


oleh Jen04 · 98 Bab
Di balik bayangan salju yang membeku, Julian Blackwood, vampir kuno yang memikat, hidup dalam keabadian yang sunyi. Hingga ia bertemu Seraphina Delacroix, seorang wanita manusia yang tanpa sadar menyimpan rahasia kuno dalam darahnya. Tergoda oleh pesona gelap Julian, Seraphina ditarik ke dunia vampir yang berbahaya, di mana setiap sentuhan menjadi kutukan abadi, dan setiap "ciuman" membawa bahaya yang mematikan. Ketika darahnya terungkap, mengancam keseimbangan dunia mereka, Julian dan Seraphina harus memilih: menyerah pada takdir terlarang, atau berjuang melawan kegelapan yang menelan mereka. Mampukah cinta mereka bertahan di antara taring dan pengkhianatan, ataukah "Ciuman Darah Beku" ini hanya berakhir dalam kehancuran?
Hujan mengguyur kota tanpa jeda sejak senja. Langit kelabu seakan tak ingin berhenti menangis, dan di antara gedung-gedung menjulang, bayangan tinggi itu berjalan perlahan, nyaris tanpa suara. Langkah-langkahnya tak memercikkan genangan, tak meninggalkan jejak, seolah tak sepenuhnya nyata.
Julian Blackwood berdiri di seberang kafe kecil yang hangat bercahaya, pandangannya terpaku pada siluet di balik jendela berembun. Seorang wanita duduk sendiri, tangan membelai cangkir, tatapannya mengambang jauh. Wajahnya tak asing, tapi bukan karena pernah bertemu. Ada sesuatu dalam dirinya bukan sekadar keindahan yang menyentuh bagian terdalam dari kenangan Julian. Sebuah bagian yang telah terkubur berabad-abad.
"Dia bukan siapa-siapa," gumamnya lirih, tapi dadanya terasa berat. Tak seperti biasanya.
Seraphina Delacroix merapatkan mantel wol abu-abunya. Aroma kopi dan kayu manis memenuhi udara, tapi pikirannya terlalu bising untuk menikmati kenyamanan itu.
"Aneh sekali," bisiknya pada dirinya sendiri, menatap uap dari cangkir. "Kenapa aku merasa dia mengamatiku?"
Ia mengangkat kepalanya secara refleks, dan tatapan mereka bertemu melalui kaca yang basah oleh hujan. Lelaki itu berdiri tegak seperti patung, tubuhnya terbungkus mantel panjang berwarna hitam pekat. Sorot matanya tajam, dan tak mengancam. Lebih seperti tertarik? Terluka?
Seraphina cepat-cepat memalingkan wajah, jantungnya berdebar tak tentu arah.
"Bukan hanya karena dia tampan, kan?" desisnya lirih, mencoba meredakan kegugupan yang aneh itu, tapi hatinya tidak bisa dibohongi.
Julian tak berniat mendekat. Ia tahu lebih baik menjauh, tapi ada getaran dalam darahnya yang memanggil, menggoda, menariknya lebih dekat dari yang seharusnya.
"Ini mustahil," gumamnya sambil menurunkan tudung mantel.
Dari kejauhan, sebuah suara lirih terdengar.
"Julian."
Ia menoleh cepat. Marcus Thurne berdiri di balik tiang lampu, bersandar dengan santai, tapi wajahnya tegang.
"Kau melanggar aturan," ujar Marcus tanpa basa-basi.
"Aturan dibuat untuk dilanggar oleh mereka yang tahu risikonya."
"Atau oleh mereka yang sudah tidak peduli hidup-mati."
Julian tak menjawab. Ia kembali menatap kafe. Seraphina tengah mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya, menulis sesuatu, lalu sesekali melihat ke luar jendela.
"Dia manusia, Julian. Jangan lupa itu."
"Aku tidak lupa. Justru karena itu aku di sini."
Dalam kantor Organisasi Pemburu Vampir, layar besar memantau pergerakan seluruh klan utama di kota. Elara Thorne menatap foto wajah Seraphina yang terpampang di layar kecil.
"Ini dia," gumamnya. "Darah dari garis Delacroix. Tak pernah kukira garis keturunan itu masih ada."
Anya Sharma menyilangkan tangan. "Dan dia tinggal di tengah kota. Tanpa penjaga. Tanpa pengawasan. Kita lalai."
"Atau kita dijebak untuk berpikir begitu," sahut Elias Thorne, berdiri di belakang mereka.
"Julian Blackwood sudah menyadari keberadaannya," Elara melanjutkan, suaranya pelan. "Jika dia meminum darah gadis itu, perjanjian lama bisa pecah. Dan kita semua tahu apa artinya."
"Perang."
Langit menggelap lebih cepat malam itu. Petir menyambar, lalu disusul gelegar halilintar. Seraphina menyadari bahwa ada bayangan yang terus membuntutinya sejak ia meninggalkan kafe.
Di tikungan jalan sempit, ia berhenti dan berbalik cepat.
"Tolong jangan ikuti aku lagi," ucapnya, lebih berani dari yang ia kira.
Sosok itu keluar dari kegelapan. Julian.
"Aku tidak berniat menyakitimu."
Suara itu rendah dan halus, tapi Seraphina merinding.
"Siapa kau?"
"Hanya seseorang yang ingin memastikan kau selamat."
"Apa aku dalam bahaya?"
Julian menatapnya beberapa detik. "Lebih dari yang kau kira."
Seraphina tertawa kecil. "Kau sedang mencoba jadi pahlawan gelap?"
"Jika kau ingin menganggapnya begitu."
Ia berjalan mendekat, tapi Seraphina mundur satu langkah.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri," ucapnya, mencoba terdengar percaya diri.
Julian berhenti. "Mungkin, tapi saat kau tahu siapa dirimu sebenarnya, dan kenapa darahmu dicari, segalanya akan berubah."
Dari atas gedung seberang, Cassian Volkov mengamati mereka.
"Dia sudah bertemu gadis itu," ujar Cassian kepada seseorang di balik bayangan.
Lady Kaelen Nocturne melangkah ke sisi Cassian, jubah hitamnya mengepul angin. "Dan darahnya memang terasa istimewa."
Cassian tersenyum dingin. "Waktunya menghidupkan kembali perjanjian lama. Atau menghapus semua yang terlibat."
Seraphina berdiri mematung, napasnya tak beraturan.
"Apa maksudmu dengan darahku?" tanyanya.
Julian menundukkan kepala sejenak.
"Kau akan tahu, Seraphina, tapi jangan percaya siapa pun termasuk aku."
Malam itu, kota tak benar-benar tidur. Di balik setiap lampu jalan, setiap lorong gelap, dan setiap detik yang berlalu, ada perang dingin yang mulai bangkit. Dan di tengahnya, dua jiwa yang seharusnya tidak pernah bertemu dan saling terpikat oleh sesuatu yang lebih tua dari cinta, lebih dalam dari luka, dan lebih mematikan dari rahasia.
***
Hujan belum reda. Suara rintiknya meredam kebisingan kota, membuat dunia terasa seperti hanya milik mereka berdua.
Seraphina menggigit bibirnya pelan. Ia tidak mengenali nama yang baru saja keluar dari mulut pria asing itu.
“Bagaimana kau tahu namaku?” tanyanya curiga, matanya menyipit.
Julian tidak segera menjawab. Ia menatapnya lama, seolah sedang membaca lebih dalam dari sekadar sosok di hadapannya.
“Namamu terpatri dalam naskah lama. Nama yang tidak seharusnya muncul kembali di dunia ini,” ucapnya tenang.
Seraphina mengernyit. “Apa kau sedang bercanda? Kau bicara seperti—”
“Seperti seseorang yang bukan manusia?” potong Julian, nadanya datar.
Ia melangkah perlahan, tidak mengancam, tapi penuh keheningan yang tebal. Seolah angin pun takut mendekatinya.
“Lalu kau siapa?” Suara Seraphina melemah.
Julian berhenti hanya beberapa langkah darinya. “Seseorang yang hidup terlalu lama.”
Untuk sesaat, tak ada yang bicara. Hanya detak jantung Seraphina yang menggema di telinganya sendiri.
“Kalau kau berpikir bisa menakutiku dengan kata-kata aneh dan tatapan gelap, maaf, aku tidak semudah itu jatuh dalam cerita film horor,” ucapnya, berusaha terdengar kuat.
Julian mengangkat alis. “Kau tidak takut?”
“Aku tidak percaya.”
“Bukan hal yang sama.”
Di dalam gedung tua yang dikelilingi bayangan kuno, Madame Alaric menyapu kartu tarot di hadapannya. Setiap lembar mengandung simbol-simbol tua yang hanya dipahami segelintir makhluk.
Kartu terakhir terbalik—Lovers, tertancap belati.
“Pertemuan itu telah terjadi,” bisiknya.
Silas Banel, berdiri di pojok ruangan, mendekat tanpa suara.
“Kita harus menghentikannya sebelum darah itu—”
“Dibangkitkan,” potong Alaric. “Aku tahu, tapi jika garis Delacroix telah terjaga sampai sekarang, maka takdir sudah lebih dulu bergerak.”
Silas menatap api di perapian. “Lalu bagaimana jika Julian benar-benar meminum darahnya?”
Alaric menutup mata. “Maka jantung dunia akan berdenyut kembali. Dan tak ada yang bisa menghentikan yang lama untuk bangkit.”
Sementara itu, Seraphina kembali melangkah ke belakang, tubuhnya hampir menyentuh dinding basah. Pandangannya tak pernah lepas dari mata Julian.
“Kenapa kau terus menatapku seperti itu?” tanyanya tajam.
“Karena kau mengingatkanku pada sesuatu. Seseorang,” jawab Julian lirih.
“Siapa?”
Ia menghela napas pelan. “Seseorang yang pernah kubunuh.”
Seketika, napas Seraphina tertahan. Matanya membulat, tubuhnya kaku. Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, dari balik bayangan lorong, suara langkah mendekat cepat. Tak seperti suara Julian dan langkah ini terburu-buru, tidak menyembunyikan niat.
Julian segera berdiri di depan Seraphina, tubuhnya menjadi tameng.
“Sembunyi di belakangku,” bisiknya tanpa menoleh.
“Apa—”
“Sekarang, Seraphina.”
Ia patuh, lebih karena insting daripada percaya.
Dari balik kabut dan hujan, seorang pria muncul yang berpakaian serba hitam, mengenakan sarung tangan kulit, dan membawa bilah kecil bersinar keperakan.
“Blackwood,” sapa pria itu. “Akhirnya kau menunjukkan dirimu.”
Julian menggeleng pelan. “Kau seharusnya tidak ke sini, Liam.”
Liam Davies menurunkan tudung mantelnya, rambut cokelatnya lepek karena hujan. “Kaelen menginginkan gadis itu.”
“Kaelen tidak bisa memerintahkanku.”
“Dia bisa memerintah semua yang datang setelah darahnya diminum.”
Seraphina muncul dari balik Julian, matanya berkedip bingung.
“Kaelen? Gadis? Apa ini lelucon?”

Jen04
10 Pengikut · 12 Novel