“Hei, Marcus! Berapa kali harus kukatakan? Aku masih Alphamu!” Teriakan Zach menggema di area terbuka itu, tinjunya terkepal rapat dengan urat-urat yang menonjol di lengannya.
Marcus tetap berdiri teguh, mata adik laki-lakinya itu berkilat penuh pembangkangan. "Seorang Alpha yang bahkan tidak bisa berubah menjadi wujud serigala? Katakan padaku, Zach. Berapa lama lagi menurutmu kawanan ini akan terus mengikutimu?" Nadanya tajam, memotong udara malam yang dingin seperti sabetan bilah pisau.
Anggota kawanan telah berkumpul di sekeliling mereka, diam dan memperhatikan dengan saksama. Tatapan mereka terasa berat, dipenuhi keraguan dan rasa gelisah. Zach bisa merasakannya, menekan dirinya dan membuatnya sesak. Dia membencinya. Benci cara kerabatnya sendiri memandangnya sekarang dengan rasa kasihan dan skeptisisme.
"Aku tidak perlu berubah wujud hanya untuk memimpin kawanan ini," geram Zach penuh kekuasaan. "Aku telah menjaga kita tetap aman, bukan? Aku telah bertarung demi kalian masing-masing, bahkan dengan kutukan ini yang membayangi kepalaku!"
"Tetap saja, kutukan itu masih mengikatmu," balas Marcus tidak keras, tapi memiliki bobot tersendiri, terbalut kekecewaan menyerupai rasa kasihan. "Bagaimana kami bisa mempercayai seseorang untuk memimpin kami ketika dia bahkan tidak bisa membebaskan dirinya sendiri? Ketika dia tidak bisa—"
“Cukup!” Raungan Zach membungkam bisik-bisik di antara kerumunan. Tatapan tajamnya menghunjam Marcus, menantangnya untuk mengucapkan satu kata lagi.
Untuk sejenak, hening tercipta. Tidak ada apa-apa selain suara angin yang berembus di antara pepohonan, membawa aroma tipis hutan dan kegelisahan halus yang merambat di seluruh kawanan.
Akhirnya, Marcus memalingkan wajah, rahangnya mengatup rapat. "Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kawanan ini," gumamnya, nyaris terlalu pelan untuk bisa didengar siapa pun.
Zach mengembuskan napas perlahan, mencoba mengendalikan kemarahannya. "Begitu juga aku, tapi aku masih seorang Alpha. Jangan lupakan itu."
Kerumunan mulai membubarkan diri, meski ketegangan masih tertinggal seperti awan badai. Zach memperhatikan mereka pergi, bahunya terasa berat oleh beban keraguan mereka.
"Kau menanganinya dengan baik." Tiba-tiba terdengar suara berat dan serak dari belakangnya.
Zach berbalik dan melihat Tetua Alaric melangkah keluar dari kegelapan, kehadirannya tetap berwibawa seperti biasa. Serigala tua itu membawakan dirinya dengan wibawa yang tenang, rambut peraknya berkilau di bawah cahaya bulan.
"Benar, baik sekali," gumam Zach pahit. "Aku yakin mereka semua sekarang sangat percaya padaku."
Alaric terkekeh pelan, meskipun matanya tetap terlihat serius. "Kepemimpinan bukanlah tentang membuat semua orang senang, Zach. Ini tentang mengambil keputusan yang tidak bisa diambil oleh orang lain."
Zach menyisir rambut gelapnya dengan jemari, frustrasi terukir jelas di setiap garis wajahnya. "Sulit untuk memimpin ketika mereka bahkan tidak percaya padaku. Menyebalkan, terkadang aku juga tidak percaya lagi pada diriku sendiri."
Tatapan sang tetua melembut. "Kau lebih kuat dari yang kau kira, tapi kutukan ini—" Dia berhenti sejenak, suaranya memelan. "Ini lebih dari sekadar belenggu. Ini adalah sebuah ujian. Sudah waktunya kau mulai waspada."
Zach mengerutkan kening, matanya menyempit. "Ujian? Apa maksudmu?"
Alaric diam saja. Sebaliknya, dia melangkah lebih dekat. "Kutukan itu tidak hanya ditimpakan padamu, Zach. Kutukan itu ditimpakan pada seluruh kawanan. Keberhasilanmu mematahkannya bukan hanya tentang dirimu, tapi kita semua. Jika kau tidak segera menemukan cara untuk melakukannya, maka itu menjadi bahaya."
Kalimatnya menggantung di udara.
Rahang Zach mengetat. "Apa yang tidak kau ceritakan padaku, Alaric?"
Sang tetua ragu-ragu, ekspresinya sulit diartikan. "Ada hal-hal yang belum siap kau dengar, tapi kau akan siap, sebentar lagi. Untuk saat ini, fokuslah pada apa yang bisa kau kendalikan."
***
Kedai minuman itu beraroma asap dan tumpahan bir, pencahayaan yang temaram membiaskan bayang-bayang panjang di seberang ruangan. Lyorine Josephine duduk di sudut paling jauh, tudungnya ditarik rendah menutupi wajahnya. Dia sedang menikmati segelas minuman pahit dengan matanya memindai ruangan dengan tenang.
Dia tidak tergolong di sini. Hal itu sangat jelas. Udara di sekitarnya seolah bergetar oleh energi, sebuah benteng tak kasat mata yang menjaga orang lain agar tetap menjauh. Namun, dia memang tidak sedang berusaha untuk berbaur. Dia ada di sini karena suatu alasan.
Pintu kedai tiba-tiba terbuka lebar dan seketika itu juga, dia merasakannya, seperti sebuah kehadiran yang kuat dan dominan. Pandangannya langsung tertuju pada sang pendatang baru.
Zach Killian. Pria itu lebih tinggi dari yang dia bayangkan, bahunya yang tegap memenuhi bingkai pintu. Mata gelapnya menyapu seluruh ruangan, lalu tertuju padanya hampir seketika. Beberapa saat sejenak, tatapan mereka terkunci.
Kemudian pria itu bergerak, melangkah menuju ke arahnya dengan rasa percaya diri khas seseorang yang tidak terbiasa ditolak.
"Boleh aku bergabung?" tanyanya, meskipun nadanya memperjelas bahwa itu bukanlah pertanyaan.
Lyorine bersandar di kursinya, ekspresinya datar. "Tergantung. Kau di sini untuk bicara atau untuk mengancamku seperti serigala terakhir yang datang mengendus-endus ke sini?"
Bibir Zach terangkat membentuk senyum tipis. "Kurasa itu tergantung seberapa kooperatif dirimu nanti."
Lyorine mengangkat sebelah alisnya. "Berani sekali kau menganggap aku berutang sesuatu padamu."
"Berani sekali kau menganggap aku datang ke sini untuk meminta bantuan baik-baik," balas Zach tidak mau kalah.
Beberapa saat, tak seorang pun dari mereka bersuara, ketegangan meletup-letup di antara mereka seperti kabel berarus listrik. Akhirnya, Lyorine menghela napas, memberi isyarat ke kursi di seberangnya. "Baiklah. Duduklah, tapi cepatlah. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi seperti ini."
Saat Zach duduk, udara di antara mereka berubah. Lyorine bisa merasakan bobot kehadirannya, kekuatan yang nyaris tak tertampung bergolak di bawah permukaannya. Namun, ada hal lain juga. Sesuatu yang lebih dalam sekaligus bisa dengan mudah hancur.
"Aku butuh bantuanmu," ujar Zach langsung ke pokok permasalahan.
Lyorine terkekeh sinis. "Tentu saja. Itu satu-satunya alasan orang-orang datang mencari penyihir, bukan?"
"Ini bukan hanya tentangku," balas Zach mendesak. "Ini tentang kawananku dan rakyatku. Mereka dalam bahaya karena kutukan ini, dan hanya kau satu-satunya yang bisa membantuku mematahkannya."
Perempuan itu memiringkan kepala dan mengamatinya. "Kenapa aku harus melakukannya? Apa untungnya bagiku?"
Zach sedikit ragu-ragu. Membuat Lyorine melihat kilatan kerentanan di matanya. "Karena kurasa kau adalah bagian dari ini dengan cara tertentu. Kutukan itu terikat dengan kaummu dan masa lalumu."
Tubuh Lyorine menegak, jemarinya mengetat di sekeliling gelasnya. "Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan."
"Benarkah?" Zach membungkuk ke depan, sedikit berbisik. "Kau bahkan tidak ingat siapa dirimu yang sebenarnya, kan? Kurasa kau ingin mengingatnya. Jadi dengan membantuku mungkin menjadi kunci untuk membuka ingatan-ingatan itu."
Napas Lyorine tertahan di tenggorokan, tapi dia dengan cepat menutupinya dengan cemoohan. "Cerita yang sangat kebetulan, tapi aku tidak percaya."
"Ini bukan sekadar cerita," jawab Zach tegas. "Ini adalah kebenaran. Terlepas dari kau percaya padaku atau tidak, waktu kita semakin menipis. Kutukan ini semakin kuat. Jika kita tidak segera mematahkannya—"
Zach tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi perkataannya menggantung berat di udara.
Untuk waktu yang lama, Lyorine tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap pria itu dengan pikirannya berpacu. Akhirnya, dia menghela napas panjang. "Baiklah. Aku akan membantumu, tapi jika kau berbohong, aku bersumpah demi Dewa apa pun yang mendengarkan, kau akan menyesalinya."
Zach mengangguk, rasa lega berkilat di wajahnya. "Itu terdengar adil."