


oleh Sweetbanana · 17 Bab
Azzam akhirnya mengambil keputusan yang berat: meninggalkan pondok tempat ia mengabdi selama sepuluh tahun terakhir. Usianya sudah tiga puluh, dan ia sadar, waktunya tidak bisa terus-menerus dihabiskan hanya untuk pesantren, meski di sanalah ia menuntut ilmu hingga menyelesaikan gelar sarjana. Di rumah, kenyataan yang menunggunya tak kalah berat. Ayah dan ibunya, yang kini mulai dimakan usia, kian sering menyinggung satu hal yang sama: pernikahan. Mereka ingin melihat putra sulungnya berumah tangga sebelum ajal menjemput. Hingga suatu hari, ketika kegelisahan itu tak lagi tertahan, ia bicara pada adiknya untuk mencarikan calon istri pura-pura. Sejak hari itu, sebuah kepura-puraan pun dimulai. Awalnya tampak sederhana, hanya untuk menyenangkan hati orang tua. Namun, tanpa mereka sadari, mereka terbawa ke dalam pusaran yang makin rumit. Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?
"Zam, sebenarnya kapan kamu mau mengenalkan perempuanmu itu?" Suara Bu Iroh memecah keheningan. Perempuan itu meletakkan piring-piring ke atas meja, matanya sayu menyimpan resah yang tak pernah habis. "Ibu takut, Zam. Ibu dan Ayah sudah tua. Ibu takut suatu saat nanti dipanggil. Nggak bisa melihatmu menikah."
Azzam terdiam meski tangannya tetap sibuk menyentong nasi. Sekadar mengisi piring tanpa benar-benar menatap isinya.
"Sabar, Bu. Dia lagi sibuk ngurusin skripsinya," ucapnya berusaha terdengar tenang. Mulutnya sempat terbuka lagi, ada kalimat lain yang ingin meluncur, tapi akhirnya ia urung.
Rania, adiknya, duduk di samping. Gadis itu tetap makan dengan lahap, menyuapkan sayur asem, sambal, dan ikan asin ke mulut. Menyimak obrolan itu.
Pintu kamar berderit. Ayah Azzam muncul, langkahnya tertatih, bergantung pada tongkat kayu yang sudah lama menjadi penopang hidupnya. Usianya yang mencapai tujuh puluh lima tahun tampak jelas di wajahnya yang penuh keriput. Setiap langkahnya mengingatkan Azzam bahwa waktu tidak akan pernah berhenti, dan ia sendiri sedang berpacu dengan semua isi kepalanya.
"Terserah kamu sajalah, Zam. Kalaupun kamu menikah setelah Ayah nggak ada, itu pilihanmu." Suara ayahnya parau, sebelum terhenti oleh serangkaian batuk yang mengguncang tubuh renta itu.
Azzam menunduk. Pandangannya jatuh pada nasi bercampur kuah sayur di piringnya, diaduk tanpa arah. Merenungkan kata-kata barusan.
Pertanyaan itu terus saja terlontar setiap hari. Azzam semakin merasa terbebani, menanggung dosa setiap kali membuka mulut untuk berbohong. Ingin rasanya untuk berkata jujur bahwa selama ini ia sebenarnya belum memiliki calon istri.
Namun, niat itu selalu urung. Setiap kali bayangan wajah kedua orang tuanya hadir, dengan tubuh renta dan kesehatan yang kian rapuh, keberanian itu lenyap. Bagaimana jika kejujuran justru melukai perasaan mereka? Bagaimana jika kebenaran membuat hati yang sudah tua itu runtuh lebih cepat?
*
Dari kamar, Rania keluar dengan jilbab yang sudah rapi menutupi kepalanya. Ia membawa tas kecil berisi buku-buku catatan. "Aku berangkat dulu, Mas," katanya singkat. Gadis itu hendak pergi ke rumah muridnya, mengajar les seperti biasa.
"Ran, kamu punya teman atau kenalan yang mau diajak pura-pura jadi calon istrinya Mas?"
Azzam mengucapkan kalimat itu lirih, namun cukup untuk membuat langkah adiknya terhenti. Gerakan Rania yang hendak memakai helm mendadak membeku. Ia menoleh, menatap kakaknya dengan raut terkejut sekaligus bingung.
"Ada, Mas. Namanya Ayra," jawabnya akhirnya, pelan namun pasti. Tak ada keraguan sedikitpun yang terdengar.
"Mas minta tolong ya, Ran." Suara Azzam terdengar berat, ada gengsi yang ia telan bersama kalimat itu.
"Siap, Mas. Rania berangkat dulu." Gadis itu mendekat, menyalami tangan kakaknya dengan penuh hormat. Setelah itu, ia segera melangkah ke luar rumah, menyalakan motor, lalu pergi meninggalkan Azzam yang masih berdiri di teras dengan perasaan yang campur aduk.
**
"Ayra ...!"
Rania melambaikan tangan ke arah sahabatnya yang sudah lebih dulu duduk di bangku taman. Di bawah rindang pohon beringin besar, Ayra tampak tenang, menikmati teduhnya bayangan yang melindungi dari terik matahari siang.
"Tumben banget kamu ngajak ketemuan di sini. Ada apa, Ran?" Ayra menoleh, alisnya terangkat penuh rasa penasaran.
Rania segera duduk di sampingnya, wajahnya berseri-seri. Senyum lebar terlukis di wajah imutnya, memperlihatkan antusiasme yang sulit disembunyikan.
"Sekarang kita punya misi rahasia, Ra," ucapnya berbinar.
"Hah? Misi rahasia apa?" Ayra menyipitkan mata, kian heran.
"Pura-pura jadi calon istrinya Mas-ku."
"Masmu?" Ayra menatap Rania tak percaya, suaranya sarat dengan tanda tanya.
"Iya. Mas Azzam sudah pulang dari kota." Rania mengangguk cepat, matanya berbinar. "Ibu sama Ayah minta Mas Azzam segera menikah, tapi dianya sendiri belum punya calon. Ayah sama Ibu takut meninggal duluan." Kata-katanya meluncur deras, tanpa jeda, penuh semangat seperti biasa.
"Astaghfirullah ...." Ayra menutup mulut dengan tangan, terkejut sekaligus bingung.
"Makanya itu." Rania mencondongkan tubuh, menatap sahabatnya dengan mata berbinar. "Mau pura-pura jadi calon istrinya Mas Azzam ya, Ra?" ucapnya lagi, tak berhenti meminta.
"Tapi aku sudah punya calon tunangan. Ngaco kamu, Ran." Nada suara Ayra terdengar kaku, berusaha memberi batasan.
"Baru calon." Rania cepat menyahut, senyumnya penuh tipu nakal. "Lagi pula, kamu dulu kan pernah suka sama Mas Azzam, toh?"
Ayra masih di ambang kebingungan. Kedua alisnya bertaut.
"Aku pikir-pikir dulu, Ran," ucapnya akhirnya, mencoba menenangkan dirinya.
"Nggak perlu pikir-pikir dulu. Ini ...." Rania buru-buru merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan ponsel. Ayra hanya bisa memperhatikan dengan mata membesar, belum mengerti apa yang akan dilakukan sahabatnya.
Tak lama, layar ponsel menyala. Wajah Azzam muncul di sana, membuat waktu seakan berhenti sejenak.
"Ini lho, Mas. Calon istrimu. Eh, maksudnya, calon pura-pura," ujar Rania gembira sekali, suaranya riang penuh kemenangan. "Ayra, ini Mas Azzam."
Seketika, dua insan yang kini saling bertatapan lewat layar membeku. Tak ada kata yang keluar. Mata mereka bertemu, lalu sama-sama terdiam. Dada berdegup kencang, gemuruh yang tak bisa mereka jelaskan.
"Gimana, Mas? Cantik kan pilihan Rania?" Pertanyaan riang itu menyeruak, membuat Azzam tersadar dari lamunan.
"I-iya," ucapnya terbata, suaranya serak seperti ada yang menahan di tenggorokan.
Azzam menelan ludah.
"Sudah. Kalian berdua tenang saja." Rania langsung memotong hening di antara mereka, matanya berbinar penuh percaya diri. "Biar Rania yang atur semuanya. Oke, Mas Azzam?"
**
Hati Azzam berdebar tak karuan. Setiap langkah terasa berat saat ia berjalan bersisian dengan Rania. Beberapa kali ia melirik adiknya, berusaha menenangkan diri, meski dadanya terus bergemuruh. Di kejauhan, terlihat sosok Ayra yang sudah duduk di kafe tempat mereka janjian.
"Nah, itu Ayra," ucap Rania, sambil melambaikan tangan ke arah sahabatnya dengan senyum lebar.
Ayra segera membalas lambaian itu. Namun, jelas terlihat, sama seperti Azzam, kegugupan tak bisa ia sembunyikan dari sorot matanya.
"Sudah lama menunggu, Ra?" tanya Rania begitu sampai di hadapan Ayra.
"Nggak kok, baru aja." Ayra berdiri sopan, lalu menangkupkan kedua tangannya pada Azzam sebagai salam. Setelah itu, mereka kembali duduk.
Setelah cukup berbincang satu sama lain, Azzam akhirnya berpamitan. Rania dan Ayra tetap tinggal. Kehangatan tersisa di meja itu, menyisakan obrolan dua sahabat lama yang sudah lama tak bertemu. Canda kecil mengisi ruang, menggantikan suasana canggung yang sempat hadir sebelumnya.
Ayra baru saja pulang dari Kairo setelah bertahun-tahun menimba ilmu di sana, tampak begitu bersemangat. Matanya berbinar saat menceritakan kisah-kisah tentang kehidupannya di negeri orang, sementara Rania mendengarkan dengan penuh antusias, tak jarang ia menyela dengan canda tawa.
"Kamu nggak gugup kan, Ra, besok bertemu calon mertua?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Rania, membuat Ayra yang sedang menyeruput minumannya membeku.

Sweetbanana
5 Pengikut · 1 Novel