


oleh Dayunie · 53 Bab
Disclaimer: Semua nama tempat yang berlokasi di Kabupaten Berau dalam cerita ini adalah nyata. Namun, beberapa dideskripsikan berbeda dengan kondisi sebenarnya demi kepentingan cerita. *** Selama belasan tahun aku menghidupkan sosok ayah dalam imajinasiku, dengan merangkai potongan demi potongan cerita dari Bunda. Kehangatan yang mengalir dari lisannya membuatku amat merindukan sosok lain yang bisa kupanggil ayah, dan membawaku pada sebuah misi mencari jodoh untuk Bunda. Namun, benteng yang harus kulewati terlalu kokoh. Tidakkah itu berarti ayahku terlalu berharga? Sayangnya, semua berubah saat kutemukan rahasia besar dari sebuah catatan kecil. Ayahku mungkin masih hidup, tapi dia pantas dianggap mati.
"Woi, Rindu! Buruan! Kamu mau tinggal sama ubur-ubur di sini, hah?" teriak Meylin, gadis cantik berambut lurus dari bawah pohon kelapa.
Anak itu beneran rese. Sirik banget lihat orang lagi sentimentil.
Aku mendelik. Bidadari sekolah itu mengibaskan rambut basahnya yang tebal. Sumpah, cantik banget. Posturnya mungil, bibir tipis, dan mata sipit, makin bikin dia kelihatan gemesin. Rasanya pengen masukin ke karung terus digebukin, eh maksudnya dibawa pulang, masukin ke lemari biar enggak diambil orang. Lumayan buat nemenin baju-bajuku yang buluk, kali aja bisa ketularan cantik.
"Lima menit lagi, Mey!" seruku. Ini teriakan ketiga sejak lima menit pertama.
Aku masih duduk di atas hamparan pasir, menikmati jilatan ombak di kaki sampai celana rok basah semua. Biarin deh. Habis berkeringat gara-gara ikut aksi transplantasi terumbu karang, aku mau kangen-kangenan dulu sama Ayah.
Sejak Bunda bilang kalau laut adalah rumah terakhir Ayah, aku jadi suka banget segala hal tentang hamparan air yang entah di mana ujungnya ini.
Mungkin, bagi orang lain yang kehilangan ayahnya karena ditelan lautan, tempat seperti ini bakal jadi musuh. Aku beda, malah pantai adalah area favorit buatku. Mau gimana lagi? Bunda nggak tahu di mana jasad Ayah bersembunyi.
Aku ingat banget, waktu kecil aku sering terbangun karena mimpi orang tenggelam. Samar sih, tapi cukup buat aku megap-megap kesulitan bernapas. Bunda sampai harus menenangkan aku dalam pelukannya. "Nggak papa, Sayang. Ada Bunda. Ikhlaskan Ayah, ya. Ini namanya takdir. Kita doakan yang terbaik buat Ayah sambil banyakin ibadah biar nanti bisa berkumpul di surga."
Senyuman Bunda manis banget, meskipun aku tahu, setelah mengucapkan itu, diam-diam Bunda menangis di tepi kasur. Umurku mungkin baru tujuh tahun waktu itu, tapi bisa banget bedain mana orang yang tergugu dan mana yang mengigau.
Namaku Rindu. Rindu doang. Tega banget Bunda ngasi nama sependek itu. Padahal aku ini anak tunggal. Enggak mungkin, kan, Bunda bosan ngasih nama.
"Karena Bunda rindu sama Ayah waktu ngelahirin kamu." Aneh banget alasannya, tapi ya sudahlah. Aku kan cuma penerima nasib.
Sudahlah, daripada dicoret dari kartu keluarga, mending aku diam saja. Lagian bakal lebih aneh lagi kalau namaku jadi Bunda Rindu Ayah, atau Kangen, gagal keren jadinya. Yang ada malah jadi bahan guyonan karena mirip nama band ibukota.
Jangan deh, sekarang saja teman-teman suka ngerjain karena namaku.
"Rindu!"
Sering banget tuh mereka manggil pas aku jalan lewat koridor sekolah. Lebih sering aku abaikan. Habisnya mereka nyebelin. Bikin keki kalau pas nengok, mereka langsung nyanyi. "Rinduuu uuuu, rindu serindu rindunyaaa aaaa." Tuh, yang nyanyi ketahuan otaknya jadul, hahahah.
Sialnya, seringkali aku kena marah guru gegara enggak nengok pas dipanggil. Ya, maaf, kirain temen yang lagi jahilin.
"Lima menit! Aku tinggal, nih!"
Tuh kan, si Mey teriak lagi. Beneran perusak suasana anak itu. Baiklah, ini juga sudah hampir masuk zuhur. Kasihan kulitku yang nggak pernah kenal sama sunblock atau apalah itu.
Aku menciduk air dengan kedua tangan lalu berbisik, seolah bisa menyampaikan pesan. "Titip salam buat Ayah, ya."
Kutegakkan kaki yang lumayan enggak pegal lagi habis bolak-balik membawa bibit terumbu karang tadi. Mataku yang refleks jadi hijau kalau lihat duit, kini menatap lurus ke tengah laut Pulau Maratua. Seneng banget bisa memandang airnya yang jernih bergerak indah seperti permadani biru yang melambai.
Aku tersenyum. Rasa haru selalu memenuhi rongga dadaku tiap kali berada di fase ini. Enggak tahu kenapa, sejak Bunda membawaku ke tepi laut untuk mengenang Ayah, aku selalu ingin memanggil namanya.
Kubentuk kedua telapak tangan menyerupai corong di depan mulut. Ada ritual yang harus aku lakukan sebelum meninggalkan laut. Enggak peduli di sini banyak orang yang melihat, paling juga disangka gila. Enggak apa-apa deh, itu artinya aku masih waras, kan? Daripada disangka waras, kan kebalik jadinya.
"Ayah! Rindu pulang dulu, ya. Nanti Rindu ajak Bunda nengok Ayah."
Teriakanku membuat wajah-wajah menoleh. Aku cuma tersenyum manis setengah kecut tanpa malu. Toh aku manggil ayah sendiri, bukan ayah mereka. Kalau misalnya ada yang merasa, ya bukan salahku. Salah sendiri kegeeran.
"Ayah jangan sedih, Rindu selalu do—" Aku enggak bisa nerusin kalimat. Tangan putih mulus dengan urat halus seperti kabel kecil memanjang di balik kulit, menutup mulutku.
"Berisik! Seneng banget deh nyusahin orang," omel Meylin sambil menarikku mundur dari tepi laut. Satu tangan menutup mulut, satu mengunci leherku sambil terus berjalan. Dia pasti berjinjit. Ngerepotin diri sendiri.
"M-Mey, ak-u ng-gak bisa napas."
"Biarin. Bagus lagi kalo kamu nyusul ayahmu. Gak kangen lagi, kan?"
Astagfirullah, ini teman atau apa? Tega banget.
Itulah Meylin. Gadis yang dijuluki bidadari oleh penghuni SMA Negeri 5 Berau itu omongannya suka bikin kuping panas. Filternya rusak. Ngomong seenak jidat, meskipun aku tahu pasti jidatnya nggak ada enak-enaknya. Mending makan bakso Bulek kantin, apalagi ditambah sambal dengan tingkat kepedasan level empat. Wuih, area datar di atas alis Mey nggak ada apa-apanya, selain keringat halus yang bikin cowok mata keranjang gemes pengen jadi babu buat ngelapin.
"Kamu orang nggak ada kerjaan, apa? Jidatmu aja keringetan bikin ilfil gitu, sok-sokan mau ngelapin punya orang. Nggak waras!" Itu salah satu kata mutiara si cantik waktu kami mengisi kampung tengah di kantin sekolah.
Apa kubilang! Dia enggak punya saringan, kan?
***
Aku turun kembali menuju bibir pantai untuk mengambil gambar. Kurang afdol rasanya kalau kangen-kangenan sama Ayah tanpa melapor ke Bunda.
"Jangan lama-lama, Rin! Nanti kadar jelekmu makin tinggi, kasihan yang lain nggak kebagian."
Kakiku yang sudah menapak pasir putih mengerem mendadak. Aku menoleh pada Meylin yang cekikikan nyebelin di atas teras penginapan kami.
Sepertinya, aku perlu menyeret dia ke Pasar Sanggam Adji Dilayas untuk beli saringan buat mulutnya yang asal ngomong itu. Mentang-mentang cantik, seenaknya ngerendahin aku. Untung sohib.
"Nggak, paling juga seabad," jawabku sewot sambil melanjutkan langkah dengan sandal yang kekecilan. Barang milik Mey memang selalu imut. Apa boleh buat, sandalku yang murahan keburu putus gegara bolak balik mengangkut bibit terumbu karang.
Aku akhirnya sampai di bibir pantai. Sekarang, air laut enggak boleh lagi menyentuh kakiku. Sudah segar paripurna begini, ogah main basah-basahan lagi. Mana ini kaos kaki terakhir, bisa berabe kalau sampai basah.
Lima kali aku mengambil gambar pake kamera ponsel butut, hadiah dari Bunda sebagai peraih nilai UAN SMP tertinggi se-kabupaten. Bekas, sih, tapi lumayanlah buat nelpon Bunda yang kesepian di rumah.
Nah, jadi mellow lagi, deh, kalau mikirin Bunda yang nggak punya teman. Sudah hampir dua tahun aku selalu ninggalin Bunda buat sekolah. Berat, sih, tapi Bunda maksa banget. Padahal aku ikhlas kalau misalnya harus berakhir jadi penerus warung makan kecil punya kami.
“Dapat salam dari Ayah.” Aku mengirim pesan dan lima foto buat ngobatin rindu Bunda ke Ayah. Biarpun Bunda kelihatan tegar, aku yakin banget air matanya menetes juga kalau aku enggak ada.
Jujur, aku dilema. Pengen banget kuliah, tapi enggak tega ninggalin Bunda sendirian. Makanya tiap pulang kampung aku selalu repot cari tahu om-om yang suka mampir di warung kami. Kali aja ada yang cocok sama Bunda. Tapi, dasar Bunda kepala batu tingkat dewi, semuanya ditolak.
"Enggak ada yang bisa gantikan posisi Ayah di hati Bunda." Ya ampun, budak cinta akut.
Janda gagal move on, itulah Bunda. Padahal aku juga pengen punya seseorang yang bisa aku panggil Ayah, dan suami yang bisa jagain Bunda pas aku kuliah nanti.
Kalau sudah begini, aku cuma bisa bilang, "Ayah, aku rindu.”

Dayunie
10 Pengikut · 2 Novel