


oleh Bilasyahrah · 26 Bab
Seratus lima puluh tahun lalu, penyihir Helena Ashwood dikhianati dan dibantai. Kini, ia lahir kembali sebagai Selena Blackthorn, putri pack serigala dengan satu misi yaitu balas dendam. Namun, takdir mempertemukannya dengan Ezequiel, Alpha tangguh yang mengklaimnya sebagai soulmate. Selena terjebak antara cinta sang Alpha dan taktik manipulasi terhadap musuhnya, Kieran. Puncaknya, sebuah pengkhianatan di ritual suci memaksa Selena mengungkap jati diri aslinya. Bersama kekuatan sihir gelap dan perlindungan Ezequiel, ia siap membakar masa lalu. Jika dendam telah tuntas, tapi apakah cinta sang Alpha mampu menerima monster di dalam dirinya?
Terkadang, menjadi monster adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup di dunia yang lebih kejam daripada kegelapan itu sendiri. - Helena
Helena Ashwood, seorang penyihir gelap yang kini terbaring di genangan darahnya, memandang ke langit dengan senyum tipis di bibirnya yang mulai memucat. Bulan purnama menggantung tinggi di atas, memberikan cahaya yang redup tapi terang di tengah hutan hening. Tubuh Helena terbaring lemah, sihirnya telah terkuras habis setelah pertarungan sengit dengan Kendrick Greene, salah satu anggota The Dusk Hunters yang paling ditakuti.
Tragedinya bukan terletak pada kejahatan yang ia lakukan, melainkan pada identitas yang tidak pernah ia pilih. Helena tidak bersalah atas tuduhan konspirasi yang dilemparkan kepadanya. Ia hanyalah seorang penyihir yang terjebak dalam jaringan kebohongan dan pengkhianatan yang ditenun oleh mereka yang takut akan kekuatannya. Namun, dalam dunia yang memandang keadilan sebagai barang mewah, statusnya sebagai penyihir gelap sudah cukup untuk menjatuhkan vonis mati tanpa perlu adanya pengadilan.
Kegelapan dalam sihirnya bukanlah sebuah pilihan moral, melainkan warisan dari garis keturunan yang dikutuk sejak lahir. Darahnya membawa residu kuno yang menuntut cara hidup berbeda. Benar, ia melakukan ritual dengan darah hewan, dan benar bahwa ia telah membunuh. Namun, setiap nyawa yang ia ambil adalah demi kelangsungan hidup, bukan karena haus darah yang acak. Helena bukanlah predator, ia adalah penyintas.
Ia memegang teguh satu prinsip di tengah stigmatisasi yang mengimpitnya. Ia tidak pernah melepaskan kutukan atau serangan sihir jika bukan untuk mempertahankan diri. Setiap mantra yang ia rapalkan adalah reaksi dari serangan yang lebih dulu datang kepadanya.
Kini, saat langkah kaki para pemburu semakin mendekat dalam kegelapan, Helena menyadari bahwa kebenaran tidak akan menyelamatkannya. Di mata dunia, ia adalah monster, dan terkadang, menjadi monster adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup di dunia yang kejam ini.
Bayangan wajah Kendrick yang memerah karena amarah masih terpatri jelas di benak Helena. Pria itu datang bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk melampiaskan kebencian yang sudah lama membusuk. Tuduhan itu begitu rapi; sebuah penyerangan brutal di desa kecil yang menyisakan mayat-mayat berserakan, dengan jejak sihir gelap yang sengaja ditinggalkan untuk menyeret namanya. Padahal, saat itu Helena tengah mengasingkan diri, berusaha meredam kutukan dalam darahnya agar tidak meluap.
Dunia supranatural yang munafik ini selalu membutuhkan kambing hitam. Dengan dalih menjaga "kerahasiaan identitas", mereka menjatuhkan vonis mati tanpa memberi Helena kesempatan untuk bicara. Bagi mereka, keberadaan penyihir dari garis keturunan terkutuk sepertinya adalah anomali yang harus dihapuskan. Ironisnya, mereka yang mengaku menjaga ketertiban justru menggunakan kebohongan untuk menghancurkan hidup seseorang.
Tawa kecil Helena kembali pecah, kali ini lebih pedih. Ia menyadari bahwa sejarah keluarganya hanyalah pengulangan dari tragedi yang sama. Ia teringat ibunya, seorang wanita kuat yang justru menemui ajal secara rendah di tangan manusia—sebutir peluru dingin menembus jantungnya sebelum ia sempat merapalkan mantra pelindung. Ayahnya lebih tragis lagi, tubuhnya dicabik-cabik oleh sekumpulan rogue serigala yang rakus, mati dalam genangan darah tanpa martabat.
Ia merasa telah gagal, sama seperti orang tuanya yang gagal melindungi diri mereka sendiri. Warisan kutukan ini tidak hanya tentang kekuatan gelap, melainkan tentang kesepian dan takdir untuk selalu diburu. Namun, saat ia merasakan getaran sihir di ujung jemarinya, sebuah tekad baru muncul. Jika ia memang harus mati seperti keluarganya, ia tidak akan membiarkan mereka yang menjebaknya menang dengan mudah. Ia akan memastikan bahwa para pemburu itu tahu mengapa garis keturunannya begitu ditakuti.
Sambil memejamkan mata, Helena merasakan darah hangat yang terus mengalir dari lukanya. Tusukan di perut dada dan lengannya. Belum lagi peluru yang bersarang di punggungnya. Namun, dia juga merasakan sesuatu yang lain—sebuah kekuatan yang aneh nan akrab, perlahan-lahan bangkit dari dalam dirinya. Bulan purnama, simbol kekuatan bagi banyak penyihir, tampaknya menyinari lebih dari sekadar cahayanya.
Ini adalah malam kebangkitan.
"Apakah ini sudah waktunya?" gumam Helena, hampir tidak terdengar.
Dia tahu, bahwa sihir gelap yang telah dia kuasai tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja. Ada janji yang pernah dibuat, sebuah perjanjian yang diikat dengan darah dan sumpah. Jika Helena jatuh, dia akan bangkit kembali—lebih kuat, lebih berbahaya, dan dengan dendam yang membara di hatinya.
Kendrick mungkin telah memenangkan pertarungan ini, tapi dia belum memenangkan perang. Helena tahu, ini belum berakhir. Dengan sisa kekuatannya, dia merapal mantra terakhir, mantra yang telah dia simpan hanya untuk saat seperti ini. Sanguis Revertat Lux Tenebris, Kata-kata kuno mengalir dari bibirnya, diiringi dengan energi yang mengalir melalui tubuhnya, merespon panggilan dari sihir yang tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Ketika Helena mengucapkan kata-kata terakhir dari mantranya, dunia seolah berhenti. Udara menjadi berat, dan bulan purnama tampak bersinar lebih terang, seakan merespon panggilannya. Tubuhnya yang lemah mulai memudar, kematian Helena Ashwood bersama dengan hening hutan.
Ia, penyihir yang dikhianati oleh dunia yang dia coba hindari, akan bangkit kembali. Ketika itu tiba ia bukan hanya sebagai penyihir gelap, tetapi sebagai sesuatu yang lebih—dengan identitas baru dan mungkin kekuatan baru, ia akan memburu keturunan dari pria itu.
Dengan tawa kecil terakhirnya, tubuh Helena menghilang sepenuhnya, meninggalkan dunia untuk sementara waktu. Tapi dia akan kembali, dan ketika itu terjadi, tak seorang pun, bahkan The Dusk Hunters, akan siap menghadapi kekuatan yang telah dia bangkitkan dari dalam jiwanya yang telah dihidupkan kembali.

Bilasyahrah
6 Pengikut · 3 Novel