Langit sore itu kelabu, menggantung berat di atas kota kecil yang terasa terlalu padat untuk Naira. Orang-orang lalu lalang, motor dan mobil berlomba membunyikan klakson, dan toko-toko mulai menyalakan lampu neon meski matahari belum benar-benar tenggelam, tapi semua itu cuma latar buram di benaknya, pikiran Naira sedang jauh. Terlalu jauh, sampai ia sendiri tak tahu arahnya ke mana.
Ia duduk di bangku halte, ransel bersandar di bahu, buku catatan terbuka di pangkuannya. Tangannya memegang pulpen, tapi halaman masih kosong. Bukan karena tak ada yang ingin ditulis, justru karena terlalu banyak yang memenuhi kepala.
“Menulis tuh kadang bukan soal punya kata-kata,” gumamnya, pelan, nyaris seperti curhat ke udara.
Lalu hujan datang mendadak, seperti seseorang yang tidak sabar ingin bicara. Rintik-rintiknya jatuh dari atap halte, membuat irama kecil di trotoar. Orang-orang buru-buru mengangkat payung, berteduh, lari.
Naira tetap di situ. Hujan, buatnya, bukan gangguan. Ia seperti teman lama yang sering datang tanpa permisi, membawa kenangan atau ketenangan. Tergantung harinya.
Dia selalu menyebut hujan sebagai pengingat bahwa dunia masih hidup.
“Maaf, boleh duduk di sini?”
Suara itu datang dari samping. Lembut, tapi cukup jelas untuk menembus suara hujan. Naira menoleh.
Seorang pria berdiri di sana, wajahnya basah terkena gerimis, jaket abu-abu yang ia pakai tampak mulai lembab, dan di tangan kirinya ada buku yang dibalut kain lusuh.
“Silakan,” kata Naira, sambil geser sedikit.
Pria itu duduk. Tidak banyak bicara. Bukunya diletakkan di pangkuan, pandangannya lurus ke hujan. Naira melirik. Sekilas. Lalu lama. Wajahnya tidak asing, tapi bukan karena pernah bertemu. Lebih ke ada aura tenang yang terasa akrab. Bukan tenang karena diam, tapi tenang yang membuat hati sejuk.
“Nama kamu siapa?” tanya Naira akhirnya. Sunyi yang terlalu lama membuat gelisah.
Pria itu menoleh. Mata mereka bertemu.
“Shankara,” jawabnya, pendek.
“Naira,” katanya, sambil mengangguk kecil. Ia kembali memandang hujan. “Kita kayak dua orang yang lagi lari dari sesuatu, ya?”
Shankara tersenyum tipis. “Atau dua orang yang lagi nyari sesuatu.”
Entah kenapa, kalimat itu terasa menggerakkan sesuatu di dalam diri Naira.
Ternyata, pertemuan itu bukan akhir, tapi awal dari serangkaian kebetulan yang terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
Beberapa hari setelahnya, Naira kembali bertemu Shankara. Di toko buku kecil dekat kampus. Ia sedang mencari novel klasik India untuk tugas kuliah sastra Asia. Saat tangannya ingin meraih buku berjudul Gitanjali, tangan lain juga menyentuh punggung buku yang sama.
Mereka saling menatap, dan tertawa kecil.
“Kamu yang di halte waktu itu,” kata Naira, setengah tidak percaya.
“Kamu Naira, kan?” balas Shankara, kali ini lebih hangat.
Sejak itu, mereka mulai sering bicara. Tentang banyak hal. Buku, musik, sejarah, mimpi masa kecil.
Shankara, meski terlihat serius dan kalem, ternyata punya selera humor yang halus. Sementara Naira yang biasa ceplas-ceplos dan penuh energi, entah kenapa selalu ingin mendengar lebih banyak dari pria itu.
Shankara cerita soal keluarganya di kota kecil. Ayahnya yang keras, ibunya yang pendiam. Tentang bagaimana ia tumbuh dalam aturan yang bilang pria harus kuat, tidak boleh menangis, dan cinta itu, ya, harus tunduk pada adat.
Naira tertawa. “Kalau gitu, aku bencana buat keluargamu.”
“Bisa jadi,” kata Shankara, senyum setengah. “Mungkin bencana yang aku butuhkan.”
Hati Naira berdebar, tapi ia diam.
Hari-hari mereka mengalir seperti halaman buku yang susah berhenti dibaca. Mereka jalan bareng setelah kelas, duduk di taman kota, membicarakan masa depan. Kadang diam bareng, dan diamnya terasa nyaman.
Dari awal, Naira tahu: dunia mereka beda.
Naira tumbuh dalam kebebasan. Ibu tunggal yang percaya cinta tidak harus tunduk pada adat. Sementara Shankara hidup dalam bingkai yang penuh batas.
“Aku nggak bisa bohong ke orang tuaku,” kata Shankara suatu malam, waktu mereka duduk di bangku taman. Lampu jalan redup, suasana remang.
“Aku nggak bisa hidup di bayang-bayang orang lain,” balas Naira, pelan.
Hening.
Mereka saling menatap. Tidak marah, cuma sadar. Cinta saja tidak cukup. Dunia luar bisa jadi musuh, kalau mereka tidak cukup kuat.
“Aku takut, Shankara,” bisik Naira.
“Aku juga,” katanya, “tapi aku pengen coba.”
Malam itu, mereka saling menggenggam tangan. Pelan, tapi erat. Seperti dua orang yang sama-sama tahu: harapan mereka rapuh, tapi nyata.
Naira pulang malam itu dengan langkah ringan. Hujan masih turun, tapi di dadanya, sesuatu tumbuh. Belum cinta, tapi lebih dari sekadar penasaran.
Di kamar, ia membuka catatan yang semalam kosong. Tangannya memegang pulpen. Kali ini, tanpa ragu.
"Kadang, seseorang datang dalam hidupmu seperti hujan pertama. Nggak minta kamu siap, cuma minta kamu merasa."
Ia terus menulis. Kata-kata mengalir. Di ujung halaman, tanpa sadar, ia menulis satu nama:
Shankara.
Entah kenapa, namanya terasa seperti puisi yang belum selesai ditulis oleh semesta.
Ponselnya bergetar pelan. Satu pesan masuk.
Shankara: “Kamu suka suara hujan?”
Naira tersenyum kecil. Jari-jarinya membalas cepat.
Naira: “Suka banget. Apalagi kalau lagi sendirian. Rasanya kayak dunia nyempetin waktu buat diam.”
Beberapa detik, lalu balasan masuk.
Shankara: “Diam itu kadang lebih jujur dari kata-kata.”
Naira: “Kadang ya, tapi kadang juga bikin kita overthinking.”
Shankara: “Mungkin karena kita jarang belajar dengar diamnya orang lain.”
Naira: “Kayak kamu sekarang?”
Shankara: “Aku?”
Naira: “Iya. Diam kamu barusan, bikin aku mikir kamu lagi mikirin aku.”
Balasan tidak langsung datang. Naira menatap layar, senyumnya belum pergi.
Beberapa menit, lalu.
Shankara: “Maaf, tadi sempat mikir, kalau kamu hujan, aku pengen jadi tanah yang pertama kena basahnya.”
Naira menggigit bibir, menahan senyum yang makin melebar. Dada kirinya terasa hangat.
Naira: “Gombal ya, kamu.”
Shankara: “Bukan gombal. Cuma lagi belajar jujur tanpa harus bikin kamu takut.”
Naira: “Kalau aku takut, kamu bakal tetap duduk di sebelahku?”
Shankara: “Aku akan duduk. Nunggu, kalau kamu pengen diam, aku dengerin diamnya.”
Naira menatap hujan di luar jendela. Tangannya memeluk lutut. Di kepalanya, suara Shankara seolah ikut duduk di kamar yang basah oleh rintik dan rindu yang belum punya nama.
Naira: “Kayaknya aku mulai suka hujan karena kamu.”