Asya berdiri di pinggir jalan, payungnya miring ditiup angin. Hujan sore itu membuat rambutnya kusut seperti mie instan.
“Duh, baru aja catokan tadi pagi,” gumamnya sambil menatap deretan becak yang lewat.
Tiba-tiba, sebuah becak berhenti tepat di depannya. Sopirnya, seorang pemuda berkaus garis-garis dan senyum selebar Stadion Teladan, menyapa, “Hai, naik, Kak? Becak Ucok paling cepat se-Medan ini, sumpah!”
Asya melirik becaknya yang dihiasi lampu kelap-kelip. “Cepat? Ini becak apa wahana pasar malam?”
Ucok tertawa lebar. “Eh, jangan remehkan. Kalau ini becak bisa ngomong, dia udah minta KTP dari dulu.”
Asya mengangkat alis. “Serius, aman nggak nih?”
“Aman, Kak! Kalau becak ini jatuh, saya ikut jatuh juga. Jadi nyawa kita sama-sama penting,” ucap Ucok sambil menepuk sadel.
Asya menghela napas panjang, lalu naik dengan hati-hati. Begitu duduk, becak langsung melaju, dan Asya nyaris kehilangan keseimbangan.
“Waduh! Pelan-pelan, Bang!” seru Asya, memegang erat pegangan.
Ucok menoleh sebentar. “Tenang aja, Kak. Di Medan ini, kalau becak saya lambat, bisa kalah sama pejalan kaki.”
Asya mendesah, setengah kesal, setengah geli. Dalam hati ia berbisik, Astaga, apa aku salah pilih becak?
Ucok terus berbicara, seolah tak peduli jalanan licin. “Kakak mau ke kampus ya? Saya hafal semua jalan tikus. Kalau macet, kita bisa lewat gang sempit yang cuma muat becak saya.”
“Jangan yang terlalu sempit, ya. Aku nggak mau jatuh nyemplung parit,” balas Asya cepat.
Ucok terkekeh. “Santai aja, Kak. Parit Medan sekarang udah jinak, nggak gigit lagi.”
Asya akhirnya ikut tertawa kecil. “Bang, serius, kenapa becak abang ini banyak lampu warna-warni? Kayak odong-odong.”
“Itu strategi marketing,” jawab Ucok sambil menekan bel yang berbunyi kring-kring nyaring. “Biar orang ingat, kalau lihat becak yang meriah, pasti becak Ucok.”
Asya menggeleng pelan, senyum tipis muncul. Lucu juga ya abang becak ini, pikirnya.
Ucok menambahkan, “Eh, Kak, kalau hujan reda, boleh saya traktir teh tarik di warung depan kampus? Sekalian saya minta maaf kalau becaknya terlalu goyang.”
Asya meliriknya, pura-pura cuek. “Nggak janji, ya, tapi mungkin.”
Ucok tersenyum nakal, “Oke, berarti saya punya harapan, kan?”
Asya menunduk, menyembunyikan senyum di balik payungnya. Untuk pertama kalinya, becak yang biasanya hanya jadi alat transportasi terasa seperti awal dari sesuatu yang entah apa.
Ucok memacu becaknya melewati genangan air. Cipratan hujan membasahi sandal Asya, membuatnya refleks mengangkat kaki.
“Bang! Airnya dingin kali!” seru Asya sambil meringis.
Ucok hanya nyengir, “Tenang aja, Kak. Itu air berkah hujan, katanya bikin awet muda.”
Asya berkata. “Berkah buat siapa? Buat kakiku yang sekarang kayak habis rendaman es?”
Ucok tergelak. “Eh, jangan salah, kaki yang dingin itu tandanya jodoh makin dekat.”
Asya menatapnya tajam. “Bang, abang ini abang becak atau dukun cinta?”
Ucok mengedipkan mata, “Abang becak yang punya intuisi cinta, Kak.”
Asya memutar bola matanya, Ya Allah, kalau begini terus bisa-bisa aku ketawa terus sepanjang jalan.
Ucok mencondongkan badan sedikit, menepuk setang becaknya. “Kak, kalau nggak keberatan, saya boleh tahu namanya? Supaya lain kali kalau lihat Kakak di pinggir jalan, saya bisa ‘seruduk’ duluan.”
Asya menghela napas panjang. “Asya. Namaku Asya.”
Ucok tersenyum lebar. “Asya cantik kali namanya. Pantes aja dari tadi becak ini rasanya semangat, mungkin karena ada Asya di atasnya.”
Asya menahan senyum, pura-pura mengatur rambutnya yang basah. “Bang, biasa aja lah. Aku cuma penumpang kok.”
“Penumpang spesial. Biasanya becak saya goyang karena jalanan berlubang. Kali ini becak saya goyang karena deg-degan,” ujar Ucok setengah bercanda.
Asya tak kuasa menahan tawa. “Bang, serius? Becak bisa deg-degan?”
Ucok mengangguk mantap. “Iya, karena tuannya deg-degan.”
Asya geleng-geleng kepala, Bisa-bisanya abang becak ini merayu di tengah hujan begini.
Tiba-tiba, becak berhenti mendadak di depan sebuah gang sempit. Ucok menoleh, “Kak, kalau mau cepat, kita bisa lewat sini, tapi agak sempit, ya. Kalau becak ini kurus, mungkin udah lolos tanpa gesekan.”
Asya menatap gang itu ragu. “Aman? Serius nih, Bang?”
Ucok mengangkat dua jari, “InsyaAllah aman. Kalau pun nyangkut, kita mundur. Becak ini sudah pengalaman, Kak.”
Asya menarik napas, “Ya udah, jalan aja. Aku pasrah.”
Becak pun masuk ke gang sempit, saking sempitnya lutut Asya hampir bersentuhan dengan tembok.
“Bang! Ini kalau aku miring sedikit, aku bisa gosok dinding,” keluh Asya.
Ucok tertawa, “Tenang aja, Kak. Anggap aja ini bonus pijat refleksi gratis.”
Asya tak tahan lagi dan tertawa terbahak-bahak. Hujan, becak, dan candaan Ucok perlahan membuatnya lupa kalau ia sempat kesal tadi.
Entah kenapa, rasanya perjalanan ini nggak cuma menuju kampus. Mungkin menuju sesuatu yang lain? pikir Asya sambil melirik sopir becak yang kini sedang bersenandung kecil.
“Bang, lagu apa sih itu?” tanya Asya sambil mengerutkan dahi, mencoba mengenali nada yang terdengar sumbang.
Ucok tersenyum tanpa menoleh, “Ini? Lagu wajib abang becak, Kak. Judulnya Asmara di Atas Roda.”
Asya terkikik. “Serius ada lagunya? Kok aku baru dengar?”
“Iya, karena cuma abang yang nyanyi. Eksklusif,” Ucok menjawab mantap.
Asya menggeleng pelan. “Liriknya gimana, Bang?”
Ucok langsung bersenandung keras, “Di atas becak, hati berdebar … hujan rintik, cinta pun mekar.”
Asya menahan tawa, tapi akhirnya menyerah. “Bang, sumpah, kalau becak ini punya telinga, pasti dia udah protes.”
Ucok pura-pura terkejut. “Lho, Kakak nggak suka ya? Biasanya penumpang saya tepuk tangan.”
“Tepuk tangan karena senang atau karena lega lagu abang berhenti?” Asya menimpali cepat.
Ucok menoleh sebentar, wajahnya pura-pura sedih. “Waduh, Kak Asya kejam kali. Padahal saya nyanyi dari hati.”
Asya tergelak lagi, “Udahlah, Bang. Nyanyi aja terus. Siapa tahu becak ini tiba-tiba jadi panggung musik.”
Ucok mengangguk mantap, lalu kembali bersenandung, kali ini lebih pelan.
Asya hanya menggeleng sambil memeluk tasnya erat. Dalam hati ia berbisik, Kenapa ya abang becak ini bisa bikin perjalanan sesingkat ini jadi seru begini?