Pesta pernikahan baru usai. Masih tergambar jelas manisnya momen Jovan dan Lucia disatukan dalam ikatan suci sepanjang hidup. Kini keduanya tepat berada di depan kamar VIP untuk beristirahat malam itu. Lucia ragu-ragu melangkah. Jantungnya bergedup kencang. Jovan memandang Lucia yang berdiri tidak jauh dari pintu.
"Cia?" Jovan melangkah, mendekati Lucia. Dia meraih tangan Lucia. “Ready?”
Lucia menarik napas dalam. Ya, dia harus siap! Jovan telah menjadi suaminya. Apa yang Lucia takutkan? Lucia tersenyum kecil. Dengan wajah memerah Lucia mengangguk. Dengan sebelah tangan menggandeng Lucia, Jovan membuka pintu kamar. Keduanya melangkah masuk. Mata Lucia terpana melihat apa yang ada di depannya.
Lucia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kamar pengantin untuk mereka, bak kamar di sebuah istana.
"Kak, kamar ini buat kita? Bagus sekali,” ujar Lucia.
"Bukan. Kamar ini buat sekuriti." Jovan menjawab sekenanya.
"Kak Jay." Lucia mengangkat wajahnya menatap Jovan. Di situasi elegan dan romantis, Jovan masih bisa bercanda. Kalau begini, Jovan jadi mirip Bagas, ayahnya.
Jovan tersenyum lebar. Dia menarik Lucia dalam pelukannya. "Ini kamar pengantin. Kita ga salah kamar. Kita pengantinnya, kan?"
Lucia merasa dadanya kembali berdegup kencang. Jovan, yang ada di depannya, adalah suaminya. Rasanya masih belum bisa percaya. Jovan, pria muda yang tampan dan gagah, anak pengusaha sukses yang dulu dia kenal sebagai kakak temannya yang juga Lucia anggap sebagai kakak, sama seperti kepada Fajar, kini adalah pendamping hidupnya.
Jovan makin mendekatkan wajah. Jantungnya bergemuruh. Pelan dia kecup bibir mungil Lucia. Lucia merasa sengatan listrik menderanya. Dia tidak siap. Dia mendorong Jovan agar sedikit menjauh.
"Kenapa?" Jovan menatap Lucia.
"Aku …." Lucia bingung mau bilang apa.
"Malu? Takut?" tanya Jovan.
Lucia menatap Jovan. "Masih aneh. Kak Jay, kenapa bisa jadi suamiku?"
Jovan tersenyum. "Aku menculikmu, lalu mengikat kamu, aku cambuk berulang kali, sampai kamu mau menuruti mauku. Aku memaksa kamu menikahi aku, CEO keren yang tampan tiada duanya." Jovan berkhayal lagi, menjawab semaunya lagi.
"Kakak. Usil terus. Itu cerita di novel yang kayak gitu." Lucia cemberut.
Senyum Jovan kembali lebar. "Aku sudah ga sabar, Cia. Aku sayang kamu. Udah nahan terus ini."
Lucia menggigit bibirnya dan mengumpulkan kesadaran, dia dan Jovan adalah suami istri, tidak apa-apa saling mencium dan melepas hasrat.
Jovan tersenyum. Kembali Jovan mencium Lucia. Kali ini Lucia tidak menolak. Dia memberanikan diri membalas kecupan mesra Jovan. Rasa panas menjalar di tubuh mereka. Ada rasa takut, tapi ingin tahu lebih jauh. Tangan Jovan menarik resleting gaun Lucia yang ada di punggung.
Lucia mundur tiga langkah. "Kak."
Jovan menghentikan tangannya. Dia memandang Lucia. Ada apa lagi?
"Aku lagi itu." Lucia merasa wajahnya merah. Dia sedikit malu.
"Itu apa?" tanya Jovan.
"Datang bulan," kata Lucia pelan.
Jovan menggembungkan pipinya. "Hah? Ya, sedih amat malam pengantinku."
Lucia tersenyum, dengan wajah masih merah merona. "Aku mau mandi."
"Oke. Aku mau meratapi nasib," ujar Jovan. Dia mundur dan duduk di tepi tempat tidur.
Lucia tersenyum simpul, masih ada dedar kuat di dadanya. Lega, tidak harus terjadi malam itu.
*****
Tinggalkan kedua mempelai di kamar hotel. Di gedung tempat acara pernikahan berlangsung, keluarga mulai meninggalkan tempat. Fajar, kakak angkat Jovan, mengantar orang tua dan adik Jovan pulang. Mereka terlihat gembira, semua lega karena acara pernikahan Jovan dan Lucia berjalan lancar. Sampai di rumah, Esti, mama Jovan mengajak Bagas, suaminya menuju ke kamar untuk istirahat.
"Mama, selamat istirahat." Vivian, adik Jovan memeluk mamanya sebelum naik ke kamar.
"Iya, Sayang." Esti membalas pelukan Vivian.
"Pa?" Vivian pindah mendekati papanya. Dia memeluk Bagas. "Papa cepat istirahat. Pasti sudah capek."
"Hmm." Bagas menjawab dengan gumaman.
Vivian merasa tangan papanya sedikit gemetar. Dia pegang telapak tangan Bagas seketika. Dingin dan basah.
"Papa?!" Vivian memandang wajah papanya. Pucat. "Papa?!" Dia dekap lagi papanya yang makin gemetar.
Esti kaget dengan teriakan Vivian. Dia menoleh cepat, melihat Bagas limbung. "Mas!!"
Secepatnya Esti ikut memegangi suaminya agar jangan terjatuh!
"Pak Amir!!" Sekeras-kerasnya Esti berteriak memanggil pembantu rumah. "Pak Amir!! Tolong!!"
Dengan tergopoh-gopoh, Pak Amir datang. "Ya ampun, Pak! Kenapa ini?"
Pak Amir cepat membantu membopong Bagas yang sudah lemas, mulai sesak. Mereka membaringkan Bagas di sofa ruang tengah.
"Aku telepon Fajar. Dia pasti belum jauh." Segera Esti menghubungi Fajar. Mendengar kabar dari Esti, Fajar langsung berbalik ke rumah besar keluarga Bagas dan segera membawa Bagas ke rumah sakit.
Begitu cepat semua terjadi. Senyum gembira mereka berubah menjadi kecemasan yang datang tiba-tiba. Esti gemetar. Dia merasa ketakutan yang sangat. Air matanya terus mengalir, meskipun dia tidak bermaksud menangis. Vivian juga merasa seperti melayang. Bagas makin pucat, kesakitan, dan sulit bernapas. Dia merintih mengeluh dadanya panas.
Fajar juga sangat panik. Tapi dia berusaha tetap tenang. Dia fokus pada jalanan agar cepat sampai di rumah sakit. Karena sudah agak malam, jalanan tidak terlalu ramai. Lancar, tidak sampai dua puluh menit mereka tiba di rumah sakit. Bagas segera mendapat pertolongan dari petugas medis. Fajar, Esti, dan Vivian menunggu dengan cemas dan gelisah.
Fajar merasa getaran dari saku jasnya. Pasti Senja, istrinya, menghubungi karena dia tidak segera pulang.
"Kamu masih di rumah Papa?" Benar, Senja yang menelepon.
"Senja, papa drop. Aku di rumah sakit. Sama Mama dan Vivian," jawab Fajar.
"Ya, Tuhan." Senja kaget mendengar kabar itu. "Sekarang bagaimana?"
"Masih ditangani, di dalam ruangan. Kami juga menunggu. Belum tahu gimana." Ada nada cemas di suara Fajar.
"Ya Tuhan." Senja tidak menyangka akan kejadian seperti ini.
Dia ingat hari pernikahannya sendiri. Mentari, kakak Fajar, dilarikan ke rumah sakit karena sakit melahirkan. Kini, di hari pernikahan Jovan, Bagas yang harus masuk rumah sakit.
"Jar, Mama Esti gimana?" tanya Senja.
"Sangat kuatir. Belum lama papa pulih. Sekarang harus masuk lagi. Mama ga berhenti berdoa, sambil nangis." Fajar melihat ke arah Esti yang duduk bersebelahan dengan Vivian. Vivian juga sangat gelisah.
"Jovan sudah tahu?" tanya Senja lagi.
"Aku belum bilang. Ini malam pertama dia dan Lucia. Aku tidak mau mengganggu mereka. Aku akan tunggu setidaknya sampai dokter selesai melakukan pemeriksaan dan tahu kabar Papa seperti apa," jelas Fajar.
"Oke. Temani Mama dan Vivian, Jar. Mereka butuh kamu sekarang," kata Senja.
"Iya. Mungkin aku ga pulang, Nja," sahut Fajar.
"Ga apa-apa. Aku akan berdoa buat Papa Bagas." Senja mengakhiri panggilan telponnya.
Fajar mendekati Esti dan Vivian. Dia berdiri di sebelah Esti.
"Jar, aku sangat takut." Esti mengangkat wajahnya, mendongak dan melihat pada Fajar.
Fajar berjongkok di sebelah kursi Esti duduk. Esti sekarang melihat Fajar agak ke bawah.
"Aku serius. Aku merasa papamu akan segera pergi." Esti berbisik, tidak mau Vivian mendengar yang dia katakan.
"Ma, jangan bilang begitu." Fajar mengerutkan kening. Esti mengusap matanya.
"Entahlah, tapi itu yang kurasa. Aku harus siap, Jar." Esti menghela napas.