Ucok tersenyum, menatap matanya dengan sungguh-sungguh. “Berbeda yang membuatmu bertahan di sini, kan?”
Asya tak langsung menjawab. Ia hanya tertawa kecil, lalu berdiri sambil menepuk bahu Ucok. “Sudahlah, malam semakin larut. Simpan saja alasanmu. Besok aku ingin mendengarnya.”
Ucok mengangguk patuh, tapi dalam hatinya berteriak, Besok, alasan nomor dua puluh tiga akan jadi yang paling indah.
***
Ucok baru saja merebahkan tubuhnya di dipan kayu yang sudah berderit setiap kali ia bergerak. Lampu kamar hanya menyala redup, cukup untuk membuat bayangan kipas angin berputar di dinding.
Belum sempat matanya terpejam, ponselnya yang sudah retak di ujung layar tiba-tiba bergetar. Suara dering khas nokia jadul menggelegar bagai toa masjid subuh.
“Alamak! Tengah malam siapa pula yang menelepon ini?” Ucok terlonjak kaget, lalu buru-buru meraih ponsel di atas meja kecil.
Di layar tertulis nama: Asya.
Jantungnya berdegup lebih kencang daripada suara kendang di hajatan. Ia sempat ragu, menelan ludah, lalu mengusap rambutnya yang sudah seperti sikat ijuk.
“Kalau kuangkat, kedengaran suaraku serak kali. Kalau tidak kuangkat, bisa-bisa dia marah. Ah, nekat sajalah,” gumamnya.
Dengan jari gemetar, Ucok menekan tombol hijau.
“H-halo?” Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan.
“Ucok!” Suara Asya di seberang terdengar jelas, semangat, tapi agak ditekan. “Kau sudah tidur?”
Ucok tergagap. “Eh hampir maksudnya belum. Kenapa? Ada apa?”
Asya tertawa kecil. “Aku tidak bisa tidur. Jadi kupikir, meneleponmu mungkin bisa membuatku tenang.”
Ucok refleks duduk tegak. Dalam hati ia berteriak, Ya Tuhan, ini alasan nomor dua puluh tiga, kan?
“Tenang? Sama aku?” tanyanya dengan nada penuh heran bercampur bangga.
“Ya, siapa lagi. Kau ini kan suka bicara aneh-aneh, kadang lucu, kadang bikin bingung. Itu lebih baik daripada aku termenung sendirian.”
Ucok menggaruk kepala yang tidak gatal. “Kau tahu tidak, Asya, baru kali ini ada yang menghubungiku tengah malam untuk alasan begini.”
“Baru kali ini juga aku melakukannya,” jawab Asya cepat. “Bukankah semua hal besar selalu dimulai dari yang pertama?”
Ucok terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Kau pintar juga bermain kata, ya. Kalau aku boleh jujur, aku senang sekali kau telepon.”
Asya ikut terkekeh. “Jangan terlalu senang dulu. Aku menelepon ini bukan untuk menggombal. Aku hanya ingin mendengar suaramu.”
Ucok memukul dadanya sendiri, berusaha menenangkan degup yang tak karuan. “Ah, kalau begitu aku harus memastikan suaraku tidak serak-serak ngeri.” Ia berdehem keras-keras.
“Hei, jangan keras-keras! Nanti satu rumah bangun,” Asya menahan tawa.
“Kalau satu kampung bangun, bagaimana?” sahut Ucok cepat.
“Kalau begitu, kau tanggung sendiri menjelaskannya,” balas Asya sambil cekikikan.
Mereka terdiam sebentar. Hanya suara kipas angin dan detak jantung Ucok yang mengiringi malam.
“Asya,” Ucok akhirnya bersuara lagi, “bolehkah aku bertanya? Kenapa kau tidak bisa tidur?”
Asya menarik napas panjang dari seberang. “Entahlah, pikiranku penuh. Tentang hidup, tentang kuliah, tentang masa depan semuanya campur aduk.”
Ucok mengangguk, meski Asya tidak bisa melihat. “Aku mengerti. Kadang, malam memang terlalu sepi sampai pikiran jadi ribut sendiri.”
“Betul sekali,” sahut Asya cepat. “Kau entah bagaimana, kau bisa membuat kebisingan dalam kepalaku jadi lebih pelan.”
Ucok hampir menjatuhkan ponselnya. Astaga, ini ucapan yang bisa masuk buku catatan alasan nomor dua puluh tiga!
“Kalau begitu,” ucap Ucok dengan suara lebih lembut, “mulai malam ini, biarkan aku jadi obat tidurmu.”
Asya tertawa geli. “Obat tidur? Kau pikir suaramu bisa membuatku mengantuk?”
“Bisa! Kalau kau dengar aku bercerita panjang lebar soal cara memperbaiki rantai becak yang lepas, pasti kau tidur sebelum aku selesai.”
Asya langsung terkekeh keras, nyaris terbahak. “Ucok, hanya kau yang bisa menghubungkan romantisme dengan rantai becak!”
Ucok ikut tertawa. “Nah, itu dia kelebihanku. Orang lain mungkin kasih puisi, aku kasih cerita bengkel.”
Mereka larut dalam tawa sejenak, lalu hening kembali.
“Ucok.” Suara Asya kini lebih pelan, “terima kasih, ya. Aku tahu, aku bisa mengganggumu kapan saja, bahkan tengah malam begini, tapi kau tidak keberatan.”
Ucok menahan senyum, lalu menjawab mantap, “Mana mungkin aku keberatan. Justru aku merasa ini seperti hadiah. Tidak semua orang dapat telepon tengah malam dari seseorang yang spesial.”
Asya terdiam beberapa detik, lalu berkata lirih, “Kau benar-benar berbeda, Ucok.”
Ucok menutup mata, menikmati kata-kata itu seolah musik. “Aku harap berbeda yang membuatmu tetap meneleponku lagi, besok, lusa, sampai entah kapan.”
Asya menghela napas. “Kau ini, selalu bisa menyusup ke dalam pikiranku dengan cara aneh.”
“Bukan menyusup,” sanggah Ucok cepat. “Aku masuk lewat pintu depan, mengetuk sopan, lalu kau sendiri yang membukanya.”
Asya terdiam sejenak, lalu tertawa lembut. “Kau memang pandai bicara, meski dengan cara sederhana, tapi entah kenapa, aku percaya.”
Ucok menatap langit-langit kamarnya, senyumnya merekah. “Kalau begitu, malam ini bisa kutulis di buku catatan: alasan nomor dua puluh tiga karena kau mau meneleponku tengah malam.”
Asya ikut tertawa. “Ucok, kau benar-benar akan membuat daftar alasan itu sampai seratus?”
“Seratus? Tidak cukup,” jawab Ucok mantap. “Kalau perlu, seribu.”
“Seribu? Itu butuh seumur hidup.”
“Ya, justru itu maksudku.”
Sunyi sejenak, tapi sunyi yang hangat. Lalu Asya berkata pelan, “Ucok, aku rasa aku bisa tidur sekarang. Terima kasih.”
Ucok tersenyum, meski dadanya terasa hangat. “Tidurlah, Asya. Semoga mimpi indah datang, dan kalaupun tidak aku siap jadi mimpi lucumu.”
Asya tertawa kecil untuk terakhir kali malam itu. “Selamat malam, Ucok.”
“Selamat malam, Asya.”
Telepon terputus, tapi di hati Ucok justru semakin terhubung. Ia memandang ponsel retaknya, lalu berbisik, “Alasan nomor dua puluh tiga kau indah sekali.”
Ucok pun memejamkan mata, dengan senyum yang tak kunjung hilang. Malam di Medan terasa lebih singkat, tapi juga lebih panjang dalam kenangan.
Ucok menggeliat sebentar, lalu menatap ponselnya lagi sebelum benar-benar menutup mata.
“Eh, kalau dia telepon lagi bagaimana?” gumamnya pelan.
Seolah menjawab pikirannya, ponsel itu bergetar sebentar bukan telepon, tapi pesan singkat masuk.
Ucok buru-buru membuka. Isinya hanya singkat:
“Ucok, jangan lupa mimpi yang lucu. Biar besok kau bisa ceritakan padaku.”
Ucok terkekeh kecil. “Hahaha jadi aku disuruh bikin mimpi pesanan, ya?” katanya sambil menggaruk kepala.
Lalu ia menjawab cepat:
“Kalau mimpinya lucu, jangan salahkan aku kalau kau ikut tertawa sampai bangun.”
Belum sempat ia memejamkan mata lagi, pesan balasan masuk.
“Kalau begitu, aku tunggu ceritanya. Selamat tidur, Ucok.”
Ucok menatap layar ponselnya dengan senyum lebar. “Alamak, Asya kau buat aku susah tidur, malah.”
Ia menutup mata, tapi mulutnya masih berbisik sendiri.