


oleh Lifha az zhafa · 25 Bab
Bertahan dengan ego membuatku semakin merana tetapi hidup bagaikan kiasan laut yang mengalir tanpa bisa dihentikan. Aku tidak tahu akhir kisah cerita kita tapi aku yakin, Tuhan akan memberikan takdir sendiri untuk melukis jalan hidup masing-masing.
Aku tersenyum menatap tespack garis dua setelah kehamilanku yang kemarin harus luruh. Penantianku akhirnya tercapai untuk memberikan putra sulungku seorang adik untuknya. Sudah hampir dua tahun dia menginginkan adik tetapi Tuhan baru mengabulkannya.
Aku menyimpan benda kecil itu dan memilih keluar dari kamar mandi. Kulihat lemari es untuk melihat bahan masakan yang ada, seperti rutinitasku menjadi seorang istri memberikan masakan terbaik untuk keluarga kecilku.
Hampir satu jam aku berkutat di dapur dan kini semua masakan sudah terhidang. Tampak Mas Rafik menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedari bangun dirinya hanya sibuk dengan ponselnya tanpa memperdulikan diriku yang sibuk di dapur. Hidupnya kini seolah bersama ponsel daripada anak dan istrinya.
"Ini kopinya, Mas!" Aku memberikan secangkir kopi ketika Mas Rafik duduk di meja.
Seperti biasa aku akan menyiapkan makanannya sampai makanan dirinya selesai.
"Mas, aku ingin memberitahu sesuatu," ucapku ragu.
Mas Rafik hanya melirik sekilas dan kembali menikmati sarapan paginya.
Aku menghela napas pelan melihat respon suamiku yang seakan acuh dengan kabar yang akan aku berikan. Aku sedikit ragu, aku takut jika apa yang ingin aku beritahu , ia akan menolak.
"Mas!" Aku memanggilnya dengan pelan setelah ia menyelesaikan makanannya.
"Apalagi sih? Aku harus berangkat," sungutnya dengan sinis.
Dengan ragu aku memberikan benda kecil itu, aku menatapnya berharap suamiku tersenyum kala diriku memberikan benda kecil itu sebagai kejutan pagi untuknya. Namun, dugaanku salah.
"Kamu hamil lagi?" serunya dengan nada tinggi membuat bulu kudukku merinding.
Aku mengangguk pelan sembari menahan air mataku. "Iya, Mas. Alhamdulillah, akhirnya Fairus akan mempunyai adik," jawabku dengan takut.
"Kamu sudah gila, Qom. Aku sudah berapa kali bilang kalau aku gak ingin kamu hamil lagi. Apa jangan-jangan itu bukan anakku, Qom!" sungutnya membuatku mendongak menatap matanya yang memancarkan kemarahan.
"Astagfurullah. Kok kamu ngomong seperti itu, Mas? Ini anak kamu. Kenapa kamu malah berpikiran seperti itu." Aku menatap Mas Rafik dengan tajam.
Aku tidak menyangka dia begitu tega menuduhku jika ini anak laki-laki lain sementara diriku tidak pernah ke mana-mana. Aku hanya keluar ketika mengantarkan Fairus, putra sulungku sekolah setelah itu aku akan pulang dan menghabiskan waktuku di rumah.
"Jangan bohong! Aku tahu kalau sering keluyuran, Qom. Kamu selalu keluar tanpa izin dariku selama ini." Mas Rafik membanting piring bekas makanannya dan berlalu begitu saja.
Aku terduduk menangis meratapi nasibku, anak yang ku kandung malah di ragukan oleh ayahnya sendiri.
'Kasihan sekali kamu, Nak. Belum lahir kamu malah ditolak sama ayah kamu sendiri,' batinku miris.
"Ma," panggil putra sulungku yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Aku menoleh dan menghampiri Fairus dengan senyuman lembut. Putraku yang menjadi satu-satunya kekuatanku selama ini.
"Kenapa, Nak?" tanyaku mengelus rambutnya.
Kuangkat tubuhnya untuk duduk di kursi makan, tubuhnya yang kecil membuatku miris.
"Fairus mau makan?" tawarku.
Fairus hanya mengangguk. Dengan cepat aku mempersiapkan sarapan untuk putra semata wayangku.
"Makan yang banyak, setelah ini mandi dan sekolah," pesanku. Fairus hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Makannya begitu lahap membuat hatiku sedikit bahagia melihat putra yang selama ini aku rawat bisa tumbuh sebesar ini.
Setelah menyelesaikan makanan, aku memandikan dirinya dan setelah itu mengantarkannya ke sekolah.
Fairus sekolah di taman kanak-kanak Al-Khikmah. Sekolah TK terpadu, aku ingin memberikan yang terbaik untuk dirinya karena hanya dialah satu-satunya harapanku saat ini.
***
Kehamilan kedua ini kulalui dengan berbagai drama dari suamiku yang memilih acuh. Dirinya lebih fokus dengan kesibukannya daripada keluarga kecilnya.
"Mas," panggilku sedikit ragu.
Mas Rafik yang sedang tiduran di kamarnya hanya melirik sejenak dan kembali sibuk ke ponselnya.
Aku mendekati dirinya dan menatapnya dengan dalam.
"Mas, apa kamu tidak menginginkannya?" tanyaku lirih.
"Ingin apa lagi sih?" sungutnya membuatku menunduk.
"Setelah aku hamil kamu tidak ingin menyentuhku bahkan kamu memilih tidur di sini daripada tidur bersama aku dan anak kita," jawabku dengan sendu.
"Males. Aku ogah nyentuh kamu sebelum anak yang kamu itu jelas anakku atau bukan. Kamu tunggu saja, setelah kamu melahirkan aku akan tes DNA anak itu," cetusnya membuat hatiku hancur berkeping.
Sebegitu ragunyakah dirinya sehingga dengan tega menginginkan tes dna untuk anak yang aku kandung?
Di mana hatinya?
Kenapa dia tega berkata seperti itu?
Seharusnya di saatku hamil seperti itu, dia mencurahkan perhatiannya kepadaku tapi selama ini, dirinya hanya bisa acuh dan menyalahkanku sedemikian rupa.
"Keluar dari kamarku sana. Aku malas lihat wajah kusam kamu!" usirnya dengan kejam.
Bukan karena aku tidak ingin berdanda, tetapi kebutuhan keluarga ini semakin banyak sementara gajinya tidak seberapa. Aku hanya mendapatkan uang nafkas sebesar satu juta selama sebulan, itu pun jika uang rokok dan bensin tetap aku yang mengeluarkannya. Aku harus pandai-pandai mengatur uang belanja selama ini karena kalau tidak, dia akan marah dan tidak akan memperdulikan diriku yang pontang-panting mencari uang lebih.
"Ma, ayo bobok, aku sudah mengantuk," ajak Fairus ketika aku memasuki kamar ku yang selama ini ku tempati bersamanya.
"Iya, Nak. Ayo bobok, mama juga mengantuk," sahutku dan tidur di sampingnya. Seperti biasanya, aku akan tidur bersama Fairus, putraku sementara suamiku memilih tidur di samping kamar di mana kamar itu memang kosong.

Lifha az zhafa
139 Pengikut · 13 Novel