


oleh Sfrauf · 96 Bab
Menjadi "bayangan" seorang pangeran mahkota di sekolah elit bukan hal yang mudah untuk seorang Keyara. Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan misi rahasianya untuk membersihkan nama sang ayah. Namun, saat Elvanzo menawarkan kunci kebenaran dengan syarat Keyara harus menjaga rahasia terbesarnya, kesepakatan pun dimulai. Di antara jadwal belajar yang padat, drama asrama, dan tatapan tajam para elit, mereka terjebak dalam permainan yang mengaburkan batas antara tugas dan rasa. Di Aurelia, setiap orang punya rahasia, dan rahasia milik Elvanzo adalah yang paling berbahaya karena melibatkan hati Keyara.
Pagi ini, lantai marmer koridor utama Aurelia International Boarding School terasa lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin, hanya perasaanku saja. Semua orang mendadak berhenti berjalan saat aku lewat.
Aku merapatkan pelukan pada buku sosiologi di dadaku, berusaha mengabaikan suara detak jantung yang memburu.
"Keyara?"
Aku menoleh. Di sana, di depan deretan loker kayu ek yang mengkilap, Grizelle berdiri dengan melipat tangan. Rambutnya yang pirang madu tertata sempurna tanpa ada satu helai pun yang berani keluar jalur. Di sampingnya, dua pengikut setianya sudah siap dengan senyum sinis yang sangat kukenali.
"Iya, Grizelle? Ada apa?" tanyaku, berusaha menjaga suaraku tetap datar.
Grizelle melangkah maju. Matanya menyisir penampilanku dari ujung rambut sampai ke bawah. "Sepatumu."
Aku menunduk. Sepatu hitamku memang bersih, tapi itu bukan merk yang diwajibkan dalam katalog "rekomendasi" sekolah. Hanya pantofel biasa yang kubeli di pasar dekat rumah sebelum berangkat ke asrama.
"Kenapa dengan sepatuku?"
"Nggak apa-apa sih." Grizelle tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting gelas kristal tapi dingin. "Cuma ... bunyinya berisik banget di lantai marmer ini. Murahan ya? Kasihan telinga kita, kan, teman-teman?"
"Iya, bener banget. Kaya suara kaki kuda di pasar tau nggak," sahut salah satu temannya.
Aku menarik napas panjang. "Maaf kalau suaranya mengganggu. Tapi setahuku, di buku peraturan sekolah, yang penting sepatunya berwarna hitam dan tertutup. Nggak ada aturan harus beli di butik tertentu."
Mika, teman sekamarku yang baru saja muncul dari balik belokan, langsung menarik lenganku. "Key, ayo. Kelas Pak Darmawan bentar lagi mulai. Kamu mau dihukum karena telat?"
"Tunggu dulu, Mika." Grizelle menghalangi jalan kami. "Aku cuma mau ngasih saran. Sebagai sesama penghuni asrama Aurelia, kita harus jaga standar, kan? Keyara ini, kan, siswi beasiswa kebanggaan. Jangan sampai beasiswanya dicabut cuma karena ngerusak estetika koridor."
"Grizelle, minggir." Suaraku sedikit naik.
"Wah, mulai berani ya?" Grizelle menatapku tajam. "Kamu tahu siapa ayahku?"
"Tahu. Beliau pengusaha sukses sekaligus donatur sekolah ini. Tapi itu nggak bikin kamu jadi pemilik nyawaku di sini, kan?"
Mika makin kencang menarik seragamku. "Key, udah! Ayo!"
Kami setengah berlari meninggalkan koridor itu. Begitu masuk ke dalam kelas yang masih sepi, Mika langsung menjatuhkan tasnya dan menatapku dengan wajah pucat.
"Kamu gila ya, Key? Itu Grizelle! Dia itu ... hampir jadi keluarga kerajaan kalau perjodohannya lancar!"
"Terus kenapa? Aku di sini buat belajar, Mika. Bukan buat jadi keset kaki dia."
"Tapi kamu siswi beasiswa. Posisimu itu rawan banget. Satu laporan dari ayahnya ke Kepala Sekolah, kamu bisa langsung ditendang keluar besok pagi."
Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang empuk. "Ayahku difitnah, Mika. Aku ke sini buat nyari tahu kebenarannya. Kalau takut sama cewek manja kayak dia, mending aku pulang sekarang."
"Hush! Jangan keras-keras ngomong soal ayahmu," bisik Mika sambil celingukan. "Ingat, di sekolah ini tembok pun punya telinga."
"Iya, aku tahu."
Pintu kelas terbuka lebar. Suasana mendadak hening total. Seorang laki-laki masuk dengan langkah yang sangat tenang, hampir tidak terdengar. Seragamnya berbeda dengan kami; ada bordir emas di kerah dan lencana khusus di dadanya.
Elvanzo Danendra von Wangsa.
Dia tidak menoleh ke arah siapa pun. Matanya lurus ke depan, dingin, dan kosong. Dia duduk di bangku paling depan, di baris tengah yang selalu dikosongkan oleh siswa lain seolah ada radius tak kasat mata yang tidak boleh dilanggar.
"Ganteng banget ya, Key?" bisik Mika pelan sekali, matanya berbinar.
"Biasa aja," jawabku singkat sambil membuka buku.
"Biasa aja katanya? Itu Pangeran Mahkota, Key! Calon raja kita!"
"Dia cuma remaja yang kebetulan lahir di istana, Mika. Sama-sama makan nasi, kan? Sama-sama sekolah di sini juga."
Mika menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu benar-benar spesies langka di Aurelia. Orang lain kalau lihat Vanz lewat slaja langsung nahan napas tahu."
"Aku lebih milih nahan napas karena bau sampah daripada nahan napas karena lihat orang lewat."
Tiba-tiba, Elvanzo menoleh ke belakang. Hanya sekilas. Tapi sumpah, matanya sempat terpaku pada sepatuku yang tadi diejek Grizelle. Aku balas menatapnya, tidak mau terlihat terintimidasi. Dia kembali membuang muka seolah aku hanyalah butiran debu yang kebetulan lewat di penglihatannya.
"Tuh, kan! Dia lihat ke sini!" Mika hampir memekik tertahan.
"Dia lihat sepatuku, Mika. Bukan lihat aku."
Pak Darmawan masuk ke kelas dengan wajah kaku seperti biasanya. "Selamat pagi semuanya. Silakan buka halaman empat puluh dua."
Aku berusaha fokus, tapi pikiranku melayang. Sekolah ini benar-benar gila. Di sisi lain ada Grizelle yang merasa memiliki dunia, dan di depan sana ada Elvanzo yang terlihat seperti robot tanpa emosi.
"Keyara Adistya," panggil Pak Darmawan tiba-tiba.
Aku tersentak. "Iya, Pak?"
"Setelah jam pelajaran selesai, silakan ke ruang jurnalistik. Kamu sudah saya daftarkan sebagai anggota baru di sana."
"Maaf, Pak? Saya tidak mendaftar ke sana."
Pak Darmawan menatapku dari balik kacamata tebalnya. "Ini wajib untuk siswi beasiswa sebagai bagian dari pengabdian sekolah. Kamu akan bertugas meliput kegiatan ekstrakurikuler utama."
"Tapi saya ...."
"Tidak ada tapi-tapi, Keyara. Ini perintah."
Aku mendesah pelan. Jurnalistik? Bukankah itu terlalu berisiko? Tapi sedetik kemudian, aku tersenyum tipis. Jurnalistik, itu akses untuk bertanya ke siapa saja, dan aku bisa masuk ke banyak tempat dengan alasan "liputan". Ini mungkin jalan yang kubutuhkan untuk masuk ke arsip rahasia sekolah.
"Baik, Pak," jawabku akhirnya.
Dari sudut mataku, kulihat Elvanzo sedikit menggerakkan bahunya. Dia tetap diam, tapi aku merasa dia sedang mendengarkan setiap kata dalam percakapan tadi.
"Key," bisik Mika saat Pak Darmawan mulai menulis di papan tulis. "Kamu tahu siapa ketua klub jurnalistik?"
"Siapa?"
"Juno Mahendra. Cowok jenius yang agak aneh itu. Hati-hati, dia itu pelit banget kasih nilai kalau hasil liputanmu nggak sempurna."
"Bagus dong. Aku juga nggak suka yang setengah-setengah."
Bel istirahat berbunyi. Aku segera merapikan buku. Saat melewati meja Elvanzo, tidak sengaja kujatuhkan pulpenku tepat di bawah kakinya. Aku ragu sejenak. Haruskah aku mengambilnya? Atau membiarkannya saja?
Elvanzo bergerak. Dia membungkuk, mengambil pulpen itu dengan jemari yang panjang dan bersih. Dia menyodorkannya padaku tanpa suara.
"Terima kasih," kataku pelan.
Dia hanya mengangguk tipis, lalu berdiri dan berjalan keluar kelas diikuti oleh dua ajudan berpakaian sipil yang selalu berjaga di depan pintu.
"Key! Kamu baru aja dikasih pulpen sama Pangeran!" Mika mengguncang bahuku.
"Aku yang punya pulpennya, Mika. Dia cuma balikin."
"Tetep aja! Itu interaksi pertama kalian!"
Aku menatap pulpen di tanganku. Rasanya masih ada sisa dingin dari tangannya. Laki-laki itu ... kenapa terlihat sangat kesepian di tengah kerumunan orang yang memujanya?
"Ayo ke kantin," ajakku. "Aku lapar banget gara-gara tadi debat sama Grizelle."
"Jangan kaget ya kalau nanti di kantin Grizelle makin rese."
"Biarin aja. Kalau dia berisik, kusumbat pakai roti."
Kami berjalan menuju kantin. Sekolah ini memang indah, tapi di balik kemewahannya, aku tahu ada banyak rahasia yang terkunci rapat. Dan aku, Keyara, akan memastikan satu per satu pintu rahasia itu terbuka. Termasuk rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ayahku di istana dulu.
Lantai marmer ini mungkin dingin, tapi tekadku jauh lebih membara.

Sfrauf
21 Pengikut · 9 Novel