


oleh Ice Evrily · 26 Bab
Brenda, gadis ceria yang banyak disukai, tidak mengerti mengapa Yosua, pria cupu yang pendiam, selalu menghindarinya. Tapi, Brenda tidak menyerah. Dia terus berusaha untuk mendekati Yosua, tanpa menyadari bahwa Yosua sebenarnya memiliki perasaan yang dalam untuknya.
Musik berdentang keras di club malam yang penuh dengan cahaya neon dan asap rokok. Rachel Ng, bersama Brenda Tan, dan lima orang teman kampus lainnya berada di sana. Mereka berpesta untuk merayakan ulang tahun Rachel. Mereka semua mengenakan pakaian yang mewah dan juga senyum yang ceria serta raut wajah yang memancarkan bahagia.
Brenda, gadis cantik yang mengenakan gaun merah yang ketat dan berkilauan. Dia duduk di sofa yang empuk, sambil memegang gelas wine miliknya. Rachel adalah salah satu teman baiknya. Gadis itu mengenakan gaun putih yang elegan, duduk di sebelahnya. Rachel menatapnya dengan tatapan penuh dengan kekhawatiran.
"Bren, are you okay?" tanya Rachel, sambil menatap Brenda dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Brenda menoleh, dengan senyum yang tipis. "Yaps, why?"
"Kamu terlihat murung, ada apa?" tanya Rachel, sambil mengambil gelas wine dari meja.
Brenda meneguk wine-nya, sebelum menjawab. "Aku dua hari yang lalu putus dengan kakakmu."
Rachel menggeleng pelan dan bertanya. “Kenapa?”
Brenda meneguk wine lagi, lalu kembali menjawab. "Bosan."
Rachel hanya menggelengkan kepala, sorot matanya sulit dimengerti. Ia tahu bahwa Brenda suka sekali berganti pasangan, alasannya karena bosan. Tapi Rachel juga tahu, bahwa Brenda tidak pernah mencoba hal yang lebih dari pegangan tangan dan pelukan.
Rachel hanya tidak mengerti, mengapa Brenda tidak pernah mencoba untuk mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh.
***
Pukul dua pagi, Kota Singapura terasa dingin dan sepi. Lampu jalan yang terang menyorot di setiap sudut kota, membuat bayangan yang jelas di jalan yang kosong. Udara malam yang dingin memasuki kota, membuat suhu udara turun menjadi sekitar 20° celcius.
Brenda masih terjaga, dia hanya minum tiga gelas wine, tapi tidak dengan Rachel. Dia pun memapah Rachel yang sudah mabuk hingga ke mobil Ferrari miliknya.
"Rach? Hei, ayo pulang," ujar Brenda, sambil membantu Rachel masuk ke dalam mobil.
"Huh, menyusahkan sekali, untung aku menyayangimu," ujar Brenda, lalu melajukan mobilnya. Mereka berjalan di jalan yang sepi, hanya suara mesin mobil yang berdengung.
Tiba-tiba, terdengar suara benturan yang keras. Brenda langsung menghentikan mobilnya dan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Sebuah motor sport hitam menyerempet dari samping mobil Ferrari milik Brenda.
"Kau gila ya!" teriak Brenda. Dia marah kepada pria yang mengendarai motor itu. "Kalau tidak bisa mengendarai dengan baik, jangan mengendarai di jalan seperti ini! Lihat mobilku rusak! Aaa ... kau harus bertanggung jawab! Cepat!"
Pria itu diam, lalu perlahan menatap Brenda. Dalam hati, ia berkata. "Astaga, dia? Apakah gadis populer itu? Kenapa aku bisa berurusan dengannya? Sial!"
"Maafkan saya," jawabnya gugup. Brenda melotot, lalu maju selangkah di hadapan pria itu.
Ia memukul rahangnya dengan keras.
"Cepat berikan aku nomormu atau tanda pengenalmu! Urusan kita belum selesai! Kau harus ganti rugi!" teriak Brenda.
Pria itu meringis saat mendapat pukulan dari Brenda. Ia memberikan ponselnya kepada Brenda, kemudian menyimpan nomornya.
"Pergi sana, dasar cupu!" teriak Brenda, sebelum memasuki mobilnya dan meninggalkan pria itu di sana.
Pria itu, yang bernama Yosua, tersenyum tipis saat melihat mobil Ferrari itu menjauh. Ia bergumam. "Sabar, Yosua, sabar!"
***
Jam tujuh pagi, di kediaman Keluarga Tan.
Suara ketukan pintu berulang kali terdengar. Brenda pura-pura tidak mendengar, tetap memejamkan mata, dan berharap suara itu akan berhenti dari pintu kamarnya.
Namun, ternyata salah, suara ketukan semakin kencang, membuat Brenda kesal.
"Pasti Mama! Menyebalkan sekali pagi-pagi begini cari ribut saja. Huff.” Brenda mengeluh, sebelum akhirnya bangun dari tempat tidurnya yang empuk dan nyaman.
Kamar Brenda cukup luas, warna cream putih menutupi seluruh tembok, membuat kamar terasa cerah dan hangat. Terdapat sofa coklat untuk bersantai di depan jendela kamarnya, yang membuat kamar terasa lebih nyaman. Brenda segera mencuci mukanya di kamar mandi.
Setelah selesai mencuci muka, Brenda keluar dari kamar mandi dan langsung dihadapkan pada ibunya yang sudah menunggunya di depan pintu kamar. Ibunya langsung menjewer telinga Brenda dengan keras, membuat Brenda meringis dan teriak.
"Aduh, Mama!" Brenda teriak, sambil mencoba melepaskan jeweran ibunya.
"Bagus ya, tadi malam kamu keluar terus pulang sampai pagi, iya?" Ibunya bertanya dengan nada cukup tinggi.
Brenda mencoba menjelaskan. "Apa sih, Ma! Aku keluar sama Rachel, dia berulang tahun kemarin."
Ibunya melepas jewerannya dan menatap tajam anaknya. "Kamu tidak berbohong?"
Brenda berusaha meyakinkan ibunya. "Tidak, Ma! Ayo kita sarapan, aku lapar."
Ibunya mengangguk. "Hem. Ok!"
Mereka berdua turun menggunakan lift yang ada di mansion itu, padahal kamar Brenda hanya di lantai dua. Mansion keluarga Tan memiliki empat lantai yang luas dan elegan. Setiap ruangan bahkan mempunyai desain yang modern dan dilengkapi alat-alat canggih. Lift yang mereka gunakan tak kalah bagus, karena mempunyai desain futuristik dan canggih.
Saat Brenda dan ibunya tiba di meja makan, Papa Tan dan kakaknya Eric, sudah menunggu mereka. Ruang makan yang mereka punya didesain dengan meja makan yang panjang dan kursi-kursi yang mewah, menjadi salah satu tempat mereka berkumpul dengan para anggota keluarga.
Brenda merupakan anak kesayangan Papa Tan. Dia selalu diberi kebebasan dan perlakuan istimewa. Namun, ibunya tidak suka jika Brenda bersikap semaunya, karena dia anak perempuan dan harus memiliki etika yang baik.
"Morning, Papa," ujar Brenda ceria, dengan senyum yang lebar.
Eric, kakaknya, hanya tersenyum tipis, sangat tipis. Ia sangat menyayangi adiknya, akan tetapi tidak tahu cara mengekspresikannya. Itulah kenapa Brenda tidak terlalu suka bercerita dengan kakaknya.
"Pagi, Nak," balas Papa Tan dengan senyum indah, yang membuat Brenda merasa bahagia dan dicintai.
"Ayo kita makan," kata Nyonya Tan, dengan suara yang lembut dan hangat.
Hidangan di atas meja sangat lezat dan menggugah selera. Sudah tersedia roti panggang, telur orak-arik, dan jus buah segar. Brenda langsung mengambil roti panggang dan memulai sarapannya.
***
Di sebuah apartemen yang sederhana dan jauh dari kesan mewah, Yosua masih berbaring nyaman di atas ranjangnya, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Em, kenapa, Bro?" tanya Yosua, dengan suara yang masih ngantuk.
"Kamu tidak kuliah?" tanya Bryan, dengan suara yang khawatir.
"Kuliah," jawab Yosua singkat, dengan suara khas bangun tidur.
"Ini sudah jam tujuh, Yosua! Astaga, tumben sekali kau baru bangun! Ck ck ck," kata Bryan terkejut.
"Ada urusan semalam, sudah aku tutup. Bye," jawab Yosua, sebelum memutuskan panggilan.
Bryan kesal karena panggilan diakhiri.
"Dasar gila, menyebalkan sekali!" katanya, sebelum segera menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarganya.

Ice Evrily
25 Pengikut · 4 Novel