


oleh Azazil Lucifer · 97 Bab
Pernahkah merasa bingung dengan apa yang dirasakan? Tepatnya, rasa benci dan anehnya terselip sebuah kekhawatiran? “Jika saja yang selama ini terjadi adalah sebuah ilusi, pastinya, hidupku tidak akan seperti ini.” Sayangnya, semua yang terjadi dalam hidup menyedihkan dan amat keras yang dijalaninya. Benar-benar nyata. Kalau saja ada yang bisa membuat mesin waktu, mungkin akan mencegah hal itu terjadi, sehingga dirinya tidak akan benar-benar hidup.
“Kalian sudah tidak takut denganku lagi—eh?” Raga, dengan pola asuh berbeda. Tepatnya, sejak berusia empat tahun sudah diberi pengajaran berbagai macam bela diri juga menggunakan senjata. Terbukti, sudah mencoba bersikap layaknya remaja normal tetap saja masih ditakuti.
“Karena saat kau mengenalkan diri itu, terlihat mengerikan tahu. Terlebih lagi, kau blak-blakan menyebutkan nama keluarga yang kalau dicari tahu, kau anak dari salah satu bos mafia.” Remaja biasa, satu kelas dengan Raga yang bernama Devan langsung menjawab. Meskipun, selalu berhati-hati dalam berkata. Masalahnya akan rumit, kalau Raga si anak bos mafia. Salah tanggap, ketika mendengar ucapannya.
“Oke, oke.” Raga terkekeh, lalu terdiam dan ekspresinya mendadak serius. “Asal kalian tahu saja, melihat orang ketakutan itu menyenangkan loh.”
“Itu menurutmu! Beda dengan kami!” Mereka berlima membalas kompak, tetapi tidak menyangka bisa mengenal Raga.
“Oke, jadi mengapa nih?” Raga menopang dagu, kembali bersikap seperti remaja normal.
Ternyata mereka berenam berada di kedai kopi, tepatnya sih lima remaja normal penasaran akan sesuatu hal. Untuk itu, mencoba bertanya dan mencari tahu dari Raga.
Mungkin saja tahu? Atau pernah bertemu langsung?
“Kau pernah bertemu dengan pemuda yang akhir-akhir ini diberitakan, selalu saja gempar dari aksinya itu. Terkadang, ada rumor pemuda itu melakukannya karena disewa—alias—bentuk pekerjaannya saja.” Remaja bernama, Rayyan mulai angkat bicara.
Raga berpikir sejenak. “Pemuda ya? Lebih tua dari kita ya?”
Mereka berlima mengangguk.
“Oh itu.” Raga melirik sekitarnya, lega karena kedai kopi tidak terlalu ramai pengunjung. Tepatnya, baru buka. “Dia dikenal sosoknya sulit ditaklukan, jadi orang yang terjun dunia gelap seperti ayahku hanya menyewa saja. Terkadang, orang kaya terpandang yang bukan termasuk orang dunia gelap saja, suka menyewa buat kepentingannya juga. Entah itu, dalam merebut posisi pebisnis paling unggul atau apalah.”
“Seperti apa dia?” sahut Denish, karena sedari tadi mendengarkan saja. “Tadi kau bilang, ayahmu pernah menyewanya. Otomatis, kau berhadapan langsung dengannya ‘kan?”
“Oh, jadi kalian penasaran dengan wujudnya, eh?” Raga terkadang suka iseng, tetapi sering kelewatan karena isengnya mengerikan.
“Oy!”
Benar saja, mereka berlima sewot dan agak bergidik bila Raga memperlihatkan pribadi aslinya.
“Itu hanya sekali, saat Ayah menyewanya untuk membunuh musuh. Dia itu dingin, tidak pernah berekspresi kayak robot begitu. Untuk pertama kalinya, itu juga tanpa sengaja melakukan kontak mata langsung. Membuatku merinding, jujur memang awalnya lebih menakutkan anehnya aku jadi ingin bisa bertarung sebentar dengannya. Memastikan secara langsung kehebatannya.”
“Lalu sudah kau coba?” Kali ini, Vero menyahut ternyata penasaran dengan keinginan Raga tadi.
“Ya belumlah, karena aku masih mau berlatih lebih lagi. Harus punya persiapan dong, daripada kalah dan akhirnya mati sia-sia!” gerutu Raga. “Tidak biasanya, kalian penasaran dengan orang yang hidup berbeda—eh? Atau mau mencoba?” Kedua alisnya sengaja dinaik turunkan, Raga iseng lagi.
“Nggaklah!” bantah mereka, juga sebal karena Raga iseng lagi.
Raga sendiri, kembali terkekeh. Kegirangan sendiri melihat ekspresi ketakutan mereka berlima.
“Enggak, tetapi penasaran juga apa yang dilakukan oleh orang yang hidup di dunia gelap?” Azka dengan sengaja mengalihkan pembicaraan, sebenarnya yang lain juga penasaran.
“Oke akan kuberitahu sedikit.” Raga menghela napas sejenak. “Bukan hanya membunuh, tetapi juga berlomba menjadi yang paling disegani, terus menguasai wilayah, juga memperebutkan barang berharga yang dilelang besar-besaran. Entah manusia, senjata, ataupun organ tubuh dari si manusianya. Hehe.” Raga mengedipkan matanya, benar saja iseng lagi.
“Be-begitu ya?” Mereka menelan saliva, karena Raga santai sekali berbicara soal organ manusia.
“Haha! Kalian lucu kalau takut!”
“Kau saja yang iseng!” gerutu mereka.
“Itu sajakah?” sahut Raga, kembali bersikap biasa.
Di satu sisi kedai kopi yang mereka datangi mulai ramai pengunjung. Kalau diteruskan pembicaraannya, malah membuat meresahkan mereka, yang awam sekali dengan kehidupan dunia gelap.
“Masih ada sih, sebenarnya kita penasaran kalau kau ikut pelelangan dengan ayahmu. Biasanya, apa yang kau ingin dapatkan?” Devan kembali angkat bicara.
Nyatanya, mereka berenam memutuskan pergi. Tepatnya, jalan-jalan santai sembari berbincang.
“Hm, senapan AK 47 mungkin?” celetuk Raga. “Kebetulan, aku ingin mahir sekaligus jadi penembak yang andal. Meskipun agak susah untuk mendapatkannya secara percuma, saat menggunakannya kita juga harus bisa melacak cepat lokasi lawan—si penembak juga, kalau sedang dalam arena pertarungan begitu.” Raga mengatakannya sembari berbisik, habisnya mereka berada di keramaian orang lagi.
Mereka hanya diam, pertama kalinya bisa dekat dengan satu orang yang menjalani kehidupannya amat berbeda dari mereka. Juga, tahu batasannya. Takutnya, kalau melewati yang ada nanti bermasalah.
“Aku suka mengoleksi mata manusia, apalagi irisnya warna biru.” Entah sadar atau tidak, Raga heboh sendiri. Meskipun, masih bisik-bisik.
“Mata bule dong?” celetuk Rayyan.
“Iyalah! Suka ada juga loh, di pelelangan besar.”
Setelahnya, mereka berpisah tepatnya rasa penasaran sudah lumayan lenyap. Raga memperhatikan mereka berlima, mulai berjalan jauh.
“Hah, tidak buruk juga ya berbaur seperti remaja normal. Untung saja, keputusanku tepat. Selagi tidak ada misi atau apa pun, jadi bisa santai dengan mereka.” Raga berjalan sedikit mendekati mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. Nyatanya, itu mobil keluarga.
Ke mana pun Raga pergi, pasti ditemani bodyguard ataupun anak buahnya. Dengan syarat, memantau dari jauh. Karena tidak mau, kalau mereka berlima risi dan kembali takut dengannya.
“Pemuda yang makin diberitakan, berbaur di sekitar sini juga.” Satu bodyguard mulai berbicara.
“Hm, kupikir salah lihat tadi.” Pasalnya, ketika berjalan bersama dengan mereka berlima sembari berbincang. Sempat teralih karena melihat pemuda bertampang datar, yap yang sebelumnya amat dipenasarankan oleh mereka berlima.
Hanya dirinya saja yang sadar, karena sebelumnya sudah pernah bertemu.
“Kondisi menjalankan tugas, atau biasa?” Raga mulai penasaran.
“Biasa. Karena kalau diperhatikan amat jelas gelagatnya, tidak begitu waspada. Selebihnya, mungkin iya?”
Raga mengangguk saja.
“Apa?”
“Iseng tidak boleh?” Benar-benar dalam mood di luar profesi mereka dalam dunia gelap. Bahkan, mencoba bersikap ramah macam orang yang hidup normal. “Oke! Hanya penasaran denganmu, ehm tepatnya sih. Ingin tahu saja, apa yang kau lakukan ketika waktu luang tiba.”
“Ganggu!”
“Setidaknya, meski hidup di dunia gelap dan berprofesi yang tidak baik bagi orang awam. Harus tetap bersikap seperti mereka gitulah. Itu juga, di waktu yang tepat. Jangan-jangan kau lupa dalam emosi lain kah? Ayolah Kean, masa hanya menunjukkan emosi kesal dan mengerikanmu saja?”
Emosi? Ya, pemuda—tidak lain Kean. Semenjak kehidupannya berubah menjadi kelam. Selalu berbaur dengan orang dunia gelap, nyatanya membuat Kean melupakan emosi selain kekesalan. Kean benar-benar berubah menjadi manusia tanpa emosi—perasaan.
“Oke, ada alasan lain sedari tadi membuntutimu.”
Pada akhirnya, jujur atau tidak. Tetap terabaikan oleh Kean—si pemuda mengerikan tanpa emosi—perasaan. Seakan benar-benar menjadi robot berbentuk manusia, dan asli lagi!
“Bos ingin kau memulai besok, malam ini kau juga harus datang.”
Kean berdecih kesal, pergi begitu saja. Setiap kali diikuti, pasti ada maunya.

Azazil Lucifer
1 Pengikut · 1 Novel