


oleh Sfrauf · 22 Bab
Bagi Biru, Alun adalah semesta yang ia hafal setiap inci detailnya. Namun, mencintai gadis secemerlang Alun di SMA Wijaya Kusuma berarti harus siap berdiri di bayang-bayang. Sejak ikrar rahasia terucap di kelas sebelas, Biru terjebak dalam kemelut rasa bangga sekaligus cemburu yang kian menyesakkan dada. Saat Alun kian melesat dengan melodi kompetisinya, Biru hanya mampu menjaga dari kejauhan, merekam setiap tawa Alun dalam diam. Namun, sosok baru menawarkan harmoni musik yang tak Biru pahami. Mampukah cinta sembunyi-sembunyi ini bertahan? Ataukah rahasia mereka justru akan hancur saat perasaan tak lagi sanggup dipendam sendirian?
Aku selalu percaya kalau ingatan manusia itu tempat penyimpanan yang aneh, semacam gudang tanpa katalog yang rapi.
Kita bisa lupa rumus kalkulus yang dipelajari semalaman penuh kafein, tapi kita mampu mengingat dengan sangat jelas aroma tanah setelah hujan pertama atau cara seseorang menyisipkan anak rambut ke balik telinga—bahkan ketika kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu. Ingatan tidak tunduk pada logika. Ia memilih sendiri apa yang ingin ia simpan.
Pagi ini, di bawah terik matahari lapangan SMA Wijaya Kusuma yang terasa kayak mau manggang isi kepala, ingatanku dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya. Aku berdiri di barisan Gugus 4, bahu tegak tapi pikiran berkelana, berusaha mengabaikan keringat yang mengalir di pelipis dan suara kakak tingkat yang berteriak melalui pengeras suara di depan sana. Upacara OSPEK hari pertama selalu seperti ini. Panas, bising, dan melelahkan.
“Biru, kamu dengar?” Hadi, teman sebangkuku sejak SMP yang sialnya satu sekolah lagi denganku, menyenggol lenganku dengan siku.
“Dengar apa?” tanyaku tanpa menoleh, fokusku setengah mati bertahan.
“Itu, kakak kelasnya bilang kita harus kumpul sesuai kelompok minat pas upacara selesai. Kamu ambil basket, kan?”
Aku hanya bergumam singkat sebagai jawaban. Mataku tidak benar-benar tertuju pada kakak kelas itu. Pandanganku justru terpaku pada barisan Gugus 7 yang berjarak sekitar lima meter di depanku.
Di sana ada seorang gadis. Dia memakai topi bola plastik berwarna kuning—atribut wajib OSPEK—yang terlihat kekecilan di kepalanya. Dengan wajah sedikit memerah, dia sibuk mengipasi diri menggunakan papan nama dari kardus yang tergantung di lehernya.
Jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena dehidrasi atau panas yang menyengat, melainkan karena rasa familier yang tiba-tiba menghantam dada tanpa permisi.
Gadis itu menoleh ke samping, tertawa kecil menanggapi ucapan temannya. Dan saat itulah aku yakin. Garis wajah itu, binar mata yang selalu tampak penuh semangat, dan cara bibirnya melengkung tipis seolah menyimpan rahasia kecil—itu adalah Alun.
Alun-ku. Maksudku, Alun yang setahun lalu duduk di sebelahku dalam bus yang membawa kami pulang dari kompetisi sains tingkat provinsi. Alun yang selama setahun terakhir hanya bisa kutemui lewat unggahan media sosialnya, aku perhatikan diam-diam tanpa pernah cukup berani menyapanya lewat pesan singkat.
“Biru! Yeee malah ngelamun!” Teguran keras dari seorang panitia OSPEK membuatku tersentak dan kembali ke dunia nyata.
Upacara akhirnya selesai. Barisan dibubarkan menjadi kekacauan yang entah bagaimana tetap terorganisir. Semua orang bergerak cepat, mencari kelompok minat masing-masing. Aku seharusnya berjalan menuju lapangan basket di sisi timur, tapi kakiku justru melangkah ke arah yang berlawanan. Aku mengikuti punggung itu, tanpa rencana yang jelas.
“Permisi, Gugus 7 barisnya di sebelah mana, ya?”
Suaranya. Aku berhenti tepat di belakangnya. Suaranya masih sama, lembut dan jernih, seperti nada piano yang ditekan pelan di ruang yang sunyi. Dia sedang bertanya pada seorang siswa lain yang tampak sama bingungnya.
“Gugus 7 di belakang aula, dekat lapangan basket. Kamu salah arah, Alun. Ini area kelas bahasa.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku, dengan nada yang kuusahakan terdengar seandal mungkin, seolah aku hanya siswa baik hati yang kebetulan tahu arah.
Dia berbalik. Matanya membulat. Papan nama di dadanya, bertuliskan ALUN – GUGUS 7, bergoyang pelan. Selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia hanya menatapku tanpa berkedip. Aku bahkan bisa melihat pantulan diriku di matanya yang bening.
“Biru?” Suaranya nyaris seperti bisikan. “Kamu … sekolah di sini juga?”
“Iya,” jawabku sambil menelan ludah yang terasa kering. “Aku ambil jalur prestasi olahraga. Kamu?”
Senyumnya perlahan merekah. Sial. Senyum itu masih punya kekuatan yang sama untuk membuat duniaku berhenti berputar. “Aku masuk lewat jalur reguler. Aku tidak percaya kita bakal satu sekolah lagi, Biru. Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Aku tidak tahu kalau kamu juga ngincer sekolah ini. Setahuku kamu mau ke luar kota,” kataku, berusaha menormalkan napas.
“Rencananya begitu, tapi ibuku tidak mengizinkan,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Jadi, di sinilah aku.” Lalu matanya menyipit, memperhatikan wajahku. “Biru … topi plastikmu miring.”
Tanpa peringatan, tangannya terangkat. Jemarinya yang lentik menyentuh pinggiran topi plastik di kepalaku, membetulkannya dengan gerakan yang sangat natural. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma stroberi samar dari rambutnya, bercampur dengan aroma matahari siang.
Darahku terasa berdesir ke permukaan kulit. Aku yakin wajahku memerah, dan itu sangat memalukan bagi seseorang yang dulu menyandang predikat kapten tim basket.
“Sudah rapi,” katanya sambil menarik tangannya. “Terima kasih arahannya, Biru. Aku harus lari sekarang sebelum kakak kelasnya ngamuk.”
“Alun!” panggilku saat dia sudah melangkah beberapa meter.
Dia menoleh, kuncir kudanya berayun pelan. “Iya?”
“Jangan sampai hilang lagi. Maksudku … jalannya. Jangan sampai salah arah lagi,” ucapku terbata.
Dia tertawa renyah, melambaikan tangan, lalu berlari kecil menuju belakang aula. Aku berdiri mematung di tengah arus siswa yang lalu-lalang, mengabaikan teriakan Hadi dari kejauhan.
Aku menyentuh pinggiran topi plastik yang tadi disentuhnya. Rasanya masih ada sisa hangat dari jemarinya. Selama setahun aku bertanya-tanya kapan bisa bertemu dengannya lagi, dan semesta menjawab dengan cara yang paling manis sekaligus mendebarkan.
Dia ada di sini. Di sekolah yang sama denganku.
Saat kulihat beberapa siswa laki-laki di koridor aula mengikuti arah larinya dengan tatapan kagum, aku sadar satu hal: Alun adalah cahaya. Dan di tempat baru ini, akan ada banyak orang yang ingin mendekat pada cahayanya. Aku harus bersiap. Persaingan di SMA ternyata bukan hanya soal angka dan piala.

Sfrauf
21 Pengikut · 9 Novel