


oleh Botol Yakult💐 · 6 Bab
Davina Grizelle Ardonio jatuh cinta pada seorang pria tampan bernama Kevin Evando Delwyn. Perasaannya itu ternyata didukung dan diketahui oleh Robert Delwyn— kakek Kevin yang akhirnya memutuskan untuk menjodohkan Davina dengan cucunya. Davina melakukan segalanya untuk mendapatkan hati suaminya, tetapi ketika cinta lama suaminya kembali, Davina baru menyadari bahwa semua usahanya telah sia-sia. Kevin menuntut cerai di malam anniversary pernikahan mereka, bahkan dengan resiko mengancamnya. Karena patah hati, Davina akhirnya membuang semua perasaannya pada Kevin dan kembali ke keluarganya untuk menjadi seorang pewaris, hal yang selama ini ia hindari hingga pergi dari rumahnya.
Tidak ada yang lebih ironis daripada duduk sendirian di meja makan sambil menatap hidangan lezat yang baru saja disiapkan dengan penuh cinta.
Davina telah menyiapkan makan malam romantis di kediaman mereka untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-6.
Akan tetapi, kenyataan pahit justru menyambutnya. Sebuah kabar buruk menghancurkan harapannya malam itu, sebuah mimpi buruk yang tak diinginkan oleh siapa pun yang mengikat janji suci pernikahan.
Ia baru saja menerima laporan dari detektif pribadi yang menunjukkan kenyataan menyakitkan: suaminya, Kevin Evando Delwyn, tengah menghabiskan malam bersama mantan kekasihnya. Bukan hanya bertemu, mereka terlihat menikmati makan malam romantis di rooftop hotel paling mewah di negara itu.
Dalam salah satu foto, Kevin menyuapi wanita itu sambil tersenyum lembut. Senyum yang tak pernah sekalipun diberikan kepada Davina selama enam tahun pernikahan mereka.
Air mata menetes pelan di pipi Davina. Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Ia percaya, setidaknya di hari peringatan pernikahan mereka, Kevin akan mengingat janjinya sebagai seorang suami, tapi semua itu buyar setelah melihat kenyataan yang terpampang jelas di layar ponselnya.
Selama enam tahun ini, Kevin memang tidak pernah menunjukkan perhatian atau kasih sayang. Wajah datar dan sikap dingin adalah yang selalu Davina terima.
Ia sadar bahwa pernikahan mereka bukanlah hasil dari cinta dua insan, melainkan hasil dari perjodohan dan cinta sepihak yang ia pelihara sendiri sejak remaja.
Kevin Evando Delwyn. Nama itu bukan sekadar populer. Ia adalah pewaris keluarga Delwyn yang kaya raya, tampan, dan cerdas.
Banyak wanita yang mendambakan kisah cinta bersamanya. Sejak menikah, Kevin pun tampak bersih dari segala skandal, membuatnya dipuja sebagai suami ideal. Namun, hanya Davina yang tahu kenyataan di balik citra sempurna itu. Pernikahan mereka hanyalah formalitas demi menjaga nama baik keluarga. Bagi Kevin, Davina hanyalah simbol stabilitas, bukan cinta.
Cinta Kevin hanya tertuju pada satu wanita, wanita dalam foto itu. Daisy Liana Ricardo. Cinta pertama Kevin. Dan kini, wanita itu kembali.
Davina menghela napas panjang sambil memperbesar foto yang ada di layar ponselnya, mencari tanda-tanda penyesalan di wajah suaminya. Tidak ada. Wajah itu begitu bahagia untuk orang lain.
Ia tahu, sejak wafatnya Robert Delwyn,kakek Kevin, pernikahan mereka berada di ambang jurang, tapi ia tidak menyangka bahwa kejatuhan itu akan datang secepat ini.
Tiba-tiba, layar ponsel menyala dengan notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal.
[Nomor asing]: “Bagaimana rasanya tinggal sendirian di rumah, padahal hari ini adalah ulang tahun pernikahanmu?”
Davina mengernyit. Pesan bernada sinis itu dengan cepat menunjukkan siapa pengirimnya.
[Nomor asing]: “Kau pikir sudah menang dengan trik menyedihkanmu dan memaksa Kevin meninggalkan aku?! Kakek tua itu sudah mati, dan sekarang tidak ada lagi yang berpihak padamu! Bersiaplah, Davina. Hari-harimu sebagai Nyonya Delwyn akan segera berakhir.”
[Nomor asing]: “Nikmati momen terakhirmu sebagai istrinya, karena status itu sebentar lagi akan menjadi milikku!”
Davina menggertakkan gigi, menahan gejolak amarahnya. Ia bisa membayangkan betapa puasnya ekspresi Daisy saat mengirim pesan itu. Betapa wanita itu membalikkan fakta seolah dirinya yang menjadi korban.
Padahal Davina tidak pernah memaksa Kevin untuk menjauh dari Daisy. Semua orang tahu, Daisy sendirilah yang meninggalkan Kevin demi kekayaan, dan gagal dalam ujian yang diberikan oleh Robert Delwyn. Kini, ia justru menyalahkan Davina.
Meski Robert telah tiada, Davina masih mengingat dengan jelas pesan terakhir pria tua itu. Ia ingin cucunya tetap menjaga pernikahan mereka.
Bahkan hingga akhir hayatnya, Robert percaya bahwa Davina adalah satu-satunya wanita yang mampu membawa ketenangan bagi Kevin.
Sulit bagi Davina untuk mengabaikan permintaan itu. Robert adalah satu-satunya anggota keluarga Delwyn yang pernah benar-benar peduli padanya. Jika bukan karena kebaikan hati Robert, Davina tidak tahu di mana ia akan berada sekarang.
Davina menarik napas panjang, lalu mengirim pesan singkat pada Kevin, berharap pria itu pulang dan bersedia membicarakan semuanya dengan kepala dingin.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka dengan keras. Kevin masuk dengan langkah lebar dan wajah yang tampak tegang.
"Apa maksudmu mengirim pesan seperti itu?" tanyanya tajam, tanpa menyapa.
Davina menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang, meskipun jantungnya berdebar.
"Aku hanya ingin bicara, Kevin. Tentang kita. Tentang pernikahan ini, dan tentang pesan terakhir Kakek."
Kevin menghela napas berat, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya.
"Kau tahu sendiri, Davina. Pernikahan ini tidak pernah tentang cinta."
Davina menunduk. Kata-kata itu menyakitkan, meski ia sudah mendengarnya berulang kali.
"Aku tahu," jawabnya lirih, "tapi aku tidak pernah berpura-pura. Aku sungguh mencoba mencintaimu, menjalani pernikahan ini dengan niat baik."
Kevin menoleh. Untuk pertama kalinya, sorot matanya terlihat sedikit lunak.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Davina."
"Setidaknya, kita bisa bicara. Bukan saling menyakiti. Kalau memang ini sudah tidak bisa diselamatkan, kita akhiri dengan baik."
Hening sesaat menyelimuti ruangan. Tidak ada yang berbicara. Hanya ada dua orang yang mencoba mencari makna di tengah reruntuhan sebuah janji.
Kevin memalingkan wajahnya, menatap ke luar jendela sejenak sebelum akhirnya bersuara lagi, suaranya lebih pelan.
"Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu, Davina, tapi sejujurnya aku juga tidak tahu apa yang masih bisa kita perjuangkan."
Davina menggigit bibir bawahnya. Ia mengangguk pelan, meski hatinya terasa perih.
"Aku paham. Sejak awal pun aku tahu, aku mencintaimu sendirian."
Kevin menghela napas, lalu berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauhinya.
"Aku lelah hidup dalam kebohongan, Davina. Aku tahu kamu juga."
"Aku tidak memintamu mencintaiku," kata Davina lirih. "Aku hanya ingin kita saling menghormati. Apa pun keputusanmu nanti, aku siap."
Kevin menatapnya lagi. Matanya tampak lelah, dan ada sedikit rasa bersalah di sana.
"Jika kita berpisah, kamu tidak akan menyalahkanku?"
Davina tersenyum getir. "Aku sudah cukup menyalahkan diriku sendiri, Kevin. Sekarang, aku hanya ingin menutup lembar ini dengan tenang."
Kevin berjalan mendekat, menatapnya lebih dalam.
"Apa kamu benar-benar siap untuk melepaskan semua ini?"
"Aku tidak pernah siap," jawab Davina dengan suara bergetar, "tapi aku akan belajar. Karena kadang, melepaskan adalah satu-satunya cara untuk bertahan."

Botol Yakult💐
1 Pengikut · 4 Novel