


oleh A. Fitrotun · 30 Bab
Ahmed Alfhan Al Ghazam, anak sulung pimpinan pesantren Abu Abbas yang dikenal dengan pribadi yang berbeda dari adiknya, Gus Asfhan. BRANDALAN!!! Satu sifat yang menggambarkan keseluruhan dari sosok Alfhan, dan karena sifatnya itu, Alfhan harus menerima perlakuan dingin dari abahnya. Namun, siapa sangka jika takdir justru berkata, membawa Alfhan untuk menikahi tunangan adiknya sendiri. Hal itu yang merubah kehidupannya dengan begitu drastis. Mampukah bidadari surga itu menemani Alfhan mengarungi hilir kehidupan, lika-liku menemukan cinta yang pencipta. Mampukah ia bertahan menukar segala kelembutannya dengan kobaran sifat Alfhan? Atau mungkin ia akan kalah dan mengorbankan surganya?
Kita tidak bisa memilih dengan siapa Allah menciptakan kisah halal kita
Angin berhembus pelan siang itu, bersama terik matahari menerpa sebuah mobil CRV biru yang pelan saat mendekati gerbang rumah minimalis di pinggir jalan.
Setelah mobil itu berhenti terlihat seorang gadis dengan setelan gamis biru muda keluar dari mobil. Gadis itu terlihat begitu anggun dan cantik, sorot matanya yang teduh berbalut celak menyiratkan ia adalah sosok yang berhati indah.
"Biar Aliza aja Bi yang bawa tasnya," ucap gadis itu menatap seorang lelaki paru baya yang baru saja keluar dari mobil menenteng 2 buah tas besar.
Lelaki itu tersenyum menggerakkan kumis dan jenggotnya yang mulai dipenuhi rambut putih, menandakan usianya yang tidak lagi muda.
"Berat, Nak biar abi saja yang bawa, kamu masuk saja. temuin umimu."
"Beneran Abi kuat?" tanya memastikan karena melihat usia Abinya yang mulai memasuki rentang 60 tahun.
"Iya Nak, kamu masuk aja." Abi mengangkat salah satu tas Aliza lalu membawanya masuk ke ruang tamu yang diikuti langkah Aliza.
Aliza Khansa zahira fatahillah. Nama gadis itu. Aura kecantikan natural terlihat dari wajahnya yang merupakan alumni pesantren terkenal P.P Abu Abbas. Tiga tahun Aliza menuntut ilmu di pesantren terkenal itu, dan kini ia mulai memasuki masa liburan akhir sekolah yang memang diliburkan sebelum puasa untuk kelas XII, karena setelah lebaran mereka akan wisuda Alfiyah Ibnu Malik dan memasuki masa wajib mengabdi 1 tahun.
"Umi," sapa Aliza memeluk wanita paru baya yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Wanita yang tengah membaca sebuah buku itu tersenyum, terlebih saat tangan lembut putrinya memeluk lehernya.
"Cantiknya umi sudah pulang?'' Dengan lembut umi menarikan tangan Aliza dan menyuruh Aliza duduk di depannya.
Aliza mencium tangan umi lalu mengecup pipinya, menikmati aroma bedak khas umi yang Aliza rindukan.
"Gimana sekolahnya, sayang? lancar?" tanya umi mengusap pipi Aliza yang tersenyum manis sama seperti senyumannya.
"Lancar, Mi tahun depan insyaallah Aliza wisuda Alfiyah, habis itu masuk tahun pengabdian."
"Alhamdulillah, semoga anak umi sukses selalu." Umi tersenyum mengusap pipi Aliza lalu melihat ke arah abi yang baru saja masuk kemudian duduk di samping Aliza.
"Kamu istirahat dulu aja Nak, kebetulan kamarmu kemarin baru Abi cat," ucap umi seraya menggenggam tangan Aliza.
"Beneran Bi? Warna apa?" Aliza beralih melihat abi.
"Kesukaan Aliza, warna biru muda," jawab abi riang yang langsung di sambut pelukan hangat Aliza.
"Makasih Abi."
"Iya sayang," ucap abi seraya mengecup pelan pipi Aliza, memperlihatkan cinta yang begitu tulus.
"Yaudah Aliza lihat kamar dulu ya, sekalian beresin baju-baju sama buku-buku Aliza," ucap Aliza sebelum berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Abi melepas peci-nya, menampilkan helai rambut putih yang mulai memenuhi sebagian kepalanya.
"Umi takut Bi."
"Takut kenapa sayang?" tanya abi mendekatkan posisi duduknya di samping umi.
"Bagaimana kita bilang ke Aliza Bi, soal perjodohan itu?" Umi menatap abi nanar.
Abi hanya menghela napasnya lalu tersenyum teduh.
"Nanti kita bilang pelan-pelan ya, besok insyaallah Kyai Azzam kesini, nanti kita jelaskan pelan-pelan insyaallah Aliza mau mengerti semuanya." Abi tersenyum mendekati umi lalu merangkulnya. Abi paham bahwa semua berat untuk umi, terlebih Aliza adalah satu-satunya yang mereka miliki.
"Yang tenang Mi, apa yang Allah takdirkan itu pasti baik, Allah adalah sebaik-baik pemberi takdir," bisik abi lembut di telinga umi yang hanya mengangguk menatap kotak lantai di depannya, rasa gundah memenuhi hatinya yang begitu berat untuk menikahkan putrinya.
****
Suara aluna sholawat Burdah terdengar dari kamar Aliza, di mana kini ia tengah sibuk menata pakaian di depan almari. saat pakaian terakhir gerakan tangan aliza tiba-tiba berhenti, tangannya meraih selembar kertas di mana sebuah khat kaligrafi yang begitu indah memenuhi kertas itu.
Aliza tersenyum saat ingatannya melayang membayangkan sosok yang diam-diam begitu ia kagumi. Seorang lelaki yang menorehkan kaligrafi di kertas yang tengah ia pegang. Aliza mengusap kertas itu lalu menatapnya dalam, menghamburkan gemuruh rasa di hatinya.
"Gus Asfhan,"gumam aliza pelan seraya berjalan kearah nakas samping tempat tidurnya, dan mengambil sebuah bingkai.
Sejak awal tahun Aliza memang dekat dengan sosok Gus Asfhan. Kedekatan itu dimulai saat Aliza mengikuti lomba kaligrafi. Di mana Gus Asfhan lah yang membimbing langsung para peserta, termasuk Aliza. Sikap lembut dan telaten Gus Asfhan serta wajahnya yang rupawan menarik ritme rasa di hati Aliza.
Menciptakan getaran rasa yang disebut cinta. Namun, ia sang maha cinta lah yang menyatukan hati setiap insan, dimana tanpa Aliza ketahui sang rabb telah menorehkan rasa kepada Gus Asfhan yang diam diam juga memiliki kekaguman kepada Aliza. Terlebih setelah Aliza memenangkan lomba Kaligrafi nasional mewakili ponpes Abu Abbas .
To:Aliza khansa Zahira …
From: Syarfiq Asfhan Al-Ghazali …
Aliza menatap sebuah tulisan tangan di bagian sudut gambar. Setelah selesai memasukkannya kedalam bingkai Aliza segera memasang kaligrafi itu di dinding kamarnya.
Sebuah senyuman merekah di bibir Aliza saat melihat lukisan kaligrafi pemberian Asfhan tempo hari, dimana kini menjadi begitu indah dengan kilauan kaca bingkai.
"YaRabb, sang maha cinta, engkaulah pemilik dari setiap takdir, engkau lah yang merencanakan setiap kejadian. Semua atas kendali mu ya rahim aku yakin semua yang terjadi adalah ketetapan takdir-Mu …
termasuk engkau hadirkan Gus Asfhan di kehidupanku tanpa aku minta. Aku yakin ya rabb rencana mu begitu indah."
Aliza tersenyum menikmati semilir angin yang berhembus pelan dari pintu balkon kamar yang terbuka. Menampilkan keindahan malam, di mana bulan tampil dengan baju peraknya dan membuat semua orang terlena dengan keindahannya tanpa tahu apa yang sedang pemiliknya rencanakan.
****

A. Fitrotun
4 Pengikut · 1 Novel