Aku selalu bangun pagi sebelum matahari menyentuh atap Valrune City’s. Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu tertanam.
Mungkinkah sejak mimpi-mimpi buruk mulai datang seperti tamu yang tak pernah diundang kehadirannya, menjerat leherku sebelum fajar sempat bernapas.
Hari ini pun kembali terulang, aku terbangun bukan karena ingin, tetapi karena rasa dingin yang merayap dari tulang belakang hingga ujung jari.
Kamar asramaku masih terlihat gelap, hanya diterangi sisa cahaya bulan yang mulai redup perlahan.
Di kota ini, siang dan malam seperti berebut tempat, karena warna langit selalu kelabu, cuaca selalu muram.
Valrune City’s memang tidak pernah benar-benar terang, seolah matahari takut menyentuhnya.
***
Namaku Elown Arvenhal, usiaku saat ini lima belas tahun, siswi kelas tiga di Academy Lysvane, yaitu sekolah terbesar dan paling tua di Valrune City’s.
Aku dianggap tak menarik oleh sebagian orang, terlalu tenang dan santai oleh mereka. Bahkan aku dianggap manusia yang aneh, ketika mereka memperhatikan lebih detail tentang diriku.
Pagi ini, aku merasa lebih letih dari biasanya. Seolah aku berlari sepanjang malam tanpa henti, meski aku tetap tergeletak di tempat tidur sepanjang waktu.
Anehnya, kakiku pegal seperti aku benar-benar melakukan lari.
Aku meraba meja di samping tempat tidur, mencari layar kristal kecil yang digunakan untuk melihat jam.
Cahaya biru redup muncul ketika aku menyentuhnya, jam menunjukkan pukul 05.14. Masih cukup pagi.
Suara kecil, entah dari pikiranku atau dari balik pintu seketika menyentuh pendengaran di telingaku.
“Bangun, Elown, nanti kita akan telat.”
Aku merinding. Suara anak kecil. Lembut. Ceria.
Aku mengedip beberapa kali dan menunggu, tapi suara itu hilang begitu saja, seolah ditelan oleh udara yang sunyi.
“Mungkin ini hanya halusinasiku,” gumamku. “Sepertinya aku kurang tidur.”
Aku bangkit lalu merapikan rambut panjangku yang sangat kusut, lalu menatap cermin tepat di sudut kamar.
Wajahku terlihat lebih pucat hari ini. Lingkar mata terlihat gelap. Dari tatapan itu, aku seperti menyimpan sesuatu hal yang begitu rahasia. Namun, aku tidak tahu hal apa yang di rahasiakan diriku sendiri.
***
Ketika aku keluar dari asrama, udara Valrune City’s sangat dingin.
Angin dari wilayah utara membawa aroma hujan yang tidak benar-benar turun hujan. Jalan-jalan bebatuan di Valrune masih basah akibat kabut tadi malam.
Para pedagang sudah mulai menata barang dagangannya di sepanjang distrik akademi.
Dagangan itu di jajar sangat rapi, ada buah-buahan segar dari pegunungan, buku bekas yang masih layak, kristal kecil yang digunakan untuk pelajaran magis materi dasar.
Lampu-lampu kristal biru yang tertanam disisi sudut jalan berkedip pelan.
Langkahku melewati jalan utama.
Bangunan tua dengan ciri khas dengan atap yang runcing.
Pohon-pohon Ravenwood berbaris di kiri dan kanan, daunnya berwarna gelap seakan sedang memperhatikan setiap orang yang lewat.
Valrune City’s. Kota kelabu yang menyimpan lebih banyak bisik-bisik daripada percakapan.
Di sinilah aku dibesarkan, atau setidaknya, di sinilah sebagian besar ingatanku terbentuk.
Ada beberapa bagian masa kecilku yang tidak pernah jelas kuingat. Seperti kepingan kaca yang pecah. Aku bisa melihat pantulannya, tapi tidak bisa menyatukannya menjadi bentuk utuh.
Ayah dan ibuku, wajah mereka kabur dalam ingatanku. Hanya suara keras, pintu dibanting, dan lorong gelap yang kadang muncul dalam mimpi.
Aku menggigil sejenak.
"Pagi, Elown!” Suara itu membuatku tersentak.
Seorang pedagang manisan melambaikan tangan padaku dari kios kecil di pinggir jalan. Ia adalah Pak Pralun, pria paruh baya yang terkenal ramah.
“Ah, selamat pagi, Pak Pralun,” jawabku.
Ia tertawa kecil. “Mau permen seperti biasa?”
Aku mengerutkan dahi. “Seperti biasa?”
Pak Pralun tampak bingung. “Kamu baru kemarin datang minta dua. Kamu lupa? Kamu bilang itu buat ‘penghibur kecilmu’.”
Aku tertegun. Hawa dingin merayapi kulitku. Aku tidak pernah ke sini kemarin. Aku bahkan tidak keluar asrama.
“Maaf, aku mungkin aku salah ingat,” jawabku cepat.
Pralun mengangguk, tapi ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.
Aku melanjutkan langkahku tanpa membeli apa pun. Suara anak kecil itu kembali terdengar, sangat pelan.
“Permennya enak, nanti kita beli lagi, ya?”
Aku langsung mempercepat langkah menuju akademi.
***
Ketika sampai di gerbang Academy Lysvane, keramaian sudah mulai terlihat.
Para siswa sudah berbaris menuju ruang kelas masing-masing, mengenakan jubah akademi berwarna hitam keperakan.
Bangunan akademi menjulang tinggi seperti kastil tua yang sangat indah ketika dipandang.
Menara-menara runcingnya menghadap langit, dan lambang seekor burung gagak putih menghiasi pintu gerbang utama sebagai simbol akademi.
Aku berhenti sejenak di tangga depan. Entah kenapa, setiap kali aku menatap gedung ini, aku selalu merasa selalu diawasi.
Saat aku masuk, beberapa siswa melirikku dengan ekspresi aneh. Aku tidak mengerti kenapa mereka selalu menatapku seperti itu.
Mereka berbisik, menatapku seolah aku melakukan sesuatu yang tidak kusadari.
Aku memutuskan untuk mengabaikannya.
Di dalam kelas, aku duduk di dekat jendela. Cahaya kelabu pagi masuk, membuat bayangan panjang di meja-meja kayu.
Guru kami, Madam Relyss, masuk sambil membawa tumpukan buku besar.
“Elown,” katanya sambil menatapku tajam.
Aku tersentak. “Ya?”
“Kemarin kamu tidak menunjukkan hasil latihan magis dasar, tapi kelas lain melaporkan bahwa kamu tiba-tiba masuk dan menjelaskan teori energi dengan sangat detail."
Tatapannya menusuk. “Kamu keberatan menjelaskan ulang untuk kelasmu sendiri, Elown?”
“Aku?” Aku benar-benar bingung. “Aku tidak pernah melakukan hal itu, Madam. ”
“Jangan bercanda,” sahutnya dengan nada tegas. “Gaya bicaramu sangat berbeda kemarin ketika kamu menjelaskannya. Lebih elegan. Lebih dewasa.”
Seketika tengkukku terasa panas.
Elegan. Dewasa.
Itu bukan gaya bicaraku.
Aku membuka mulut, tapi kata-kata tercekat di tenggorokan. Rasanya seperti ada seseorang yang memperhatikanku dari balik mataku sendiri.
Semua teman sekelas menatap. Ada yang terkejut, ada yang penasaran, dan ada yang tampak merasa takut.
Dengan tangan gemetar, aku bangkit. “Baik, Madam,” kataku lirih. “Aku akan mencoba.”
***
Pelajaran selesai sekitar siang hari, tapi kepalaku berdenyut seperti dihantam batu berkali-kali.
Aku memutuskan pergi ke taman belakang akademi, tempat yang jarang dikunjungi karena selalu diliputi kabut tipis.
Di sini, Valrune City’s bahkan lebih sunyi. Hanya suara angin dan gesekan dedaunan.
Aku duduk di bangku tua dan menutup mata.
“Elown, kamu jangan sedih.”
Suara anak kecil itu lagi. Dekat sekali. Seakan duduk di sampingku.
Aku membuka mata cepat. Lalu memerhatikan sekitar, tapi tak melihat ada siapa-siapa.
Setelah beberapa menit, aku memutuskan bangkit dan kembali ke asrama. Namun, ketika aku memegang gagang pintu kamarku, aku membeku.
Pintu itu terbuka sedikit.
Aku yakin tadi pagi aku menguncinya.
Jantungku berdegup kencang. Aku mendorong perlahan dan masuk. Tidak ada yang berubah, kecuali satu hal.
Di atas meja belajarku, ada setangkai bunga kecil, bunga biru gelap yang hanya tumbuh di taman akademi, dan secarik kertas dengan tulisan yang sangat elegan.
“Tenang. Aku sudah mengurus pelajaranmu,” ucap Jess.
Aku terpaku.
Aku tidak mengenal siapa pun bernama Jess, tapi tulisan itu seperti tulisan seseorang yang memakai tanganku ketika ... aku sedang tidak sadar.
Tiba-tiba, aku merasa tidak sendirian di dalam tubuhku sendiri.