Bel pulang baru saja berbunyi ketika lorong SMA Bintang Harapan berubah seperti pasar sore. Suara tawa bercampur langkah kaki memenuhi koridor. Beberapa siswa sibuk membereskan buku, sebagian lain sudah lari menuju gerbang sebelum guru piket muncul.
Di tengah keramaian itu, seorang cewek berseragam sedikit berantakan sedang berlari sambil membawa map biru di dada.
“Alana! Cepetan! Seleksi PMR tinggal lima menit!” teriak sahabatnya, Nisa, dari ujung tangga.
“Aku tahu!” balas Alana ngos-ngosan. “Ini semua gara-gara Pak Dion nahan aku buat bersihin papan tulis!”
Nisa geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. “Kalau telat terus, jangan nangis kalau nggak diterima.”
Alana langsung menatap dramatis.
“PMR itu masa depan cintaku.”
“Hah?”
“Katanya ketua PMR ganteng.”
Nisa refleks menepuk jidat.
“Tujuan hidupmu nggak pernah benar.”
Mereka berdua berlari menuruni tangga menuju aula belakang sekolah. Dari kejauhan sudah terlihat spanduk besar bertuliskan:
OPEN RECRUITMENT PALANG MERAH REMAJA
Jantung Alana mendadak berdebar lebih cepat. Bukan karena gugup masuk organisasi, tapi karena penasaran sama sosok ketua PMR yang selalu jadi bahan bisik-bisik satu sekolah.
Raka Mahendra.
Cowok kelas dua belas yang terkenal dingin, pintar, dan terlalu sempurna untuk ukuran anak SMA. Bahkan rumor mengatakan dia pernah nolak tiga cewek sekaligus dalam sehari.
“Serem banget,” gumam Alana.
“Kenapa?”
“Cowok yang terlalu ganteng biasanya red flag.”
Nisa menahan tawa. “Belum juga kenal.”
Mereka masuk ke aula yang sudah dipenuhi calon anggota baru. Di depan ruangan berdiri beberapa anggota inti PMR memakai seragam putih lengkap, dan di sana Alana langsung diam.
Cowok itu berdiri sambil melipat tangan. Tinggi. Rambut hitam rapi. Tatapannya tenang seperti langit malam sebelum hujan turun.
Raka Mahendra.
Saat beberapa siswa lain sibuk bercanda, cowok itu justru terlihat fokus memeriksa daftar peserta.
Entah kenapa auranya bikin suasana sekitar ikut diam.
“Buset,” bisik Alana pelan.
Nisa melirik jahil. “Masa depan cintamu?”
“Kayaknya masa depan traumaku.”
Belum selesai mereka bicara, suara gaduh tiba-tiba terdengar dari luar aula.
BRAK!
Seseorang jatuh dari tangga dekat lapangan belakang.
Semua kepala langsung menoleh.
“Ya ampun!”
“Darah!”
Beberapa siswa panik mendekat. Seorang cowok kelas sepuluh terlihat meringis sambil memegangi lutut yang berdarah cukup banyak.
Suasana langsung ricuh.
“Ada yang panggil UKS!”
“Air! Cepat!”
Di tengah keributan itu, Alana justru spontan bergerak maju.
“Pinggir dulu! Jangan kerubungin dia!” serunya.
Nisa melotot kaget. “Lana?!”
Alana berlutut di depan siswa yang terluka itu. Tangannya gemetar sedikit, tetapi matanya fokus.
“Hey, lihat aku,” ucapnya lembut. “Pusing nggak?”
Cowok itu menggeleng pelan sambil menahan sakit.
Alana cepat mengambil sapu tangan dari saku rok lalu menekan luka di lututnya.
“Tarik napas dulu. Pelan-pelan.”
Beberapa siswa mulai mundur.
Dari arah aula, Raka memperhatikan semuanya tanpa bicara.
Tatapannya jatuh tepat ke Alana.
Cewek itu terlihat panik, jelas belum terlatih, tetapi cara bicaranya membuat korban perlahan tenang.
“Airnya datang!” teriak seseorang.
“Jangan langsung disiram!” sahut Alana cepat.
Semua mendadak diam.
Termasuk Raka.
Alana sendiri terlihat kaget karena suaranya terlalu keras.
“Eh, maksudku nanti dulu,” lanjutnya salah tingkah. “Kotorannya dibersihin dulu.”
Salah satu anggota PMR mendekat membawa kotak P3K.
Raka akhirnya berjalan menghampiri mereka, dan anehnya, suasana langsung berubah hening.
Cowok itu jongkok di samping Alana lalu mulai memakai sarung tangan medis.
“Kompresinya sudah benar,” katanya singkat.
Alana menoleh cepat.
Deg.
Jarak mereka dekat banget.
Alana bahkan bisa mencium aroma segar seperti hujan dari seragam cowok itu.
“E-eh makasih,” jawabnya gugup.
Raka mulai membersihkan luka korban dengan tenang dan cekatan.
“Nama kamu?”
“Alana.”
“Pernah ikut pelatihan medis?”
“Belum.”
Raka mengangkat alis sedikit.
“Belum?”
Alana menggeleng.
“Aku cuma sering nonton video pertolongan pertama.”
Beberapa anggota PMR saling pandang.
Sedangkan Raka malah menatap Alana lebih lama dari seharusnya.
“Aneh,” gumamnya pelan.
“Hah?”
“Kamu nggak panik.”
Alana terdiam sebentar.
Jujur, tadi dia memang takut, tapi melihat orang terluka selalu bikin tubuhnya bergerak sendiri.
“Aku cuma nggak suka lihat orang kesakitan,” jawabnya lirih.
Kalimat itu entah kenapa membuat mata Raka berubah sedikit lebih lembut. Namun, sedetik kemudian cowok itu kembali datar.
“Bantu aku angkat dia.”
“Hah? Aku?”
“Iya.”
“Oke.”
Mereka bekerja bersama membawa siswa itu ke UKS, dan sepanjang perjalanan jantung Alana tidak berhenti salah tingkah.
UKS sekolah sore itu terasa lebih sepi dibanding biasanya.
Hanya suara kipas angin dan bunyi alat medis sederhana yang terdengar pelan.
Alana berdiri canggung dekat pintu sementara Raka sedang menulis laporan kejadian.
Cowok itu serius banget sampai alisnya sedikit mengerut.
Aneh.
Padahal cuma lihat orang nulis, tapi Alana malah ikut deg-degan.
“Kalau mau ngomong, ngomong aja,” ucap Raka tiba-tiba tanpa menoleh.
Alana refleks kaget.
“Hah?”
“Kamu ngelihatin aku dari tadi.”
Muka Alana langsung panas.
“Aku nggak ngelihatin!”
“Terus?”
“Mengamati.”
Raka akhirnya menoleh, dan untuk pertama kalinya, cowok itu tersenyum kecil.
Tipis banget, tapi cukup bikin Alana hampir lupa cara bernapas.
“Bedanya?”
Alana langsung salah tingkah.
“Aduh, kenapa sih ketua PMR harus setampan ini,” batinnya menjerit.
“Jadi .…” Raka menyandarkan badan ke meja UKS. “Kamu masuk PMR karena mau nolong orang?”
Alana terdiam.
Padahal tadi dia masuk karena penasaran sama ketuanya, tapi sekarang entahlah.
“Aku pengen jadi orang yang berguna,” jawabnya pelan.
Raka menatapnya cukup lama sampai Alana salah tingkah sendiri.
“Jawaban yang bagus.”
“Kayaknya kamu nggak percaya.”
“Aku percaya.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Raka menutup pulpen pelan.
“Karena orang yang pura-pura peduli biasanya mikir dulu sebelum nolongin orang. Sedangkan kamu tadi langsung lari.”
Kalimat itu sukses bikin dada Alana hangat.
Belum pernah ada yang memujinya sesederhana itu, tetapi terasa tulus.
Tiba-tiba pintu UKS terbuka.
“WOI RAKA!”
Seorang cowok tinggi masuk sambil membawa tumpukan formulir.
“Anak baru udah nunggu dari tadi—”
Kalimatnya berhenti saat melihat Alana.
“Oho.”
Cowok itu nyengir jahil.
“Siapa nih?”
“Peserta baru,” jawab Raka singkat.
Cowok itu mendekat sambil mengulurkan tangan.
“Perkenalkan saya Farrel. Wakil ketua PMR sekaligus korban kebengisan Raka tiap latihan.”
“Alana,” jawabnya sambil tertawa kecil.
Farrel langsung melirik Raka penuh arti.
“Jarang banget ketua es batu ngajak peserta baru masuk UKS.”
“Dia bantu korban tadi,” kata Raka datar.
“Iya, iya. Santai.”
Alana menahan senyum.
Ternyata orang-orang PMR nggak seseram yang dia kira. Namun, belum sempat suasana jadi santai, suara teriakan terdengar dari luar.
“Api! Ada api!”
Semua langsung menoleh.
Farrel refleks berdiri.
“Astaga.”
Asap tipis terlihat dari arah gudang belakang aula.
Raka langsung berubah serius.
“Farrel, ambil APAR.”
“Oke!”
“Alana, tetap di UKS.”
“Hah? Kenapa?”
“Karena ini bukan latihan.”
Nada suara Raka tegas banget sampai Alana otomatis diam.
Cowok itu segera berlari keluar bersama Farrel. Namun, entah kenapa perasaan Alana mendadak tidak enak.
Seperti ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kebakaran kecil.
Ia berjalan mendekati jendela UKS.
Dari kejauhan terlihat beberapa siswa panik, dan di antara asap tipis itu.
Alana samar-samar melihat seseorang berdiri dekat gudang.
Memakai hoodie hitam.
Diam memperhatikan keributan.
Lalu perlahan pergi sebelum siapa pun sadar.
Alana mengernyit bingung.
“Siapa itu?”
Jantungnya tiba-tiba berdebar aneh.
Sementara di luar sana, Raka sedang berlari menuju sumber api tanpa tahu kalau sore itu bukan cuma awal seleksi PMR, tapi juga awal dari sesuatu yang akan mengubah hidup mereka semua.