

Rana, seorang data scientist jenius, diam-diam menjadikan Gaspar—seniman suara yang anti-teknologi—sebagai subjek eksperimen algoritma cintanya. Niat hati ingin menyempurnakan data, Rana malah jatuh cinta pada satu-satunya pria di Jakarta yang tidak bisa dibaca oleh mesin. Ketika aplikasinya memvonis hubungan mereka sebagai "bencana", Rana harus melawan ciptaannya sendiri.
Jakarta sore ini seperti seorang pelacur tua yang menangis luntur bedaknya; menor, basah, dan belepotan lumpur. Langit menumpahkan air seolah-olah malaikat di atas sana sedang patah hati massal. Jalanan Cikini berubah menjadi sungai kecil berarus hitam, menyeret puntung rokok, plastik cilok, dan dosa-dosa urban lainnya menuju selokan yang mampet.
Bagi kebanyakan orang, ini neraka. Bagi Gaspar, ini opera.
Lelaki itu berdiri mematung di emperan sebuah toko alat tulis tua yang sudah tutup sejak krisis moneter 98. Ia memegang payung hitam besar yang salah satu rusuknya patah, membuatnya tampak seperti bangsawan bangkrut dari era kolonial yang tersesat di abad 21. Matanya terpejam. Ia tidak sedang berdoa, melainkan sedang menyerap.
Di saku kemeja flanelnya yang kedodoran—yang menebarkan aroma apek tembakau bercampur kapur barus—menyembul sebuah alat perekam suara Zoom H6 dengan windshield bulu-bulu kasar. Kabel headphone melilit lehernya seperti ular sanca jinak.
Dia sedang merekam suara ban bajaj yang melindas genangan air. Srrrattt!
Bunyi itu seksi. Ada tekstur kasar aspal yang beradu dengan karet ban vulkanisir, menciptakan gesekan bariton yang purba. Bagi telinga Gaspar yang terlatih, bunyi itu lebih jujur daripada janji politisi di baliho yang basah kuyup di seberang jalan.
Gaspar adalah anomali. Di zaman edan di mana manusia lebih sering menunduk menatap layar kaca lima inci—seolah nyawa mereka tersedot ke dalam lubang hitam piksel—Gaspar memilih menjadi fosil. Dia tidak punya ponsel pintar. Di saku celana jinsnya yang belel, hanya ada Nokia 3310. Benda itu lebih sering mati karena dia lupa men-charge, atau mungkin, tindakan mbalela yang disengaja.
"Dunia makin bising, tapi makin sepi," gumamnya. Mengutip filsuf antah-berantah, atau mungkin cuma tulisan di belakang truk pantura.
Tiba-tiba, harmoni hujan itu dirusak.
Seorang perempuan muda berlari menerobos hujan, langkah kakinya panik tak-tak-tak menghantam trotoar. Dia masuk ke emperan yang sama, mengibaskan rambut bob asimetrisnya yang basah. Aroma tubuhnya langsung menginvasi teritori penciuman Gaspar. Bau parfum mahal. Campuran vanila, musk, dan aroma uang digital yang dingin.
Perempuan itu sibuk luar biasa. Jempolnya menari lincah di atas layar iPhone keluaran terbaru yang kameranya ada tiga, persis mata Batara Guru. Wajahnya tegang. Urat lehernya menonjol halus.
"Sinyal ampas! Dasar provider kapitalis! Giliran nagih tagihan secepat kilat, giliran hujan leletnya kayak otak udang!" umpat perempuan itu kasar.
Gaspar membuka mata. Dia menoleh pelan.
Perempuan itu cantik. Titik. Wajahnya tegas, dibingkai kacamata berim tortoiseshell yang memberinya aura intelektual tapi galak. Dia seperti karakter dari film nouvelle vague Prancis, tapi dengan kecemasan khas karyawan SCBD yang dikejar deadline.
"Mbak," panggil Gaspar. Suaranya berat, berpasir, jenis suara yang cocok untuk mendongengkan kisah hantu di radio tengah malam.
Perempuan itu menoleh, kaget. "Ya?"
"Kalau marah-marah sama sinyal, nanti hujannya makin deras. Langit itu sensitif, dia tidak suka dibentak," kata Gaspar datar.
Perempuan itu melongo. Alisnya yang dibentuk presisi di salon mahal bertaut. Dia mendengkus. Dengkusan yang menghina. "Kamu dukun cuaca atau orang gila?"
"Saya seniman," jawab Gaspar kalem.
"Sama saja. Dua-duanya biasanya nggak punya duit dan suka halu," balasnya ketus. Dia kembali menatap layarnya dengan frustrasi. "Aku lagi urgen. Kamu ada tethering nggak? Hotspot? Aku bayar deh kuotanya dua kali lipat."
Gaspar tersenyum miring. Dia mengeluarkan Nokia 3310 bututnya. "Maaf, Mbak. Benda ini cuma bisa buat nimpuk anjing gila atau main Snake. Tidak ada wi-fi, tidak ada hotspot, tidak ada drama."
Perempuan itu menatap hp butut itu dengan tatapan ngeri, seolah Gaspar baru saja mengeluarkan bangkai tikus. "Kamu ... hidup di gua? Kamu teroris yang lagi sembunyi?"
"Saya hidup di Jakarta. Cuma saya memilih merdeka dari perbudakan silikon." Gaspar menyalakan rokok kretek. Bunyi korek api gesek terdengar nikmat. Asap mengepul, beraroma cengkeh manis, bertabrakan dengan bau vanila si gadis. "Namaku Gaspar."
Perempuan itu tampak ragu. Dia ingin lari, tapi hujan di luar sana seperti air bah. Ojek online di aplikasinya tak kunjung nyantol. Akhirnya dia menyerah.
"Rana," jawabnya singkat.
"Nama yang bagus. Rana. Seperti shutter kamera. Bukaan cahaya. Atau rana dalam arti hati yang sedih?"
Rana terdiam. Tumben. Biasanya laki-laki akan memuji namanya cantik. Pria gembel ini bicara teknis optik. "Kamu tahu fotografi?" tanyanya, nada suaranya turun satu oktaf.
"Sedikit. Saya tahu banyak hal trivial yang tidak berguna buat karier." Gaspar mengisap kreteknya. "Contohnya, saya tahu kalau suara hujan hari ini nadanya di kunci D minor. Sedih, tapi pasrah. Beda dengan hujan kemarin yang agresif."
Rana tertawa. Tawa yang renyah, lepas dari protokol sopan santun kantor. "Kamu aneh, Gaspar. Sumpah."
"Dan Anda kecanduan, Rana. Sumpah."
"Aku kerja. Ini namanya produktivitas."
"Itu namanya distraksi. Badannya di Cikini, jiwanya di Cloud."
Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah melaju kencang, melibas genangan air keruh tepat di depan mereka. Byuurrr!
Refleks Gaspar bekerja lebih cepat dari algoritma manapun. Dia menarik lengan Rana, memutar tubuh gadis itu ke arah dinding, dan membiarkan punggungnya sendiri menjadi tameng. Punggung kemeja flanelnya sukses menerima semprotan lumpur air got.
Hening sejenak. Posisi mereka sangat dekat. Gaspar bisa melihat pori-pori wajah Rana yang tertutup bedak tipis. Rana terpaksa mencium bau tembakau dan keringat Gaspar yang anehnya... menenangkan. Maskulin. Seperti bau lemari kayu jati tua.
Detak jantung Rana, yang selalu dimonitor jam tangan pintarnya, melonjak. Bzzt! Jamnya bergetar. High Heart Rate Alert: 115 bpm.
Rana tersentak mundur. Wajahnya merah padam. Bukan malu, tapi kaget karena tubuhnya bereaksi di luar logika.
"Trims," gumam Rana kaku.
"Baju saya yang kotor. Anda aman. Zero damage," kata Gaspar santai sambil mengibaskan punggungnya yang basah kuyup.
Sebuah taksi biru lewat. Gaspar menyetopnya manual—melambai santai. Taksi berhenti.
"Silakan, Mbak Rana. Sinyal mungkin jelek, tapi taksi ini nyata," Gaspar membukakan pintu.
Rana masuk. Sebelum pintu ditutup, dia menatap Gaspar lagi. Pria itu basah, kucel, tapi tersenyum merdeka.
"Gaspar!" seru Rana.
"Ya?"
"Hp butut kamu itu ... nomornya berapa?"
Gaspar tertawa, lalu menyebutkan deretan angka. Rana mengetiknya cepat di notes.
Taksi berlalu, meninggalkan Gaspar yang kembali sendirian mengecek alat perekamnya. "Sial. Tadi lupa direkam. Suara jantungnya kencang sekali. Bagus buat sampel film horor."
Di dalam taksi, Rana tidak menyimpan nomor itu di kontak. Dia membuka aplikasi beta ciptaannya, Project Cupid. Dia memasukkan nomor Gaspar ke fitur Deep Search.
Sistem memproses Big Data. Mencari jejak digital. KTP, sosmed, bank, ojek online.
Ting! Hasil keluar di layar dengan warna merah menyala:
DATA NOT FOUND. Subject has no digital footprint. Ghost Profile.
Rana terbelalak. Dia tersenyum. Senyum seorang ilmuwan yang menemukan spesies langka.
"Menarik," bisiknya. "Hantu."
Jemarinya mengetuk layar. Matanya berkilat penuh ambisi. Dia butuh data ini. Dia butuh subjek ini untuk eksperimennya.
Begitulah bencana itu dimulai. Bukan dengan ledakan, tapi dengan satu entri data yang kosong melompong.

Love emak
1 Pengikut · 2 Novel