekeh, lalu ekspresinya berubah sedikit lebih serius.
“Tasya,” katanya, kali ini tanpa bercanda, “kalau nanti kamu ketemu murid yang kelihatan aneh .…”
“Aneh?”
“Iya. Entah itu murid baru atau kakak kelas kita.”
Ia menatapku sungguh-sungguh.
“Abaikan saja mereka. Jangan berteman dengan mereka.”
Aku mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Pokoknya. Jangan berteman sama orang aneh kayak mereka.”
Aku belum sempat menanggapi, tiba-tiba-
Wuuusshhh!!
Suara keras melintas di atas kepala kami. Sebuah pesawat melaju cepat di langit pagi, membuat kami refleks berhenti dan mendongak.
Belum hilang gema suaranya, dua kilatan cahaya meledak di udara. Bentuknya seperti kembang api. Disusul dua sosok yang melesat cepat, seolah sedang mengejar pesawat itu.
Aku terdiam.
Fira menatap langit dengan mulut sedikit terbuka.
“Apa itu barusan?” bisiknya.
Aku menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu.”

Banka
5 Pengikut · 2 Novel