


oleh IRLINA · 100 Bab
Dalam bayang-bayang malam, Kota New Haven menyimpan rahasia dan kekerasan. Alessandro De Marco, pemimpin mafia muda dan ambisius, bertemu Valentina Darkova, vampir misterius. Cinta mereka berkembang di tengah konflik kekuasaan dan ancaman. Dapatkah mereka mengatasi perbedaan dan bahaya untuk bersama? Atau cinta mereka akan menjadi korban kekuatan gelap?
Seorang mafia bernama Alessandro Matri atau yang dikenal dengan panggilan Al, berusia 35 tahun, berdiri di sebuah ruangan bawah tanah bersama beberapa anak buahnya.
Ruangan tersebut hanya diterangi oleh cahaya yang redup dan bau anyir yang menyengat. Sebagai seorang mafia yang meneruskan pekerjaan ayahnya, Al terbiasa dengan situasi seperti ini. Ayahnya sendiri tewas di tangan seseorang yang tak dikenal.
"Tuan Al, kami menemukan beberapa orang yang mengkorupsi Casino milik Anda di kota New Haven," ucap salah satu anak buahnya.
Al duduk santai di kursi yang disediakan, mengendalikan amarah yang mulai memuncak. Anak buahnya kemudian menghidupkan korek api karena bosnya ingin merokok. "Lepaskan penutup kepala mereka," perintah Al dengan suara berat, berusaha untuk tetap tenang di tengah situasi yang kian memanas.
Anak buahnya pun menurut, dan mengungkapkan wajah-wajah orang yang berkhianat pada Al. Sambil menyalakan rokoknya, Al berkata," Victor, jelaskan padaku mengenai profesor yang menemukan serum terbarunya."
Victor membuka penutup kepala orang-orang yang berkhianat, lalu mulai menjelaskan. "Masalah serum yang dibuat oleh Professor itu, baru beberapa yang dikeluarkan. Serum ini, bisa mengendalikan vampir dan menjadikan mereka budak, Tuan Al."
Al mendengarkan dengan seksama, pikirannya berputar mencoba memikirkan strategi untuk mengatasi situasi ini. Kesalahan demi kesalahan yang dilakukan oleh bawahannya seakan mencerminkan kegagalan yang ia rasakan sebagai pemimpin.
Namun, ia tahu ia harus tetap tegar dan fokus agar dapat mempertahankan posisinya di dunia yang kejam ini. "Kalian tahu, apa hukum seseorang yang berkhianat?"
"Tuan Al, maaf kesalahan kami yang sudah berkhianat kepada Anda. Ampunilah kami ini, berikanlah kesempatan kami dan memperbaiki semuanya. Tuan, aku mempunyai sedikit mengetahui tentang vampir. Saat ini, vampir dalam keadaan kekhawatiran karena Profesor menemukan serum itu," ucap pria yang berbadan gemuk dan perut buncit.
"Tuan, kami mendengar informasi dari seseorang. Ada pengusaha kaya raya,yang mau menjual serum ini. Tapi, hanya orang tertentu yang bisa hadir di acara tersebut," sahut pria yang berambut panjang.
"Tuan, Tuan, ada sebuah cerita mengenai seorang wanita keturunan vampir yang bercampur dengan manusia. Waktu itu, ibunya melahirkan anak yang masih berwujud manusia, dan sekarang, wanita itu menjadi buronan para vampir. Entah bagaimana, anak itu masih belum ditemukan dan kini sudah menjadi dewasa," kata Pria itu, berharap cerita ini dapat menggugah hati Al agar dirinya terhindar dari hukuman.
Al tersenyum sinis, terkekeh mendengar ucapan mereka satu-persatu. "Informasi yang cukup menarik, kalian benar-benar membuatku penasaran tentang vampir bercampur manusia itu. Namun, jangan kira aku mudah dibodohi. Hukuman tetap berlaku untuk kalian!"
"Tuan! Mohon jangan lakukan itu, kami tidak ingin mati sekarang. Ampunilah kami, Tuan!" ujar salah satu dari mereka dengan putus asa.
"Jangan, Tuan! Ampunilah aku! Ampunilah aku!" teriak yang lain, bersama-sama mereka memohon ampunan dari Al agar tidak dieksekusi mati.
Namun, tak ada belas kasihan dalam hati Al. Tidak ada jalan keluar selain mereka menerima hukuman, bahkan setelah menjalani penyiksaan sebelum nyawa mereka akhirnya diambil.
Al, mematikan batang rokoknya itu. Langkah kakinya mendekati meja, bermacam-macam alat untuk menyiksa musuh maupun pada pengkhianat. Mengenakan pakaian plastik, sarung tangan dan lainnya.
Tangannya menggenggam tang besi yang akan digunakan untuk menghukum orang yang telah mengkhianatinya. "Aku paling suka mendengar jeritan seseorang, mohon-mohon ampunan padaku," gumamnya penuh kepuasan.
Al melangkah mendekati Pria berbadan gemuk dengan perut buncit yang terikat erat di kursi, mengejeknya dalam hati.
"T-tuan ... jangan lakukan itu! Aku tak mau disiksa. Bunuh saja aku langsung, Tuan! Jangan siksa aku, jangan! Tembak aku, ayo! Tembak!" Pria itu berontak ketakutan, wajahnya pucat pasi.
Namun tidak akan membiarkan pengkhianatan ini berlalu begitu saja. "Tidak mungkin aku akan membunuh kalian bertiga dengan mudah, kalian harus merasakan siksaan yang pedih. Ini adalah konsekuensi dari mengkhianati kepercayaanku, kalian harus menanggung resikonya dan merasakan siksaan ini," sahut Al dengan dingin, sambil mengarahkan tang besi ke jari-jari pria itu.
"Aaaa! Aaaaaa!" Pria itu menjerit kesakitan ketika tang besi menghimpit jarinya dengan kekuatan penuh.
Al bisa melihat kuku dan jari pria itu hancur, air mata mengalir deras dari matanya yang menahan sakit. Mungkin itu akan menjadi pelajaran berharga baginya, agar tak pernah lagi berani mengkhianati orang lain. Al tersenyum puas dengan aksi ini, semoga saja membuatnya menyesali perbuatannya yang memalukan itu.
Dua orang di sebelah pria yang di siksa itu, ikut menahan rasa sakit juga. Al,memang terkenal dengan kejam dan siksaannya tidak main-main.
"Aaaaaaaa .... aaaaa...!"
Al, menghancurkan lima jari Pria tersebut. Sungguh menyenangkan sekali, bahkan dia hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
Cukup menyiksa Pria perut buncit ini, Al kembali ke meja dan mencari alat untuk di siksa lagi. Memilih gunting rumput di meja, langkahnya mendekati pria berambut panjang itu.
"Tuan, jangan lakukan itu! Tuan, ampunilah aku ini! Jangan siksa aku, Tuan. Jauh lebih baik, anda bunuh saja dan tebak di jantungku ini!" Pria itu, jelas ketakutan karena siksaan yang mulai mendekatinya.
"Aku tidak mungkin juga, membiarkan musuhku mati secepat kilat. Aku menginginkan darah kalian ini, keluar setiap kulit yang di goreskan!" Al, mengarahkan gunting rumput ke telinga pria itu.
"Aaaaaaaa! Sakit! Tidak!" Pria berambut panjang itu, kehilangan salah satu telinga kanannya.
"Hahahaha... Hahahahah.... Sungguh menyenangkan, bukan? Baiklah, kita lanjutkan satunya." Al, mengambil salah satu alatnya yang mau mencongkel sebelah mata pengkhianat itu.
Ruangan bawah tanah ini, penuh dengan suara teriakkan mereka yang menjerit-jerit kesakitan.
Al, benar-benar menyiksa mereka habis-habisan.
Suara mesin penyiksaan terdengar jelas, dimana kulit wajah salah satu mereka sampai melepuh dan terlepas dari dagingnya juga.
Setelah selesai dengan pekerjaannya itu, Al segera membersihkan diri dan membuang bau anyir yang penuh dengan darah tadi.
Keluar dari kamar mandi, di sambut hangat wanita cantik di tempat tidurnya. "Molly, bisa-bisanya kamu masuk ke dalam kamarku? Aku paling tidak suka, ada seorang wanita menyentuh barang pribadiku!"
"Astaga! Aku mendapatkan informasi dari kakek, ada beberapa klan lainnya merebutkan serum ini. Bahkan melakukan penyerangan besar-besaran juga, Profesor Hakim hilang dan tidak ada jejak sama sekali. Al, kamu tidak terlibat dalam penculikan Profesor Hakim?" Molly, menaruh rasa curiga kepada saudaranya ini.
Al, menghembuskan asap rokok ke udara. Dia masih bertelanjang dada. "Aku tidak tahu, menghilangnya profesor Hakim. Bukankah bagus, para vampir tidak was-was karena keturunan mereka dalam bahaya? Saat ini, keturunan para vampir hampir punah dan hanya di pelosok tersembunyi saja."
"Al, seandainya kita mempunya serum yang banyak itu. Kita juga, bisa mengendalikan vampir untuk menghadapi musuh-musuh. Mempunyai serum banyak, kita bisa menjualnya dengan mahal." Molly, tersenyum tipis.
"Jangan memikirkan tentang itu, fokus dengan bisnis Casino di Kota Jekyo. Aku dengar-dengar, para psk melakukan keributan di sana. Apa kamu sudah mengurusnya?"
Glek!

IRLINA
14 Pengikut · 4 Novel