


oleh Saputra Nugroho · 1 Bab
Aku seorang perempuan dengan status yang tidak jelas. Seorang istri tanpa nafkah, atau juga janda tapi tanpa surat cerai. Aku hanyalah seorang perempuan yang bernasib sial. Aku sangat menyesal telah menikah dengannya tapi aku tidak menyesal memiliki seorang anak laki - laki. Kehidupanku saat ini sudah berbeda bahkan kini aku memiliki tanggung jawab yang membuatku merasa memiliki dunia baru. Tidak seperti dulu lagi namun itu adalah pilihan waktu, aku memilihnya namun kini aku malah terbuang. Saat ini aku sedang menikmati apel yang sedang aku makan. Tidak peduli seperti apa rasanya, entah manis, kecut atau pun hambar aku tetap akan menghabiskannya.
Hidup tidak akan sempurna jika kita belum pernah mengalami pahitnya kehidupan. Banyak kesalahan yang kita perbuat di masa lalu dan di masa depan. Takdir akan membawa kita pergi ke mana kita melangkah tanpa perlu bersusah payah menghindarinya.
Menyesal? Tentu saja. Namun aku sedang berusaha menjalani kehidupan yang sudah ditakdirkan menjadi milikku. Ada sebagian yang hilang dariku tapi aku masih bisa merasakan rasa bahagia. Aku memang tidak bisa menerima keadaan tapi apalah dayaku jika memang ini sudah ditakdirkan untukku.
Aku masih berusaha untuk membahagiakan diriku sendiri.
Aku melihat putraku yang sedang bermain di depan bersama teman-temannya hanya bisa tersenyum. Di saat teman-temannya merasakan arti kehadiran seorang ayah, anakku hanya bisa menatap dengan penuh rasa iri kepada teman-temannya.
Aku tau hidup ini begitu sulit, tapi mengapa anakku juga harus merasakan semuanya. Aku berusaha mencari kebahagian tapi apa yang kudapat? Aku hanya mendapat rasa sakit yang tidak pernah kubayangkan. Bagaimana aku harus mencari arti kebahagian jika keluargaku tidak ada, bahkan mereka juga telah meninggalkanku sejak kecil.
Aku menatap putra kecilku dengan tersenyum tipis saat dia sedang bermain dengan teman sebayanya, ketika aku melihat senyumannya membuat aku teringat dengan siapa sosok ayahnya. Astaga aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya akan tetapi aku tetap tak bisa menghilangkan rasa sakit itu.
"Arlot ayo pulang, saatnya mandi sudah mau maghrib!" Aku keluar dari rumah dan mendekat ke arahnya dan dia juga belum menyadari.
"Ayo, Nak pulang." Dia menoleh kebelakang dan tersenyum dengan tipis.
"Ibu kapan pulang?" tanyanya dan berlari mendekat ke arahku.
"Barusan ibu pulang, ayo masuk sudah mau malam," ajakku dan dia tersenyum dengan menoleh ke arah belakang.
"Aku pulang dulu, kalian juga pulang ya!" Seketika semua teman-temannya yang sedang berkumpul langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Kan belum maghrib, Tan?" tanya salah satu dari anak tersebut, aku mendekat ke arahnya sambil menggelengkan kepala.
"Sebentar lagi kalian di cari mama kalian, jadi pulanglah! Besok main lagi ujarku dan mereka semua langsung bubar meninggalkan lapangan dengan lesu.
"Gimana mainnya lancar?" tanyaku dengan menggandeng tangan mungilnya.
"Seru Bu tapi kakek ribet banget,masa dikit-dikit suruh pulang!" aku hanya tersenyum dengan tipis.
“Ya sudah jangan marah sama kakek, kan selama ibu enggak ada kakek yang bantuin Arlot kan?" tanyaku dan dia memutar mata dengan dengan kesal.
"Iya deh kakek yang bantuin aku selama ibu bekerja.”
Namaku Aruna Kinanti Navendra, usiaku dua puluh tujuh tahun. Aku memiliki seorang putra yang berumur sembilan tahun. Statusku saat ini tidak jelas, memiliki suami akan tetapi semenjak menikah aku tidak pernah diberikan nafkah sedikitpun. Aku menikah karena memang saling mencintai tapi kami melakukan sesuatu yang di luar batas kendali sehingga kami berdua harus menanggungnya.
Keluargaku bukan keluarga cemara, bahkan aku juga belum pernah bertemu dengan ayahku. Sejak kecil aku didik dengan keras oleh kakek dan nenekku. Aku tidak menyayangi orang tuaku tapi satu hal yang aku akui bahwa aku menyayangi kedua kakek dan nenekku meskipun mereka menyuruhku untuk memaafkan mereka namun rasanya sangat sulit.
Nama putraku bernama Arlot Navendra. Dia sangat mirip dengan lelaki yang pernah membuat aku tersenyum dengan bahagia sebelum dia menjatuhkan aku dengan keras.
Aku memang melakukan kesalahan pada hidupku dan aku tidak ingin anakku melakukan kesalahan di masa depan. Dia terlahir dengan sempurna dan membuat aku menyayanginya tanpa batas waktu.
Aku saat ini sudah berada di toko, dan beberapa pelanggan sudah mulai berdatangan. Aku melirik ke arah arloji dimana jam sudah menunjukkan waktu istirahat. “Mbak istirahat dulu, gantian sama Tissa.” aku menoleh ke arah mbak Dian yang sudah selesai dengan jam kerjanya.
“Ah iya mbak,” aku langsung menundukkan kepala karena dia sudah yang paling tua di sini dan juga dia juga baik terhadap karyawan yang ada di sini.
“Tissa, kamu udah kan makn siangnya?” tanya dian sedangkan yang ditanya memutar bola mata dengan malas.
“Belum mbak!” aku lihat Mbak dian menghela nafas dengan kasar.
“Sudah sana istirahat dulu, makan siang ini sudah mau jam tiga sore” aku langsung mengambil kotak makan yang sudah aku bawa dari rumah dan juga sudah aku siapkan.
Aku melihat sekilas Tissa yang sedang makan dengan santai sambil memainkan ponselnya, aku menghela nafas dengan kesal bagaimana mungkin dia bisa bersantai saat warung sedang ramai. “Sudah biarkan saja!” ujarku lalu aku langsung ke meja yang khusus untuk karyawan untuk istirahat.
Butuh waktu satu jam dan aku sudah selesai. Aku langsung ke depan untuk membereskan toko di gudang karena aku lihat stok makanan di rak sudah tidak ada dan juga berantakan.
“Aruna!” aku menoleh ke arah pak Riko yang memanggilku dengan tersenyum tipis.
“Iya pak, ada apa?” tanyaku dengan mendekat ke arahnya dan dia saat ini sedang berada di kasir.
“Tolong ini jaga saya ada urusan dulu,” dia langsung pergi meninggalkan kasir dengan terburu-buru., sedangkan aku langsung terdiam karena selama ini yang menjaga kasir adalah dia sendiri. “Tap..tapi pak!" Aku berusaha menolak dan setelah itu dia malah langsung meninggalkan aku. “Sudah terima saja!” ujar Pak Riko, Dengan lesu aku langsung memasuki kasir.
Pak Riko adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya, sejujurnya aku di sini baru bekerja setahun aku juga tidak enak semenjak pak riko yang memegang toko ini, dia selalu menggoda bahkan tak jarang dia selalu ingin aku dekatnya, kenapa aku mengetahuinya karena dia sering mengatakan bahwa dia ingin serius denganku tapi aku selalu menolaknya dan sampai sekarang dia masih berusaha untuk mendapatanku.
“Ngomong apaan Pak Riko barusan?” aku tersentak kaget saat Tissa tiba-tiba ada di belakangku dan juga membuat aku menoleh ke arahnya. “Ah ini Pak Riko menyuruhku untuk menjaga kasir sebentar!” ujarku dengan masuk ke pintu kecil kasir.
“Cih… ganjen!” aku menoleh dengan diam karena memang dia memang mengincar pak riko karena dia duda kaya. “Mau tukeran?” tawarku dengan tersenyum tipis, dia menatapku dan bersedekap dada. “Itu tugasmu, bukan tugas gue!” setelah mengatakan itu dia langsung meninggalkanku dan aku hanya menggelengkan kepala.

Saputra Nugroho
0 Pengikut · 1 Novel