"Dia adalah kiamat yang terbungkus daging, Bara.”
Suara Aruna terdengar hampa, seperti gema yang memantul dari dasar sumur yang tak berujung.
Bara mempererat dekapannya, merasakan getaran aneh yang merambat dari rahim Aruna ke telapak tangannya. Dentuman itu bukan detak jantung bayi biasa.
Itu adalah ritme mekanis yang berat, seperti mesin besar yang mulai berputar di bawah kerak bumi. "Aku tidak peduli apa pun yang ada di dalamnya, Aruna.”
Di hadapan mereka, pasukan tanpa wajah dari Dewan Tetua mulai membentuk barisan rapat. Pria berjubah emas yang berdiri di tengah barisan itu melangkah maju.
"Kau terlalu pongah untuk seorang Alpha yang baru saja mencicipi tetesan keabadian, Bara," ucap pria itu. "Nama saya adalah Silas Agung, pemimpin tertinggi Dewan Tetua.”
Silas Agung mengangkat tangannya. Seketika, ribuan kapsul yang mendarat di hutan terbuka secara serentak.
Bara menyadari bahwa situasi ini sudah melampaui batas kekuatannya. Meskipun ia telah meminum cairan keabadian dan menjadi Alpha Abadi, menghadapi pasukan pemusnah massal Dewan Tetua adalah upaya bunuh diri.
"Adrian! Jaka! Bawa Aruna ke altar titik pusat energi di belakang reruntuhan ini!"
"Lalu bagaimana denganmu?" teriak Adrian.
"Aku akan menahan mereka sebentar. Lakukan upacara pemutusan segel sementara agar Aruna tidak membeku! Cepat!"
Bara berbalik sepenuhnya menghadapi Silas Agung. Ia melepaskan sisa-sisa kemanusiaannya. Tubuhnya berderak hebat, otot-ototnya memuai hingga merobek sisa pakaiannya.
Raungan Bara memecah keheningan hutan, lebih dahsyat dari guntur yang paling hebat sekalipun.
Benturan pertama menciptakan ledakan kekuatan murni. Bara mencabik jirah baja prajurit hibrida itu seolah itu hanyalah kertas tipis.
"Hanya segitu?" Silas Agung mencemooh sembari mengetukkan tongkatnya ke tanah sekali lagi.
Seketika, senjata-senjata canggih di tangan para prajurit memancarkan sinar ungu pekat. Bara merasakan perih yang luar biasa saat sinar itu mengenai kulitnya.
Di titik pusat energi, Aruna berlutut di atas batu altar kuno yang dikelilingi oleh simbol-simbol bumi. Adrian dan Jaka bekerja dengan panik, mencoba mengaktifkan aliran energi alam dari dasar pegunungan.
"Aruna, kau harus fokus! Tarik energi dari tanah ini dan masukkan ke dalam rahimmu.”
Aruna memejamkan mata. Di dalam benaknya, ia melihat gambaran mengerikan. Sebuah kegelapan besar yang memiliki ribuan tentakel perak sedang mencoba merayap keluar dari sebuah pintu kecil.
"Dia bukan monster,” bisik Aruna di tengah transnya. "Dia hanya takut. Dia terjebak dalam memori purba yang bukan miliknya."
Tiba-tiba, ledakan besar terjadi di dekat altar. Bara terhempas ke arah mereka, tubuh serigalanya penuh dengan lubang menganga akibat senjata pemecah atom.
Silas Agung berjalan mendekat dengan tenang, dikelilingi oleh sisa-sisa pasukannya yang masih ribuan jumlahnya. "Cukup main-mainnya. Aruna, berikan janin itu secara sukarela.”
Bara mencoba bangkit, Silas Agung mengarahkan tongkatnya ke arah Bara, mengunci gerakan sang Alpha dengan tekanan gravitasi yang luar biasa. Tulang-tulang Bara mulai berderak di bawah tekanan tak kasat mata itu.
"Berhenti!" teriak Aruna. Ia berdiri tegak, auranya berubah.
Aruna melangkah menuruni altar. Setiap langkahnya membuat tanah di bawah kakinya berubah menjadi kristal bening.
"Aruna, jangan!" teriak Bara dengan sisa tenaganya.
Aruna menatap Silas Agung dengan tatapan yang sangat tenang, di balik ketenangan itu ada badai yang siap meledak. Ia meletakkan tangannya di atas perutnya, lalu perlahan mulai menarik cahaya perak itu keluar, bukan sebagai serum, melainkan sebagai untaian DNA murni yang bercahaya.
"Kau bicara tentang Splicer purba seolah-olah kau bisa mengendalikannya." Suara Aruna kini bergema dengan nada ganda.
Aruna melepaskan untaian DNA itu ke udara. Seketika, langit di atas Pegunungan Terlarang menjadi gelap gulita. Matahari tertutup oleh piringan perak raksasa yang muncul entah dari mana. Itulah Gerhana Perak yang sebenarnya.
Energi yang dilepaskan begitu besar hingga seluruh prajurit Dewan Tetua hancur menjadi abu dalam hitungan detik.
"Ini tidak mungkin! Bagaimana manusia sepertimu bisa mengakses kunci protokol akhir?"
Aruna tidak menjawab. Ia terus memancarkan energi hingga tubuhnya sendiri mulai retak-retak. Bara menyadari bahwa Aruna sedang melakukan proses bunuh diri demi memusnahkan Silas dan pasukannya.
Bara merangkak maju, mengabaikan gravitasi yang menghimpitnya. Ia meraih kaki Aruna. "Aruna, berhenti."
"Tidak ada jalan lain, Bara. Jika dia lahir sekarang, dunia akan berakhir.”
Tepat saat cahaya itu mencapai puncaknya, sebuah tangan keluar dari bayangan di belakang altar. Tangan itu bukan milik manusia, melainkan tangan yang tertutup sisik halus berwarna gelap, tapi memancarkan kehangatan.
Kekacauan itu berhenti seketika. Hening total menyelimuti hutan. Silas Agung tertegun, Bara terpaku, dan Aruna pingsan di pelukan sosok yang baru saja muncul tersebut.
Sosok itu mengenakan jubah lusuh yang menutupi seluruh tubuhnya, dari balik tudungnya, terlihat sepasang mata merah yang memancarkan kebijaksanaan kuno. Ia bukan bagian dari Dewan Tetua, dan ia bukan musuh.
"Siapa kau?" tanya Bara dengan nada penuh kewaspadaan sembari mencoba melindungi Aruna yang pingsan.
Sosok misterius itu menurunkan tudungnya, menampakkan wajah pria paruh baya yang memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit di dahi, tanda yang sama dengan yang ada di punggung Aruna.
"Aku adalah alasan mengapa ibunya harus berpura-pura mati selama dua puluh tahun." Suara pria itu berat dan berwibawa.
"Aku datang bukan untuk mengambil bayi itu, melainkan untuk melahirkan kembali aliansi yang telah kau lupakan, Alpha."
Bara menatap pria itu dengan kaget. "Kau ... Arlan? Ayah Aruna? Tapi Adrian bilang kau sudah wafat!"
Pria itu tersenyum tipis, lalu menatap ke arah Silas Agung yang masih gemetar di kejauhan. "Kematian hanyalah masalah perspektif bagi kami, para Penjaga.”
Aruna tiba-tiba tersentak bangun, napasnya memburu. Ia menatap pria di hadapannya dengan tatapan tidak percaya, tangannya segera mencengkeram lengan Bara dengan sangat kuat hingga kukunya menembus kulit Bara.
"Bara, dia bukan ayahku," bisik Aruna dengan nada yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
"Kalau kau bukan ayahku, lantas makhluk apa yang sedang berdiri di hadapanku ini dengan mengenakan wajahnya?" tanya Aruna dengan suara yang bergetar hebat sembari menunjuk ke arah bayangan pria itu yang tidak menyerupai wujud manusia sama sekali.