


oleh udin_kejepit · 23 Bab
Hanzo, sang Dewa Sihir yang menyamar, menyelamatkan Hana—gadis kecil yang terpaksa mencuri demi keluarganya yang sakit. Bermodalkan kepingan emas dan sihir penyembuh, Hanzo membawa keluarga Hana dalam perjalanan menuju ujung dunia. Di tengah ancaman kawanan orc dan pengintaian Fenrir, misi rahasia mengungkap asal-usul Raja Iblis pun resmi dimulai. Menembus jantung benteng kegelapan, Hanzo dipaksa mengungkap wujud dewanya saat Ibu Aisha gugur demi melindungi anak-anaknya. Amarah dewa pun meledak! Menggabungkan kekuatan elemen dan berkah murni dari Hana dan adik-adiknya, Hanzo berhasil menyegel kembali Sang Raja Iblis ke dalam kristal hitam, mengakhiri teror ribuan tahun dengan harga yang menyayat hati.
Riuh rendah pasar pagi membahana, membelah fajar di sudut kota yang mulai menggeliat. Udara terasa berat, sesak oleh percampuran aroma rempah yang tajam, wangi roti gandum dari tungku tua, hingga sisa bau tanah basah yang mulai menguap terkena panas. Cahaya matahari menyelinap di antara celah atap pasar yang berlubang, menyinari butiran debu yang menari-nari di atas tumpukan sayur dan ikan-ikan yang mulai dikerubungi lalat.
Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang gadis kecil berdiri mematung. Rambutnya yang cokelat kusam tampak berantakan seperti sarang burung, pakaiannya hanya berupa kain lusuh penuh tambalan yang sudah kehilangan warna aslinya.
Hana, gadis berusia dua belas tahun itu, menatap sepotong roti gandum besar di sebuah lapak dengan pandangan lapar yang menyakitkan. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes kekosongan yang sudah berlangsung berhari-hari. Bagi Hana, roti itu bukan sekadar makanan; itu adalah satu-satunya cara untuk menyambung nyawa adik-adiknya.
Tangannya gemetar. Ketakutan dan insting bertahan hidup bertarung di kepalanya, sampai akhirnya, insting itu menang. Dalam satu gerakan secepat kilat, ia menyambar roti itu dan melesat pergi!
"Pencuri! Dia mencuri daganganku! Kejar dia!" teriak sang pedagang paruh baya. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menegang saat menunjuk ke arah Hana yang sudah lari terbirit-birit di antara kerumunan.
Hana memeluk roti itu erat ke dadanya, seolah itu adalah bayi yang harus ia lindungi. Napasnya terengah, paru-parunya mulai terasa terbakar.
"Tangkap dia!" teriakan itu menggema, memantul di dinding-dinding pasar.
Hana melirik panik ke belakang, kakinya sempat tersandung kerikil tajam hingga ia nyaris jatuh tersungkur. Namun, ia memaksakan diri untuk tegak kembali. Sial, sang pedagang sudah semakin dekat, tangannya yang kasar sudah terulur siap mencengkeram pundaknya.
"Tunggu!"
Satu kata itu membelah kebisingan pasar. Bukan teriakan, tapi suaranya punya tekanan yang membuat atmosfer seketika membeku. Suara riuh rendah itu menghilang dalam sekejap, menciptakan keheningan aneh yang mencekam, seolah sang waktu sendiri memilih untuk berhenti berputar. Semua mata menoleh ke arah sumber suara.
Seorang pria jangkung dengan jubah kelabu berdiri tegak di tengah jalan. Penampilannya misterius, dengan aura yang begitu tenang di tengah kekacauan pasar.
Itulah Hanzo. Matanya menyapu kerumunan dengan cepat—tatapan yang terlihat terlalu tua dan bijaksana untuk wajahnya, sebelum akhirnya berhenti pada sosok gadis kecil yang sudah terpojok tak berdaya.
"Ada apa, hah?! Siapa kau?! Anak ini mencuri, dia harus dihukum!" gertak si pedagang, kesal karena mangsanya terhenti.
"Aku adalah pengelana. Lepaskan anak itu," ucap Hanzo datar. Ia menatap lurus ke mata pedagang itu tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Dia sudah mencuri daganganku! Dia harus membayar harganya!"
"Akan kubayar. Berapa totalnya?" tanya Hanzo pelan namun tajam.
Si pedagang terdiam, matanya menatap Hanzo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan curiga. Ia kemudian menyeringai licik. "Totalnya ... lima keping emas!" ucapnya menyebut angka yang sangat tinggi.
Tanpa banyak bicara, Hanzo merogoh kantung jubahnya yang tampak biasa saja. Ia mengeluarkan lima keping emas murni. Koin itu berkilau begitu terang di bawah sinar matahari pagi, jauh lebih berat dan murni daripada koin emas mana pun yang pernah dilihat pedagang itu. Kilauan logam mulia tersebut langsung membuat mata sang pedagang terbelalak, tangannya gemetar hebat saat menerima kepingan emas itu. Rasa serakah seketika mengubur amarahnya.
Hanzo kini berjongkok, menatap Hana yang masih berdiri gemetaran sambil memeluk rotinya. Wajah gadis itu kotor karena debu yang bercampur air mata. Hanzo menghela napas prihatin.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hanzo lembut.
Hana mendongak, matanya yang besar penuh ketakutan kini mulai memancarkan sedikit kelegaan. "I-iya, aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak, Paman, sudah membantuku," ucap Hana dengan suara bergetar.
"Lantas, kenapa kamu sampai mencuri?" tanya Hanzo menenangkan.
Hana menunduk, air mata kembali jatuh membasahi roti yang ia pegang. "Aku terpaksa, Paman. Adik-adik dan ibuku sedang sakit keras. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi supaya mereka bisa makan."
Hanzo mengamati betapa kurusnya tubuh Hana. "Ke mana ayahmu?"
"Ayah sudah meninggal dua tahun lalu saat sedang melaut," bisik Hana dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Hmm, kasihan sekali nasibmu, Nak. Maukah kau bekerja denganku?" tanya Hanzo tiba-tiba.
Mata Hana langsung berbinar penuh harap. "Hah?! Serius, Paman? Aku mau! Memangnya pekerjaan apa?"
"Menjadi asistenku saja," jawab Hanzo setelah terdiam sejenak. "Kebetulan aku sedang mencari seseorang untuk menemaniku berkelana. Aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu."
Hana tampak sangat gembira, namun sedetik kemudian raut cemas kembali muncul. "Aku mau, Paman. Tapi bagaimana dengan ibu dan adik-adikku? Aku tidak bisa meninggalkan mereka."
"Untuk itu, jangan khawatir. Kau boleh membawa mereka bersamaku. Kebetulan, aku bisa sihir penyembuh," ujar Hanzo santai.
Hana tersentak, mulutnya sedikit terbuka. "Sihir penyembuh? Benarkah?" tanya gadis itu memastikan. "Terima kasih banyak, Paman! Aku janji akan bekerja sungguh-sungguh!"
Mereka pun berjalan menyusuri gang-gang sempit yang pengap. Di sepanjang jalan, bau sampah yang menyengat menusuk hidung, bercampur dengan tawa samar anak-anak lain yang bermain dengan potongan kayu bekas di lumpur.
Hanzo mengamati sekitar—atap-atap rumah yang hampir roboh, dinding kayu yang lapuk dimakan usia, dan tatapan lelah dari para pekerja yang baru pulang.
Saat mereka hampir sampai, Hana memperlambat langkahnya. Ia menoleh ke arah Hanzo dengan wajah memerah karena malu. "Paman, maaf ya. Rumahku sangat kecil dan kotor. Tidak sebagus jubah yang Paman pakai," bisiknya pelan sambil menunduk dalam.
Hanzo hanya tersenyum tipis, tangannya menepuk pundak kecil gadis itu. "Rumah itu bukan soal bagus atau jeleknya, Hana, tapi siapa yang ada di dalamnya. Ayo."
Hana membuka pintu kayu yang sudah usang dan miring itu dengan hati-hati. "Aku pulang!"
"Kakak! Ke mana saja? Aku sudah lapar!" sambut seorang bocah laki-laki, Riko, yang berusia sekitar sembilan tahun. Ia memegangi perutnya yang berbunyi nyaring.
"Ini, Kakak bawakan roti. Maaf ya, cuma ada roti gandum," kata Hana sambil menyerahkan roti tadi.
Seorang wanita paruh baya muncul dari balik tirai kamar yang kusam. Aisha, ibu mereka, tampak sangat pucat dan kurus kering. Wajahnya langsung tegang saat melihat Hanzo yang berdiri di belakang putrinya.
"Hana! Siapa orang ini?" tanya Aisha dengan suara serak. Ia melangkah maju dengan sisa-sisa kekuatannya. "Apa kamu mencuri lagi? Sudah Ibu bilang, Ibu masih kuat berjualan besok!"
"Bukan, Bu! Ini Paman Hanzo. Dia yang membantuku tadi," ucap Hana lembut sambil menuntun ibunya ke kursi kayu yang sudah goyang.

udin_kejepit
2 Pengikut · 2 Novel