


oleh ReyVia Zhea · 11 Bab
Kalila menyaksikan suaminya, Armand, mencium tangan Yasmine, barista muda yang menjadi wajah baru kafe mereka. Luka kecil di hati Kalila menetes seperti espresso, memicu bara kemarahan yang selama ini ia pendam. Ketika sorotan publik beralih ke Yasmine, Kalila, otak di balik kesuksesan Aurum, tersingkir dari panggungnya sendiri. Namun, di sudut distrik seni, ia menemukan Café Nocturne dan Eliot, pemilik kafe dengan jiwa hangat dan visi yang selaras. Bersama, mereka meluncurkan Revenge Roast, pameran seni dan kopi yang mengguncang citra Aurum. Dengan foto-foto penuh emosi dan aroma kopi yang membakar, Kalila tak hanya melawan pengkhianatan Armand, tetapi juga menemukan kembali dirinya.
Lampu-lampu kristal bergemerlap di langit-langit Aurum Brew, memantulkan kilau emas pada gelas-gelas kopi yang tertata rapi di meja marmer putih. Para tamu undangan yang mengenakan gaun elegan dan jas mahal memenuhi ruangan, mengangkat ponsel mereka, merekam setiap detik peluncuran flagship baru dari Aurum Brew. Di tengah gemerlap itu, Kalila berdiri di tepi panggung, gaun satin hitam yang membalut tubuh rampingnya seolah menyatu dengan kegelapan di sekitarnya.
Sorot mata Kalila lurus menatap panggung, tepat ke arah suaminya, Armand. Pria itu berdiri gagah, membungkuk sedikit untuk mencium tangan Yasmine, sang barista muda yang baru bergabung beberapa bulan terakhir. Kamera berkilatan, penonton bersorak, dan media sibuk mencatat momen itu.
"Sungguh luar biasa! Inilah wajah baru Aurum Brew!" seru pembawa acara dengan semangat yang dibuat-buat.
Kalila tersenyum tipis. Bibirnya melengkung, tapi matanya dingin. Ia menahan napas, membiarkan luka kecil di hatinya menetes perlahan, seperti aliran espresso yang menetes dari mesin pembuat kopi.
Yasmine tersipu malu, membungkuk sopan di hadapan Armand. "Terima kasih, Pak Armand. Semua ini berkat bimbingan Bapak."
"Ah, kamu berbakat, Yasmine. Aurum beruntung memilikimu," balas Armand sambil menepuk ringan punggung tangan Yasmine. Sekali lagi, kamera mengabadikan momen itu.
Kalila bisa mendengar bisik-bisik kecil di antara para undangan. "Yasmine cantik ya, masih muda lagi. Aurum butuh penyegaran kayak dia."
"Iya, Kalila sih hebat, tapi kesannya ... terlalu kaku."
"Wajah baru Aurum, cocok banget."
Jurnalis fashion dari Majalah Prestige mendekati Yasmine, mewawancarainya singkat. "Bagaimana rasanya jadi ikon baru Aurum Brew? Kami dengar, Anda yang jadi inspirasi konsep desain flagship ini?"
Kalila mengerutkan kening. Inspirasi? Konsep desain itu adalah hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan. Ia yang memilih detail interior, dari kayu mahoni meja kasir hingga lukisan abstrak di dinding. Tapi di mata mereka, Yasmine-lah bintangnya.
Seorang fotografer bahkan menyingkirkan Kalila dari frame. "Maaf, Bu Kalila. Cahaya lebih bagus dari sudut sana."
"Tentu," jawab Kalila dengan suara lembut, menyembunyikan bara di dadanya.
Saat acara usai, para tamu mulai berbaur di area resepsi. Kalila melangkah anggun mendekati Armand dan Yasmine yang masih dikerumuni tamu.
"Selamat, Mas Armand. Dan selamat juga untukmu, Yasmine. Penampilan kalian luar biasa." Suara Kalila begitu tenang, senyumnya manis seperti gula yang menyembunyikan racun.
Armand menoleh, sedikit kaku. "Ah, Kalila. Kamu juga sudah bekerja keras untuk acara ini."
"Tentu saja." Kalila mendekat, membisik di telinga Armand, "Tapi jangan lupa, Mas. Aku juga bisa menyeduh rasa baru yang lebih kuat."
Armand tercekat sesaat. Yasmine berpura-pura tak mendengar, menunduk sambil memainkan ujung rambutnya.
---
Di rumah mereka malam itu, penthouse mewah di distrik seni, Armand membuka dua kancing atas kemejanya, mengambil segelas wine dari bar kecil di sudut ruangan.
"Kamu terlalu serius, Kalila. Media butuh sensasi. Aurum butuh wajah segar. Bisnis bukan cuma soal strategi, tapi citra."
Kalila duduk di sofa kulit cokelat tua, kakinya bersilang anggun. "Wajah segar? Atau wajah yang bisa kamu genggam di balik panggung?"
Armand tertawa kecil, mengangkat gelasnya. "Cemburu? Sayang, jangan kekanak-kanakan. Yasmine itu sekadar strategi. Lagipula, kita sudah menikah lima tahun, Kalila. Hubungan kita, terlalu steril, seperti laboratorium."
Kalila menatap tajam. "Steril? Atau justru kamu yang tak sanggup menjaga komitmen?"
Armand mengangkat bahu. "Mungkin kita perlu mempertimbangkan kebebasan yang lebih, terbuka. Apalagi ..." Dia menatap mata Kalila, sejenak, "kita tak bisa punya anak, bukan?"
Kata-kata itu menghantam Kalila seperti palu godam. Nafasnya tercekat. Luka lama yang selama ini ia kubur kembali menganga. "Jadi, ini semua salahku?"
"Aku cuma bicara kenyataan," jawab Armand enteng. "Santai saja, sayang. Nikmati prosesnya."
Kalila berdiri, punggungnya tegak. Ia menatap Armand dengan sorot mata kosong yang menyimpan badai.
---
Di dalam ruang kerjanya, Kalila menyalakan laptop. Di layar, folder "Aurum Q3 Strategy" terbuka. Jemarinya bergerak cepat. Ia mengganti nama folder itu: "Project Pembalasan."
Jantung Kalila berdebar kencang. Malam ini, semuanya berubah.
---
Hujan rintik-rintik menemani langkah Kalila yang berjalan tanpa arah. Sepatu hak tingginya menginjak genangan kecil di trotoar distrik seni. Lampu-lampu galeri dan bar mewah berkilauan seperti bintang di tengah kabut malam.
Aroma kayu manis yang samar menarik perhatiannya ke sebuah kafe kecil di sudut jalan, bertuliskan "Lila's Roastery". Musik jazz mengalun pelan dari dalam. Tanpa berpikir, Kalila mendorong pintu kayu kaca itu.
Bel berbunyi nyaring. Hangatnya aroma kopi menyambutnya.
Tiba-tiba, sepasang tangan kuat melingkar dari belakang, memeluk pinggangnya erat.
"Lila. Akhirnya kamu datang lagi," bisik suara pria di telinganya.
Kalila membeku. "Maaf?"
Pria itu segera melepas pelukannya, wajahnya memerah. "Oh Tuhan, ak-aku kira kamu Lila. Mantan pacarku. Maafkan aku."
Kalila menatap pria itu. Rambut cokelatnya berantakan dengan gaya yang artistik, kemeja lengan panjang digulung hingga siku. Matanya—ada kehangatan yang tak asing, meski mereka baru pertama kali bertemu.
"Namaku Eliot," ujarnya, menundukkan kepala. "Aku pemilik tempat ini. Boleh aku menebus kesalahanku dengan secangkir kopi?"
Kalila mengangguk, bibirnya melengkung samar. "Boleh. Tapi jangan pikir aku akan mudah memaafkan." Ada nada menggoda di balik suaranya.
Mereka duduk di pojok kafe, dekat jendela. Eliot menyajikan segelas wine cold brew, aroma buah beri dan kayu manis berbaur sempurna.
"Minuman spesialku," kata Eliot. "Kopi, seperti hidup. Harus ada pahit, baru terasa manisnya."
Kalila menyesap perlahan. "Sayangnya, kadang manisnya terlalu singkat."
Eliot menatap Kalila dalam-dalam. "Kamu sedang mengalami masa sulit, ya?"
Kalila tertawa kecil, getir. "Kamu cepat menebak."
"Orang yang datang ke kafe jam segini, sendirian, wajah cantik tapi mata sendu—biasanya bukan sekadar haus kopi."
Kalila menatap keluar jendela. "Aku baru saja disingkirkan dari panggung yang kubangun sendiri. Oleh suami, dan wajah-wajah baru yang katanya lebih menarik."
Eliot mengangguk pelan. "Aku tahu rasanya. Aku kehilangan Lila karena alasan yang sama. Aku terlalu fokus membangun bisnis, lupa membangun hubungan. Akhirnya dia memilih pria yang bisa memberinya ... panggung."
Kalila menoleh. Ada simpati yang tulus di mata Eliot.
"Terkadang," lanjut Eliot, "panggung itu overrated. Yang penting siapa yang menyalakan lampunya."
---
Beberapa jam kemudian, percakapan mereka mengalir seperti jazz yang mengiringi malam. Kalila merasa aneh—nyaman. Seperti menemukan celah napas di tengah badai.
Tiba-tiba Eliot menatap Kalila dengan senyum nakal. "Kalila, aku ada ide gila."
"Ide gila?"
"Minggu depan ada pameran komunitas kopi di galeri distrik seni. Aku butuh pasangan supaya galeri ini mendapat spotlight. Kamu pura-pura jadi pacarku." Eliot mengangkat alis. "Sebagai gantinya, aku akan bantu kamu menciptakan, distraksi publik."
Kalila mengernyit, namun matanya menyala pelan. "Distraksi?"
"Kamu butuh sorotan baru, bukan? Biar media punya cerita lain selain Armand dan si barista manis itu."
Hening sejenak.
Kalila menyesap kopinya. Di ujung lidahnya, rasa pahit wine cold brew membakar halus, diikuti manis samar yang menggelitik.
"Baiklah, Eliot." Senyumnya kini penuh ketegasan. "Mari kita mainkan peran baru.”

ReyVia Zhea
0 Pengikut · 1 Novel