


oleh Bunga Hitam · 27 Bab
Riko dan warga Desa Bojong Lor harus melawan nyamuk yang jumlahnya seratus kali lipat jumlah penduduk. Warga jadi kocar-kacir karena ulah serangga bersayap ini, akibat terkena kontaminasi limbah kimia mereka berubah lebih besar dan beringas. Daya hisap dan gigitannya membuat banyak penduduk meninggal. Pemerintah pun mengultimatum bahwa Desa Bojong Lor tak boleh dihuni untuk sementara waktu. Team peneliti pun datang untuk menyelidiki hal ini. Bagaimanakah perjuangan Riko untuk mempertahankan Desa Bojong Lor agar tidak menjadi kota mati?
Ratih gadis kecil berusia dua belas tahun itu menahan sesak napas di dadanya. Tangannya memegang pintu kuat-kuat. Bibirnya pucat berusaha memanggil kakaknya yang sedang ada di luar.
"Ka-k ...." Suaranya tercekat, udara dalam dadanya terasa terkuras. Air matanyapun berlinang tanpa ia sadari. Tubuh terasa semakin lemas, akhirnya ia pun terjatuh di lantai yang dingin.
Mendengar suara berdentum keras, seorang lelaki muda berkaus putih pudar dan memakai celana jins belel selutut, segera berlari ke arah suara itu.
"Ratih!" teriaknya sambil membopong tubuh adiknya ke atas sebuah dipan lusuh. Keringatnya mulai mengucur deras. Panik melihat adiknya sudah tergeletak dengan tubuh dingin dengan matanya terpejam. Lelaki berumur 20 tahunan itu segera membuka sebuah laci lemari lalu bergerak cepat mencari alat bantu pernapasan.
Setelah menemukannya, segera ia memasukkan salah satu lubang pada alat tersebut ke mulut Ratih, kemudian menekannya perlahan hingga oksigen dalam alat itu pun keluar dan bekerja. Wajah Ratih perlahan berubah, yang sedari tadi pucat pasi kini terlihat semburat merah pada pipinya walaupun terlihat masih samar. Ia pun akhirnya membuka mata perlahan. Menatap kakak lelakinya lekat-lekat, napasnya sudah mulai teratur.
Beberapa menit berlalu. Ratihpun telah duduk bersandar pada tembok dingin rumah mereka.
Tangan lelaki itu mengelus pipi gadis mungil itu dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku, kak," ucap Ratih lirih.
"Lain kali, alat itu, kalungkan di lehermu." Suara bariton lelaki itu membuat Ratih tersenyum.
"Mau?"
Ratih menggeleng pelan. Kembali tangannya memeluk adiknya erat.
"Alat itu harganya mahal, Kak. Makanya harus irit pakainya."
"Nanti itu urusanku, kalau memang harus pakai ya gunakan, jadi nggak seperti ini, paham?"
Ratih mengangguk. Ada perasaan galau tak menentu dalam batinnya. Kini hanya ada kakak satu-satunya pelindung dalam hidupnya, setelah dua tahun lebih ditinggal oleh ibu tercinta . Bapak mereka memang sudah berpulang lebih dahulu.
Ratih dan Riko kakaknya adalah yatim piatu. Selama ini hanya hidup dari bayaran Riko sebagai tukang reparasi alat electronik saja. Andainya ada bantuan dari pemerintah pun tak seberapa hanya bisa untuk berobat Ratih dan menebus obatnya saja.
Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan dengan suara ketukan di pintu depan.
"Permisi! Riko, Riko!" Suara Bang Udin terdengar nyaring. Tukang ojek paling ganteng dengan dandanan ala tahun 70'an sudah berdiri di ambang pintu.
Ratih melihat celana cutbray yang kepanjangan. Bang Udin pun tersenyum simpul. Ada sebuah syal warna merah menyala mengikat di leher kurus Bang Udin, walaupun tak terlalu ketat, tapi membuat siapa pun yang melihatnya jadi terkesan lucu yang kontras dengan rambut Bang Udin yang gondrong tanggung.
"Eh, Bang Udin, ada apa, Bang?" Riko segera bangkit dari duduknya dan memepersilakan lelaki baik hati itu untuk duduk di ruang tamu yang kini menjadi tempat kerja Riko.
"Nggak, ah, berdiri aja. Lagian cuman bentar, kau dipanggil Bu RT. Katanya ada dua kipas angin rusak di rumahnya, apa bisa ntar ke rumah?" tanya Bang Udin sambil melirik Ratih.
Ratih masih terus menahan tawanya, walaupun tadi dadanya terasa sakit sekali.
"Neng Ratih, ketawa mulu lihat Abang, ganteng, ya?" Bang Udin mulai meledek Ratih. Akhirnya tawa gadis kecil itupun pecah. Riko ikut tersenyum melihat adiknya sudah bisa tersenyum ceria.
"Tunggu," ujar Bang Udin dan kembali ke motornya, membuka jok dan mengambil sesuatu dalam kantong kresek.
"Ini, dari Bu RT buat Neng Ratih."
"Apaan ini, Bang?" tanya Riko, menerima bungkusan itu. Ratih meliriknya, pasti itu kue, karena Bu RT biasa membagi kue buat Ratih lewat Bang Udin.
Bang udin suka sekali nitip salam buat Mba Marni, dan lagi-lagi Ratih yang sering menyampaikan hal itu.
Akan tetapi kali ini, Ratih terlihat duduk terus di pinggir pembaringannya.
"Neng Ratih sakit?" tanya Bang Udin pelan.
Ratih menggeleng pelan. Tetiba saja, tangan Bang Udin memberikan sesuatu ke dalam tangan Riko.
"Jangan menolak, Riko. Ini hanya bisa buat beli buah saja untuk Neng Ratih. Cepat sehat ya, adik cantik." Bang Udin pun langsung pulang.
Riko yang tadinya menolak pemberian Bang Udin, kini hanya terhenyak melihat selembar uang lima puluh ribuan di tangan kanannya, dan juga sekresek kue kering dari Bu RT. Kembali ia mendekati Ratih.
Matanya menatap Ratih lekat-lekat.
"Pesan Ibu, jangan tolak rezeki apa pun bentuknya." Ratih tersenyum sembari meraih kresek di tangan kakaknya dan membukanya. Jajanan kesukaannya yaitu jipang manis. Ratih membuka bungkusnya sambil tersenyum.
"Bismilah." Sebuah gigitan pada kue tersebut terdengar 'kres', Ratih mengunyahnya pelan sambil menikmati kue satu-satunya yang aman ia konsumsi walaupun jadul.
Itu karena sakit paru-parunya dan sesak napas bawaan lahir yang menyebabkan Ratih harus pilih-pilih makanan.
Riko mengelus rambut adiknya. Bu RT yang juga sahabat almarhum ibunya, sangat mengerti keadaan Ratih.
Riko teringat saat Bu RT meminta padanya untuk mengambil Ratih menjadi anak adopsinya, tapi Riko menolaknya, ia tetap akan bersama adik tersayangnya. Ia tak akan memberikan pada siapa pun walaupun kekurangan ekonomi melanda kehidupannya. Namun, wanita baik bernama Bu Laila itu tak henti terus membantu Ratih. Bahkan pakaian dan segala buku bacaan, Bu Laila yang memenuhi. Ia sudah kadung sayang dengan Ratih.
"Kakak mau ke rumah Pak RT, Ratih di rumah dulu, buka pintunya. Nanti Kakak mampir ke Mba Marni biar menemanimu." Riko berkata sambil menata alat yang akan dibawanya untuk membetulkan kipas angin.
Mba Marni adalah kemenakan Bapak mereka. Wanita yang belum menikah walaupun usianya sudah berkepala empat. Marni inilah incaran Bang Udin.
"Iya, Kak." Ratih menjawab pelan. Setelah makan kue tersebut, ia pun rebahan di dipan itu. Ratih tak melanjutkan sekolahnya, karena kesehatannya yang membuat ia harus mundur, entah sudah berapa kali, ia harus pingsan saat pelajaran sekolah ataupun sesak napas yang melanda tiba-tiba.
Guru sekolah setempat sudah menyarankan sekolah gratis untuk Ratih, akan tetapi kondisi Ratih yang tak memungkinkan lagi.
Riko sudah meluncur dengan motor astrea bututnya, menuju ke rumah Pak Solikhin yang merupakan ketua RT 6 Desa Bojong Lor. Desa ini letaknya paling ujung.
Suasana kampung yang penuh debu karena dekat bantaran sungai Muaraangke. Walaupun desa mereka tergolong kota, tapi daerah Bojong Lor nampak hampir dan jarang sekali menerima bantuan dari pemerintah. Akses jalan juga sering becek bila hujan melanda, apa lagi, daerah Bojong Lor merupakan lokasi yang sering dilanda kebanjiran.

Bunga Hitam
76 Pengikut · 10 Novel