


oleh Cats Whitening · 22 Bab
Ridwan mengira pengorbanannya demi kesuksesan Rita, wanita yang sangat dicintainya, akan berbuah manis. Ia rela merelakan mimpi-mimpinya dan bekerja tanpa kenal lelah agar Rita bisa meraih cita-cita tertinggi di kota besar. Namun, roda kehidupan berputar kejam. Saat Rita akhirnya berdiri di puncak kesuksesan dan kemapanan, dunia Ridwan justru runtuh. Bukan rasa terima kasih yang ia dapatkan, melainkan pengkhianatan pedih dan kesunyian yang mencekam. Ketika tangis Ridwan menjadi landasan tawa kemenangan Rita, akankah cinta tulus ini bertahan, atau justru berubah menjadi dendam yang membakar?
“Mas, kalau nanti aku sudah lulus kuliah dan bekerja di kota besar, apa kamu tidak takut aku akan berubah dan meninggalkan kamu di sini?” tanya Rita pelan, jemarinya sibuk merapikan lembaran kertas tugas akhir yang berserakan di atas meja kayu yang sudah lapuk dimakan usia.
Ridwan yang sedang duduk bersila di sudut ruangan, memperbaiki engsel pintu lemari yang copot dengan obeng tua, menghentikan kegiatannya sejenak.
Ia mengangkat wajah, menatap wanita yang telah menemaninya melewati tahun-tahun penuh perjuangan di kota kecil ini. Senyum tipis terukir di bibirnya, menyembunyikan rasa lelah yang teramat sangat di balik sorot matanya yang teduh.
“Kenapa bicara begitu, Rita? Aku tidak pernah takut kehilanganmu karena mimpimu adalah mimpiku juga. Kalau kamu sukses di kota besar sana, itu artinya pengorbanan kita berdua tidak sia-sia. Aku di sini akan terus bekerja keras mendukungmu sampai kamu berdiri di puncak cita-citamu,” jawab Ridwan lembut, menenangkan kecemasan yang tiba-tiba merayap di dada kekasihnya.
Rita menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Ridwan. Ada rasa bersalah yang kadang kala mencubit hatinya setiap kali ia melihat betapa keras pria itu bekerja demi membiayai kuliahnya. Namun, ambisi besar yang tertanam di dalam dadanya sering kali mengalahkan rasa iba tersebut. Bagi Rita, hidup pas-pasan di bawah atap rumah kontrakan sempit ini adalah sebuah mimpi buruk yang harus segera diakhiri.
Suasana kembali senyap, hanya ditemani oleh suara derik kipas angin usang yang berputar lambat, berusaha mengusir udara malam yang terasa gerah di dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter itu. Rumah kecil itu terletak di sebuah gang sempit di pinggiran kota kecil, jauh dari kemewahan dan hingar-bingar modernitas. Dindingnya yang terbuat dari separuh tembok dan separuh kayu sudah mulai mengelupas di sana-sini, memperlihatkan tekstur bata merah yang kusam.
Ridwan kembali melanjutkan pekerjaannya. Telapak tangannya yang kasar dan penuh dengan bekas luka goresan serta noda oli memperlihatkan betapa berat pekerjaan yang ia jalani setiap hari. Demi membiayai uang kuliah semester akhir Rita dan kebutuhan hidup mereka sehari-hari, Ridwan tidak pernah memilih-milih pekerjaan. Pagi hari ia bekerja sebagai buruh di gudang beras milik Haji Mahmud, siang harinya ia menjadi tukang bengkel panggilan, dan malam hari terkadang ia membantu menjaga keamanan pos ronda atau memperbaiki perabotan tetangga yang rusak.
***
Semua peluh, lelah itu ia jalani tanpa mengeluh sedikit pun. Di mata Ridwan, Rita adalah perempuan istimewa yang memiliki kecerdasan luar biasa dan potensi besar untuk mengubah nasib keluarga mereka kelak. Ridwan rela merelakan pendidikannya sendiri yang terhenti di bangku sekolah menengah atas demi melihat Rita mengenakan toga kelulusan dan meniti karier cemerlang di ibu kota.
“Sudah malam, Rita. Istirahatlah. Besok kamu harus bangun pagi untuk mengikuti bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingmu,” ujar Ridwan sambil membereskan peralatan pertukangannya dan memasukkannya kembali ke dalam kotak plastik kusam.
“Iya, Mas. Kamu juga jangan bekerja terlalu malam. Aku tahu badanmu pasti sakit semua habis mengangkat karung beras seharian di gudang,” balas Rita sambil menutup buku-bukunya dan beranjak menuju tikar usang yang menjadi tempat tidur mereka setiap malam.
Malam semakin larut, menyelimuti rumah kecil itu dalam keheningan. Di luar, rintik hujan mulai turun membasahi seng atap rumah, menciptakan suara berisik yang konstan. Ridwan berbaring menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh noda air hujan dari kebocoran masa lalu. Pikirannya melayang jauh ke depan, membayangkan hari di mana Rita benar-benar sukses.
Di dalam bayangannya, Ridwan melihat Rita tersenyum bahagia di sebuah gedung perkantoran megah, mengenakan pakaian rapi berkelas, sementara ia sendiri tetap berdiri di belakang sebagai pendukung setianya yang setia. Ridwan sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa kesuksesan yang ia dambakan itu justru akan menjadi pisau bermata dua yang perlahan-lahan merobek dada dan menghancurkan seluruh dunianya berkeping-keping.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan rutinitas yang sama. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari sempat memunculkan sinarnya secara utuh di balik bukit, Ridwan sudah melangkah keluar rumah dengan sepeda motor tuanya yang mengeluarkan bunyi kepulan asap tipis dari knalpotnya.
Ia menuju gudang beras tempatnya mengais rezeki. Pekerjaan itu menuntut kekuatan fisik yang luar biasa. Setiap hari ia harus mengangkat puluhan karung beras seberat lima puluh kilogram dari truk pengangkut ke dalam gudang penyimpanan. Otot-otot di lengan dan punggungnya menegang setiap kali ia mengangkat beban berat tersebut, sementara peluh bercucuran membasahi pakaian kerjanya yang sudah luntur.
Meskipun letih mendera sekujur tubuhnya, semangat Ridwan tidak pernah surut. Setiap kali bayangan senyuman Rita terlintas di kepalanya, rasa lelah itu seolah menguap begitu saja. Bagi Ridwan, keringat yang menetes di tubuhnya adalah tetesan berkah yang kelak akan membuahkan kebahagiaan manis bagi masa depan mereka berdua. Ia tidak pernah menuntut balasan apa pun selain kesetiaan dan kebahagiaan Rita.
***
Sementara itu, di kampus, Rita sedang berjuang menyelesaikan bab akhir skripsinya. Sebagai salah satu mahasiswi berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif yang memuaskan, Rita sering mendapatkan pujian dari para dosen. Kecerdasannya membuat ia sering diandalkan dalam berbagai proyek penelitian kecil di kampusnya. Namun, di balik ambisi akademisnya, tersimpan sebuah keinginan yang begitu menggebu-gebu untuk segera keluar dari jerat kemiskinan.
Rita merasa bahwa dirinya diciptakan untuk hidup di tempat yang jauh lebih besar daripada kota kecil ini. Ia mendambakan gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil mewah yang meluncur mulus di jalan raya protokol, serta pengakuan sosial dari orang-orang kaya.
***
Setiap kali Rita pulang ke kontrakan dan melihat Ridwan sibuk menghitung uang sisa belanjaan dengan cermat, ada rasa sesak yang aneh di dalam dadanya. Rasa terima kasih yang mendalam sering kali berbenturan dengan rasa gengsi yang perlahan-lahan mulai tumbuh subur di dalam hatinya.
Rita merasa lelah hidup dalam keterbatasan, dan terkadang, tanpa ia sadari, ia mulai merasa bahwa kehadiran Ridwan dengan segala kesederhanaannya adalah sebuah pengingat yang menyakitkan tentang latar belakang sosial mereka yang rendah.
Suatu sore, ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat dan meninggalkan pendar jingga yang indah di langit, Rita berlari kecil memasuki halaman kontrakan dengan wajah yang berseri-seri. Matanya berbinar-binar penuh kegembiraan, memegang selembar amplop putih berlogo perusahaan multinasional terkemuka di ibu kota.

Cats Whitening
69 Pengikut · 93 Novel