Malam itu, hujan bergelayut di langit yang temaram. Gerimis turun tipis, mengetuk genting rumah seperti waktu yang perlahan mengikis kesabaran Hasnah.
Di sudut dapur, di bawah cahaya lampu neon yang redup, ia duduk seorang diri. Di hadapannya terbentang sehelai kemeja putih dengan bagian lengan kanan yang sobek. Robekan itu menganga seperti luka yang lupa ditutup.
“Aku jahitkan bajumu, ya, Mas,” gumam Hasnah, seolah suaminya berada di hadapannya.
Jarum bergerak perlahan di antara jemarinya. Satu tusukan, dua tusukan, tiga tusukan. Benang putih ditarik dengan hati-hati. Terlalu kencang membuat kain mengerut, sedangkan terlalu longgar akan membuat robekan kembali terbuka.
Hasnah mengatur napas. Ia juga berusaha mengatur hatinya.
Tanpa sengaja, jarum menusuk jarinya.
“Aduh!”
Setetes darah muncul. Hasnah segera mengusapnya dengan ujung kerudung agar tidak sampai mengotori kemeja suaminya.
Ia tidak mengeluh. Baginya, cinta adalah tentang memberi, bahkan ketika pemberian itu menuntut pengorbanan.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika jahitannya akhirnya selesai.
Hasilnya rapi, bahkan hampir tidak terlihat. Hasnah menyeterika kemeja itu dengan hati-hati, seolah sedang merapikan harapannya sendiri. Setelah itu, ia melipatnya dan meletakkannya di kursi dekat pintu.
“Besok Mas Hisyam akan memakainya,” pikir Hasnah. “Mungkin dia akan bilang terima kasih.”
***
Pagi datang dengan matahari yang terasa tidak sehangat biasanya.
Hisyam berdiri di depan cermin sambil mengenakan kemeja putih yang semalam dijahit Hasnah. Dari meja makan, Hasnah menahan napas ketika menuangkan teh ke dalam cangkir. Uap panas yang mengepul perlahan memburamkan pandangannya.
“Gimana?” tanyanya pelan.
Hisyam menoleh. Ia memperhatikan pantulan dirinya di cermin, kemudian tertawa kecil. Namun, tawa itu sama sekali tidak terdengar hangat. Ada sesuatu yang getir di dalamnya.
“Kenapa, Mas?” tanya Hasnah.
“Aku jadi ingat mantan istriku. Dulu dia enggak pernah mau ribet kayak begini. Kalau bajunya sobek sedikit, langsung dibuang dan beli baru. Katanya lebih gampang.”
Gerakan tangan Hasnah terhenti. Teh yang sedang dituangkannya meluber dan membasahi meja. Panasnya menjalar ke jemari, tetapi tetap tidak sepanas ucapan suaminya.
“Dia ngerti gaya,” lanjut Hisyam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya terlalu jelas untuk disalahartikan.
Semalam, Hasnah rela tertusuk jarum demi memperbaiki kemeja suaminya. Pagi ini, usahanya justru menjadi alasan untuk dibandingkan dengan perempuan lain.
“Maaf kalau jelek,” ucap Hasnah lirih.
Hisyam tidak menjawab. Ia hanya mengambil sesuatu, lalu berjalan meninggalkan meja makan. Beberapa detik kemudian, suara pintu terdengar tertutup.
Hasnah berdiri mematung.
“Aku menikah bukan untuk menjadi bahan perbandingan,” batinnya. “Aku menikah karena ingin bahagia. Apa itu salah?”
Kesedihan memenuhi dadanya, tetapi ia tidak menangis. Hasnah tahu, ketika seorang perempuan menangis karena terluka, orang lain sering kali justru menganggapnya lemah.
Ting tong!
Bel rumah berbunyi.
Hasnah segera menuju pintu, tetapi sebelum membukanya, ia kembali ke meja makan untuk membersihkan tumpahan teh. Dari balik pintu, ia bertanya siapa yang datang.
Jika tamunya seorang lelaki, ia tidak akan membiarkannya masuk sendirian. Bagaimanapun, ia tidak ingin membuat masalah baru ketika suaminya sedang tidak berada di rumah.
“Ini aku! Isabela!” terdengar suara dari luar.
Hasnah langsung membuka pintu. Begitu melihat sahabatnya, wajahnya sedikit berubah cerah. Ia menyambut Isabela dengan pelukan hangat.
“Apa kabar, Hasnah? Kamu kelihatan lebih kurusan sekarang!” kata Isabela setelah melepaskan pelukannya.
“Kabarku baik. Kalau badanku terlihat kurus, mungkin itu cuma perasaan kamu,” jawab Hasnah sambil terkekeh kecil.
Mereka masuk ke ruang tamu. Isabela sempat memperhatikan keadaan rumah sebelum kembali bertanya.
“Kamu enggak pernah kasih suamimu bekal?”
Raut wajah Hasnah seketika menegang.
“Suamiku enggak mau dibawakan bekal. Sarapan pun dia jarang makan di rumah.”
“Memangnya kenapa?”
“Katanya takut telat.”
Mereka kemudian duduk di sofa ruang tamu yang masih terasa hening.
“Barusan aku lihat Mas Hisyam lagi makan di warteg,” kata Isabela.
Hasnah langsung menoleh. “Di warteg?”
“Iya. Kamu tahu pemilik wartegnya? Cantik banget. Kayak bidadari.”
Hasnah terdiam. Entah kenapa, satu nama langsung terlintas di kepalanya.
“Jangan-jangan Rindari?” batinnya. “Mantan istrinya?”
Ia tidak ingin memperlihatkan kegelisahannya kepada Isabela.
“Kamu mau minum apa?”
“Enggak usah. Aku cuma mau lihat keadaan kamu.”
Isabela memandang Hasnah cukup lama. Ada perubahan pada tubuh sahabatnya yang tidak bisa ia abaikan, tetapi Hasnah tampaknya tidak menyadarinya atau memilih untuk tidak membicarakannya.
Setelah beberapa saat, Isabela berdiri dan merapikan kerudung putihnya yang sedikit berantakan.
“Aku doakan semoga rumah tangga kamu langgeng.”
“Amin,” jawab Hasnah dengan senyum tipis.
“Kalau begitu, aku pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Hasnah mengantar Isabela sampai ke depan pintu. Setelah sahabatnya pergi, ia masih berdiri di ambang pintu. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi dugaan yang semakin sulit ditepis. Ia tahu suaminya sedang makan di tempat mantan istrinya.
“Aku harus pergi. Demi rumah tanggaku, aku harus menemui Mas Hisyam dan bertanya langsung. Sebenarnya, maunya apa?” Hasnah menguatkan dirinya sendiri.
“Iya. Aku harus pergi.”
Pintu rumah dikunci. Hasnah kemudian berjalan ke halaman depan sambil memesan ojek online.
Tidak lama kemudian, kendaraan pesanannya tiba. Hasnah tidak sempat berganti pakaian. Ia masih mengenakan setelan hijab berwarna biru yang tadi tanpa sengaja terkena tumpahan teh panas.
Di sepanjang perjalanan, Hasnah terus berusaha menenangkan pikirannya.
“Ya Allah, kalau nanti aku melihat suamiku nyaman bersama mantan istrinya, bantu aku agar tidak cemburu. Bantu aku agar tetap kuat.”
Sesampainya di depan warteg, Hasnah segera turun dari motor. Ia membayar ongkos kepada pengemudi, bahkan memberikan sedikit lebih sebagai tanda terima kasih.
“Semoga hidup Ibu selalu sejahtera,” ujar pengemudi itu sebelum pergi.
“Amin, Pak,” jawab Hasnah sambil tersenyum.
Ia berdiri sejenak di depan warteg. Ada sesuatu yang aneh di hatinya. Seolah doa baik dari orang yang baru saja mengantarnya menjadi satu-satunya hal yang membuat langkahnya tetap kuat.
Hasnah kemudian berjalan masuk. Namun, begitu sampai di depan pintu warteg, pemandangan di hadapannya membuat langkahnya terhenti.
Di balik kaca etalase, seorang perempuan sedang menyendok nasi. Ia meniup makanan itu sebentar sebelum menyuapkannya kepada Hisyam.
Gerakan yang terlalu akrab. Gerakan yang pernah terjadi di antara mereka.
Hisyam menerima suapan itu tanpa ragu. Ia mengunyah, kemudian tersenyum.
“Enak,” katanya pelan.
Satu kata sederhana itu menghantam dada Hasnah lebih keras daripada tusukan jarum semalam. Ia ingin marah. Ia ingin membalik meja itu dan berteriak di hadapan semua orang.
“Aku sekarang istrinya. Kamu hanya mantan istrinya.”
Ia ingin semua orang tahu betapa sakitnya menjadi seorang istri yang terus-menerus dibandingkan dengan perempuan dari masa lalu suaminya. Namun, semua amarah itu hanya berhenti di tenggorokan.
Hasnah menunduk. Ia memilih menyembunyikan keguncangan yang memenuhi dadanya.
Tangannya gemetar, tetapi kakinya tetap melangkah. Perlahan, ia berbalik dan berjalan menjauh dari tempat itu.
Ia tidak menoleh.
Aroma parfum yang samar dari perempuan itu sempat terbawa angin dan menyentuh indera penciumannya. Hasnah mengenali aroma tersebut, meski ia tidak tahu dari mana. Yang ia tahu, aroma itu meninggalkan rasa perih yang sulit dijelaskan.
Setelah berjalan cukup jauh, Hasnah berhenti dan menatap langit yang mulai kembali mendung.
Ia menarik napas panjang.
Tidak ada air mata yang jatuh, teriakan, ataupun makian.
Hasnah hanya pergi.
Seperti bidadari dengan sayap yang telah rapuh, ia tidak menjerit ketika jatuh dan tidak mengutuk ketika dilukai. Ia hanya mengepakkan sayapnya perlahan, lalu terbang menjauh, membawa hati yang remuk dan doa yang hanya didengar Tuhan.