


oleh Pinyo · 85 Bab
Cinta terkadang lahir bukan dari pelukan, melainkan dari luka. Ia menjelma candu, mengikat dengan manis yang menyesakkan. Ada tatapan yang terlalu dalam untuk dihindari, ada sentuhan yang terasa seperti belenggu. Di balik janji setia, tersimpan obsesi yang bisa menghancurkan segalanya. Karena tak semua cinta ingin dimiliki, ada cinta yang ingin menguasai.
Hujan turun deras malam itu, menusuk kulit seperti jarum-jarum dingin yang tak henti menancap. Jalanan lengang, hanya lampu-lampu tua di tepi trotoar yang berkelip tak berdaya, memantulkan cahaya pucat di atas genangan air.
Di bawah salah satu lampu itu, seorang pria berlutut dengan tubuh gemetar. Darah merembes deras dari perutnya, mengalir tanpa henti meski tangannya menekan luka sekuat tenaga. Cairan merah itu bercampur dengan hujan, mengalir di sela jemari, menodai aspal dengan warna pekat. Napasnya berat, tersengal, seolah setiap tarikan udara adalah perjuangan terakhir.
“Jangan lakukan ini.” Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh derasnya hujan. Air mata bercampur dengan darah di sudut bibir. “Kita bisa bicara, a-aku hanya mencoba.”
Kalimatnya terhenti, batuk berdarah memutus kata-kata. Tubuhnya terhuyung, tapi ia tetap menatap sosok yang berdiri di hadapannya.
Sosok itu hampir menyatu dengan bayangan malam. Wajahnya sebagian tertutup cahaya samar, sorot matanya jelas terlihat tajam, dingin, tapi bukan tanpa perasaan. Di tangannya, pisau berkilat dingin. Setetes air hujan menggelinding di sepanjang bilah logam, menetes ke tanah seiring tetes-tetes darah yang sudah lebih dulu jatuh.
“Sudah kubilang,” bisiknya lembut, suara yang terdengar lebih menakutkan daripada teriakan. “Kau jangan ikut campur dalam urusanku.”
Pria itu menelan ludah yang bercampur darah. Ia ingin melawan, tapi lututnya tak lagi sanggup menopang tubuh. “Aku hanya ingin melindunginya,” katanya dengan sisa tenaga, suaranya pecah. Matanya basah, bukan hanya karena hujan, tapi karena rasa takut yang nyata.
Senyum tipis muncul di wajah si sosok. Senyum getir, nyaris lembut, tapi penuh ejekan. “Melindunginya?” Ia tertawa lirih. “Itu tugasku. Bukan milikmu. Kau terlalu bodoh kalau berpikir bisa menjauhkan dia dariku.”
Hening. Hanya ada hujan yang tak pernah berhenti, dan detak jantung korban yang kian melemah.
Pisau itu perlahan terangkat. Korban memejamkan mata, seakan mencoba menerima nasib. Tapi bayangan wajah seseorang sempat melintas dalam kepalanya wajah seorang perempuan. Senyumnya, tawanya, cara ia menyapanya dengan hangat.
“Maafkan aku, aku tidak bisa menjagamu,” gumamnya dalam hati.
Lalu bilah tajam itu menembus dada. Suara daging yang terbelah bercampur dengan jeritan pendek yang segera tertelan derasnya hujan. Tubuh korban terhuyung, lalu ambruk ke tanah. Matanya masih terbuka, cahayanya padam perlahan, dan akhirnya menyisakan tatapan kosong yang membeku di bawah guyuran air.
Sosok pembunuh itu berdiri di atas tubuh yang tak bernyawa. Tangannya berlumur darah, tapi ekspresinya tetap tenang. Tidak ada keterkejutan, tidak ada penyesalan. Hanya ada rasa puas kepuasan yang menyeramkan, seolah ia baru saja menuntaskan sesuatu yang sudah lama ia nantikan.
Ia menunduk, berbisik lirih pada tubuh yang tak lagi merespons, “Kau berdiri di antara aku dan dia. Sekarang, penghalang itu hilang. Dia hanya milikku, hanya milikku.”
Tawa pelan lolos dari bibirnya. Tawa getir penuh kepuasan, bergema tipis di antara suara hujan yang menderas. Ia melepas sarung tangannya perlahan, seakan ritual suci, lalu menyelipkannya ke dalam saku jas panjangnya.
Langkah kakinya bergema pelan di jalanan basah. Setiap pijakan meninggalkan bekas air bercampur darah yang segera terhapus hujan. Sebelum benar-benar menghilang dalam kegelapan, ia sempat menoleh sekali lagi, menatap tubuh kaku yang tergeletak sendirian.
Sorot matanya menyala dengan janji berbahaya. Bukan hanya ancaman, melainkan pengakuan cinta yang bengkok. “Jika dia tahu apa yang kulakukan malam ini, dia akan mengerti. Karena cinta ini bukan untuk dibagi. Aku tidak akan pernah membiarkannya pergi, tidak peduli berapa banyak nyawa yang harus kuambil.”
Ia menghilang ditelan malam. Hanya mayat yang tertinggal, tergeletak dalam genangan air hujan dan darah, menjadi saksi bisu dari obsesi yang kelak menyeret lebih banyak orang dalam pusarannya.
Di balik semua itu, kota tetap hening, seolah hujan bersekongkol untuk menyembunyikan rahasia kelam malam itu.
Tak lama sirene polisi dan ambulans meraung bersahutan, memecah dinginnya malam kota. Lampu merah-biru berputar, memantul di genangan hujan yang belum kering. Bau anyir darah bercampur aroma tanah basah, menusuk hidung siapa pun yang cukup lama berdiri di sana.
“Kau kenal korban?” tanya Grezz. Tangannya bersedekap, tatapannya tak lepas dari kantong jenazah yang baru saja diangkat ke ambulans.
“Benar. Dia kolega bisnis Kakek,” jawab Camille singkat.
Ia menyelipkan buku catatannya ke dalam saku trench coat, lalu menarik kamera dari tas selempang. Klik. Klik. Dengan cekatan ia mengabadikan bercak darah yang memanjang di aspal, lalu jongkok memperhatikan jejak sepatu yang samar tertinggal di atas noda itu.
“Sudah tiga bulan,” desahnya lirih, tanpa melepaskan mata dari lensa. “Dan kasus ini masih buntu. Padahal dia selalu meninggalkan potongan teka-teki.”
Grezz menendang kerikil kecil, suaranya berat. “Seolah-olah dia sengaja bermain-main dengan kita. Seperti menghina langsung di depan mata.”
Camille menurunkan kameranya. Tatapannya mengeras, membeku pada pola jejak yang hampir tertutup air hujan. Ada sesuatu yang salah. Pola ini terlalu rapi, terlalu konsisten, untuk disebut kebetulan.
“Bukankah ini aneh?” bisik Grezz, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Camille. “Entah kenapa aku merasa pelaku selalu membunuh orang yang mengenalmu.”
Mata Grezz menatap Camille sebentar lalu berjalan cepat menaiki tangga gedung di sekitar TKP. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, dan tanpa banyak basa-basi ia menunjukkan tanda pengenal kepada petugas keamanan.
“Rekaman CCTV dari malam kejadian. Aku butuh segera.”
Petugas itu mengangguk canggung. “Tunggu sebentar, kami akan segera menyiapkannya.”
Grezz hanya mendengkus, jelas ragu apakah rekaman itu akan memberi jawaban yang mereka cari.
Sementara itu, Camille masih sibuk di lokasi. Kamera di tangannya terus berbunyi, mengabadikan detail kecil berupa noda darah yang hampir terhapus air hujan, sehelai rambut tersangkut di retakan aspal, hingga jejak sepatu samar yang menjauh ke arah gang gelap. Seolah ia takut ada satu potongan teka-teki yang terlewat.
Sekitar pukul sepuluh malam, mereka kembali ke kantor pusat investigasi. Lampu neon putih menyinari ruangan penuh tumpukan berkas dan papan mading besar di dinding. Dua puluh empat foto korban menatap kosong dari balik kertas lusuh yang ditempel rapat.
Dengan tangan sedikit bergetar, Camille menambahkan foto terbaru. Pin kecil menancap dengan bunyi klik yang dingin, lalu benang merah kembali ditarik, menyambung satu titik ke titik lain. Pola itu semakin rumit, bagai jaring laba-laba yang menyesakkan dada.
“Korban ke dua puluh lima,” ucap Camille lirih.
Grezz menjatuhkan diri ke kursi. Kursi berderit, hampir sekeras helaan napasnya. “Dan kali ini orang terdekat kakek.” Tatapannya membeku pada foto baru di papan, bibirnya menekan rapat seolah ingin menahan sesuatu.
“Apakah target sebenarnya adalah keluarga kita?” tanyanya akhirnya, suara rendah tapi terdengar menusuk.
Camille menutup mata sejenak, mencoba menahan gejolak di dadanya. “Entahlah,” katanya pelan. Matanya yang lelah kembali menatap papan itu. “Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini, tapi pola pembunuhannya terlalu rapi. Terlalu rumit. Seolah-olah dia ingin kita tersesat.”
Grezz menyilangkan tangan di dada, pandangannya tak lepas dari benang merah yang berkelindan di papan mading. “Atau,” gumamnya, “justru tujuan dia memang membuat kita tersesat sampai kita kehilangan arah.”
Camille menelan ludah, lalu menunduk. Dan di detik itu, entah kenapa, ia merasa ada sepasang mata lain yang ikut menatap mereka dari balik bayangan ruangan.

Pinyo
22 Pengikut · 4 Novel