


oleh Gavrila · 6 Bab
Menjadi seorang anak korban dari sebuah keluarga yang broken home, kekerasan serta pelecehan seksual bukanlah menjadi hal yang mudah untuk seorang Arumi. Ia harus sekuat tenaga berjuang dan bertahan di saat pilihan untuk menyerah begitu menggoda. Berusaha sembuh dari traumanya demi seorang bayi yang lahir sebelum diinginkan adalah cobaan yang membuat hidupnya penuh luka dan lara. Di tengah–tengah depresi dan mentalnya yang terganggu ia harus mengurus seorang bayi mungil yang tak berdosa. Sanggupkah Arumi menghadapi semua cobaan yang datang menghampirinya silih berganti? Mampukah sang ayah kandung dari bayinya meyakinkan Arumi untuk bahagia bersama?
"Seringkali orang dengan hati terkuat memikul yang terberat."
***
Di salah satu rumah sederhana di ibu kota, seorang gadis yang sebagian wajahnya ditumbuhi jerawat, dengan rambut kuncir kuda tampak sedang mengepel lantai dengan peluh yang bercucuran.
Wajahnya yang tirus tampak sekali sudah pucat. Bibir tipisnya pun terlihat pecah-pecah dan mengeluarkan darah yang telah mengering. Tubuhnya kurus dengan kulit putih pucatnya seperti sudah kehabisan tenaga karena kelelahan.
“Arumi!”
Teriakan dari arah dapur membuatnya berlari tergopoh-gopoh. Sambil menenteng ember dan alat mengepel lantai, gadis itu menghampiri sang Ayah yang menatapnya tajam sambil berkacak pinggang.
“Mana sarapannya? Dasar anak nggak berguna! Kopi juga nggak ada, cepat buatin kopi!” teriak sang ayah sambil mendorong tubuh kecil Arumi.
“Maaf Pak, Arumi baru selesai ngepel," sahutnya pelan sambil bergegas merebus air untuk membuatkan kopi sang ayah.
“Ck lama bener dah, anak nggak guna. Kenapa dulu kau nggak ikut mati saja sih!"
Uhukk uhukk!
“Ck dasar wanita-wanita nggak guna, bisanya cuma nyusahin hidup orang!” umpatnya lagi saat mendengar suara wanita terbatuk dari ruang tamu.
“Ini, Pak, kopinya.” Arumi menaruh kopi dengan kepala menunduk tidak berani menatap sang ayah yang nampaknya sedang murka pagi itu.
Brushh!! “Dasar bodoh! Kau mau ngeracunin bapak?” teriaknya lagi setelah menyemburkan kopi dan melemparkan gelasnya ke sebelah kaki Arumi.
“Bikin kopi saja nggak becus. Benar-benar anak bodoh nggak berguna! Lebih baik kau mati saja anak setan!" murkanya sambil memukuli Arumi dengan gagang alat pel.
“Ampun, Pak, ampun. Arumi minta maaf.”
“Mati kau! Mati biar jadi bahan bakar neraka. Dasar anak setan! Anak bawa sial!"
“Ampuni Arum, Pak. Arumi janji akan jadi anak baik yang bisa ngasih bapak uang yang banyak,” pinta Arumi dengan sesenggukan sambil menahan pukulan.
“Bodoh, mati aja sana!”
“Ya Allah, Abang. Jangan, Bang, kasihan Arumi.” Ibu Arumi yang baru saja selesai menjemur cucian milik majikannya berhambur menolong Arumi dari amukan suaminya.
“Minggir!” Jamaludin yang sudah dikuasai amarah dan seperti kerasukan setan mendorong tubuh Fatimah, istrinya.
“Bapak jangan sakiti Ibu, pukul saja Arum, bunuh Arum, Pak, jangan Ibu.” Arumi memohon sambil memeluk erat kaki ayahnya.
“Nggak guna semua! Wanita-wanita iblis, mati aja kalian berdua!” Dengan sekali tendang, tubuh kecil dan ringkih Arumi terpelanting hingga membentur tembok. Arumi hanya bisa meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. Namun, bibir pucatnya tersenyum lemah ke arah sang Ibu hingga pandangannya menggelap.
***
Umi Salammah bertemu dengan Arumi di jalan menuju pondok saat pulang dari pasar. “Le, ada orang pingsan Le, coba dilihat.”
Akbar, putra Umi Salammah dan Kyai Syamsudin bergegas membuka pintu mobil untuk turun melihatnya. Seorang perempuan dengan luka dan lebam di sekujur tubuhnya tampak tergeletak tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Ia dibantu oleh Umi-nya membopong tubuh wanita itu ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
“Bagaimana, Pak Dokter?” tanya Umi Salammah setelah melihat dokter keluar dari ruangan tempat perempuan tadi diperiksa.
“Begini, Bu, sepertinya perempuan itu adalah korban kekerasan, banyak sekali luka di tubuhnya. Dia kekurangan cairan dan daya tubuhnya lemah. Dari hasil pemeriksaan, dia sedang hamil, Bu, perkiraan sudah dua bulan. Sebaiknya dirawat dulu di sini kalau keadaanya sudah membaik bisa di bawa pulang karena kondisi kandungannya juga lemah.”
“Astagfirullah.” Umi Salammah membekap mulutnya. “Lakukan saja yang terbaik, Pak Dokter.”
“Baik, Bu, saya permisi dulu."
“Iya Pak, terima kasih.”
“Le, kasihan sekali wanita itu, Le.” Umi Salammah kembali duduk di samping putranya.
“Iya Umi, entah bagaimana bisa masih banyak orang yang tega menyakiti wanita sampai seperti itu. Akbar tidak tega melihatnya,” sahut Akbar dengan miris mengingat dulu dia juga hampir saja menjadi berandalan jika saja--ah mengingatnya saja Akbar tidak mau.
“Umi lihat dia dulu ya, Le. Kamu mau ikut apa nunggu di sini?”
"Akbar tunggu di sini saja, Umi," jawab Akbar karena tidak tega melihat kondisi wanita itu. Umi Salammah mengangguk dan berjalan ke dalam ruangan di mana wanita itu berada.
“Nduk, kamu sudah sadar? Ada yang sakit, Nduk?” tanya Umi Salammah kepada Arumi yang sudah sadar dan menatapnya kosong seperti jiwanya sedang tidak berada pada tempatnya.
“Kenapa Anda menolong saya? Seharusnya biarkan saja saya mati,” ucap wanita itu pelan dengan tatapan putus asa.
“Astagfirullah, tidak baik, Nduk, berbicara seperti itu. Allah masih mengijinkan kita bernafas itu berarti Allah masih menyayangi kita.”
“Ibu meninggal berarti Allah tidak menyayangi ibu?” Arumi menatap Umi Salammah dengan mata berkaca-kaca.
“Innalillahiwainnailaihirojiun, ibu kamu sudah meninggal dunia? Nduk, Allah mencintai dan menyayangi hambanya dengan banyak cara. Bisa saja ibu kamu meninggal karena Allah tidak ingin ibu kamu menderita di dunia.”
“Hiks hiks .…” Wanita itu akhirnya menumpahkan tangis yang sedari tadi ditahan.
“Ssstt … sudah, kamu ini dari mana kok bisa sampai pingsan di jalan? Tubuh kamu juga banyak luka seperti ini, astagfirullah. Kamu istirahat dulu yo di sini, nanti kalau sudah boleh pulang Umi antarkan kamu pulang,” ucap Umi Salammah sambil mengusap kepala Arumi yang masih menangis.
Arumi panik begitu mendengar kata pulang, yang ada di otaknya hanya sosok bapak yang kejam. Terakhir kali bertemu setelah pemakaman ibunya menghajarnya tanpa ampun dan menyeretnya ke dalam gudang tanpa makan dan minum selama dua hari. Di hari ketiga, Zainal—abang tirinya berhasil mengeluarkannya dan menyuruhnya kabur.
Berbekal secarik kertas yang tertulis alamat sebuah pondok yang kata Zaenal tempat di mana calon istrinya mengajar, dan uang saku pas-pasan, Arumi pergi dari rumah itu membawa semua rasa sakitnya dan harapan masa depan yang sudah hancur.
“Puas kau anak setan? Nggak ada gunanya kau hidup. Mati sono nyusulin ibumu ke neraka.” Dengan sabuk, tubuh Arumi dipukul bapak tanpa ampun.
“Udah kubilang sama Fatimah buat gugurin kau saja. Tapi apa? Dia milih besarin anak nggak berguna kaya kamu. Kualat tuh dia, makanya sakit-sakitan sampe mati. Mending kau ikut mati aja sana, udah muak liat muka anak bawa sial kaya kamu."
“Hiks … hiks ... ampun, Pak ....”
“Jangan ada yang berani-beraninya mendekat dan nolongin anak sundel ini! Kalian mendekat, kalian bakal ikut bapak pukul sampai mati!” ancamnya saat melihat kedua anak dan istri keduanya mendekat hendak menolong Arumi.
“Kau dengerin baik-baik ya anak setan, ibumu mati karna salahmu sendiri, sekarat gara-gara tahu kelakuan busuk anaknya. Kecil-kecil belum kawin udah bunting. Bener-bener anak bawa sial!”
Mengabaikan tangan besar bapak yang menghantam wajahnya tanpa rasa iba. Kaki besar yang menendang perut Arumi dengan brutal, seakan dengan itu bisa membunuh janin yang di dalam perut Arumi. Arumi malah terpaku mendengar kata-kata Bapak.
Apa benar Ibu meninggal gara-gara Arumi? Gara-gara tahu Arumi hamil? Arumi sudah membuat ibu malu, melempar kotoran di wajah ibu. Arumi bawa sial.
Tapi ....
Ibu sakit karena lelah bekerja mencari uang untuk Bapak.
Ibu nggak sembuh-sembuh karena nggak ada uang buat beli obat.
Arumi hamil bukan keinginan Arumi.
Arumi hamil karena Bapak yang menjual Arumi.
Kilasan kejadian sebelum Arumi berhasil kabur berputar kembali di ingatan Arumi hingga membuat kepalanya sakit dan akhirnya kembali tak sadarkan diri.

Gavrila
2 Pengikut · 1 Novel