


oleh Dina0505 · 92 Bab
Sejak kecil, Dave hidup dengan satu tujuan yaitu balas dendam atas kematian ayahnya. Takdir membawanya ke tangan Dragon, ketua geng kejam yang menempa Dave menjadi mesin pembunuh dan memberinya identitas baru-Regan. Bertahun-tahun kemudian, Regan menjelma menjadi pemimpin tertinggi Triad Black Devils, geng paling ditakuti di kota. Kerusuhan, perampokan, hingga pembunuhan menjadi rutinitas. Hukum tak mampu menyentuhnya. Kota berada di bawah bayang-bayang kekuasaannya. Segalanya berubah ketika Regan bertemu Alsava-wanita berhati lembut yang perlahan meruntuhkan dinding dingin di hatinya. Pertemuan mereka justru menjadi pemicu konflik berdarah antar ketua geng besar. Apakah cinta mampu menyelamatkan Regan atau justru menghancurkannya?
Hidup dalam kesederhanaan di pedesaan terpencil membuat Dave, anak berusia sembilan tahun, harus bekerja keras membantu kehidupan keluarganya.
Ayah Dave bernama Abghari merupakan seorang guru dengan gaji kecil di tempatnya bekerja.
Pagi itu Abghari tengah bersiap-siap mengeluarkan sepeda ontelnya dari rumah. "Bu, Bapak berangkat dulu ya."
"Loh kok buru-buru sekali, Pak. Sarapannya udah dimakan belum?" Seorang wanita menghampirinya keluar dari rumah kecil itu.
"Udah Bu, tadi Bapak udah makan duluan. Maaf ya, Bu. Bapak buru-buru. Perjalanan ke sekolah cukup jauh, jadi Bapak harus cepat ke sana. Dave mana?" Kepala lelaki itu kini mendongak ke arah pintu rumah mencari sosok anaknya.
"Dave! Kamu udah siap, Nak? Cepatlah, bapakmu menunggu." Wanita itu memanggil anaknya dengan sedikit berteriak.
"Iya Ibu, aku sudah siap." Anak lelaki berambut ikal dengan baju kemeja putih dan celana panjang hitam itu bergegas keluar dari kamarnya.
"Kau sudah siap? Ayo, kita berangkat." Lelaki itu mengusap kepala sang anak dengan rasa sayang.
Dave menganggukkan kepalanya sambil tersenyum penuh semangat.
"Naira, aku dan Dave pergi dulu. Kau dan Ryan berhati-hatilah di rumah," titah lelaki itu sambil mencium kening istrinya kemudian dia mengusap kepala anak lelaki berumur lima tahun yang berada di samping Naira.
"Iya Pak. Hati-hati, ya." Wanita itu mengulas senyum di bibirnya kemudian mencium punggung tangan suaminya.
Kedua orang itu kini menaiki sepeda ontelnya. Abghari melajukan sepeda. Naira dan Ryan menatap kepergian mereka hingga tubuh belakang kedua orang itu berlalu dari hadapannya.
Butuh waktu setengah jam untuk menuju ke sekolah. Oleh sebab itu, Abghari harus berangkat pagi-pagi sekali.
Sesampainya di sekolah Abghari menyapa para siswa yang telah menunggunya kemudian mengajar untuk mereka.
***
Seorang lelaki berkepala plontos dan bertubuh besar dengan baju jas hitam, tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya datang ke desa. Lelaki itu dikawal oleh beberapa pria berjas hitam yang merupakan para bodyguardnya, keluar dari mobilnya.
Saat dia turun dari mobil itu, terlihat debu bertebaran di jalanan tempat mereka lalui tadi. Masih sama seperti biasa, desa itu masih gersang dan kumuh.
Para warga yang melihat kedatangannya langsung menghampirinya dan memberi hormat padanya.
"Selamat siang, apa kabar kalian semua? Aku ada hadiah untuk kalian."
Pria itu mengisap cerutunya sambil menyapa ramah para warga. Kemudian lelaki plontos itu memberikan kode pada bodyguardnya untuk memberikan berbagai hadiah untuk masyarakat di desa itu. Para warga sangat senang dengan pemberiannya dan hal itu pulalah yang membuat mereka begitu senang dengan kehadirannya.
"Tuan Edgard, senang sekali melihat Anda kembali ke desa ini," ujar seorang pemuka masyarakat desa sambil mendekati dan menyalami lelaki plontos itu.
Lelaki itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala pelan.
"Hei kau, cepat ambilkan bangku dan minuman untuk Tuan Edgard!" seru pemuka masyarakat itu pada seorang anggotanya.
Anggotanya langsung mengambilkan bangku dan meletakkannya di hadapan Edgard. "Silakan duduk, Tuan. Anda pasti lelah," sambut lelaki itu dengan wajah penjilatnya.
"Tuan, ini minumannya." Anggota pria itu menyuguhkan hidangan.
Edgard duduk di bangku yang telah disediakan.
"Hm, masih sama seperti dulu, Coky. Tidak pernah berubah, masih selalu menyambutku dengan baik," sindirnya menatap si penjilat itu.
"Tentu saja, Tuan. Kami banyak berutang budi pada Anda, karena telah banyak membantu pembangunan di desa ini," ujarnya dengan wajah menyeringai.
"Ya. Desa ini adalah tempat kelahiranku. Pastinya aku akan terus melakukan yang terbaik untuk desa ini," tukas lelaki plontos itu padanya sambil menatap sekeliling desa itu.
"Tuan, apakah gerangan yang membuat Anda ke sini?" tanya Coky dengan maksud kedatangan pria itu.
"Kau pintar sekali. Ternyata kau pandai membaca maksudku, ya?" Lelaki plontos itu menatap lekat pada pemuka desa itu.
"Aku hanya menduga, Tuan," jelasnya singkat.
"Baiklah, tanpa perlu basa-basi, aku ingin menyampaikan maksud kedatanganku ke sini. Aku ada proyek yang akan kudirikan dan aku mau tanah desa ini dijual padaku," tegas pria itu.
"Anda mau membeli tanah desa ini? Itu sangat bagus sekali, Tuan. Silakan Anda pilih tanah mana saja yang Anda inginkan. Pasti warga tidak akan menolak jika Anda yang membelinya," jelas lelaki itu padanya.
"Anak buahku telah memantau desa ini dalam beberapa hari belakangan ini dan katanya ada lokasi tanah yang sangat luas dan cocok untuk bisnisku."
"Tuan mau tanah yang mana?"
Pria itu menunjuk kearah kanan sisi jalan. Terlihat tanah yang cukup luas dan tidak terhuni. "Aku menginginkan tanah itu. Apa kau tahu pemiliknya?" tanya lelaki itu padanya.
"Itu adalah tanah milik Abghari Rivanda. Dia adalah seorang guru di desa ini."
"Baiklah. Kau pertemukan aku dengannya."
"Sebentar lagi dia akan kembali dari sekolah. Saya akan memperkenalkanmu dengan istrinya."
Coky mengantarkan Edgard bertemu dengan Naira.
Naira sedikit enggan bertemu dengan pria itu karena dia tidak biasa bertemu dengan pria asing.
"Nyonya Naira, perkenalkan ini tuan Edgard," ujar Coky mengenalkan Edgard pada Naira.
Naira hanya menundukkan kepalanya memberikan salam penghormatan pada lelaki itu.
Pintu diketuk dari luar. Ternyata Abghari dan Dave telah pulang dari sekolah.
"Mas Abghar udah pulang?" Wanita itu menghampirinya kemudian berdiri di belakang suaminya.
"Ada Pak Kepala Desa. Ada keperluan apa?" sapa Abghari.
"Ini, ada Tuan Edgard ingin bertemu dengan Anda."
Lelaki itu memperkenalkan lelaki plontos itu pada Edgard dan mereka saling berjabat tangan.
"Baiklah, Tuan Edgard. Apa yang bisa kubantu?" tanyanya sambil mempersilakan lelaki itu duduk.
"Begini, maksud kedatangan saya untuk membangun pabrik obat-obatan di desa ini. Saya melihat ada tanah bagus di sekitar sini. Tanah yang ada di seberang sana bukankah itu tanah Anda?"
"Iya benar, itu tanah saya. Lebih tepatnya tanah keluarga."
"Hm, berapa Anda akan menjual tanah itu pada saya?" Edgard mulai bernegosiasi.
"Maaf Tuan, tanah itu tidak akan dijual karena telah dihibahkan oleh ayah saya untuk pemakaman warga."
Pria plontos itu terkekeh. "Ayolah, Tuan Abghair. Lebih baik tanah itu anda berikan pada saya dan saya akan bayar berapa pun yang Anda minta."
"Mohon maaf sekali, Tuan. Saya benar-benar tidak bisa menjual tanah itu pada Anda dan sampai kapan pun tanah itu tidak akan saya jual," tegasnya pada Edgard.
"Sombong sekali kau ini! Apa kau tidak tahu siapa aku? Hah?!" tanya lelaki itu dengan nada sedikit tinggi. Egonya terusik oleh ucapan Abighair.
"Saya tahu. Anda adalah orang berpengaruh di desa ini dan juga banyak berkontribusi untuk desa ini, tapi saya benar-benar minta maaf saya tidak bisa menjual tanah itu. Karena ayah saya sudah mewasiatkan untuk menghibahkan tanah itu untuk pemakaman warga." Abighair masih bersikap sopan pada lelaki itu.
Pria itu terdiam, dia melihat ada yang berbeda dari lelaki yang berada di hadapannya. Sepertinya guru itu tidak akan mudah diperdaya dengan uangnya.
"Aku sangat tidak suka dengan penolakan. Selama ini tidak ada seorang pun yang berani menolak kemauanku!! Aku akan datang beberapa hari lagi. Kuharap kau akan mempertimbangkannya kembali," ujar lelaki itu dengan nada mengintimidasi. Dia dan para bodyguard-nya pergi dari tempat itu.
"Tuan, Tuan tunggu dulu. Biar saya yang bicara pada Abghair tentang tanah itu. Anda jangan tersinggung," bujuk Coky padanya.
"Tidak apa-apa, Kepala Desa. Saya akan melakukan apa pun untuk mendapatkan tanah itu!" Terlihat sorot matanya yang menajam penuh ancaman.
Coky yang merasa tidak enak hati segera mengantarkan kepergian Edgard. Dia tidak ingin pria itu tersinggung kemudian tidak mau berkontribusi di desa mereka.

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel