


oleh Sittiistiqomah · 56 Bab
Arman, seorang suami yang terjebak dalam bayang-bayang egonya, menjalani hidup dengan memegang kendali penuh atas keuangan, waktu, dan emosinya. Kebiasaan buruk seperti minum-minuman keras dan sikap kasar membuatnya jauh dari sosok suami idaman. Namun, di balik semua itu, ia adalah pria yang peduli pada keluarga dan teman-temannya kecuali pada Lina, istrinya, yang selalu menjadi pilihan terakhir. Lina, seorang istri yang lembut tetapi tegar, berjuang mempertahankan rumah tangga yang sering kali membuatnya terluka. Ketika ia memutuskan untuk mengejar karier di luar kota, hubungan mereka yang renggang semakin diuji.
Suara gamelan mengalun lembut, mengiringi langkah Lina menuju pelaminan. Hari itu, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Arman, pria yang berhasil mencuri hatinya, berdiri gagah dengan senyum yang menenangkan. Semua tamu memuji betapa serasinya mereka sebagai pasangan. Lina tak pernah merasa lebih bahagia dari ini, dengan gaun pengantin putih yang berkilau, dan di hadapannya ada Arman—pria yang begitu ia impikan sejak dulu.
Lina dan Arman bertemu di sebuah acara kampus beberapa tahun lalu. Arman adalah mahasiswa senior yang terkenal pintar dan selalu tampak penuh percaya diri. Dengan pesonanya yang menawan, Arman berhasil membuat Lina jatuh cinta sejak pandangan pertama. Sejak saat itu, mereka sering menghabiskan waktu bersama, saling berbagi cerita, dan akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Arman selalu memberikan perhatian lebih, mendengarkan keluh kesah Lina, dan membuatnya merasa begitu istimewa.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah setelah dua tahun berpacaran. Lina merasa yakin bahwa pernikahan ini adalah langkah yang tepat. Arman tampak begitu sempurna di matanya. Sikap romantisnya, perhatian yang selalu ia tunjukkan, dan masa depan yang tampaknya cerah membuat Lina merasa aman.
"Selamat, Lina. Arman pria yang baik. Kalian pasti akan bahagia," kata seorang sahabat Lina, Tika, sambil tersenyum. Lina hanya mengangguk, menyimpan harapan besar di hatinya. Ia yakin, pernikahan ini adalah awal dari kehidupan yang indah. Mungkin sedikit ketegangan karena peralihan kehidupan, tetapi itu adalah hal yang wajar, pikirnya.
Namun, beberapa minggu setelah pernikahan mereka, kesan pertama yang indah mulai memudar. Pagi pertama setelah pesta pernikahan mereka, Lina bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Di dapur, ia takjub dengan kesunyian yang melingkupi rumah mereka yang baru. Rumah itu masih terasa asing. Setelah bertahun-tahun hidup sendiri, kini ia harus berbagi ruang dan hidup bersama seseorang. Arman sudah pergi bekerja saat ia terbangun, seperti yang sudah mereka rencanakan. Lina merasa sedikit kesepian, tapi ia meyakinkan dirinya bahwa ini hanya sementara.
Tentu saja, pernikahan mereka membutuhkan penyesuaian. Arman yang selalu tampak tenang dan penuh kepercayaan diri ternyata memiliki cara pandang dan kebiasaan yang berbeda dengan Lina. Di awal-awal, Lina mencoba mengerti, beradaptasi dengan gaya hidup Arman yang terkesan bebas. Namun, lama-kelamaan ia mulai merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Beberapa bulan pertama, Lina merasa hidup mereka berjalan cukup baik, meskipun ada tanda-tanda kecil yang mulai muncul. Suatu hari, saat mereka berbicara tentang perencanaan keuangan, Lina bertanya dengan hati-hati.
“Mas, bagaimana kalau kita buat anggaran bulanan supaya lebih teratur? Kan kita baru mulai hidup bersama.”
Arman memandangnya dengan ragu, seolah tidak memahami mengapa hal itu perlu dibicarakan. "Kamu nggak perlu pusing soal itu. Uang biar aku yang urus. Tugas kamu cukup ngurus rumah aja," katanya dengan nada yang tegas namun agak acuh.
Lina terdiam, merasa sedikit tersinggung. Namun, ia berusaha untuk tidak menanggapinya lebih jauh. “Oke, kalau begitu,” jawabnya pelan, meskipun hatinya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sejak saat itu, Lina mulai merasakan bahwa Arman bukan hanya menahan kendali atas keuangan rumah tangga, tetapi juga atas keputusan-keputusan lainnya. Ia merasa seperti tak memiliki suara dalam banyak hal.
Minggu demi minggu berlalu, dan Lina mulai menyadari bahwa Arman semakin sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya, keluar malam untuk hang out atau bermain sepak bola. Lina tidak keberatan jika itu hanya sesekali. Namun, lama kelamaan, kegiatan-kegiatan itu menjadi rutinitas. Arman mulai pulang larut malam, bahkan tanpa memberi tahu Lina terlebih dahulu. Ketika Lina bertanya mengapa ia pulang begitu larut, Arman hanya menjawab dengan santai.
"Santai aja, aku kan cuma mau refreshing. Kamu di rumah aja, ya.”
Tapi Lina tidak merasa nyaman. Ia merasa seolah-olah suaminya mulai menjauh. Setiap kali ia mengajukan pertanyaan tentang waktu yang mereka habiskan bersama, Arman menjawab dengan nada defensif. "Kamu kan tahu, aku butuh waktu untuk diri sendiri juga. Kita nggak harus selalu bersama, kan?" kata Arman dengan ketus.
Pada suatu malam yang cerah, Arman kembali pulang dengan wajah yang agak cerah. Lina menatapnya dengan penuh harap, berharap bisa berbicara lebih banyak, menghabiskan waktu berdua setelah beberapa hari mereka jarang berkomunikasi. Namun, Arman hanya melemparkan pandangannya ke arah meja makan.
“Kamu nggak mau makan?” tanya Lina, mencoba membuka percakapan.
“Udah makan di luar,” jawab Arman singkat. “Aku capek, tidur dulu ya,” tambahnya, melangkah pergi menuju kamar tidur tanpa menatap Lina lebih lama. Lina hanya bisa menelan pil pahit, merasa kesepian meskipun Arman ada di rumah.
Sejak saat itu, Lina sering merasakan kekosongan yang semakin dalam. Arman semakin sering keluar, dan setiap kali Lina mencoba mendekatinya, ia merasa suaminya semakin menghindar. Hubungan mereka mulai terasa seperti hubungan yang biasa-biasa saja, tanpa kehangatan yang dulu ia rasakan.
Pada suatu sore, ketika Lina sedang membersihkan rumah, ia mendapati sebotol minuman keras di dalam tas Arman. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Arman membawa pulang alkohol. Awalnya, Lina berpikir itu hanya kebiasaan sesekali. Namun, semakin lama, Arman mulai mengonsumsi alkohol hampir setiap malam. Di awal pernikahan, Lina pernah mendengar bahwa Arman tidak suka minuman keras, dan bahkan pernah berkata bahwa ia tidak akan pernah mengizinkan alkohol ada di rumah mereka. Tapi kenyataannya, Arman mulai berubah, dan Lina merasa sangat bingung dengan perubahan itu.
Lina berusaha untuk menahan diri, berfikir bahwa mungkin Arman hanya sedang stres dengan pekerjaan, atau mungkin itu hanya fase sementara. Namun, semakin lama, kebiasaan buruk itu semakin jelas. Arman menjadi mudah marah dan kehilangan kendali atas dirinya.
“Kenapa kamu nggak bisa ngerti sih? Aku capek, Lina! Semua orang minta ini itu, dan aku nggak bisa puas! Kamu tahu kan, gimana rasanya jadi aku?” Arman berteriak, wajahnya memerah.
Lina terkejut. Ia tak pernah melihat Arman seperti ini sebelumnya. “Mas, kamu nggak perlu marah seperti itu. Kita bisa berbicara dengan baik, kan?” jawab Lina pelan, mencoba meredakan ketegangan.
Namun, Arman justru semakin emosi. Ia berdiri dan menendang kursi yang ada di dekatnya. Lina merasa ketakutan, meskipun ia mencoba untuk tetap tenang. “Kamu nggak ngerti, Lina! Kamu cuma bisa diam dan diam saja! Apa sih gunanya kamu ada di sini?”
Lina terdiam, merasa seperti terhantam. Ini bukan lagi Arman yang ia kenal, bukan pria yang dulu selalu penuh perhatian. Arman yang ada di depannya kini adalah sosok yang jauh berbeda—egois, kasar, dan sulit untuk dimengerti.
Saat itu, Lina merasa bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin membantu Arman, tapi setiap kali ia mencoba, Arman justru menjauhkan diri. Lina merasa seperti terjebak dalam pernikahan yang semakin hari semakin menyesakkan.
Namun, meskipun segala perasaan sakit dan kecewa yang ia rasakan, Lina masih berharap ada perubahan. Mungkin ini hanya fase yang harus mereka lewati. Mungkin Arman akan sadar, dan mereka bisa kembali seperti dulu. Tapi semakin hari, harapan itu semakin memudar.
Di tengah kebingungannya, Lina berusaha untuk tetap bertahan, memegang teguh janji pernikahannya. Ia ingin percaya bahwa cinta mereka bisa mengatasi segala cobaan. Namun, apakah cinta saja cukup untuk menyembuhkan luka yang semakin dalam? Waktu akan menjawabnya.

Sittiistiqomah
34 Pengikut · 2 Novel