“Ya, saya sudah bilang, saya pamit. Berhenti bersikap seperti detektif moralis, Dimas. Lagi pula, ini adalah simbiosis yang saling menguntungkan. ‘Silaturahmi’ yang saya lakukan adalah bagian dari negosiasi bisnis, dengan sedikit bumbu tambahan, tentu saja. Saya rasa, beliau menikmatinya,” ujar Aria, nada suaranya tajam, memantul dari dinding bata basah.
Ia berjalan tergesa, sepatu kulit mahalnya menggesek kerikil di lorong yang seharusnya tidak pernah dilewati oleh seorang eksekutif sekelas dirinya. Lorong ini, jalan pintas menuju kemewahan apartemennya, adalah pertaruhan yang ia nikmati, sebuah tantangan kecil yang memuaskan kesombongan tersembunyinya.
“Anda meremehkan malam Jakarta, Ri. Saya hanya mengingatkan, ada aura tak menyenangkan belakangan ini. Kota ini menyimpan banyak legenda yang menunggu untuk bangkit. Berjalan sendirian di gang seperti itu pukul segini, setelah apa yang Anda lakukan, itu bukan keberanian, itu kesombongan,” balas Dimas dari seberang telepon, suaranya terdengar cemas dan penuh peringatan.
Aria mendengkus dingin. “Legenda hanyalah dongeng untuk menakut-nakuti anak kecil dan orang-orang cemas sepertimu, Dim. Saya percaya pada data dan logika, bukan hantu. Ini Jakarta, bukan kuburan. Sudah, ya. Saya harus tidur. Besok saya akan kirim draf kesepakatan klien baru itu. Selamat malam.”
Aria memutuskan panggilan itu dengan gerakan cepat, mengabaikan protes terakhir Dimas. Pukul 01.48 WIB. Keheningan yang tidak wajar menyelimuti lorong itu, seolah semua suara telah ditarik paksa oleh kegelapan.
Aria memasukkan ponsel ke saku, merasakan sensasi yang aneh. Udara. Jakarta yang dikenal dengan hawa panas dan lembapnya, kini terasa dingin.
Dingin yang tidak normal, dingin yang menusuk tulang, seperti hawa yang merambat dari ruang bawah tanah yang lembap, seolah musim gugur yang keliru baru saja menyerbu ibu kota tropis.
Lampu merkuri di ujung lorong berkedip putus-putus, memancarkan cahaya kuning pucat yang hanya memperparah bayangan, membuatnya bergerak-gerak seperti entitas yang sedang mengintai.
Saat ia melintasi reruntuhan tembok tua, sebuah sensasi mencekik menyerang indra penciumannya.
Aroma itu begitu tebal dan manis, memenuhi setiap rongga udara, mengalahkan bau got, bau asap knalpot, dan bau busuk yang menjadi ciri khas gang kota.
Itu adalah aroma melati. Bukan melati yang segar, yang memanggil kenangan indah. Ini adalah melati yang layu, basah oleh embun, berbau seperti dupa yang terbakar habis, dan yang lebih mengerikan, berbau seperti duka yang pekat, sebuah kesedihan yang telah membatu.
Aria menghentikan langkahnya, nalurinya yang selama ini hanya melayani kesenangan mulai berbisik tentang bahaya yang tidak terdefinisikan.
"Bau apa ini?" gumamnya, tenggorokannya tercekat. Bau itu terlalu kuat, sebuah anomali yang terasa seperti intervensi supernatural yang dipaksakan ke dunia logisnya.
Matanya menyapu kegelapan. Di bawah keremangan cahaya rembulan yang samar-samar menembus celah atap seng, ia melihatnya.
Siluet seorang wanita. Posturnya tegak, anggun, mengenakan gaun putih panjang yang terlihat usang, hampir seperti kain kafan yang basah. Rambutnya hitam legam, tergerai menutupi punggungnya. Aura kesendirian yang pahit memancar darinya, sebuah keheningan abadi yang terasa lebih mengancam daripada teriakan.
Seketika, rasa dingin di udara dan rasa takut yang samar-samar itu tenggelam oleh dorongan primal Aria. Ia adalah pemburu. Kecantikan misterius di kegelapan adalah undangan yang tak tertahankan. Ia harus mendekat, harus menaklukkan.
“Permisi, Nona,” sapa Aria, suaranya dipaksakan terdengar percaya diri, meskipun ada getaran samar. “Malam selarut ini, sendirian di tempat yang sepi? Itu bukan ide yang bagus. Apalagi bagi wanita secantik Anda.”
Wanita itu tidak merespons. Namun, kepalanya sedikit miring. Gerakan minimalis itu mengirimkan gelombang dingin yang lebih kuat, seperti embusan angin yang datang dari dalam bumi.
Aria mendekat, semakin terbius oleh aroma melati yang kini terasa seperti kabut tebal yang dingin, mengikatnya dalam perangkap yang mematikan. Ia bisa melihat kulitnya yang pucat, terlalu pucat, tampak seperti porselen yang retak di bawah cahaya redup.
“Anda cantik sekali,” bisik Aria, kini berdiri sangat dekat, tangannya terangkat hendak menyentuh bahunya. “Saya Aria. Mungkin saya bisa menemani Anda, atau setidaknya mengantar Anda pulang?”
Perlahan, tubuh wanita itu berputar. Gerakannya kaku dan mengerikan, seperti boneka yang digerakkan oleh tali yang usang. Aroma melati itu meledak, bercampur dengan bau anyir yang menjijikkan dan bau tanah basah.
Wajahnya, meskipun sempurna, adalah kanvas kengerian. Matanya terbuka lebar, tidak memiliki pupil, hanya dua bola mata putih keruh yang memancarkan penderitaan tak terbatas. Senyum tipis yang terukir di bibirnya adalah perpaduan duka dan dendam.
“Saya mencari yang harusnya sudah lama saya temukan.” Suara wanita itu berbisik, nadanya lirih dan indah, terdengar seperti desisan kain kafan yang diseret di lantai batu. “Anda, Anda adalah salah satu pengingatnya.”
Kengerian murni menyergap Aria. Logikanya hancur berantakan. Ia mundur, tersandung. “Saya, saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Saya harus pergi.”
“Tidak akan ke mana-mana,” bisik suara itu, kini terdengar tepat di belakang tenggorokan Aria, sebuah kedekatan yang mustahil. “Anda adalah perwujudan dari dosa yang sama. Pengkhianat. Pemburu nafsu. Kalian semua melupakan janji. Kalian semua menanggung dosa yang sama.”
Tubuh Aria membeku, jiwanya terperangkap dalam teror. Wanita itu kini berada di hadapannya lagi, matanya yang kosong menusuk jiwanya.
Tawa lirih, melengking, penuh kesedihan, mulai terdengar, menusuk gendang telinga Aria, merusak akal sehatnya. Ia merasakan kekuatan tak terlihat memaksanya untuk tetap menatap. Kemudian, wanita itu perlahan mengangkat gaun putihnya di bagian belakang.
Di balik kain kusam itu, sumber bau anyir yang mematikan itu tersingkap. Di punggungnya, sebuah lubang hitam menganga mengerikan, dikelilingi oleh daging yang robek dan darah kering. Lubang itu tampak seperti jurang kecil, pintu menuju kehampaan, sebuah kekosongan yang dihiasi rongga gelap, simbol kematian yang terlahir dari pengkhianatan. Itu adalah lubang yang memakan segalanya, termasuk sisa-sisa kewarasan Aria.
Jeritan Aria tersangkut di tenggorokannya. Ia ambruk, tubuhnya kejang oleh kengerian yang melampaui pemahaman manusia. Tangannya secara refleks meremas selembar nota pembelian yang mahal, sebuah pengingat terakhir akan dunia material yang kini terasa jauh.
Kertas itu robek, bunyi lirihnya ditelan oleh tawa pilu sang arwah. Kegelapan, dingin, dan aroma melati yang memabukkan menelan kesadaran Aria sepenuhnya, meninggalkannya dalam pelukan teror yang beku.