Pagi yang cerah, tak menyangka jika hari ini adalah waktu di mana mereka siap untuk menghadapi babak baru dalam kehidupan.
Tabita duduk di depan cermin besar di ruang rias. Dia telah selesai dirias, rambut hitamnya ditata rapi dengan tampilan menawan. Wajahnya yang cantik diberikan sentuhan makeup natural, menambah kecantikan yang sudah ada. Tiara–sahabatnya yang tengah menemaninya di ruangan itu ikut terpesona.
"Sudah cantik! Pangling-lah aku, Ta!" kata Tiara. Dia adalah salah satu sahabat terbaik Tabita.
"Dulu pas kamu nikah aku juga pangling banget," jawab Tabita. Mereka tertawa bersama.
Tabita, perempuan yang sebentar lagi akan mengubah status gadisnya menjadi seorang istri itu mengenakan gaun pengantin putih yang elegan, dengan sentuhan bordir halus berwarna emas di sepanjang lengan dan pinggang. Tangannya gemetar, khawatir jika ada kesalahan yang dilakukan calon suaminya.
"Tenanglah. Hafis sudah menghafal nama dan apa yang harus diucapkan." Tiara memberikan dukungan.
Tak lama kemudian, Sheila, kakak iparnya datang menemani. Riuh suara di luar terdengar hingga ke dalam kamar tempat di mana Tabita menunggu. Dia juga mendengar alunan musik pengantar pengantin, sebagai tanda bahwa pengantin pria sudah sampai.
"Sudah datang ya, Kak?" tanyanya.
Tabita ingat, kakaknya berjanji menemani ketika pihak pria sudah tiba. "Iya. Sepertinya langsung ijab qobul."
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Ghaissani Tabita Anggiana binti Muhammad Iqbal Maulana dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas 50 gram dibayar tunai!’’ ucap pria yang tengah memegang tangan Iqbal, pria yang menjadi wali nikah mempelai perempuan. Ijab qabul itu telah terucap hanya dalam satu tarikan napas.
“Bagaimana saksi? SAH?” tanya penghulu kepada semua orang yang hadir di sana.
“SAH!” jawab mereka serempak.
“Alhamdulillah,” jawab penghulu lagi.
Sementara Tabita yang mendengar dari dalam ruangan bersama dengan sahabat dan kakak iparnya akhirnya bisa bernapas lega setelah menunggu beberapa menit dengan penuh ketegangan. Sedetik kemudian, lantunan doa dan harapan terucap dari bibir. Mengiringi pernikahan sakral nan khusyuk.
Kemudian, mempelai perempuan datang dengan ditemani oleh Sheila dan Tiara sebagai pengiring pengantin. Lalu, dia duduk di sisi Hafis dengan rasa bercampur aduk. Pelupuk matanya berusaha menahan cairan bening yang hendak jatuh.
Tabita menyalami punggung tangan Hafis yang telah resmi menjadi suaminya. Lalu, Hafis pun mengusap ubun-ubun kepalanya. Dengan jantung yang sama-sama berdebar lebih kencang, mereka saling tatap, tak lama kemudian Hafis pun mencium kening Tabita.
“Kamu cantik sekali,’’ bisik Hafis.
Sorak-sorai dan tepuk tangan memenuhi ruang yang juga menjadi saksi dari acara sakral itu. Diliputi rasa haru, keduanya menandatangani berkas yang diberikan oleh petugas. Lalu melanjutkan acara berfoto sambil memegang buku nikah.
Buku yang menjadi tanda bahwa mereka sudah siap untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Membina rumah tangga yang kehidupan yang lebih baik.
Mereka kini berada di kursi pelaminan. Duduk bersanding, menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang datang. Sesekali, mereka tertawa karena suatu hal.
“Sayang, kamu sudah makan?’’ tanya Hafis pada Tabita.
“Nanti saja, Mas! Masih agak kenyang, tadi ngemil terus,” jawabnya.
“Ya sudah, jangan dulu ngemil ya, biar bisa makan nasi!’’ pesan Hafis.
Ketika ibu mertuanya bertanya, Hafis pun memberitahukan jika mereka akan makan nanti. Mereka kembali menikmati suasana resepsi pernikahan. Wedding dream keduanya yang sebulan lalu mereka bicarakan terwujud sudah.
Cinta mereka tumbuh begitu cepat. Hanya dalam hitungan bulan, mereka siap berkomitmen untuk masa depan. Hafis sangat mencintai Tabita. Nama perempuan itu tak pernah luput dari ingatannya.
Acara pernikahan masih berlanjut, beberapa sahabat dan kerabat meminta foto bersama pengantin. Meski lelah, keduanya sangatlah antusias.
***
“Rasanya ibu masih tidak rela, Pak!”
“Bu, sudahlah. Tabita sudah besar. Pun sudah waktunya dia menikah. Kita harus merelakan dirinya.’’ Pak Iqbal menasehati istrinya.
Tabita perempuan cantik yang lahir dari keluarga mapan. Dia tak hanya cantik, tetapi juga pintar, salihah dan sopan. Tabita sangat mandiri meskipun kedua orang tuanya seringkali memanjakan dirinya.
Ia adalah anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, memiliki seorang kakak dan adik laki-laki. Gadis itu kini sudah beranjak dewasa. Di usianya yang baru menginjak dua puluh dua tahun, dia sudah menikah.
“Sudahlah, Bu! Tabita akan sering main ke rumah!” ucap Sheila yang merupakan menantu Bu Rose.
Meskipun seorang menantu, dia sangat dekat dengan semua keluarga suaminya. Sheila memeluk ibu mertuanya yang masih tak percaya anak perempuannya sudah menjadi milik orang lain.
Resepsi pernikahan itu berjalan lancar. Beberapa kali pengantin berganti pakaian, ini sudah yang ke empat kalinya. Dibantu oleh beberapa orang, kini mereka sudah kembali rapi.
“Makan dulu ya, Nak!’’ pinta Ibu Rose.
Dia telah membawa piring berisi nasi dan lauknya. Tabita tersenyum lebar dan menerimanya, dia mengerti akan perasaan sang ibunda.
“Mau makan bareng saja atau ibu ambilkan lagi untuk Hafis?’’ tanya perempuan paruh baya itu pada menantunya.
“Hafis ambil sendiri saja, Bu!”
“Tunggu di sini! Jangan ke depan dulu! Kalian harus makan, ibu ambilkan untukmu,’’ perintah Bu Rose.
Hafis hendak menjawab, akan tetapi ibu mertuanya sudah pergi lebih dulu. Mereka memilih duduk di kursi yang kosong. Hafis membiarkan istrinya makan lebih dulu.
***
Lima belas menit berlalu, mereka selesai makan. Hafis dan Tabita kembali ke kursi pelaminan. Begitu mereka datang, beberapa orang naik pelaminan untuk memberikan ucapan untuk sang pengantin.
“Cantik banget!” ucap Maya, dia adalah teman baik Tabita saat kuliah.
“Kamu juga cantik!’’ jawab Tabita.
“Cantikan pengantin atuh!”
Mereka tertawa bersama, Maya datang dengan kekasihnya juga. Mereka berfoto, berpose beberapa kali sampai dirasa cukup.
Hari kian sore, para tamu undangan kian ramai. Mereka memilih jam sore untuk datang ke resepsi pernikahan Tabita dan Hafis.
“Kamu capek, Sayang?’’ tanya Hafis.
“Lumayan, kaki aja yang pegal!”
“Nanti salaman-nya duduk aja ya,’’ ucap Hafis.
“Ya, nggak sopan dong, Mas!” jawab Tabita sedikit melotot usai mendengar ucapan suaminya.
“Daripada kamu capek!’’ bantah Hafis. Dia memijat kaki Tabita.
“Aku nggak apa-apa, kok!’’ jawabnya lagi sedikit tersenyum, meyakinkan Hafis bahwa dia tidak lelah.
Beberapa orang datang lagi, silih berganti. Kini, giliran rekan kerja dari Hafis. Mereka datang bersama-sama membuat acara resepsi itu kian meriah.
Mereka saling bertukar canda. Saling memberikan support dan lelucon lainnya. Tabita turut di dalamnya, meskipun mereka tidak begitu mengenal istri Hafis.
“Nanti kalau dia macam-macam, Mbak kabarin kita aja!’’ kata seorang perempuan.
“Iya, Mbak Bita, bener kata Sinta. Tapi, Hafis paling kalem di antara kita, kok!’’ ucap Rasya.
“Udah ah, nanti lagi jahilinnya! Laper!’’ ucap Dion yang paling jahil. Mereka pun setuju.
Dion menatap lama Tabita. Seperti telah mengenalnya, tapi di mana. Saat tanpa sengaja mata mereka bertemu, Tabita mengalihkan pandangan ke wajah suaminya. Bahkan, Tabita memegang lengan suaminya.
Usai mereka turun, Tabita duduk kembali. Alunan musik dangdut dari panggung terdengar semakin jelas. Sepertinya semakin banyak tamu undangan, semakin volume dari speaker dibesarkan.
“Nanti kita di sini aja dulu ya, kasihan istri mas capek!’’
“Tapi kan, Mas! Ibu kamu ….” Ucapan Tabita terhenti kala Hafis meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
“Ibu, biar jadi urusan mas ya!’’
Seperti tersihir, Tabita mengangguk pasrah. Dia serahkan keputusan kepada sang suami. Memang rencananya, sesuai resepsi malam ini, Tabita dan Hafis akan langsung menuju rumah kedua orang tua Hafis.