


oleh Rico Andiska · 5 Bab
Dalam dunia di mana manusia hidup di bawah perlindungan kubah besi untuk melindungi diri dari atmosfer beracun, Kieran, seorang pemberontak muda, berhasil menemukan dokumen rahasia yang mengungkapkan bahwa ancaman sebenarnya berasal dari dalam. Ia harus memimpin perlawanan untuk bisa mengungkap kebenaran dan membebaskan kota mereka
Langit di bawah kubah besi itu selalu terlihat sama. Tak pernah berubah. Sejak aku lahir, sejak kakekku lahir, bahkan sejak nenek moyang kita pertama kali mendirikan Erythra, langit itu tetap abu-abu, dingin, dan tak bernyawa. Karena ada kubah raksasa yang melindungi kami dari dunia luar, katanya. Tapi, perlindungan macam apa yang membuat kami merasa seperti tikus dalam sangkar?
Aku, Kieran Solvay, atau biasa dipanggil Kier oleh teman-teman dekatku, sudah lama merasakan ada yang salah dengan tempat ini. Erythra, kota megah yang berada di bawah kubah besi, adalah rumah bagi jutaan orang. Tapi, siapa yang bisa bilang ini rumah ketika setiap langkah kita selalu diawasi, setiap kata kita dicatat, dan setiap napas kita diatur?
Aku berdiri di tepi jendela kecil di apartemen sempitku di Sektor Bawah. Jendela itu hanya menunjukkan pemandangan yang sama: dinding besi tinggi yang menopang kubah, dengan lampu neon yang berkedip-kedip, dan asap tebal dari pabrik-pabrik yang tak pernah berhenti beroperasi. Di sini, di Sektor Bawah, kami adalah roda penggerak mesin besar bernama Erythra. Kami bekerja, kami patuh, dan kami diam.
Tapi, diamnya kami bukan karena kami bahagia. Diamnya kami karena kami tak punya pilihan.
“Kier, kau masih melamun lagi?” Suara Erynn Calther, sahabatku, memecah kesunyian. Aku menoleh ke arahnya. Erynn, atau yang biasa kami panggil Erry, adalah satu-satunya orang yang masih bisa membuatku tertawa di tengah kekacauan ini. Dengan rambutnya yang merah seperti api selalu menjadi penanda di kerumunan orang, dan matanya yang hijau seperti zamrud seolah selalu penuh dengan ide-ide gila.
“Aku bukan melamun, Er. Aku sedang berpikir,” jawabku, sambil mencoba terdengar serius.
Erry tertawa. “Berpikir? Kau? Itu suatu hal baru. Biasanya kau hanya mengeluh tentang betapa buruknya makanan di kantin atau betapa brengseknya bos kita.”
Aku menghela napas. “Kau tak pernah merasa ada yang aneh dengan semua ini? Dengan kubah ini? Dengan Dewan Besi? Mereka bilang bahwa kubah ini akan melindungi kita dari atmosfer beracun yang ada di luar, tapi apa buktinya? Apa ada yang pernah melihatnya?”
Erry mendekat, wajahnya tiba-tiba menjadi serius. “Kier, kau tahu kenapa aku suka jadi temanmu? Karena kau selalu punya pertanyaan yang bikin kepalaku pusing. Tapi, hati-hati. Pertanyaan macam itu bisa bikin kau masuk penjara—atau bisa lebih buruk.”
Aku tahu dia benar. Tapi, semakin aku mencoba untuk tidak memikirkannya, maka semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang menggerogoti pikiranku. Apa yang sebenarnya terjadi di luar kubah? Kenapa tak ada yang pernah mencoba keluar? Dan yang paling penting, kenapa Dewan Besi begitu takut jika ada yang bertanya?
Malam itu, setelah Erry pulang, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bodoh. Sesuatu yang mungkin akan membuatku mati. Tapi, jika aku tidak melakukannya, aku merasa aku akan mati perlahan-lahan di dalam sangkar ini.
Aku mengambil tas kecil dan mengisinya dengan alat-alat sederhana: seperti obeng, senter, dan sebotol air. Aku tahu ada lorong rahasia di sektor teknisi, tempat aku bekerja. Lorong itu selalu dijaga ketat, tapi aku pernah melihat ada seorang teknisi senior masuk ke sana tanpa izin. Mungkin, hanya mungkin, aku bisa menemukan sesuatu di sana.
Saat aku tiba di sektor teknisi, tempat itu sepi. Hanya terdengar suara mesin yang berdengung monoton. Aku menyelinap ke sudut ruangan dan menemukan pintu kecil yang tersembunyi di balik rak besi. Jantungku berdebar kencang saat aku berhasil membukanya.
Lorong itu gelap dan sempit. Aku menyalakan senter dan mulai berjalan perlahan. Udara di sini terasa berat, seperti ada sesuatu yang sedang menunggu di balik kegelapan. Setelah beberapa menit, aku menemukan sebuah ruangan kecil dengan meja dan beberapa dokumen berserakan.
Aku mengambil salah satu dokumen itu dan membacanya. Dan tiba-tiba saja mataku membesar. Ini … ini tidak mungkin.
Dokumen itu berisi catatan tentang atmosfer di luar kubah. Tapi, bukan tentang racun atau bahaya. Ini tentang kebohongan. Atmosfer di luar kubah sebenarnya bersih. Aman. Tak ada racun. Tak ada bahaya apapun.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil dokumen lain. Ini adalah dokumen tentang laporan eksperimen. Eksperimen pada manusia. Mereka mencoba untuk menciptakan “manusia sempurna” dengan memodifikasi gen. Dan yang paling mengejutkan, mereka menggunakan warga Erythra sebagai bahan percobaan.
Aku merasa mual. Selama ini, kami hidup dalam kebohongan. Kubah ini bukan untuk melindungi kami. Tapi untuk mengontrol kami.
Tapi tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku cepat-cepat menyembunyikan dokumen itu di dalam tas dan mematikan senter. Tapi, sudah terlambat. Cahaya dari senter besar itu telah menyorot wajahku.
“Siapa kau?” Suara itu keras dan penuh ancaman.
Aku tidak menjawab. Aku langsung berlari.
Jantungku berdegup dengan kencang, seolah hampir meledak dari dada. Langkah kakiku beradu dengan lantai besi yang dingin, menciptakan suara bergema di lorong sempit itu. Cahaya dari senter besar di belakangku kini semakin dekat, dan suara langkah kaki yang mengejar semakin keras juga. Aku tidak bisa berhenti. Tidak sekarang.
“Jangan biarkan dia lari!” teriak seseorang dari arah belakang. Suara itu terdengar kasar, dan penuh amarah.
Aku membelok ke sebelah kanan, dan masuk ke lorong lain yang lebih gelap. Aku tidak tahu ke mana aku berlari, tapi aku tahu satu hal: jika mereka berhasil menangkapku, maka aku akan mati. Atau bisa saja jauh lebih buruk, aku akan menjadi bahan percobaan seperti yang tertulis di dokumen itu.
Tiba-tiba saja, aku melihat ada sebuah pintu kecil di ujung lorong. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendorongnya hingga terbuka dan masuk ke dalam. Ruangan itu gelap, tapi aku masih bisa melihat cahaya redup dari sebuah lubang ventilasi di atas. Aku pun cepat-cepat memanjat rak besi yang ada di samping dan meraih lubang itu.
“Dia masuk ke sini!” teriak suara itu lagi, yang terdengar lebih dekat sekarang.
Aku menarik napas dalam-dalam dan langsung melompat ke dalam lubang ventilasi itu. Yang membuat tubuhku terjepit di antara dinding sempit, tapi aku terus merangkak ke depan. Aku tidak tahu ke mana lubang ini akan membawaku, tapi apapun nantinya ini jauh lebih baik daripada aku tertangkap.
Setelah beberapa menit merangkak, aku melihat ada sebuah cahaya di ujung lubang. Aku pun mendorong tubuhku ke depan dan jatuh ke lantai dengan suara keras. Aku langsung berdiri cepat, dan melihat ke sekeliling. Aku berada di sebuah ruangan kecil yang penuh dengan kotak-kotak tua dan peralatan rusak. Ini pasti gudang penyimpanan lama, pikirku.
Tapi tiba-tiba, aku mendengar ada suara langkah kaki di lorong luar. Mereka masih mengejarku rupanya. Aku harus segera keluar dari sini.
Namun, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menutup mulutku dari arah belakang. Aku pun mencoba berteriak, tapi suaranya tertahan.
“Diam,” bisik suara itu. Suara perempuan, tenang tapi tegas. “Jika kau ingin hidup, ikuti aku.”
Aku mengangguk perlahan, dan tangan itu melepaskanku. Aku menoleh dan melihat seorang perempuan berdiri di belakangku. Dia tinggi, dengan rambut hitam yang diikat rapi, dan matanya berwarna biru seperti es. Dia memakai jaket kulit hitam dan sepatu bot yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang tahu bagaimana cara bertahan hidup.
“Siapa kau?” tanyaku, dengan napas masih terengah-engah.
“Nanti saja perkenalannya,” jawabnya singkat. “Sekarang, ikuti aku jika kau tidak ingin mati.”
Dia berbalik dan berjalan menuju dinding yang berada di ujung ruangan. Aku mengikutinya dari belakang dengan ragu-ragu. Dia menekan sebuah panel di dinding, dan muncul sebuah pintu rahasia.
“Masuk,” perintahnya.
Aku pun melangkah masuk, dan dia mengikutiku dari belakang. Pintu itu langsung menutup dengan sendirinya, dan kami berada di dalam lorong gelap lagi.
“Siapa kau sebenarnya?” tanyaku lagi, tapi kali ini lebih keras.

Rico Andiska
0 Pengikut · 1 Novel