


oleh Ana J · 5 Bab
Leana terluka, terjebak dalam pernikahan yang hanya menyisakan pedih. Kembalinya sang kakak—perempuan yang dicintai Elvano, adalah titik puncak penderitaannya. Leana menggugat cerai Elvano, tapi dengan tegas pria itu menolaknya. Lantas, mengapa Elvano tetap mempertahankannya ketika perempuan yang pria itu cintai sudah kembali ke sisinya?
"Mas Elvano, tolong pelan-pelan jalannya, saya kesusahan membawa koper ini." Pria itu bungkam, membuat Leana mengatupkan bibir.
Setelah pulang dari Kantor Urusan Agama, Elvano memang langsung menuju ke kediaman utamanya, Leana yang tak tahu apa-apa hanya pasrah mengikuti sang suami.
Tidak ada yang namanya resepsi pernikahan atau pesta besar-besaran, karena mereka menikah di KUA. Itu pun hanya keluarga inti serta teman terdekat saja yang mengetahuinya.
"Kamar kamu ada di ujung, sedangkan kamar utama saya yang tempati. Jika butuh apa-apa bisa langsung hubungi, Mbok Sumi."
Leana mengangguk paham, sedangkan Elvano dengan cepat membuka pintu kamarnya. Meninggalkan Leana yang masih mematung di tempatnya. "Oke Lea, ini baru awal. Ingat, demi adik dan kedua orang tuamu.” Setelahnya Leana berjalan dengan santai menuju kamarnya. Perempuan itu menyeret kopernya dengan sedikit kesusahan, apalagi roda koper itu tinggal dua buah. Membuatnya mengeluarkan tenaga ekstra.
Setelah sampai di kamar yang akan ditempati, Leana berdecak kagum melihatnya. Ini terlalu mewah, apalagi ditambah dengan interior yang memanjakan mata. Leana akui dia bukanlah berasal dari keluarga yang status sosialnya tinggi, dan melihat secara langsung gaya hidup orang kaya membuatnya takjub akan kemewahan yang disuguhkan.
Rasanya, masih terasa mimpi bisa tinggal di rumah mewah seperti ini.
Perempuan itu bergegas membereskan pakaiannya dari dalam koper, lalu memindahkannya ke dalam walk in closet. Setelah selesai, Leana membuka pintu kamarnya, menuruni undakan tangga menuju meja makan. Karena ingin mengisi perutnya yang tak menyentuh nasi sedari pagi hingga larut malam seperti ini.
"Akh!" Leana memekik pelan ketika melihat Elvano yang duduk santai sembari menyantap hidangannnya dengan cahaya lampu remang-remang.
"Maaf, saya kira bukan Mas Elvano." Pria itu bungkam, membuat Leana tersenyum kikuk.
"Kenapa masih berdiri? Duduklah, dan makan dengan tenang."
Leana bergegas mengambil duduk di hadapan pria itu, dia menyendok nasi dengan hati-hati, lalu mengambil sepotong ayam dan sedikit sambal. Leana mulai menyantap hidangannya dengan tenang, sesekali atensinya mengarah pada sang suami.
Sangat tenang dan tak tersentuh. Membuat Leana begitu segan mengajak dokter tampan itu untuk sekedar berbasa-basi.
"Saya akan ke rumah sakit setelah ini."
Leana langsung mengangkat wajahnya, perempuan itu mengangguk kaku sambil berdeham singkat "Apa ada yang perlu saya siapkan untuk kebutuhan, Mas Elvano?"
Elvano mengambil serbet yang ada di pangkuannya, lalu mengelap bibirnya dengan gaya elegan. Leana sampai mematung melihatnya.
"Tidak perlu, saya sudah menyiapkan semua kebutuhan saya sendiri." Elvano berdiri dari duduknya, dia menatap Leana dalam, membuat perempuan itu menahan napas.” Kita jalani pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya, tetapi jangan mengusik privasi satu sama lain.”
Leana terdiam, tapi tak urung menganggukkan kepala. “Baik, dan soal perja—“
“Tetap berlaku,” potong Elvano cepat, “kita memang menjadi pasangan normal pada umumnya, tetapi ingat tidak boleh ada cinta. Jika saya tahu kamu menyimpan rasa, kita selesai.“
Leana menunduk, dia memang tak mengharapkan cinta dari pria dingin itu. Dia cukup sadar diri di mana posisinya sekarang ini, dia hanyalah pengganti sementara sebelum sang pemeran utama datang.
“Baik, Mas. Tetapi bagaimana jika Mas Elvano sendiri yang jatuh cinta kepada saya?”
Elvano tertawa remeh, pria itu melangkah ke arah Leana, lalu membungkukkan badan seraya berbisik lirih di telinga perempuan itu. “Bukankah mimpi kamu terlalu tinggi, Leana Pramita?”
Leana mematung mendengar pernyataan dari Elvano, apakah dirinya sebegitu tak layak untuk dicintai?
“Saya paham." Lirih perempuan itu menunduk, membuat Elvano mengeluarkan smirknya. Dia pun menegakkan kembali tubuhnya seraya melangkah ke arah pintu utama. Tanpa repot-repot berpamitan kepada sang istri.
Leana hanya terdiam, menatap punggung Elvano yang sudah menjauh. Katakanlah jika dia terlalu percaya diri mengatakan hal seperti itu kepada Elvano, tetapi tidak ada yang salah, bukan? Takdir tidak ada yang tahu, bisa jadi orang yang kamu anggap tak berarti saat ini, akan menjadi pusat duniamu suatu hari nanti.
Leana mengalihkan atensinya pada jam dinding yang terdapat di sudut ruangan, yang menunjukkan pukul satu dini hari. Leana tak tahu jam kerja seorang dokter, tetapi apakah semua dokter harus berangkat kerja dini hari seperti ini? Perempuan itu menghembuskan napas pelan, dia yakin hari-hari kedepannya akan lebih berat lagi.
"Bu Leana."
Leana terlonjak kaget saat mendengar suara dari belakang punggungnya. "Mohon maaf jika saya mengagetkan, Ibu," ucap wanita paruh baya itu dengan nada tak enak sembari membungkuk rendah.
"Tidak apa-apa, Mbok. Saya saja yang kurang fokus." Leana tersenyum lembut. "Mbok Sumi, 'kan, ya? Mas Elvano sempat memberitahu saya tadi, dan baru saja dia berangkat kerja."
"Benar Bu, Pak Elvano memang sering ada panggilan darurat dari rumah sakit. Beliau juga selalu melupakan jam makan, alhasil Pak Elvano makan tengah malam.” Mbok Sumi memejamkan mata ketika merasa terlalu banyak berbicara. Padahal Leana belum bertanya tentang hal itu.
Leana menyimak semua penjelasan dari wanita paruh baya di hadapannya ini, bukankah Elvano seorang dokter? Lantas, bagaimana bisa pria itu mempunyai jadwal makan yang berantakan?
"Duduk dulu Mbok, temani saya makan. Sayang sekali jika makanan ini tidak habis."
Wanita paruh baya itu tertegun ketika mendapatkan sifat ramah dari majikannya ini, berbeda jauh dengan kekasih Elvano yang dulu.
"Tidak apa-apa, Mbok. Duduk saja temani saya, ya?" Leana mengulangi kembali kalimatnya kala melihat keraguan di mata Mbok Sumi.
"Terima kasih, Bu," balas Mbok Sumi pada akhirnya.
Leana tersenyum lembut. "Mbok, sudah berapa lama kerja di sini?"
"Dari Pak Elvano umur lima tahun, kebetulan saya dulu merangkap bantu-bantu jagain juga."
Leana mengangguk mengerti. "Berarti Mbok sudah lama sekali." Mbok Sumi hanya tersenyum tipis sebagai respon. "Tapi sifat mas Elvano memang dingin, ya? Terkadang saya merasa segan sama dia." Leana meringis saat mengatakannya, dia tak tahu lagi ingin bertanya kepada siapa tentang Elvano, bahkan tidak ada yang Leana kenal di keluarga pria itu.
"Pak Elvano sangat baik, bahkan kebaikannya sering dimanfaatkan oleh orang-orang terdekatnya." Mbok Sumi menunduk setelah mengucapkan kalimat itu, terlihat jelas jika dia merasa bersalah. "Maaf, sepertinya saya terlalu banyak berbicara. Apakah ada yang Bu Leana butuhkan lagi?"
Leana gelagapan. "Ah, tidak, Mbok. Ini sudah selesai, kok. Tolong sisanya dihangatkan saja." Leana tersenyum canggung, karena sepertinya Mbok Sumi terlihat tidak nyaman berbicara dengannya. "Saya ke atas dulu kalau begitu, atau mau saya bantu bawa ke dapur, Mbok?" tanya Leana sebelum beranjak dari kursinya.
"Tidak usah Bu, biar saya saja." Mbok Sumi tersenyum sopan, yang dibalas senyuman manis oleh Leana.
"Baik, saya ke atas dulu, Mbok. Selamat malam."
Leana bergegas menuju kamarnya. Meninggalkan Mbok Sumi yang menatapnya sendu. “Semoga Bu Leana bisa menjadi penawar untuk Pak Elvano.”

Ana J
0 Pengikut · 2 Novel