Sudah tujuh tahun berlalu sejak Lembah Sembilan Gerbang kembali damai. Alam tumbuh dengan subur, mata air suci mengalir jernih, dan kehidupan manusia di sekitarnya berkembang pesat. Namun, di balik ketenangan itu, sesuatu yang tak kasatmata mulai menggelihat sebuah getaran halus, nyaris tak terdengar, berasal dari dalam Gerbang Kesembilan.
Arga kini tak lagi muda seperti dulu. Rambutnya sedikit memutih di pelipis, dan matanya tetap tajam. Ia berdiri di atas menara penjaga, memandangi lembah yang diterangi sinar mentari pagi. Dalam genggamannya, gelang perak peninggalan Rian tampak bergetar lemah.
“Tidak mungkin,” gumamnya lirih.
“Sudah bertahun-tahun kenapa sekarang?”
Dari bawah, suara Nisa memecah lamunannya. “Arga! Kau di atas lagi? Aku tahu wajah itu pasti ada yang kau sembunyikan dariku.”
Arga turun perlahan. Begitu sampai di tanah, Nisa sudah menunggunya dengan tangan bertolak pinggang, wajahnya sedikit kesal.
“Apa yang terjadi?” tanyanya tegas.
“Aku merasakan perubahan udara sejak subuh. Angin seperti membawa gema dari arah gerbang.”
Arga menarik napas panjang. “Gelang ini bergetar lagi. Seperti dulu saat Rian memanggilku.”
Mata Nisa membesar. “Rian? Dia sudah menjadi bagian dari lembah.”
“Ya,” jawab Arga, menatap cakrawala. “Mungkin ada sesuatu yang tersisa darinya.”
Belum sempat Nisa bertanya lagi, suara terompet dari menara utara terdengar nyaring. Damar dan Saka berlari dari arah bukit, wajah mereka tegang.
“Ada yang aneh!” teriak Saka sambil terengah.
“Gerbang Ketiga terbuka sedikit! Kami melihat cahaya keluar dari sela-selanya.”
Arga menatap mereka dengan tajam. “Itu tidak mungkin. Semua segel sudah dikunci oleh energi keseimbangan.”
Damar menggeleng. “Kau tahu aku tak akan datang kalau itu hanya ilusi. Aku melihatnya sendiri, Arga. Ada retakan dan di dalamnya, sesuatu bergerak.”
Suasana langsung berubah hening. Hanya suara angin lembah yang melintas di antara mereka.
Nisa melangkah maju, suaranya bergetar. “Kalau itu benar berarti keseimbangan mulai terganggu.”
Sore itu, mereka berempat berdiri di depan Gerbang Ketiga. Batu-batu besar di sekitarnya memancarkan cahaya lembut, tapi di tengah permukaan pintu batu itu tampak jelas sebuah retakan tipis berwarna keunguan. Dari dalamnya mengalir embusan udara dingin yang menembus kulit.
Saka berbisik, “Aku tidak suka udara ini. Rasanya seperti menatap sesuatu yang menatap balik.”
Damar mendekat, meneliti permukaan retakan dengan telapak tangan. “Energinya bukan dari sini. Ini bukan bayangan, bukan juga cahaya.”
Arga bertanya, “Maksudmu?”
“Ini waktu,” jawab Damar lirih.
“Ada aliran waktu yang terganggu. Seolah masa lalu dan masa depan sedang saling menarik.”
Nisa melangkah maju, wajahnya serius. “Arga, kau masih simpan peta kuno yang kita temukan di Gerbang Kedelapan dulu?”
Arga mengangguk dan mengeluarkan gulungan kulit dari tas bahunya. Peta itu terbuka di tanah, menampilkan sembilan lingkaran gerbang, dan di tengahnya, satu simbol yang belum pernah mereka pahami. Cermin Waktu.
“Simbol ini,” gumam Nisa sambil menunjuk gambar berbentuk cermin dengan dua bayangan di depannya.
“Kita kira dulu hanya hiasan, tapi mungkin inilah kuncinya.”
Damar memandang Arga dalam-dalam. “Kalau benar ini tentang waktu, maka keseimbangan bisa rusak dari dua arah yaitu masa lalu atau masa depan.”
Saka bersiul pelan. “Jadi kau bilang ada kemungkinan makhluk dari masa depan bisa menembus ke sini?”
“Bukan hanya makhluk,” sahut Damar dingin. “Bisa jadi versi lain dari kita sendiri.”
Malam turun cepat, membawa kabut tebal dari arah lembah timur. Mereka mendirikan api unggun di dekat gerbang. Nyala api menari di wajah mereka yang tegang.
Saka memecah keheningan, suaranya pelan, tapi waspada. “Aku masih ingat kata-kata Rian sebelum menghilang. ‘Jaga cahaya itu.’ Mungkin yang ia maksud bukan hanya keseimbangan lembah, tapi juga waktu itu sendiri.”
Nisa menatap api. “Kalau itu benar, maka waktu bisa menjadi gerbang kesepuluh yang tidak pernah disebutkan.”
Arga menatap gelang di tangannya. Cahaya samar keperakan mulai muncul di permukaannya.
“Mungkin, Rian juga sudah tahu ini akan terjadi.”
Tiba-tiba, gelang itu bersinar terang. Embusan angin deras meniup api unggun, memadamkannya seketika. Kabut menebal, dan suara berdengung memenuhi udara.
“Arga!” seru Nisa sambil memegang lengannya. “Apa yang terjadi?”
“Aku, aku melihat sesuatu,” desis Arga dengan mata terpejam. “Cahaya dan bayangan di balik waktu.”
Damar mendekat, mencoba menstabilkan aliran energi dengan mantranya. “Jangan lawan, Arga! Biarkan dia menunjukkan!”
Dalam sekejap, gelang itu melepaskan semburan cahaya yang memantul ke arah permukaan gerbang. Cahaya itu membentuk gambar samar, siluet seseorang dengan wajah yang sangat familiar.
Saka terbelalak. “Itu tidak mungkin.”
Nisa menatap tanpa berkedip. “Itu Arga, tapi bukan dia. Wajahnya sama dan hanya saja matanya gelap.”
Arga membuka mata perlahan, suaranya rendah dan tegas. “Itu bukan aku. Itu bayangan dari waktu yang lain.”
Kabut berputar lebih cepat, lalu menghilang. Hening menggantung. Api unggun padam seluruhnya, menyisakan cahaya rembulan di antara mereka.
“Jadi apa yang akan kita lakukan?” tanya Nisa perlahan.
Arga menatap retakan gerbang yang kini semakin lebar. “Kita cari asal Cermin Waktu itu. Dan kalau benar ada versi lain dari kita harus menemukannya duluan, sebelum ia menemukan lembah ini.”
Damar berdiri, menatap mereka satu per satu. “Perjalanan baru dimulai, tapi kali ini, kita tidak hanya melawan bayangan dari luar kita melawan kemungkinan dari dalam diri sendiri.”
Saka menepuk bahu Arga. “Baiklah. Kalau begitu, kita hadapi waktu.”
Arga mengangguk mantap. “Ya. Karena selama cahaya masih ada, kita tidak akan berhenti.”
Di kejauhan, suara petir bergemuruh tanpa hujan, seolah langit sendiri menandai awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan malam itu, di bawah cahaya bulan yang pucat, Lembah Sembilan Gerbang kembali bergetar.
Sebuah perjalanan baru telah dimulai menuju Cermin Waktu, di mana masa lalu, masa depan, dan hati manusia akan diuji sekali lagi.