Saat tengah malam buta, Syahari dibuat terbangun oleh suara notifikasi dari ponsel suaminya Arya.
Awalnya Syaharani mengabaikannya, saat suara kecil terdengar lagi, "tit" sekali. Tapi di rumah yang gelap, suara itu seperti bom yang bersiap meledak kapan saja.
Syaharani meraba-raba selimut, mencari keberadaan suaminya tapi tidak ada. Dia duduk. Punggungnya pegal.
"Mas?" panggilnya pelan.
Di sebelahnya kosong.
Arya tidak ada.
Syaharani menoleh ke meja rias. HP Arya tergeletak. Layarnya menyala. Mungkin ketinggalan waktu ke kamar mandi.
Dia berdiri. Kakinya dingin kena keramik. Sambil menggendong Rafa, dia jalan ke meja. Niatnya mau mematikan layar biar tidak boros baterai, tetapi tangannya berhenti di udara.
Di layar itu ada notifikasi WhatsApp.
Dari: Kanaya
Syaharani tidak ingin membuka layar ponsel itu, tapi isi notifikasi yang tertera di layar ponsel membuat Syaharani menjadi penasaran. Lalu membaca sekilas notifikasi yang isi chat: 'Makasih ya Yang, uang bulannya udah masuk. Buat biaya kemoterapi Mama. Aku janji ini terakhir.'
Di bawah chat itu, ada 1 gambar. Bukti transfer.
'Rp 3.000.000'
'Kepada: KANAYA PUTRI'
'Tanggal: 25 Agustus 2026 02.15'
Tiga juta. Jam dua pagi. Kepada Kanaya. Panggilan Yang.
Dunia Syaharani berhenti tiga detik. Tenggorokannya tercekat, matanya membulat seketika.
Nama yang sepuluh tahun lalu dia hapus dari kamus pernikahannya. Nama yang disebut sekali oleh ibu mertua saat lamaran: "Itu mantan Arya ya? Ya udah lupakan. Sekarang kamu yang jadi istri."
Dia scroll ke atas. Chatnya terkunci. Tapi dari preview, ada puluhan pesan. Ada voice note 8 detik. Ada foto struk rumah sakit.
Tangan Syaharani dingin. Bukan karena AC.
Pintu kamar mandi terbuka. Arya baru saja membersihkan diri.
"Lho kok belum tidur, Ran? Rafa rewel ya?"
Suara Arya tenang. Seperti biasa. Rambutnya masih basah. Kaos oblong yang sama dipakai sepuluh tahun terakhir.
Syaharani tidak menoleh. Dia mengangkat HP itu. Menyerahkannya ke Arya.
"HP kamu bunyi."
Arya mengambil. Senyumnya luntur dalam 0,5 detik.
Wajahnya berubah. Bukan kaget. Bukan panik. Tapi seperti orang yang ketahuan PR-nya belum dikerjakan.
"Ini- ini bukan apa-apa, Ran."
"Tiga juta. Setiap bulan. Ke Kanaya. Buat kemoterapi Mamanya."
Suara Syaharani datar. Terlalu datar. "Udah berapa lama, Mas?"
Arya diam. Rafa mulai nangis.
"Turunin dulu Rafa. Kita ngomong baik-baik."
"Jawab. Udah berapa lama?"
"Sejak... sejak dua tahun setelah kita nikah."
Delapan tahun pernikahan. Angka itu menghantam lebih keras dari kata "selingkuh".
Delapan tahun Syaharani ngirit buat beli kulkas baru. Delapan tahun dia bilang "nggak usah liburan dulu, Yang, nabung". Delapan tahun dia masak sayur bening karena daging mahal.
Sementara di rekening lain, ada tiga juta yang jalan tiap bulan. Ke wanita lain.
"Jadi selama ini aku, kita berbagi nafkah sama dia?"
Kata "berbagi" itu rasanya pahit di lidah.
Arya mendekat. Mau memegang bahu Syaharani.
"Dengerin aku. Aku nggak selingkuh. Sumpah. Aku cuma ngerasa bersalah."
Syaharani mundur selangkah. "Bersalah kenapa?"
"Dulu... dulu aku mutusin Kanaya. Lewat telepon. Gara-gara Papa sama Mama maksa aku nikah sama kamu. Anak bos."
Arya tertawa kecil. Pahit. "Tiga bulan kemudian dia kecelakaan. Mamanya koma. Dia drop out. Hidupnya hancur, Ran. Dan aku, aku ngerasa itu salahku."
Syaharani memejamkan mata. Jadi ini.
Ini alasan sepuluh tahun pernikahan mereka.
Bukan cinta. Bukan pilihan. Tapi ganti rugi.
"Terus kamu pikir, dengan ngirimin uang tiap bulan, dosamu lunas?"
"Aku nggak tahu harus gimana lagi, Ran. Aku takut. Takut kalau aku berhenti, mamanya kenapa-kenapa. Takut karma balik ke anak kita."
Rafa bayi dua tahun menangi kencang karena terjaga. Syaharani menggendongnya, menepuk-nepuk punggung. Gerakannya otomatis. Seperti robot.
"Kamu takut karma ke anak kita. Tapi kamu nggak takut karma ke aku? Ke anak-anak yang harusnya dapat jajan lebih? Ke aku yang harusnya bisa beli baju lebaran tanpa mikir tiga kali?"
Arya tidak menjawab.
Hening. Cuma ada suara Rafa dan suara AC.
"Kamu sayang aku nggak, Mas?"
Pertanyaan bodoh. Tapi dia harus tanya.
"Sayang. Dari dulu sampai sekarang. Makanya aku nggak mau nyakitin kamu. Makanya aku nggak cerita."
Syaharani mengangguk. Pelan.
"Sakit itu bukan karena kamu cerita, Mas. Sakit itu karena kamu bohong delapan tahun."
Dia berjalan ke kamar anak. Menidurkan Rafa. Tangannya masih stabil. Hebat.
Kembali ke kamar, Arya masih berdiri di tempat yang sama. Seperti patung.
"Aku mau tidur di kamar tamu."
"Ran—"
"Aku butuh mikir. Kita butuh mikir. Sepuluh tahun itu lama, Mas. Jangan dirusak pakai alasan 'aku bersalah'."
Dia keluar. Menutup pintu pelan. Tidak membanting.
Di ruang tamu, dia duduk di sofa. Lampu tidak dinyalakan.
HP-nya ada di meja. Tiga chat masuk dari grup arisan. Satu chat dari mamanya: "Udah tidur, Nak?"
Syaharani membuka galeri. Foto terakhir: ulang tahun pernikahan ke-10 bulan lalu. Dia, Arya, dan dua anak. Kue bertuliskan "10 Tahun Bersama".
Dia zoom ke wajah Arya. Tersenyum. Tangan Arya merangkul bahunya.
Bohong.
Jam 03.00 pagi, dia tidak tidur. Dia menghitung.
3 juta x 12 bulan x 8 tahun = 288 juta.
Dua ratus delapan puluh delapan juta. Cukup buat DP rumah kedua. Cukup buat kuliah Rafa sampai lulus. Cukup buat dia resign dan buka usaha kecil.
Uang itu tidak hilang. Uang itu pindah. Ke masa lalu suaminya.
Pukul 05.00, azan subuh.
Arya mengetuk pintu kamar tamu.
"Ran, sholat yuk. Terus kita ngomong lagi. Aku janji akan jelasin semuanya."
Syaharani tidak menjawab. Dia ambil sajadah. Sholat sendiri.
Di sujud terakhir, dia tidak minta Arya kembali.
Dia minta satu hal:
"Ya Allah, kasih aku kekuatan buat memilih. Antara laki-laki yang sudah sepuluh tahun menemaniku atau harga diriku yang baru delapan jam ini aku temukan lagi."
Selesai sholat, dia buka kulkas. Masak nasi. Goreng telur. Seperti biasa.
Pukul 6.30, Kayla, anak pertama, turun. Seragam SD sudah rapi.
"Mama, Papa mana?"
"Papa di kamar, Sayang. Sarapan dulu yuk."
Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti sepuluh tahun terakhir.
Tapi di dalam kepalanya, ada satu notifikasi yang tidak akan pernah bisa dia "hapus".
'Makasih ya Yang-'
Yang.
Satu kata itu cukup buat menghancurkan sepuluh tahun, dua anak, dan satu rumah.
Hari ini, Syaharani harus memutuskan.
Apakah dia akan tetap jadi istri atau mulai jadi Syaharani yang dulu lagi.