


oleh Bunga Hitam · 32 Bab
Mirna, Darni dan Midah adalah sasaran tumbal dari seseorang yang memuja pesugihan. Namun, keberuntungan selalu berpihak pada mereka. Kepolosan dan jiwa murninya menjadi tolak bala. Hingga si demit pesugihan itu sendiri yang kini memburu mereka. Apakah mereka dapat menyelamatkan diri dari kemarahan demit pesugihan ini?
"Nduk, mulai besok, kamu nggak usah ikut Ibu menoreh karet lagi."
"Loh, memang kenapa? Nanti yang akan bantu Ibu siapa?"
"Biar Ibu sendiri saja."
Gadis berperawakan sedang itu terdiam, dia sudah lulus SD dua tahun yang lalu, karena keterbatasan ekonomi, ia tak bisa menuntut banyak pada orang tuanya, untuk bisa melanjutkan sekolah. Penghasilan ibunya sebagai penoreh karet, hanya bisa untuk makan sehari-hari saja.
"Bu, izinkan aku tetap menoreh. Terus, kalau di rumah, aku mau ngapain, mending ikut bantuin Ibu."
Ibunya terdiam, entah bagaimana harus menjelaskan pada anaknya, bahwa dirinya sudah dijual oleh suaminya pada juragan Baskoro, karena telah kalah berjudi.
"Nduk, besok Ibu juga mau ke rumahnya Bu Nandar, kamu di rumah Bibi Darni dulu, ya. Pokoknya jangan sendirian di rumah," pesan aneh dari ibunya, membuat anak perempuannya mengernyitkan dahinya heran.
"Lah, aku biasanya juga sendiri Bu. Palingan, main ke rumah Mira sama Rahma."
"Tapi, mulai besok, nggak! Nurut sama ibu, Nduk." Air matanya mulai luruh berderai.
****
Namanya Hamidah Nur Laela. Nama yang indah. Gadis pra-remaja berumur hampir 14 tahun. Berwajah cantik, khas asli dari desa. Pipi gembil, berambut ikal mayang, karena terlalu sering terikat oleh karet gelang, rambutnya tampak jadi bergelombang.
Midah, begitu panggilan namanya, anak kedua, yang juga merupakan anak bungsu dari pasangan suami istri Rojak dan Mirna. Anak pertama mereka adalah Seno. Ia menjadi kuli bangunan di kota
Mirna tak mau beradu mulut dengan suaminya, karena jenuh dan tak pernah ada titik penyelesaian.
Namun, kali ini, Mirna marah sejadi-jadinya saat tahu, anak gadisnya sudah dijualnya.
"Aku kalah berjudi, Bu," katanya malam itu.
"Halah! Alasan! Kau boleh nyakitin hatiku, Pak! Tapi kalau anakku sampai terlunta-lunta, aku nggak terima! Aku yang membesarkannya, aku pula yang memenuhi segala kebutuhannya. Andilmu apa, Pak!" Mirna menepuk dadanya yang terasa sakit karena amarah.
Rojak hanya diam saja. "Tapi, juragan Baskoro, mau menikahinya, aku sudah berikan uang panjer, Bu."
"Aku nggak mau tahu, Pak. Entah yang ada dalam pikiranmu, Masya Allah, Pak!" Akhirnya wanita itu pun, menangis sejadi-jadinya, tangannya terus memukuli lengan suaminya.
Rojak hanya diam saja. Ada rasa menyesal dalam hatinya. Tapi apa daya, uang panjer sebesar 500 ribu, sudah amblas, habis di meja judi.
Suara tangisan Mirna tak henti-henti, lagi-lagi, Rojak hanya meninggalkan istrinya tanpa ada sebuah penyelesaian masalah.
"Tekadku, sudah bulat, Pak. Biar Midah ikut Bu Nandar saja ke kota. Aku nggak ikhlas, Midah dijadikan istri yang ke lima, jangan pernah membantah keputusanku, Pak! Hutangmu sama juragan Baskoro, aku nggak ikutan!" Mirna bicara tegas pada suaminya. Tanpa memberi kesempatan ngomong pada suaminya. Dirinya langsung meninggalkan lelaki berkulit legam itu begitu saja. Rojak menatap istrinya dalam tatapan nanar.
"Maafkan aku Bu, aku juga nyesel. Lalu aku harus gimana?!!"
"Aku nggak peduli, Pak. Yang penting, anakku jangan sampai jadi istri juragan Baskoro!" teriak Mirna dari dalam kamarnya.
***
Hari ini, Midah, berada di rumah Bibi Darni, adik kandung ibunya.
"Midah, malam nanti, kita ke rumah Bu Nandar ya, kamu mau nggak ikut kerja ke kota?" tanya Darni.
Midah terdiam, kerja ke kota?
"Bibi, di kota, kerja apa?"
"Asisten rumah tangga, bisa juga mengurus anak, atau kerja di warung makan."
Gadis itu menunduk mendengar jawaban bibinya yang saat ini sedang hamil besar.
"Dulu, aku juga pernah kerja di kota, Bu Nandar yang bawa, terus jadi asisten rumah tangga di rumah gedong, rumahnya artis."
"Apa iya, Bibi? Enak nggak kerja di kota? Aku nggak mau ninggalin Ibu sendirian. Niat aku, ingin kerja bareng Ibu, menoreh karet atau membantu di rumah Bu Nandar juga boleh, asal jangan jauh-jauh dari Ibu." Air mata Midah, sudah menetes. Darni beralih duduk dekat Midah.
"Mau ya, ikut Bu Nandar, kerja di kota saja, jangan di sini. Biar ibumu, sama Bibi, jangan khawatir. Aku akan menjaga ibumu."
"Bibi, sebenarnya ada apa? Mengapa aku tak boleh bersama ibu, kenapa?"
Darni mendesah panjang. Wanita yang terlihat kuyu itu memandang kemenakannya pilu.
"Begini, Midah ..." Belum juga Darni menceritakan hal tersebut.
"Tunggu! Darni. Ayo, kita ke Bu Nandar." Tiba-tiba, Mirna datang, matanya berkedip memberi kode pada adiknya agar tak menceritakan pada Midah.
Rencana Mirna agar menjauhkan Midah dari Desa Pening ini. Setidaknya ia bisa bekerja untuk biaya hidupnya sendiri. Di samping untuk menghindari juragan tua bangka yang menggebu ingin menikahi Midah.
"Iya, Mbak. Ayo, Midah, kita ke rumah Bu Nandar," ajak Darni kemudian. Dirinya segera menutup mulutnya rapat-rapat, masalah Midah yang sudah dijual kepada juragan Baskoro.
Ketiga wanita beda generasi itu, berjalan menelusuri jalanan, malam ini suasana terasa sepi, tak seperti biasanya. Jalanan tampak temaram karena hanya ada lampu berdaya 5 watt sebagai penerangan jalan yang kini mereka lewati. Mirna sudah siap siaga membawa senter untuk berjaga-jaga. Tangan Mirna, menggandeng kencang tangan Darni, karena kondisi adiknya yang sedang berbadan dua.
Midah, memegang lengan bibinya erat-erat. Tubuhnya sengaja berimpit dengan tubuh Darni. Hawa dingin pegunungan membuat langkah mereka sedikit terkendala. Dingin yang menusuk tulang persendian.
Tak ada lima belas menit, sampailah di sebuah rumah besar dengan lantai keramik berwarna hijau lumut.
"Mbak, kenapa perasaanku nggak enak? Pulang aja, yuk." Darni menggenggam erat tangan kakaknya.

Bunga Hitam
76 Pengikut · 10 Novel