“Nara, bunganya sudah layu. Mau Ibu ganti dengan lili yang baru?”
Nara tersenyum tipis, jemarinya yang lentik masih meraba permukaan kelopak bunga yang mulai mengering di dalam vas di atas meja kerjanya.
“Tidak perlu, Bu. Aku masih bisa mencium sisa wanginya.”
Ibu mendesah pelan, suara gesekan sandalnya di lantai ubin toko bunga terdengar menjauh. Nara tahu, ibunya selalu merasa iba setiap kali melihat putrinya hanya duduk diam di sudut toko, dikelilingi ribuan warna yang tak lagi bisa ia tangkap.
Toko bunga “Kirana” adalah satu-satunya tempat di mana Nara merasa berguna. Meski ia tidak bisa merangkai buket dengan presisi warna yang sempurna seperti dulu, ia masih memiliki ingatan tajam tentang jenis-jenis bunga.
Nara berdiri, tangannya terulur ke depan, menyentuh tepian meja kayu yang kasar sebagai pemandu. Ia berjalan menuju rak buku kecil di pojok ruangan.
Di sana berjajar buku-buku tebal dengan tonjolan titik yang bagi orang awam hanya deretan sandi bisu, tapi bagi Nara, itu adalah jendela menuju dunia luar. Perpustakaan braille mini miliknya.
Jari telunjuknya mulai menari di atas lembaran kertas kaku itu. L-i-b-e-r-t-y. Kebebasan.
“Kebebasan,” gumamnya pelan.
“Lucu sekali membaca kata ini saat aku sendiri terpenjara dalam kegelapan.”
Ingatan itu tiba-tiba menyeruak tanpa permintaannya. Bau aspal basah setelah hujan lebat, sorot lampu putih yang menyilaukan mata untuk terakhir kalinya, dan suara decit rem yang memekakkan telinga.
Detik itu, dunia Nara seperti kaca yang dipukul martil berat, hancur berkeping-keping, lalu senyap. Ia masih ingat rasa sakit yang menghujam saraf matanya sebelum semuanya berubah menjadi hitam pekat selamanya.
Nara menggelengkan kepala, berusaha mengusir bayangan kelam itu. Ia lebih suka mencium bau mawar Avalanche yang baru saja diletakkan pegawainya di bak air. Wanginya manis, sedikit tajam, dan terasa dingin saat menyentuh hidungnya.
“Mbak Nara, ada pelanggan yang ingin mencari bunga untuk permintaan maaf.” Suara Sari, asisten tokonya, membuyarkan lamunan.
“Arahkan dia ke meja depan, Sari. Aku akan ke sana,” jawab Nara tenang. Ia mengambil tongkat lipatnya yang bersandar di kursi, membukanya dengan satu sentakan kecil yang lihai, lalu melangkah dengan penuh perhitungan.
Nara hafal setiap jengkal toko ini. Sepuluh langkah dari rak buku ke meja kasir, belok sedikit ke kiri untuk menghindari pot besar monstera, lalu tiga langkah lagi menuju meja kayu jati tempat ia biasa berkonsultasi dengan pembeli.
“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya butuh sesuatu yang tulus. Bukan sekadar mawar merah.” Suara pria itu terdengar berat, tapi ada getaran keraguan di sana.
Nara tersenyum.
“Untuk permintaan maaf atas kesalahan kecil, atau kesalahan yang mengubah hidup seseorang?”
Hening sejenak. Nara merasakan atmosfer di sekitarnya mendadak mendingin. Pria itu tidak segera menjawab. Hanya ada suara detak jam dinding yang seolah berpacu dengan keheningan di antara mereka.
“Kesalahan yang mungkin tidak akan pernah dimaafkan,” jawab pria itu akhirnya.
Nara meraba permukaan meja, mencari vas kecil berisi bunga Blue Bell.
“Bunga ini melambangkan penyesalan dan ketulusan yang abadi. Warnanya biru tenang, seperti langit setelah badai. Meski saya tidak bisa melihatnya, saya ingat betapa damainya warna itu.”
Pria itu terdiam lama. Nara merasa seolah pria ini sedang menatapnya dengan intensitas yang aneh.
“Kenapa kau tahu?”
“Tahu apa?”
“Tentang warna itu. Tentang kedamaian setelah badai.”
“Karena saya pernah kehilangan langit saya, Tuan, dan sekarang, saya harus belajar mencintai badai agar bisa tetap hidup.”
Nara bisa merasakan kehadiran pria itu bergerak mendekat. Bau parfumnya menyeruak, aroma kayu cendana bercampur jeruk purut yang segar tapi maskulin.
“Siapa namamu?” tanya pria itu tiba-tiba.
“Nara. Panggil saja saya Nara.”
Pria itu terdiam sejenak sebelum mengambil buket yang disiapkan Sari. Ia meletakkan selembar uang di meja, tapi tangannya sempat bersentuhan dengan jari Nara saat ia hendak mengambil kembalian.
Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang dingin. Nara tersentak pelan. Ada sesuatu yang sangat salah, tapi juga sangat menarik dari pria ini.
“Terima kasih, Nara. Mungkin aku akan kembali lagi,” ucap pria itu.
Langkah kakinya terdengar menjauh, sebelum ia benar-benar keluar dari pintu toko yang berdenting, pria itu berhenti. Suara langkahnya terhenti tepat di ambang pintu.
“Nara,” panggilnya lagi.
“Ya?”
“Jika suatu saat nanti kau bisa melihat lagi, apa hal pertama yang ingin kau saksikan?”
Nara tertegun. Pertanyaan itu terlalu personal bagi seorang asing. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma cendana yang tertinggal memenuhi paru-parunya.
“Aku ingin melihat wajah orang yang paling tulus meminta maaf padaku. Karena aku ingin tahu, apakah matanya sesedih suaranya.”
Pria itu tidak menjawab. Pintu toko tertutup dengan denting lonceng yang panjang.
Nara kembali ke kursi kerjanya, hatinya tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal. Ia meraba dadanya yang berdegup kencang. Ia merasa pria tadi bukanlah sekadar pelanggan biasa. Ada nada rasa bersalah yang begitu pekat, seolah pria itu membawa seluruh beban dunia di pundaknya.
Tiba-tiba, Sari berlari menghampiri dengan suara terengah-engah.
“Mbak Nara! Mbak, lihat ini!”
Nara mengernyit.
“Sari, kau lupa aku tidak bisa melihat apa pun.”
“Eh, maaf, Mbak! Maksudku pria tadi. Dia menjatuhkan sesuatu di dekat pintu.” Sari menyerahkan sebuah benda kecil ke tangan Nara.
Nara meraba benda itu. Sebuah gantungan kunci berbentuk perak dengan ukiran timbul yang sangat detail. Saat jarinya menelusuri ukiran tersebut, jantung Nara seakan berhenti berdetak. Itu bukan sekadar ukiran biasa.
Di sana terukir sebuah logo perusahaan otomotif, dan di bawahnya ada inisial nama yang dikerjakan dengan teknik engraving kasar.
Jemari Nara gemetar. Ia mengenali inisial itu. Inisial yang sama dengan yang tertera di laporan kepolisian yang dulu dibacakan pengacaranya keras-keras di rumah sakit. Inisial milik pengemudi misterius yang menghilang tanpa jejak setelah menghancurkan saraf matanya di malam berdarah itu.
“Sari, pria tadi, dia masih ada di luar?” Suara Nara tercekat.
“Sudah pergi, Mbak. Pakai mobil hitam besar. Kenapa, Mbak?”
Nara menggenggam gantungan kunci itu erat-erat hingga pinggirannya yang tajam menusuk telapak tangannya.
Rasa perih itu tidak sebanding dengan gemuruh di kepalanya. Jika benar pria itu adalah dia, maka kegelapan yang selama ini Nara jalani baru saja kedatangan tamu yang paling tidak ia harapkan.
Pintu toko kembali berdenting, kali ini bukan suara lonceng, melainkan suara langkah kaki seseorang yang masuk dengan tergesa-gesa, seolah ada sesuatu yang tertinggal, atau seseorang yang sedang diburu.