


oleh Ayang WahyuApril · 25 Bab
Serena mengira hari pertama di sekolah barunya akan diisi tugas, ulangan, dan drama remaja. Ternyata yang paling banyak justru murid kesurupan! Anehya, hantu-hantu itu lebih cerewet daripada menyeramkan—ada yang protes nilai, minta Wi-Fi, sampai ngotot ikut lomba kelas. Karena dianggap paling "cocok" menghadapi mereka, Serena mendadak menjadi penengah antara manusia dan penghuni gaib. Di sekolah paling absurd ini, bertahan hidup bukan soal lulus ujian, melainkan memastikan satu kelas tidak kesurupan bersamaan sebelum bel pulang berbunyi!
Serena berdiri di depan gerbang SMA Tunas Harapan dengan ransel yang masih tampak baru. Matahari pagi bersinar cerah, burung-burung berkicau, dan beberapa siswa berlalu-lalang sambil bercanda. Semua terlihat seperti sekolah biasa.
Setidaknya, itulah yang ia kira.
Di atas gerbang sekolah bertengger seekor burung gagak. Burung itu menatap Serena. Serena balas menatap. Burung itu memiringkan kepala. Serena ikut memiringkan kepala.
Burung itu tiba-tiba mengeluarkan suara, "Selamat datang! Semoga kuat."
Serena membeku. Burung itu mengepakkan sayapnya, lalu terbang.
Serena mengusap kedua telinganya. "Aku pasti kurang tidur." Ia mengangguk sendiri. "Pasti begitu."
Dengan keyakinan penuh, ia melangkah masuk.
Koridor sekolah dipenuhi siswa. Ada yang berlari karena hampir terlambat, ada yang sibuk membawa tugas, ada pula yang sedang memperebutkan roti isi.
"Balikin rotiku!"
"Enggak! Aku yang lihat duluan!"
"Itu roti punya aku!"
"Kalau begitu kita bagi tiga."
"Itu roti isi ayam! Dibagi tiga malah jadi isi angin!"
Serena tersenyum kecil. Suasana sekolah ini ternyata cukup hidup.
Seorang guru perempuan menghampirinya. "Kamu Serena?"
"Iya, Bu."
"Selamat datang! Saya Bu Lestari, wali kelas XI-B."
"Senang bertemu dengan Ibu."
"Mari ikut saya."
Serena mengangguk. Mereka berjalan menyusuri koridor. Baru beberapa langkah.
BRAK!
Seorang siswa jatuh dari kursinya. Semua murid menoleh. Siswa itu berdiri perlahan. Rambutnya acak-acakan. Matanya terpejam. Tangannya menunjuk ke langit-langit.
Lalu, ia berteriak dengan suara menggelegar. "SIAPA YANG MENYEMBUNYIKAN PASSWORD WI-FI SEKOLAH?!"
Semua siswa hanya menghela napas.
Seorang anak laki-laki berkata santai, "Oh, kesurupan lagi."
Yang lain mengangguk. "Iya! Tiap Selasa memang begini."
Serena berkedip. "Ada apa?"
Siswa yang kesurupan kembali berteriak. "AKU SUDAH MENUNGGU TIGA PULUH TAHUN! MASA BELUM DAPAT WI-FI JUGA?"
Serena menoleh kepada Bu Lestari. "Bu."
"Iya?"
"Itu normal?"
Bu Lestari mengangguk tenang. "Normal."
"Benar-benar normal?"
"Untuk sekolah ini, iya."
Serena merasa otaknya berhenti bekerja beberapa detik.
Beberapa guru mendekati siswa yang kesurupan. "Pak Damar, bagaimana?" tanya Bu Lestari.
Pak Damar menghela napas. "Hantu yang kemarin."
"Hantu yang mana?"
"Hantu pencinta internet."
"Oh."
Pak Damar menepuk bahu siswa itu. "Nak!"
"Aku bukan anakmu!"
"Baik."
"Kembalikan Wi-Fi!"
"Kami belum punya Wi-Fi saat zamanmu."
"Itu sebabnya aku penasaran!"
Seluruh koridor hening. Lalu, terdengar suara tepuk tangan.
Seorang siswi berseru, "Argumennya masuk akal!"
Yang lain ikut mengangguk. "Iya juga!"
Pak Damar memijat pelipis. "Tolong jangan didukung."
Serena menatap kosong. Ini sekolah, atau panggung sandiwara?
Tiba-tiba siswa yang kesurupan membuka sebelah mata. Tatapannya lurus ke arah Serena. "Hah?" Ia menunjuk Serena. "ITU DIA!"
Semua kepala langsung berputar ke arah Serena. Serena ikut menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. "Siapa?"
"KAMU!"
"Aku?" Serena menunjuk dirinya.
"IYA!"
Serena menelan ludah. "Aku baru datang."
"HANYA KAMU YANG BISA MENDENGAR AKU DENGAN JELAS!"
Serena mengerutkan dahi. "Lho, memangnya yang lain tidak?"
Seluruh koridor mendadak sunyi. Pak Damar menoleh. "Maksudmu kamu mendengar suaranya seperti orang biasa?"
"Iya."
"Bukan cuma teriakan?"
"Enggak. Dia ngomong soal Wi-Fi dari tadi."
Semua guru saling berpandangan. Bu Lestari berbisik pelan. "Waduh!"
Pak Damar ikut berbisik. "Waduh sekali."
Serena semakin bingung. "Ada apa?"
Belum sempat ada yang menjawab, Siswa yang kesurupan tiba-tiba menangis. "Hiks!"
Semua orang terkejut. "Hantu juga bisa menangis?" bisik seseorang.
"Hiks! Aku cuma," kalimatnya terpotong, isaknya semakin keras. "Aku cuma pengin tahu kenapa sinyal selalu hilang kalau hujan."
Seluruh koridor terdiam. Lalu, salah seorang siswa berkata lirih. "Kasihan juga."
Temannya mengangguk. "Iya."
Pak Damar menghela napas panjang. "Baiklah!" Ia mengeluarkan ponsel. "Nih!"
"Apa itu?"
"Video kucing," sahut Pak Damar santai.
Hantu itu langsung berhenti menangis. "Lucu!"
Video berganti. Seekor kucing meloncat ke dalam ember. Hantu itu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Ulang lagi!"
Pak Damar memutar video lain. Beberapa menit kemudian, siswa yang tadi kesurupan menguap. "Lucu sekali."
Ia ambruk perlahan. Lalu, bangun sambil mengucek mata. "Hah?" Ia melihat semua orang. "Lho? Kenapa semuanya lihat aku?"
Pak Damar tersenyum. "Sudah selesai."
"Aku ketiduran?" tanya siswa itu.
"Iya."
"Kenapa bajuku penuh kapur?" panik siswa itu lagi.
"Kamu tadi pidato."
"Pidato apa?"
"Tentang Wi-Fi."
"Wah, aku memang suka internet!"
Semua orang memilih diam. Bu Lestari menarik napas. "Baik, Serena. Mari ke kelas!"
Serena mengikuti beliau sambil masih memikirkan kejadian tadi. "Bu, barusan itu benar-benar kesurupan?"
"Iya."
Serena terperangah. "Itu sering terjadi?"
"Hampir setiap hari."
"Hampir?" tanya Serena tak percaya.
"Iya."
Serena tertawa kecil. "Lucu juga!"
Bu Lestari menghentikan langkah. "Kamu tidak takut?"
Serena berpikir sejenak. "Kalau hantunya cuma ingin Wi-Fi, rasanya tidak."
Bu Lestari tersenyum tipis. "Semoga pendapatmu tetap sama sampai besok."
"Kenapa?" bingung Serena.
"Besok jadwal hantu yang suka debat."
Serena mengernyit. "Maksudnya?"
"Suka berdebat soal nilai ulangan."
"Hah?"
"Kalau lusa, biasanya hantu ketua OSIS angkatan 1989. Dia selalu memaksa semua orang ikut kerja bakti."
Serena tertawa. "Itu terdengar tidak masuk akal!"
Belum selesai ia berbicara dan dari ruang kelas sebelah terdengar suara keras. "TIDAK ADA YANG PULANG SEBELUM PAPAN PENGUMUMAN LURUS!"
Seluruh siswa serempak mengeluh. "Yah!"
"Ketua OSIS datang lebih cepat."
Pak Damar yang lewat hanya menghela napas. "Baru jam delapan pagi."
Serena memandang langit-langit sekolah sambil tersenyum kaku. Dalam hati ia berbisik, "Sepertinya pindah sekolah bukan keputusan buruk."
Lalu terdengar lagi suara menggelegar dari kelas sebelah. "SIAPA YANG MENEMPEL POSTER PAKAI SELOTIP MIRING?"
Serena memejamkan mata. "Ralat! Mungkin ini keputusan paling aneh dalam hidupku."
Tanpa ia sadari, di sudut koridor, puluhan sosok transparan sedang mengintip sambil berbisik antusias.
"Itu dia. Anak baru yang bisa mendengar kita."
"Akhirnya ada juga."
Salah satu hantu mengangkat tangan. "Nanti antre ya! Aku mau protes nilai Matematika tahun 1997."

Ayang WahyuApril
170 Pengikut · 47 Novel